Renungan GKE

Kamis, 14 April 2016

KUASA UCAPAN




Amsal 16:24-33
Pollius Romillius, anggota senat Kekaisaran Roma pada zaman Julius Caesar yang berusia paling tua, saat merayakan hari jadinya yang ke-100 ditanya oleh kaisar tentang resep awet muda yang membuatnya selalu segar-bugar. Jawabannya, “Saya selalu makan makanan yang dicampur madu dan menghindari makanan yang mengandung minyak.” Juga, Aristoteles (Bapak Natural Science) menyatakan bahwa madu dapat mempertinggi kesehatan manusia dan memperpanjang umur.
Saudara, Sejak awal sejarah manusia, begitu menghargai “madu” sebagai sumber makanan alami yang mengagumkan. Bahkan beberapa ayat dalam Alkitab sendiri berbicara tentang madu sebagai kiasan utuk mengungkapkan hal-hal yang berharga, menarik, dan menyenangkan. Buktikan saja apa yang diungkapkan dalam nas ini untuk menggambarkan tentang betapa berharganya ucapan atau perkataan yang menyenangkan: “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang MADU, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” (ay.24). Dalam nas lain juga dikatakan, “Anakku, makanlah MADU, sebab itu baik: dan tetesan MADU manis untuk langit-langit mulutmu.” (Ams. 24:13).
Saudara, jangan remehkan soal ucapan! Ya, ucapan yang menyenangkan tentu rata-rata disukai semua orang. Ucapan yang tajam, kasar, dan selalu melukai pasti tidak terlalu disukai rata-rata orang. Kata bijak mengatakan: “Dengan sesendok madu dapat lebih banyak ditangkap serangga daripada dengan sesendok cuka, dengan mulut manis serta ramah-tamah lebih banyak diperoleh sahabat (kawan) daripada dengan perkataan yang tajam dan muka yg masam”. Gambaran kepribadian seseorang pun nyata dari apa yang diungkapkan peribahasa berikut ini: “Laut madu berpantaikan gula, perkataan yang manis keluar dari mulut orang yang baik pribadinya lagi bijaksana.”
Orang yang mengucapkan kata-kata yang baik adalah orang yang berpijak dengan pijakan kuat di bumi dengan tangan-tangan yang senantiasa menengadah ke langit, mengharapkan rahmat dan kasih sayang Allah sumber hikmat dan berkat. Dalam makna yang lebih luas, perkataan yang baik adalah juga pohon yang kuat yang ranting-rantingnya senantiasa menghasilkan buah. Perkataan yang baik adalah menambah kesuburan induknya ketika kalimat itu disampaikan lagi kepada orang lain, demikian seterusnya.
Adapun perkataan yang buruk adalah seperti pohon yang sudah dicabut perakarannya dan tinggalah dia tak berarti apa-apa, karena rantingnya tak keluar, tunasnya tak muncul dan buah-buahnya tak berhasil mewarnai setiap musim. Sekalipun banyak pupuk dan air yang disiramkan ke sekitar pokoknya, tetap saja dia tak bisa bermanfaat. Saudara ingin menjadi orang yang disukai, sahabat yang menyengkan, dan diberkati Tuhan? Gunakan kata-kata yang baik, positif, ramah, membangun, kata-kata berkat. Gunakan menjadi sarana kesaksian yang penuh kuasa, gambaran kualitas diri seorang beriman yang bijaksana penuh kasih. Amin!

Jumat, 08 April 2016

BILA "AMBISI" MENJELMA JADI "AMBISIUS"


II Samuel 18:19-33

“Absalom”... itu adalah nama sosok seorang muda yang luar biasa. Seorang muda yang sempurna. Maklum, ia anak keturunan raja. Bukan anak raja sembarangan, sebab Daud nama bapaknya! Absalom, wuuiii..... ! Bahkan Alkitab sendiri mengatakan bahwa di seluruh Israel tidak ada yang seperti dia. Ia begitu dipuji. Bayangkan saudara: “Dari telapak kakinya sampai ujung kepalanya tidak ada yang cacat padanya.” (psl. 14:25-26). Oh, luar biasa! Dan bukan hanya itu saudara. Bukan hanya kegantengannya, berbadan tegap, berwajah keras, tapi juga berwatak tegas! Karakter yang luar biasa!

Tidak hanya itu, karena ia juga memiliki semacam kemampuan mengambil simpatisan orang. Tentu saja karena sikap keramahan dan kebijaksanaannya. Sebab bila tidak, mana mungkin ia bisa mencuri hati banyak orang Israel menjadi pemuja dan pengikutnya! Mungkin Anda bertanya, apakah Absalom seorang ahli politik juga? Oh saudara, janganlah kita meragukan kemampuannya di bidang yang satu ini! Ia juga seorang yang pandai melihat peluang dan kesempatan, juga memanfaatkan keadaan. Ya, begitulah biasanyanya orang politik! Bayangkan saja bagaimana Absalom memperhatikan (dan sekaligus memanfaatkan) situasi yang ada. Memanfaatkan persoalan-persoalan sosial rakyat kecil. Ia mengambil kebijakan-kebijakan yang membantu dan menarik simpati mereka.

Absalom, oh seorang sosok yang luar biasa. Sosok yang sempurna, dari segala segi. Baik fisik ,sikap, dan kemampuannya. Bahkan kekuatan politiknya. Segala rencananya seolah tak ada rintangan untuk diraihnya. Musuh-musuhnya seolah berlutut di kakinya. Bayangkan, bagaimana ia berani membakar ladang Yoab, panglima perang rajanya. Bahkan Daud, sang raja (yang juga bapak kandungnya) sendiri pun lari terbirit-biri ke tempat pengungsian melarikan diri.

Absalom, oh... begitu sempurna. Begitu dikjaya! Ibarat perpaduan kegantengan Kenny G, keganasan Bronson atau Jamens Bon. Juga dilengkapi kebijaksanaan semacam dokter Gillespie dalam filem seri dokter Kildare! Karenanya tidak heran bila tive manusia sempurna semacam Absalom juga punya ambisi yang luar biasa. Tidak tanggung-tanggung. Ingin jadi penguasa. Ingin naik takhta. Ingin jadi raja. Salahkan? Salahkah bila manusia atau kita punya ambisi? Bukankah Presiden pertama kita Bung Karno pernah berujar: “Kejarlah cdita-citamu setinggi bintang di langit”?

Menyinggung masalah ambisi, saudara. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan yang namanya “ambisi”. Manusia yang tidak punya ambisi sebenarnya adalah manusia yang tidak tahu apa tujuan hidupnya, apa yang mau dicapainya. Ya, asal hidup! Ya pasrah apa adanya. Bisa jadi pasrah menyerah tak sanggup menjalani hidup, lalu ingin cepat-cepat masuk ke pintu kubur. Ambisi, bila hanya sebatas normal, ya baik saja. Yang juga sebenarnya kita perlukan dalam hidup menghadapi berbagai rintangan hingga akhirnya berkemenangan sampai ke cita-cita luhur yang diharapkan.

Ambisi, bisa juga menjadi bencana! Kenapa? Nah, inilah persoalannya! Dan memang, banyak manusia terjerat dalam lingkarannya! Juga bila tidak diwaspadai, keserakahan adalah saudara kembarnya! Akibatnya menghalalkan segala cara, melakukan apa saja untuk meraihnya. “Ambisi” lalu berobah menjadi “ambisius”. Ya embel-embel akhiran “us” di belakang ambisi, ini yang banyak menjatuhkan orang. Lihatlah Absalom dalam cerita nas ini. Bahkan ia begitu tega mau menggulingkan takhta raja, Daud, ayah kandungnya sendiri. Bukan dengan cara yang biasa. Tapi mau membantai semua, termasuk tega akan membunuh sang raja dalam pertempuran di medan perang! Awalnya memang terlihat hebat. Seolah tak ada kendala. Jalan secara luar biasa. Seolah Tuhan sekali pun tak ada.

Oh... manusia yang tidak jarang memiliki tive semacam Absalom! Wasdadalah! Jangan merasa punya kemampuan lalu seenaknya berbuat apa saja terhadap sesama manusia, alam lingkungan. Wahai para orang-orang muda yang sudah merasa mafan! Cantik atau tampan! Punya pendidikan yang brilian dan merasa hidupmu lebih dalam segalanya dari yang lain. Meremehkan manusia lain, orang tua sendiri mau dibinasakan bahkan Tuhan sekali pun disepelekan! Waspadadalah!

Belajarlah dari akhir riwayat Absalom yang mengenaskan. Ya, bukan kemenangan gemilang dalam peperangan. Tetapi kalah dan mati dengan cara yang mengenaskan sekaligus memalukan. Betapa tidak, sebab Alkitab mencatat bahwa bahwa kepalanya terangkut pada jalinan dahan-dahan pohon tarbantin yang besar akibat bagal yang ditungganginya tak dapat dikendalikan, dan tiga tikaman tombak Yoab tepat ke dada Absalom menamatkan riwayat seorang muda Absalom yang sombong dan serakah (ay. 9, 14). Lalu cara penguburannya?

Oh, cara penguburan seorang pembesar yang tidak seharusnya. Bukan dengan penghormatan kebesaran! Tapi itulah yang terjadi pada manusia serakah. Mayatnya hanya dilempar saja ke lobang yang besar di hutan (ay.17). Oh, orang muda yang sempurna, seharusnya masa depan orang tua, bangsa dan negara, tapi matinya sia-sia! Saudara, Itulah cara Tuhan memberikan semacam ganjaran kepada manusia-manusia ambisius semacam Absalom. Itu juga menyadarkan kita tentang cara Tuhan menghajar orang-orang yang durhaka kepada orang tua setive Absalom! (ingat perintah ke-5 dari hukum taurat).

Semoga nas ini menjadi pembelajaran buat kita semua! Bagaimana semestinya supaya hidup ini berharga dan mati tidak tersia-sia. Ya, seharunya demikianlah indahnya harapan kita menjalani hidup ini dan bila sampai saatnya akan kembali ke pangkuan Bapa dalam damai sejahtera! AMIN!

Jumat, 11 Maret 2016

ANTARA “HOSANA!” ATAU “SALIBKAN DIA!” ?



Matius 21:1-11

Yesus dielu-elukan ketika Ia masuk ke Yerusalem. Dari muka, samping, atau belakang semua mengiringiNya. Dan dalam Alkitab dicatat, mereka dalam jumlah besar. Dapat Anda bayangkan situasi yang terjadi waktu itu. Seandainya hal tersebut terjadi pada masa kini, bisa jadi tempat parkir yang ada tentu tidak mencukupi. Jalan-jalan pasti macet total. Banyak yang rela menghamparkan pakaian di jalan sebagai sikap yang menggambarkan rasa simpatisan. Daun-daun palem berlambaian mengiringi layaknya menyambut pahlawan bagi sebuah perjuangan yang selama ini didambakan.

Bagi mereka tentu Yesus adalah harapan. Ya, harapan yang akan membebaskan dari berbagai belenggu. Harapan dari berbagai kesulitan keadan. Pembebasan dari penjajahan yang dirasa jadikan hidup mereka terpuruk, diperlakukan semena-mena. Hak-hak sebagai manusia yang selama ini terabaikan. Tak ada yang berani memperjuangkan! Oh, tentu juga tak lupa harapan yang akan membawa kesejahteraan. Maklum, karena banyak juga di antara mereka sudah menyaksikan berbagai peristiwa yang Yesus lakukan. Roti jadi banyak. Yang buta, lumpuh, sakit disembuhkan. Dan yang luar biasa, Lazarus yang telah mati dimakamkan tiga haru pun mampu dihidupkannya!

Sangat beralasan bila gema pujian gegap gempita “Hosana!”, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan dikumandangkan. Harapan yang berdasar dan beralasan! Harapan akan sebuah pembebasan dari berbagai keadaan. Harapana yang pada umumnya rata-rata juga kita damba! Hanya sayang seribu sayang….Semakin lama, harapan pada Yesus bukan semakin gemilang. Namun sebaliknya, semakin menghilang. Ditelan keadaan. Ckckckckckck……..

Dan apa dinyana, ketika akhirnya mereka juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri…..Yesus yang diharapkan, sekarang bagai bola pingpong dipermainkan. Dihadapkan ke penguasa yang satu, dihadapkan pula ke penguasa yang lainnya. Dihadapkan ke Herodes, dihadapkan pula ke Pilatus. Oh, ironuis memang…..tak ada tanda-tanda kehebatan. Tak nampak kemapuan untuk membela diri. Yang ada hanyalah tamparan, pukulan cambuk dibadan. Wajah pun mulai memar-memar terkena hantaman. Dan bila diperhati lebih teliti, ternyata juga diantara butiran keringat bercampur debu dan darah yang mulai mengucur itu, telah berbaur dengan ludah penghinaan tanda –tanda penolakan!

Wow! Ceritanya tidak terhenti sampai di situ. Karena situasi pun semakin menegangkan! Karena nyata juga bahwa pada akhirnya Yesus akan diadili. Adakah yang masih sanggup mengumandangkan “Hosana!”, terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan? Oh, dapat kita maklumi bila semua bungkam seribu bahasa. Semua cari aman! Ya, wajar semata. Itulah manusia! Logikanya memang demikian. Bila situasi tidak menguntungkan,bukankah lebih aman bila ikut arus orang banyak, atau cari muka supaya supaya dianggap membela sang penguasa? Karenanya lumrah semata bila akhirnya gema “Hosana!” sekarang lalu berobah menjadi “Salibkan Dia!, salibkan Dia!”

Memasuki Minggu Sengsara ke VI ini, banyak hal menarik yang dapat kita jumpai. Tentu juga banyak pelajaran penting bagi kita sebagai orang percaya dalam rangka menyadari gambaran kita tentang Yesus Kristus. Sebagai orang beriman, tentu kita telah mengetahui tentang siapakah Yesus yang sebenarnya. Namun pengetahuan dan pengenalan kita tentang Yesus kadang kala sangat dangkal. Kita mungkin hanya mengetahui tentang Dia dari apa kata orang. Kita kadang kurang berusaha mengenal-Nya sungguh-sungguh secara pribadi melalui Kitab Suci. Untuk itu, seringkali kita pun menolak-Nya bahkan melupakan-Nya.

Banyak orang tergoda untuk menjadikan Tuhan sebagai pembebas dalam rangka mendapatkan rasa aman yang sementara dan bersifat duniawi semata. Bebas dari penjajahan, sakit penyakit, kemelaratan, dan berbagai kekuatiran hidup lainnya. Tuhan lalu diburu lewat doa dan mujizat. Bila ini didapatkan, nah ini baru Tuhan! Rasa kagum dan hormat pun dikumandangkan. Ribuan ucapan syukur dalam bentuk kesaksian-kesaksian pastilah dilakukan. Tetapi bagaimana bila ini tidak nampak dan tidak didapatkan? Akh, disini rupanya tidak ada Tuhan! Orang mulai bersungut-sungut dan memburunya ke tempat lain sekira mendapatkannya di sana. Bisa jadi pada awalnya gema “Hosana!” penuh kekaguman dan hormat!. Namun yang akhirnya segera berobah dengan sikap pengkhianatan “Salibkan Dia, Salibkan Dia!”

Kita semua disadarkan akan tugas panggilan kita. Juga motivasi kepengikutan kita kepada Kristus. Bahwa tugas panggilan kita bukanlah hanya sebatas menawarkan nikmat-nikmat rohani semata. Hidup beriman kita juga tidak hanya sebatas memburu doa dan mujizat saja. Bukan, bukan hanya sebatas itu! Kristus tidak menawarkan kekebalan dari kesulitan hidup, kesembuhan dari setiap penyakit, atau janji akan kesuksesan finansial yang tanpa usaha. Yang Sang Raja janjikan hari ini adalah diri-Nya sendiri sebagai kurban atas dosa-dosa kita, menjadi spirit untuk membangun kehidupan secara kreatif dan berdaya guna yang menjawab tantangan jaman. Dan bila Anda setia mengikutiNya, Anda tidak akan pernah dibuatNya kecewa! Amin!

(Pdt.Kristinus Unting, M.Div)

Kamis, 10 Maret 2016

MENCERMATI PERSOALAN KRUASIAL YANG KITA HADAPI



Yeremia 1:4-19

Yeremia dipanggil oleh Tuhan. Ia dipanggil bukan untuk diusung dalam salah satu perahu partai politik menduduki kursi jabatan atau di kursi dewan. Atau jadi bupati atau gubernur atau aneka jabatan lain yang menggiurkan. Bukan! Tetapi ia dipanggil oleh Tuhan untuk tugas khusus menyuarakan suara kenabian. dan suara kenabian yang disampaikannya pun bukanlah menyuarakan “berkat” yang nikmat kepada umat. Tetapi penghukuman dari Tuhan jika tidak bertobat. justru tugas itu harus disampaikan kepada para pejabat negara dan para nabi-nabi palsu yang ada pada jamannya. ya, inilah tugas yang dalam istilah kitab yeremia disebutnya sebagai tugas “…untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.” (ay. 10b).

Persoalan kruasial yang dihadapi Yeremia pada jamannya adalah kebejatan moral para elit politik yang tak terelakkan, dibarengi lenyapnya takut akan Allah dan hormat akan taurat-nya. Percabulan dan kecurangan menjadi biasa bahkan di tengah-tengah para imam dan nabi (psl. 5:30 dab; psl 6:13-15; 14:14). Daripada memberantas percabulan, mereka sebaliknya membantu penyebarannya. ironisnya, Yehuda yg menyembah berhala dan bercabul itu masih giat sekali melakukan ibadat keagamaan! Demikian pun cara kerja para nabi-nabi palsu se jamannya, yang pintar cari muka. Yang mulutnya manis demi mendapat simpatik dan demi keamanan pribadi! yang cuma beraninya mengatakan “damai sejahtera! damai sejahtera! tetapi tidak ada damai sejahtera." (bdk.yer. 8:11). namun yang tak pernah berani mengatakan tentang penghukuman tuhan secara lugas tentang hukuman yang menimpa.

Para imam-imam palsu yang dihadapi Yeremia juga adalah para imam yang mengeruk keuntungan dari jabatan mereka, dan ramalan mereka bahwa kapan pun Bait Suci Yerusalem tidak akan jatuh ke tangan orang Babel (psl. 6:13; 18:18; 29:25-32 dst). Nabi-nabi palsu itu meyakinkan umat Yehuda yg tertipu itu dalam optimisme yg dangkal (psl. 8:10-17; 14:14-18; 23:9-40 dst). Oh, dapat saudara bayangkan beratnya tugas itu! Lalu tanggapan Yeremia? Sudah dapat kita duga! Untuk tugas berat penuh resiko macam itu siapa yang suka? Apalagi bila nda jelas berapa uang saku atau bonus yang akan diterima. Terlebih bila nyawa sendiri jadi taruhannya? Akh, siapa yang mau mati muda dengan sia-sia? Anda mau?

Sama seperti manusia normal pada umumnya, seperti Anda dan saya, Yeremia pun dengan secara halus menyampaikan alasan penolakan. Suatu tugas pekerjaan yang mengusik kemapanan, menggoncang ’status quo’, menjungkirbalikkan konsep-konsep yang sudah dianut masyarakat, hanya mendatangkan risiko yang tidak kecil bagi sang pembawa berita, mungkin nyawa pembawa berita itu menjadi taruhannya.

Itulah sebabnya Yeremia gentar karena ia memahami betul risiko ini. Alasannya memang rasional. Dia masih muda, kurang pengalaman. Apa nanti kata orang bila seorang biasa, tak berpengalaman, tak punya nama, tak punya backing kuat, koq berani-beraninya menggugat cara kerja pemerintah yang nda becus soal hokum, soal kredit macet di Bank, soal korupsi, atau membongkar selingkuhan para pejabat?! Atau coba-coba menggubris perjuadian “dadu gurak” di setiap peristiwa menunggu jenazah, karena ternyata juga siapa sebenarnya backing kuat di balik semua itu? Oh, pantas saja bila masalah ini sepertinya tak pernah kunjung tuntas! Anda pasti tahu sendiri akibatnya bila berani sendiri menuntaskannya. Bisa jadi Anda sendiri yang akan dituntaskan!

Bila kita amati semua peristiwa pemanggilan Yeremia, memang unik. Secara saksama, di hadapan kita dipaparkan tentang Allah yang menjumpai dan menyentuh anak-Nya. Di sini Allah memperlihatkan kepada Yeremia bahwa kuat, hebat, mampu, dan keberanian hanya bersumber dari Dia semata! Inilah dasar pemanggilan Yeremia. Allah menjadikannya bukan sebagai seorang pengecut! Ya, “…untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.” Melihat begitu banyaknya tantangan yang kita hadapi di tengah-tengah dunia ini, bisa saja kita takut memainkan peran kita dan menunjukkan identitas kita sebagai duta-duta Tuhan.

Melihat situasi jamannya Yeremia, rasa-rasanya koq hampir persis sama kayak yang ada di sekitar kita. Kebejatan moral para elit politik yang tak terelakkan dibarengi merosotnya rasa takut akan Allah dan hormat akan Taurat-Nya. Percabulan dan kecurangan menjadi biasa bahkan di tengah-tengah para “imam agama” (5:30 dab; 6:13-15; 14:14). Kemerosotan moral bangsa tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja, namun telah menjamur hingga pelosok negeri.

Indikator yang bisa dijadikan dasar acuan kemerosotan moral bangsa Indonesia dapat terlihat dari memudarnya nilai-nilai luhur yang dulu dijunjung tinggi. Menurunnya rasa hormat terhadap orang tua juga merupakan fenomena tersendiri. Terlepas dari pola-pola perilaku yang berkembang dari hubungan anak dan orang tua, secara keseluruhan orang tua yang mengeluhkan “kekurangajaran” anaknya banyak terdengar. Oh, menyedihkan sekali! Para elit politik hanya sibuk berebutan kursi jabatan, menghambur-hamburkan uang kepada para bidadari hanya memuaskan birahi!

Kebanyakan orang juga berebutan ingin jadi pemimpin, tapi jalan saja banyak yang tak terurus alias rusak. Lalu peran para pejabat Kristen yang ada di kantor, di kursi dewan, di depan kelas para mahasiswa, atau yang bekerja sebagai penegak hokum, dsb.? “Kami kan hanya melaksanakan urusan dunia, apa yang telah menjadi kewajiban. Kami tak bisa berbuat apa-apa. Akh, maaf…maaf…maaf…! Akh, menggelitik sekali. Pantas saja soal judi “dadu gurak” di setiap peristiwa kematian saja tak pernah tuntas-tuntas juga! Apalagi persoalan lain yang semuanya menurun tajam!

Sementara peran Agama? Para tokoh agama? Atau Gereja? Akh…. Paling-paling bermanis-manis menyarakan “berkat” atau “damai sejahtera” semata. Promosi pun dibuatkan dalam baleho-baleho besar di pinggir jalan: “Hadirilah wisata rohani seorang Hamba Tuhan yang sudah sering pulang pergi ke sorga!” Atau hanya sibuk cari jiwa-jiwa, alih-alih ajaran dogma yang sesungguhnya, domba gereja tetangga dimasukan ke kandang memperbanyak gedung gerejanya.

Oh, menggelitik sekali! Sementara kemerosotan moral terus merosot tajam! Dan masih banyak anak-anak tak mampu melanjutkan sekolah karena kekurangan biaya! Sibuk persekutuan? Itu memang bagus! Sibuk mengikuti seminar rohani sana-sini! Sibuk cari gereja kesana-kemari, sibuk cari minyak urapan, sibuk cari berkat Tuhan? Ya, itu memang tak salah! Tapi hanya sibuk mencari “hak” dengan gereja, dengan Tuhan ini sikap kekristenan yang perlu dipertanyakan! Tuhan memang harus kita agungkan. Rutinitas agama memang terlaksana. Gedungnya memang semakin megah, ucapan syukur setiap waktu tak ketinggalan dilantunkan. Namun bila sumbangsih Agama begitu berhadapan dengan dunia nyata lalu menjadi mandeg ini yang disayangkan. Padahal Tuhan memanggil kita bukan menjadi Kristen pengecut. Dan ini yang memang tidak mudah! Amin!

Sabtu, 13 Februari 2016

MEWARISKAN NILAI-NILAI LUHUR





I Korintus 10:1-11:1

Pada tahun 1911, seorang pemeran pengganti bernama Bobby Leach terjun di air terjun Niagara dalam sebuah tong baja yang sudah dirancang secara khusus. Ia berhasil terjun dengan selamat dan menceritakan tentang hal itu. Meskipun mengalami beberapa cedera ringan, ia bertahan hidup karena menyadari bahaya yang sangat besar dalam tindakan tersebut, dan ia telah melakukan semua yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari bahaya.

Beberapa tahun kemudian, ketika sedang berjalan menyusuri sebuah jalan di New Zealand, Bobby Leach terpeleset kulit jeruk, jatuh, dan mengalami patah kaki yang parah. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit dan meninggal di sana akibat komplikasi dari peristiwa itu. Ia justru mengalami cedera yang lebih parah saat berjalan kaki di New Zealand daripada saat ia terjun di air terjun Niagara. Ia tidak siap menghadapi bahaya di situasi yang dianggapnya aman.

Nas ini memperlihatkan kepada kita tentang keadaan jemaat Korontus. Mereka telah mengalihkan perhatian mereka dari Kristus dan para pemimpin jemaat. Alih-alih meniru sifat-sifat yang menyerupai Kristus, mereka malah membiarkan kesetiaan mereka mengarah pada perpecahan dan perselisihan dalam gereja (1Kor. 1:10-13). Saudara, mungkin godaan hebat bagai gemuruh air di Niagara tidak akan membahayakan kita. Akan tetapi, suatu peristiwa kecil yang tampaknya tidak berarti bisa jadi malah dapat membuat kita jatuh. Mengapa demikian? Karena kita tidak hati-hati dan tak menyadari bahaya yang mungkin terjadi. Kita keliru karena berpikir bahwa kita berada dalam keadaan aman (1Korintus 10:12).

Kita diingatkan tentang perjalanan bangsa Israel di masa lalu dalam mengikuti pimpinan Tuhan. Semuanya dicatat "sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita" (ayat 11). Bukan hanya itu, Alkitab memuat banyak kisah dari masa lalu; supaya kita juga belajar mengetahui kehendak Allah bagi hidup kita. Paulus menasihatkan, "Sebab itu, siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (ay.12).

Bisa jadi sewaktu-waktu kita pun bisa jatuh. Jatuh memang tidak menyenangkan. Mungkin di masa lalu kita menyimpan kegagalan, kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan yang membuat kita bergumul hebat. Namun, di masa lalu kita juga mencatat kemenangan atas pergumulan, kebangkitan dari kegagalan, kelegaan dan pemulihan dari dukacita. Namun, siapa pun yang pernah terjatuh dalam hidupnya, akan mendapatkan pelajaran positif, jika peristiwa itu membuat kita lebih berhati-hati menjalani hidup.

Kita hidup di jaman di mana ilmu pengetahuan semakin tinggi namun moral-etis semakin menuju ke titik nadir terendah. Jalan pintas tidak jarang seolah jadi pilihan untuk mengatasi segala kesulitan. Tuhan semakin dikebelakangkan. Nilai-nilai kejujuran semakin langka. Dusta, penipuan, intrik-intrik busuk merajalela. Menghalalkan segala cara juga seolah hal biasa demi untuk mendapatkan kedudukan, jaminan hidup, dan kebahagiaan. Orang mungkin pergi ke gereja juga, tapi tidak jarang hanya dijadikan semacam obat stress penenang bathin sementara, sebelum bertarung kembali dalam kancah kehidupan selanjutnya. Karenanya tidak heran bila yang dicari adalah soal kepuasan untuk mendapatkan ketenangan bathin saja, bukan sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan supaya diberikan kesanggupan menghadapi tantangan.

Apa pentingnya kita belajar dari pengalaman masa lalu? ini penting! Terlebih karena kita hidup di jaman yang serba keras dan penuh kejahatan seperti sekarang ini. Orang yang belajar dari pengalaman kegagalan masa lalu pasti tahu jalan mana yang harus ia laluinya ke depan. Jalan kejahatan semisal korupsi yang dapat membawa bencana, tentu dihindarinya. Ya, jalan yang belok-belok, atau mudah terobang ambing oleh berbagai bujukan atau tawaran dunia yang menyesatkan tentu tidak disukainya. Dalam situasi yang demikian, nas ini menantang kita selaku umat Tuhan untuk lebih mawas diri.

Sudahkah saya selaku “bue” (kakek) atau “tambi” (nenek) mewariskan nilai-nilai luhur cara hidup rumah betang yang mengutamakan kebersamaan, handep hapakat, rasa senasib sepenanggungan? Sudahkah saya selaku “abah” (ayah) atau “umai” (ibu) meneladankan kesetiaan iman kepada “anak-esu” (anak-cucu) untuk mewariskan “hadat pambelom utus itah” (kehidupan etis-moral kaum kita)? Atau juga, sudahkah saya selaku orang muda mempersiapkan diri sebagai generasi penerus yang dapat dibanggakan bagi orang tua, keluarga, masyarakat atau gereja? Atau malah menjadi sampah yang kehadirannya hanya tambah mengotori dunia?

Semua jawabannya tentu berpulang pada diri kita masing-masing. Tergantung dari seberapa besar rasa takut akan Tuhan dihayati dan dilaksanakan dalam kehidupan! Sebagai orang percaya kita harus belajar dari pengalaman hidup. Harus selalu waspada terhadap godaan. Orang kristiani yang berkemenangan adalah seorang kristiani yang waspada, yang selalu berhati-hati bahkan ketika menghadapi kulit jeruk yang kecil, yang tampaknya sederhana namun yang justru mambuat kita dapat tergelincir! Amin!

KEMARAHAN YANG DILANDASI KASIH



Lukas 19:45-48

Yesus masuk kota Yerusalem. Ia masuk kota Yerusalem tentu saja bukan maksudnya sebagai turis rohani. Atau sekedar menikmati indah dan megahnya kota Yerusalem (maklum, Yerusalem disebut-sebut sebagai personifikasi kota Sorga yang ada di bumi). Bukan itu maksudnya. Tetapi Yesus masuk kota Yerusalem untuk melaksanakan misi suci, mengorbankan diri-Nya sebagai korban yang sempurna dari Allah sendiri dalam rangka penyelamatan umat manusia. Menjadi tebusan bagi dosa manusia. Sesampainya di kota Yerusalem, demikian dicatat dalam kitab Injil, Yesus lalu menangisi kota itu. Tangisan yang sarat makna. Seperti seorang bapa menangisi anak kesayangannya yang tidak memahami akan betapa jauhnya kini mereka menyimpang dari hidup yang seharusnya (bdk. Luk. 19:41-44).

Kemudian Yesus menuju ke Bait Allah. Tapi apa dinyana, Bait Allah yang seharusnya sebagai pusat tempat beribadah kepada Allah, tempat yang dianggap suci, sekarang rupanya telah berubah wajah menjadi pusat aktivitas para “penyamun” berjualan. Menjadi pusat “kejahatan”. Bait Allah yang seharusnya sebagai tempat persekutuan yang tentram, damai, tenang dan teduh menghadap hadirat Allah sekarang menjelma menjadi tempat yang sumpek, gaduh. Tak ubahnya seperti pasar, penuh kotoran dan sampah! Melihat keadaan yang demikian, Yesus marah. Yesus benar-benar marah. Bukan pura-pura marah! Ia mengusir para pedagang yang berjualan di halaman Bait Allah. Bangku, meja para pedagang dan para penukar uang pun dibalikkan-Nya.

Apa kesan saudara setelah mendengar kejadian tersebut? Oh, ternyata Yesus juga bisa marah? Astaga….. Bukankah Yesus sendiri pernah mengajarkan tentang kasih? (Mat.22:37-40). Bukankah Yesus juga pernah mengatakan: “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi”? (Mat. 5:5). Dan… tidak jarang pula, begitu mendengar istilah “kasih” maka yang ada di benak kita selalu identik dengan “lemah lembut”? Karena memang (bila mau jujur), bukankah kita juga sering beranggapan bahwa orang yang marah itu dapat dianggap sebagai orang yang tidak memiliki kasih? Benar begitu saudara?

Tapi masalahnya, marahnya Yesus tidak sama dengan marah pada umumnya yang dilakukan oleh kita sebagai manusia! Karena kemarahan Yesus adalah kemarahan yang berdasar dan beralasan kuat. Kemarahan Yesus adalah “kemarahan Ilahi” yang tidak kompromi dengan dosa! Kemarahan Yesus adalah “kemarahan Ilahi” sebagai kasih yang tidak bersukacita karena ketidakadilan dan ketidakbenaran! (bdk. poin 7 dan 9 dari I Kor.13:4-7). Dengan kata lain, kemarahan Yesus didasarkan kesucian dan kebenaran dari yang Ilahi, yang sangat membenci berbagai macam dosa, kejahatan dan kemunafikan yang dilakukan oleh manusia! Ya, kemarahan Allah tentang apa yang seharusnya Allah katakana. Kemarahan tentang apa yang seharusnya Allah lakukan tepat pada tempatnya. Tanpa meminta ijin untuk menjaga perasaan manusia. Berbeda dengan manusia yang terkadang toh pun harus mengorbankan kebenaran dan keadilan demi menjaga perasaan sesama!

Jadi harus kita mengerti bahwa kemarahan Yesus bukanlah kemarahan tanpa dasar kuat, yang tidak terkait dengan kekudusan ke-Allah-an. Bukan pula kemarahan semacam pembenaran diri, untuk membela diri demi menutupi kemunafikan, yang dilampiaskan dengan kemarahan kepada orang lain dan menciptakan dosa-dosa baru! Tidak sama sekali! Karena itu saudara, janganlah kita main-main soal dosa. Allah menuntut kekudusan. Firman Allah sendiri berkata: “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (I Pet.1:15).

Lalu soal Yesus mengusir para pedangan di halaman Bait Allah? Nah… nah… nah…! Ini juga perlu dipahami dengan hati-hati sesuai dengan konteks dasarnya. Sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang keliru lepas dari konteknya. Karena tidak jarang, inilah juga nas yang sering digunakan untuk melarang orang mengadakan lelang atau bazaar di gereja. Benar saudara? Namun masalahnya tentu berbeda ketika kita memahami dengan benar konteks dimana Yesus memarahi dan mengusir para pedagang di halaman Bait Allah itu. Apa masalahnya? Nah, ini saudara! Yesus marah dan mengusir para pedagang itu, karena apa yang mereka lakukan sudah dianggap di luar batas! Karena itu Yesus menyebutnya sebagai sifat “kejahatan” atau “sarang penyamun”!

Betapa tidak saudara, sebab semakin banyak para pedagang berjualan di halaman Bait Allah, itu berarti semakin memperbanyak pemasukan pajak! Tidak heran bila Bait Allah diubah wajah menjadi pasar pusat perbelanjaan. Barang-barang yang dijual di halaman Bait Allah telah dileges, disegel! Setiap mereka yang akan mempersembahkan korban harus membeli disitu, karena itu yang dianggap resmi walau dengan harga yang membumbung tinggi! Bait Allah dijadikan semacam tempat strategis untuk lakunya barang jualan demi meraup keuntungan memperbesar pajak bagi kelompok tertentu, khususnya para pengelola Bait Allah yang bekerja sama dengan para pedagang yang ada di halaman Bait Allah.

Sementara di sisi lain? Jadilah Bait Allah (Rumah Doa/Rumah Allah) bukan lagi dalam suasana tempat dan pemandangan yang “agung” atau “suci”. Tapi penuh dengan kotoran hewan ternak, riuhnya kepak-kepak sayap merpati. Gaduhnya dentingan penukaran uang logam. Bisa jadi, tukaran recehan di halaman Bait Allah itu yang ditaruhkan di tempat persembahan! Bukankah (maaf!) itu yang sering juga orang lakukan? Sambil diiring syahdu lagunya: “Persembahan kami sedikit sekali…..”. Akh! Kan yang penting hatinya, sela Anda! Benar, kita memang tidak boleh meremehkan soal tulusnya hati. Hanya masalahnya, Yesus pun benar-benar melihat dan memuji bukti nyata persembahan si janda miskin dari yang ia taruhkan! Bukan sekedar melihat hatinya! (Luk. 21:1-4).

Itulah manusia. Terkadang memberi yang serba “sedikit sekali” tetapi meminta kepada Allah inginnya yang serba “banyak sekali”. Dapat Anda bayangkan sekilas situasi dalam lingkungan Bait Allah! Di halaman maupun di dalam! Lingkungan Bait Allah hanyalah korban! Umat hanyalah objek pemerasan yang telah terstruktur! Sementara orang lain mengngambil keuntungan dalam kesempitan! Itulah yang membuat Yesus marah! Yesus tahu sampai ke akar-akarnya perbuatan busuk apa yang mereka perbuat, walau hampir tak Nampak karena diselubungi oleh kemunafikan dan dicengkeram oleh sistim tangan kekuasaan yang kuat! (bdk. ayat 47b).

Kembali pada pertanyaan, bolehkan orang mengadakan lelang atau bazaar di gereja? Jawabnya sederhana. Tergantung apa motivasi dan tujuannya! Bila itu dilakukan demi kepentingan persekutuan bersama, dikelola dengan baik, dan dapat dipertanggungjawabkan dengan baik, salahkah? Dan ayat mana dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa lelang atau bazaar untuk kepentingan persekutuan bersama itu tidak boleh? Apa bedanya dengan yang dilakukan oleh jemaat mula-mula, bahkan ada yang berbisnis menjual rumah serta ladang mereka demi untuk kepentingan persekutuan bersama? (Kis. 4:32-36). Sementara di sisi lain, yang kita lakukan hanyalah mengedar kantong kolekte. Ya, serba kolekte! Maaf! Apa bedanya dengan tukang minta-minta?!

Kita juga memang tidak boleh meremehkan arti kuasa dan mujizat. Tapi tugas gereja bukanlah sebagai penjaja doa yang dianggap satu-satunya! Atau mengajarkan umat yang hanya sibuk memburu mujizat semata! Tidak! Tetapi juga bagaimana hidup menjadi lebih baik dan sejahtera di dunia, mampu menjalani hidup secara kreativ sehingga dapat berbagi bagi sesama yang lain juga. Karena itu, mana lebih baik lelang dan bazaar yang bisa memberi, ketimbang kolekte yang hanya bisa meminta? Karena itu persoalannya bukanlah hanya sekedar boleh atau tidak, tetapi apa motivasi dan tujuannya? Sebab bila gereja sendiri melarat, jadi tukang minta-minta, apalagi bila sampai jadi beban bagi masyarakat, lalu kapan ia bisa berbagi banyak bagi dunia nyata dengan segala macam persoalan kebutuhan jasmani nyata yang menuntut jawaban nyata pula sebelum mereka menuju dunia rohani di akhirat sana..??!! AMIN.

TIADA TEMPAT BAGI KERAGUAN!



Mazmur 119:129-136

Pada bulan Agustus 1973, Samantha White dari Steilacoon, Washington, seorang gadis berumur 8 tahun telah berhasil mendaki puncak gunung Kilimanjaro pada ketinggian 19.340 kaki. Dia dianggap orang termuda yang pernah mendaki puncak pegunungan tertinggi di Afrika itu. Dalam pendakian itu, ayahnya telah gagal sampai pada ketinggian 18.640 kaki dan diserang sakit penyakit. Sebenarnya ada banyak pendaki ulung yang jauh lebih berpengalaman dari pada gadis berumur 8 tahun itu. Namun gadis itu telah membuat kejutan bagi para pendaki kawakan.

Kenapa dalam kenyataannya banyak anak-anak Tuhan kalah dalam aneka pergumulan? Tidak sedikit yang stress, kecewa, dan putus asa seperti tak memiliki pengharqapan? Jawabnya tentu, karena ia tidak memiliki dasar kekuatan untuk melawan dan memenangkannya. Karena ia tidak mendasarkan hidupnya pada kedalaman Firman Tuhan. Ya, doa-doa hanya sekedar penyampaian unek-unek dalam kekecewaan pada Tuhan, untuk mendapatkan pembenaran dari keinginan yang tak kesampaian. Bukan penyerahan penuh dalam hubungan harminis dengan Tuhan, layaknya seorang anak yang sungguh mempercayai kebaikan bapaknya sepenuhnya. Atau Firman Allah dibaca juga sambil diselingi keraguan di dalam jiwa, apakah Allah bisa dipercaya atau tidak?! Karenanya tidak heran, bila imannya tidak bertumbuh-tumbuh juga. Bila pergumulan melanda, maka ia terhenti di tengah jalan. Ibarat layu sebelum berkembang, akhirnya kering, karena tak tak ada siraman air yang memberikan pertumbuhan!

Dalam masalah kehidupan iman pun kadang-kadang dapat terjadi demikian. Telah sekian lama menjadi orang Kristen, tapi imannya begitu-begitu saja. Sedikit-sedikit kecewa. Sedikit-sedikit putus asa. Ya, ini tentu saja karena tidak didasari pada keteguhan hati untuk terus-menerus menjadikan Firman-Nya sebagai cahaya yang menyinari, hingga dengan terang-Nya mampu memahami dan meyakini bahwa apa yang Tuhan lakukan itu luar biasa dan baik adanya! (ay.135). Pemazmur melalui nas ini, menyadarkan kita betapa pentingnya TUHAN dan firmanNya dalam kehidupan. Tidak ada yang mampu memuaskan kerinduan kita, selain hanya TUHAN yang memberikan kekuatan dan pertumbuhan untuk menjalani kehidupan yang kita alami hari lepas hari.

Apa yang sering kita lakukan biasanya mengawali aktivitas di pagi hari, mungkin sambil nikmati sarapan pagi entah dengan teh/kopi bersama sekerat roti, umpama? Apakah cari berita hangat di koran untuk hari ini? Atau memulai hari dengan membaca dan menghayati Firman Tuhan sebagai pedoman? Mungkin kita masing-masing tau jawabannya. Sesuai apa yang biasanya kita lakukan. Syukurlah bila itu Firman Tuhan yang didahulukan. Kata bijak mengatakan, “Bila Anda lebih banyak baca koran ketimbang Firman Tuhan, maka Anda akan dihadapkan dengan 1001 macam persoalan yang siap menghadang, dan serba menakutkan. Tetapi bila Anda lebih banyak menggumuli Firman Tuhan ketimbang mengutamakan baca koran, maka Anda akan menemui 1001 macam jawaban yang Tuhan berikan untuk mengatasi persoalan.”

Sungguh jelas bagi kita bila pemazmur ini tidak ragu untuk mengatakan, “itulah sebabnya jiwaku memegangnya” (ayat 129). Kita pasti mengerti apa yang ia mau dapatkan, 1001 macam jawaban melalui Firman Tuhan untuk mengatasi aneka persoalan. Pemazmur ingin menjadi pemenang di setiap pergumulan kehidupan, tentu saja. Karenanya wajar bila pemazmur merasa begitu rindu untuk hidup di dalam kebenaran firman TUHAN itu. Namun janganlah kita beranggapan, bila seseorang mentaati Firman Tuhan, dekat dengan Tuhan, otomatis hidupnya aman. Bebas dari gangguan, fitnahan, bahkan ancaman segala macam. Tidak! Tidak demikian!

Sama seperti manusia pada umumnya, pemazmur juga mengungkapkan keadaannya yang merasakan tekanan dan pemerasan dari orang-orang yang tidak berpegang pada taurat TUHAN. Mereka senantiasa bertindak jahat dan merongrong kehidupannya, hingga pemazmur merasakan kesedihan yang mendalam (ayat 136). Namun, di tengah keterbatasannya dalam menghadapi tantangan tersebut, pemazmur tetap berharap pada janji dan kasih setia TUHAN. (ay.132-135). Pemazmur percaya bahwa kuasa TUHAN jauh melebihi orang-orang jahat dan jikalau ia tetap berpegang pada firman TUHAN, ia dapat menang melawan orang-orang jahat tersebut. Oleh karena itu, pemazmur bersedia untuk selalu belajar firman TUHAN, dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupannya. Ya, pemazmur percaya bahwa Tuhan memberikan kekuatan dan kemenangan. Pemazmur merindukan TUHAN karena pemazmur telah merasakan indahnya persekutuan dengan TUHAN melalui firman yang ia baca. Bagaimana dengan Anda dan saya? Jika ya, maka seharusnya tidak ada tempat bagi keraguan dalam hidup kita untuk sungguh-sungguh mempercayai Tuhan. AMIN!