Renungan GKE

Sabtu, 13 Februari 2016

MEWARISKAN NILAI-NILAI LUHUR





I Korintus 10:1-11:1

Pada tahun 1911, seorang pemeran pengganti bernama Bobby Leach terjun di air terjun Niagara dalam sebuah tong baja yang sudah dirancang secara khusus. Ia berhasil terjun dengan selamat dan menceritakan tentang hal itu. Meskipun mengalami beberapa cedera ringan, ia bertahan hidup karena menyadari bahaya yang sangat besar dalam tindakan tersebut, dan ia telah melakukan semua yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari bahaya.

Beberapa tahun kemudian, ketika sedang berjalan menyusuri sebuah jalan di New Zealand, Bobby Leach terpeleset kulit jeruk, jatuh, dan mengalami patah kaki yang parah. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit dan meninggal di sana akibat komplikasi dari peristiwa itu. Ia justru mengalami cedera yang lebih parah saat berjalan kaki di New Zealand daripada saat ia terjun di air terjun Niagara. Ia tidak siap menghadapi bahaya di situasi yang dianggapnya aman.

Nas ini memperlihatkan kepada kita tentang keadaan jemaat Korontus. Mereka telah mengalihkan perhatian mereka dari Kristus dan para pemimpin jemaat. Alih-alih meniru sifat-sifat yang menyerupai Kristus, mereka malah membiarkan kesetiaan mereka mengarah pada perpecahan dan perselisihan dalam gereja (1Kor. 1:10-13). Saudara, mungkin godaan hebat bagai gemuruh air di Niagara tidak akan membahayakan kita. Akan tetapi, suatu peristiwa kecil yang tampaknya tidak berarti bisa jadi malah dapat membuat kita jatuh. Mengapa demikian? Karena kita tidak hati-hati dan tak menyadari bahaya yang mungkin terjadi. Kita keliru karena berpikir bahwa kita berada dalam keadaan aman (1Korintus 10:12).

Kita diingatkan tentang perjalanan bangsa Israel di masa lalu dalam mengikuti pimpinan Tuhan. Semuanya dicatat "sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita" (ayat 11). Bukan hanya itu, Alkitab memuat banyak kisah dari masa lalu; supaya kita juga belajar mengetahui kehendak Allah bagi hidup kita. Paulus menasihatkan, "Sebab itu, siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (ay.12).

Bisa jadi sewaktu-waktu kita pun bisa jatuh. Jatuh memang tidak menyenangkan. Mungkin di masa lalu kita menyimpan kegagalan, kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan yang membuat kita bergumul hebat. Namun, di masa lalu kita juga mencatat kemenangan atas pergumulan, kebangkitan dari kegagalan, kelegaan dan pemulihan dari dukacita. Namun, siapa pun yang pernah terjatuh dalam hidupnya, akan mendapatkan pelajaran positif, jika peristiwa itu membuat kita lebih berhati-hati menjalani hidup.

Kita hidup di jaman di mana ilmu pengetahuan semakin tinggi namun moral-etis semakin menuju ke titik nadir terendah. Jalan pintas tidak jarang seolah jadi pilihan untuk mengatasi segala kesulitan. Tuhan semakin dikebelakangkan. Nilai-nilai kejujuran semakin langka. Dusta, penipuan, intrik-intrik busuk merajalela. Menghalalkan segala cara juga seolah hal biasa demi untuk mendapatkan kedudukan, jaminan hidup, dan kebahagiaan. Orang mungkin pergi ke gereja juga, tapi tidak jarang hanya dijadikan semacam obat stress penenang bathin sementara, sebelum bertarung kembali dalam kancah kehidupan selanjutnya. Karenanya tidak heran bila yang dicari adalah soal kepuasan untuk mendapatkan ketenangan bathin saja, bukan sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan supaya diberikan kesanggupan menghadapi tantangan.

Apa pentingnya kita belajar dari pengalaman masa lalu? ini penting! Terlebih karena kita hidup di jaman yang serba keras dan penuh kejahatan seperti sekarang ini. Orang yang belajar dari pengalaman kegagalan masa lalu pasti tahu jalan mana yang harus ia laluinya ke depan. Jalan kejahatan semisal korupsi yang dapat membawa bencana, tentu dihindarinya. Ya, jalan yang belok-belok, atau mudah terobang ambing oleh berbagai bujukan atau tawaran dunia yang menyesatkan tentu tidak disukainya. Dalam situasi yang demikian, nas ini menantang kita selaku umat Tuhan untuk lebih mawas diri.

Sudahkah saya selaku “bue” (kakek) atau “tambi” (nenek) mewariskan nilai-nilai luhur cara hidup rumah betang yang mengutamakan kebersamaan, handep hapakat, rasa senasib sepenanggungan? Sudahkah saya selaku “abah” (ayah) atau “umai” (ibu) meneladankan kesetiaan iman kepada “anak-esu” (anak-cucu) untuk mewariskan “hadat pambelom utus itah” (kehidupan etis-moral kaum kita)? Atau juga, sudahkah saya selaku orang muda mempersiapkan diri sebagai generasi penerus yang dapat dibanggakan bagi orang tua, keluarga, masyarakat atau gereja? Atau malah menjadi sampah yang kehadirannya hanya tambah mengotori dunia?

Semua jawabannya tentu berpulang pada diri kita masing-masing. Tergantung dari seberapa besar rasa takut akan Tuhan dihayati dan dilaksanakan dalam kehidupan! Sebagai orang percaya kita harus belajar dari pengalaman hidup. Harus selalu waspada terhadap godaan. Orang kristiani yang berkemenangan adalah seorang kristiani yang waspada, yang selalu berhati-hati bahkan ketika menghadapi kulit jeruk yang kecil, yang tampaknya sederhana namun yang justru mambuat kita dapat tergelincir! Amin!

KEMARAHAN YANG DILANDASI KASIH



Lukas 19:45-48

Yesus masuk kota Yerusalem. Ia masuk kota Yerusalem tentu saja bukan maksudnya sebagai turis rohani. Atau sekedar menikmati indah dan megahnya kota Yerusalem (maklum, Yerusalem disebut-sebut sebagai personifikasi kota Sorga yang ada di bumi). Bukan itu maksudnya. Tetapi Yesus masuk kota Yerusalem untuk melaksanakan misi suci, mengorbankan diri-Nya sebagai korban yang sempurna dari Allah sendiri dalam rangka penyelamatan umat manusia. Menjadi tebusan bagi dosa manusia. Sesampainya di kota Yerusalem, demikian dicatat dalam kitab Injil, Yesus lalu menangisi kota itu. Tangisan yang sarat makna. Seperti seorang bapa menangisi anak kesayangannya yang tidak memahami akan betapa jauhnya kini mereka menyimpang dari hidup yang seharusnya (bdk. Luk. 19:41-44).

Kemudian Yesus menuju ke Bait Allah. Tapi apa dinyana, Bait Allah yang seharusnya sebagai pusat tempat beribadah kepada Allah, tempat yang dianggap suci, sekarang rupanya telah berubah wajah menjadi pusat aktivitas para “penyamun” berjualan. Menjadi pusat “kejahatan”. Bait Allah yang seharusnya sebagai tempat persekutuan yang tentram, damai, tenang dan teduh menghadap hadirat Allah sekarang menjelma menjadi tempat yang sumpek, gaduh. Tak ubahnya seperti pasar, penuh kotoran dan sampah! Melihat keadaan yang demikian, Yesus marah. Yesus benar-benar marah. Bukan pura-pura marah! Ia mengusir para pedagang yang berjualan di halaman Bait Allah. Bangku, meja para pedagang dan para penukar uang pun dibalikkan-Nya.

Apa kesan saudara setelah mendengar kejadian tersebut? Oh, ternyata Yesus juga bisa marah? Astaga….. Bukankah Yesus sendiri pernah mengajarkan tentang kasih? (Mat.22:37-40). Bukankah Yesus juga pernah mengatakan: “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi”? (Mat. 5:5). Dan… tidak jarang pula, begitu mendengar istilah “kasih” maka yang ada di benak kita selalu identik dengan “lemah lembut”? Karena memang (bila mau jujur), bukankah kita juga sering beranggapan bahwa orang yang marah itu dapat dianggap sebagai orang yang tidak memiliki kasih? Benar begitu saudara?

Tapi masalahnya, marahnya Yesus tidak sama dengan marah pada umumnya yang dilakukan oleh kita sebagai manusia! Karena kemarahan Yesus adalah kemarahan yang berdasar dan beralasan kuat. Kemarahan Yesus adalah “kemarahan Ilahi” yang tidak kompromi dengan dosa! Kemarahan Yesus adalah “kemarahan Ilahi” sebagai kasih yang tidak bersukacita karena ketidakadilan dan ketidakbenaran! (bdk. poin 7 dan 9 dari I Kor.13:4-7). Dengan kata lain, kemarahan Yesus didasarkan kesucian dan kebenaran dari yang Ilahi, yang sangat membenci berbagai macam dosa, kejahatan dan kemunafikan yang dilakukan oleh manusia! Ya, kemarahan Allah tentang apa yang seharusnya Allah katakana. Kemarahan tentang apa yang seharusnya Allah lakukan tepat pada tempatnya. Tanpa meminta ijin untuk menjaga perasaan manusia. Berbeda dengan manusia yang terkadang toh pun harus mengorbankan kebenaran dan keadilan demi menjaga perasaan sesama!

Jadi harus kita mengerti bahwa kemarahan Yesus bukanlah kemarahan tanpa dasar kuat, yang tidak terkait dengan kekudusan ke-Allah-an. Bukan pula kemarahan semacam pembenaran diri, untuk membela diri demi menutupi kemunafikan, yang dilampiaskan dengan kemarahan kepada orang lain dan menciptakan dosa-dosa baru! Tidak sama sekali! Karena itu saudara, janganlah kita main-main soal dosa. Allah menuntut kekudusan. Firman Allah sendiri berkata: “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (I Pet.1:15).

Lalu soal Yesus mengusir para pedangan di halaman Bait Allah? Nah… nah… nah…! Ini juga perlu dipahami dengan hati-hati sesuai dengan konteks dasarnya. Sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang keliru lepas dari konteknya. Karena tidak jarang, inilah juga nas yang sering digunakan untuk melarang orang mengadakan lelang atau bazaar di gereja. Benar saudara? Namun masalahnya tentu berbeda ketika kita memahami dengan benar konteks dimana Yesus memarahi dan mengusir para pedagang di halaman Bait Allah itu. Apa masalahnya? Nah, ini saudara! Yesus marah dan mengusir para pedagang itu, karena apa yang mereka lakukan sudah dianggap di luar batas! Karena itu Yesus menyebutnya sebagai sifat “kejahatan” atau “sarang penyamun”!

Betapa tidak saudara, sebab semakin banyak para pedagang berjualan di halaman Bait Allah, itu berarti semakin memperbanyak pemasukan pajak! Tidak heran bila Bait Allah diubah wajah menjadi pasar pusat perbelanjaan. Barang-barang yang dijual di halaman Bait Allah telah dileges, disegel! Setiap mereka yang akan mempersembahkan korban harus membeli disitu, karena itu yang dianggap resmi walau dengan harga yang membumbung tinggi! Bait Allah dijadikan semacam tempat strategis untuk lakunya barang jualan demi meraup keuntungan memperbesar pajak bagi kelompok tertentu, khususnya para pengelola Bait Allah yang bekerja sama dengan para pedagang yang ada di halaman Bait Allah.

Sementara di sisi lain? Jadilah Bait Allah (Rumah Doa/Rumah Allah) bukan lagi dalam suasana tempat dan pemandangan yang “agung” atau “suci”. Tapi penuh dengan kotoran hewan ternak, riuhnya kepak-kepak sayap merpati. Gaduhnya dentingan penukaran uang logam. Bisa jadi, tukaran recehan di halaman Bait Allah itu yang ditaruhkan di tempat persembahan! Bukankah (maaf!) itu yang sering juga orang lakukan? Sambil diiring syahdu lagunya: “Persembahan kami sedikit sekali…..”. Akh! Kan yang penting hatinya, sela Anda! Benar, kita memang tidak boleh meremehkan soal tulusnya hati. Hanya masalahnya, Yesus pun benar-benar melihat dan memuji bukti nyata persembahan si janda miskin dari yang ia taruhkan! Bukan sekedar melihat hatinya! (Luk. 21:1-4).

Itulah manusia. Terkadang memberi yang serba “sedikit sekali” tetapi meminta kepada Allah inginnya yang serba “banyak sekali”. Dapat Anda bayangkan sekilas situasi dalam lingkungan Bait Allah! Di halaman maupun di dalam! Lingkungan Bait Allah hanyalah korban! Umat hanyalah objek pemerasan yang telah terstruktur! Sementara orang lain mengngambil keuntungan dalam kesempitan! Itulah yang membuat Yesus marah! Yesus tahu sampai ke akar-akarnya perbuatan busuk apa yang mereka perbuat, walau hampir tak Nampak karena diselubungi oleh kemunafikan dan dicengkeram oleh sistim tangan kekuasaan yang kuat! (bdk. ayat 47b).

Kembali pada pertanyaan, bolehkan orang mengadakan lelang atau bazaar di gereja? Jawabnya sederhana. Tergantung apa motivasi dan tujuannya! Bila itu dilakukan demi kepentingan persekutuan bersama, dikelola dengan baik, dan dapat dipertanggungjawabkan dengan baik, salahkah? Dan ayat mana dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa lelang atau bazaar untuk kepentingan persekutuan bersama itu tidak boleh? Apa bedanya dengan yang dilakukan oleh jemaat mula-mula, bahkan ada yang berbisnis menjual rumah serta ladang mereka demi untuk kepentingan persekutuan bersama? (Kis. 4:32-36). Sementara di sisi lain, yang kita lakukan hanyalah mengedar kantong kolekte. Ya, serba kolekte! Maaf! Apa bedanya dengan tukang minta-minta?!

Kita juga memang tidak boleh meremehkan arti kuasa dan mujizat. Tapi tugas gereja bukanlah sebagai penjaja doa yang dianggap satu-satunya! Atau mengajarkan umat yang hanya sibuk memburu mujizat semata! Tidak! Tetapi juga bagaimana hidup menjadi lebih baik dan sejahtera di dunia, mampu menjalani hidup secara kreativ sehingga dapat berbagi bagi sesama yang lain juga. Karena itu, mana lebih baik lelang dan bazaar yang bisa memberi, ketimbang kolekte yang hanya bisa meminta? Karena itu persoalannya bukanlah hanya sekedar boleh atau tidak, tetapi apa motivasi dan tujuannya? Sebab bila gereja sendiri melarat, jadi tukang minta-minta, apalagi bila sampai jadi beban bagi masyarakat, lalu kapan ia bisa berbagi banyak bagi dunia nyata dengan segala macam persoalan kebutuhan jasmani nyata yang menuntut jawaban nyata pula sebelum mereka menuju dunia rohani di akhirat sana..??!! AMIN.

TIADA TEMPAT BAGI KERAGUAN!



Mazmur 119:129-136

Pada bulan Agustus 1973, Samantha White dari Steilacoon, Washington, seorang gadis berumur 8 tahun telah berhasil mendaki puncak gunung Kilimanjaro pada ketinggian 19.340 kaki. Dia dianggap orang termuda yang pernah mendaki puncak pegunungan tertinggi di Afrika itu. Dalam pendakian itu, ayahnya telah gagal sampai pada ketinggian 18.640 kaki dan diserang sakit penyakit. Sebenarnya ada banyak pendaki ulung yang jauh lebih berpengalaman dari pada gadis berumur 8 tahun itu. Namun gadis itu telah membuat kejutan bagi para pendaki kawakan.

Kenapa dalam kenyataannya banyak anak-anak Tuhan kalah dalam aneka pergumulan? Tidak sedikit yang stress, kecewa, dan putus asa seperti tak memiliki pengharqapan? Jawabnya tentu, karena ia tidak memiliki dasar kekuatan untuk melawan dan memenangkannya. Karena ia tidak mendasarkan hidupnya pada kedalaman Firman Tuhan. Ya, doa-doa hanya sekedar penyampaian unek-unek dalam kekecewaan pada Tuhan, untuk mendapatkan pembenaran dari keinginan yang tak kesampaian. Bukan penyerahan penuh dalam hubungan harminis dengan Tuhan, layaknya seorang anak yang sungguh mempercayai kebaikan bapaknya sepenuhnya. Atau Firman Allah dibaca juga sambil diselingi keraguan di dalam jiwa, apakah Allah bisa dipercaya atau tidak?! Karenanya tidak heran, bila imannya tidak bertumbuh-tumbuh juga. Bila pergumulan melanda, maka ia terhenti di tengah jalan. Ibarat layu sebelum berkembang, akhirnya kering, karena tak tak ada siraman air yang memberikan pertumbuhan!

Dalam masalah kehidupan iman pun kadang-kadang dapat terjadi demikian. Telah sekian lama menjadi orang Kristen, tapi imannya begitu-begitu saja. Sedikit-sedikit kecewa. Sedikit-sedikit putus asa. Ya, ini tentu saja karena tidak didasari pada keteguhan hati untuk terus-menerus menjadikan Firman-Nya sebagai cahaya yang menyinari, hingga dengan terang-Nya mampu memahami dan meyakini bahwa apa yang Tuhan lakukan itu luar biasa dan baik adanya! (ay.135). Pemazmur melalui nas ini, menyadarkan kita betapa pentingnya TUHAN dan firmanNya dalam kehidupan. Tidak ada yang mampu memuaskan kerinduan kita, selain hanya TUHAN yang memberikan kekuatan dan pertumbuhan untuk menjalani kehidupan yang kita alami hari lepas hari.

Apa yang sering kita lakukan biasanya mengawali aktivitas di pagi hari, mungkin sambil nikmati sarapan pagi entah dengan teh/kopi bersama sekerat roti, umpama? Apakah cari berita hangat di koran untuk hari ini? Atau memulai hari dengan membaca dan menghayati Firman Tuhan sebagai pedoman? Mungkin kita masing-masing tau jawabannya. Sesuai apa yang biasanya kita lakukan. Syukurlah bila itu Firman Tuhan yang didahulukan. Kata bijak mengatakan, “Bila Anda lebih banyak baca koran ketimbang Firman Tuhan, maka Anda akan dihadapkan dengan 1001 macam persoalan yang siap menghadang, dan serba menakutkan. Tetapi bila Anda lebih banyak menggumuli Firman Tuhan ketimbang mengutamakan baca koran, maka Anda akan menemui 1001 macam jawaban yang Tuhan berikan untuk mengatasi persoalan.”

Sungguh jelas bagi kita bila pemazmur ini tidak ragu untuk mengatakan, “itulah sebabnya jiwaku memegangnya” (ayat 129). Kita pasti mengerti apa yang ia mau dapatkan, 1001 macam jawaban melalui Firman Tuhan untuk mengatasi aneka persoalan. Pemazmur ingin menjadi pemenang di setiap pergumulan kehidupan, tentu saja. Karenanya wajar bila pemazmur merasa begitu rindu untuk hidup di dalam kebenaran firman TUHAN itu. Namun janganlah kita beranggapan, bila seseorang mentaati Firman Tuhan, dekat dengan Tuhan, otomatis hidupnya aman. Bebas dari gangguan, fitnahan, bahkan ancaman segala macam. Tidak! Tidak demikian!

Sama seperti manusia pada umumnya, pemazmur juga mengungkapkan keadaannya yang merasakan tekanan dan pemerasan dari orang-orang yang tidak berpegang pada taurat TUHAN. Mereka senantiasa bertindak jahat dan merongrong kehidupannya, hingga pemazmur merasakan kesedihan yang mendalam (ayat 136). Namun, di tengah keterbatasannya dalam menghadapi tantangan tersebut, pemazmur tetap berharap pada janji dan kasih setia TUHAN. (ay.132-135). Pemazmur percaya bahwa kuasa TUHAN jauh melebihi orang-orang jahat dan jikalau ia tetap berpegang pada firman TUHAN, ia dapat menang melawan orang-orang jahat tersebut. Oleh karena itu, pemazmur bersedia untuk selalu belajar firman TUHAN, dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupannya. Ya, pemazmur percaya bahwa Tuhan memberikan kekuatan dan kemenangan. Pemazmur merindukan TUHAN karena pemazmur telah merasakan indahnya persekutuan dengan TUHAN melalui firman yang ia baca. Bagaimana dengan Anda dan saya? Jika ya, maka seharusnya tidak ada tempat bagi keraguan dalam hidup kita untuk sungguh-sungguh mempercayai Tuhan. AMIN!

Senin, 04 Januari 2016

PEREMPUAN TANPA NAMA




Lukas 13:10-17

Entah siapa nama perempuan dalam nas ini, tidak disebutkan. Namun yang jelas sejak lahir ia punya nama, entah Chyntia, Melly, Agnes, Monica, atau siapa saja. Dapat Anda bayangkan ketika ia masih anak-anak, remaja, bahkan ketika telah beranjak dewasa andaikan ia bernama Chyntia, atau Monica. Dapat Anda bayangkan juga andai waktu itu ia seorang putri jelita. Oh, bahagianya dia….. namun kini apalah daya, sekarang tak ada yang mengingat namanya. Ia hanya disebut seorang “perempuan”. Tak ada yang menarik padanya. Apalagi wajah di usia tuanya. Ditambah lagi punggungnya bungkuk karena penyakit yang dideritanya. Apa yang menarik? Dan siapa yang tertarik?!

Saudara, sudah 18 tahun ia menanggung sakit. Bukan hanya itu, tetapi malah penderitaan lahir batin. Karena di masyarakat Yahudi penyakit dengan embel-embel “dirasuk roh jahat” dapat dianggap karena seseorang kurang iman, atau karena dosa orang yang bersangkutan. Dapat pula Anda bayangkan, betika ia berpapasan dengan orang-orang. Cara orang-orang memandangnya, atau memperlakukannya. Ya, sudah 18 tahun ia dalam keadaan itu. Bukan waktu yang singkat. Hanya ketabahanlah yang memampukan orang bias bertahan dalam keadaan itu.

Oh, perempuan, entah siapa namamu….mungkin Chyntia, Melly, Agnes, Monica atau siapa saja…… namun sekarang tak ada yang perduli. Sementara orang beragama hanya sibuk beribadah di tiap Sabat. Mereka hanya asyik beribadah dalam kelompoknya sendiri memuji Tuhan, berhalleluya…… hanya sayang perempuan ini seolah terasing dalam kesendirian. Tak ada yang memperdulikan. Sudah 18 tahun waktu berjalan. Ya, apalagi jika bukan soal rupa, status sosial, dan karena keadaan. Bukankah hal yang demikian juga sering kita jumpai dalam kenyataan? Orang tertarik karena ada yang membuatnya menarik? Orang perduli karena ada keuntungan yang diharapkan?

Namun bagi Tuhan tentu berbeda. Justru perempuan ini menjadi sesuatu yang special saat itu. Walau perempuan ini duduk paling belakang dalam ibadah karena keadaannya, namun tidak mengurangi mata Tuhan tertuju padanya. Tidak mengurangi nilai kasih yang dikhususkan Tuhan baginya. Hal itu menjadi sangat kentara ketika Yesus berucap tegas penuh kuasa: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh” (ay.12). Yesus memulihkan keadaanya. Serentak dengan itu Yesus menegaskan kasih Allah mengampuni dosanya, mengembalikan harga dirinya sama dengan yang lainnya. Tidak sia-sia keasih yang ia tunjukkan kepada Allah dalam harapannya siang dan malam.

Apakah Anda seorang perempuan yang sedang dibuang? Terbuang? Ditinggalkan kekasih tersayang, ibarat habis manis sepah dibuang? Apakah anda sudah tak diperdulikan lagi karena tidak ada apa-apa lagi yang menarik atau karena cerita hitam masa lalu Anda? Bisa jadi, bagi manusia Anda dianggap sampah. Tapi bagi Tuhan tidak! Karena itu, berharaplah sungguh-sungguh pada-Nya karena Anda juga dipulihkannya. Allah juga sangat berkepentingan terhadap Anda untuk menjadi saksi kemurahan-Nya bagi dunia, seperti perempuan ini memuliakan Allah membungkam kemunafikan dunia! Amin!

(Pdt.Kristinus Unting)

Jumat, 01 Januari 2016

MENJALANI TAHUN BARU BERSAMA DENGAN TUHAN


 Kisah Para Rasul 4:23-31

Tanpa terasa, kini kita sudah berada di tahun yang baru, tahun 2016. Itu berari kita akan mulai lagi menjalani sebanyak 12 bulan, 365 hari, 876.581,277 jam, 525.948,766 menit, dan 31.556.926 detik perjalanan waktu ke depan. Tentu banyak harapan-harapan. Yang pasti harapan yang baik-baik, yang indah-indah. Namun kita pun belum tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Yang jelas suka duka pasti juga ada.

Sebagai anak-anak Tuhan kita harus memiliki keberanian untuk melihat dunia dengan cara baru, yakni cara yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan. Ada ungkapan yang mengatakan, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia merupakan orang yang beruntung. Kalau sama saja, dia adalah orang yang merugi. Sedangkan kalau lebih buruk, dia adalah orang yang celaka.” Bagaimana dengan kita? Bagaimana seharusnya kita akan menjalani tahun 2016 ini?

1. Utamakan Kuasa Doa Dan Berani Hadapi Tantangan

Sebagai anak-anak Tuhan, utamakanlah kuasa doa. Tantangan selalu ada. Kapan saja di mana saja, bahkan bisa datang melalui apa saja. Tidak tanggung-tanggung, jemaat mula-mula pun menghadapi tantangan yang hebat. Sejak kelahiran Yesus pun mengalami penindasan dari para penguasa, Herodes dan Pontius Pilatus. Setiap manusia pasti memiliki tantangan , rintangan dan ujian dalam hidupnya, baik dalam skala individu maupun komunitas atau organisasi. Kesulitan dan tantangan hidup banyak membuat orang tidak berani menyuarakan iman mereka. Ditambah lagi iblis yang semakin gencar mengeluarkan godaannya, menarik orang percaya untuk meninggalkan jalan Tuhan.

Ujian dalam hidup manusia sudah menjadi ketentuan-Nya. Bahwa hakekat hidup adalah ujian. Namun setiap ujian dan tantangan selalu ada jawabannya diberikan oleh Allah, bahkan sebelum ujian dan tantangan itu diterima oleh manusia. Satu hal yang perlu kita pelajari dari cara hidup jemaat mula-mula, mereka senantiasa berdoa. Ya, mengandalkan kuasa doa! Apakah kita secera pribadi menguramakan doa? Mengandalkan doa? Apakah keluarga-keluarga Kristen atau gereja sungguh-sungguh menjadi pendoa atau mengandalkan kuasa doa? Atau berdoa hanya ketika musibah menimpa? Jadilah umat Tuhan yang mengandalkan kuasa doa sehingga kita beroleh kekuatan menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Ini penting.

Kuasa doa datang dari Dia yang Mahakuasa yang mendengar doa kita dan menjawabnya. Doa menghubungkan kita dengan Allah yang Mahakuasa, dan kita harus mengharapkan hasil yang luar biasa, baik Dia mengabulkan permohonan kita atau tidak. Apapun jawaban atas doa, Allah yang kepadaNya kita berdoa adalah sumber dari kuasa doa, dan Dia bisa serta akan menjawab kita, seturut kehendak dan waktu-Nya yang sempurna. Hari ini adalah titik balik dalam kehidupan Anda. Bangkitlah, dan pandanglah tantangan hidup sebagai kesempatan dari Tuhan, sehingga Anda dapat mengalahkan dan menjadi pemenang dalam perlombaan iman.

2. Miliki Visi Yang Jelas Tentang Masa Depan

Negarawan Inggris bernama Joseph Chamberlain (1836-1914) pada masa mudanya pernah mengajar Sekolah Minggu. Ayat Alkitab yang paling disukainya terdapat dalam Kejadian 12:5 yang mengungkapkan kalimat "Mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ." Ayat tersebut adalah motto yang sesuai bagi orang yang bertekad baja seperti Chamberlain. Ayat itu juga memberinya dasar alkitabiah yang kuat untuk mengemukakan dua kunci kesuksesan dalam hidup orang percaya.

Pertama, kita perlu memiliki visi yang jelas yaitu "Mereka berangkat ke tanah Kanaan." Kedua, memiliki tekad baja, berani menghadapi tantangan terus menempuh perjalanan yang telah kita awali-"lalu sampai di situ." Bill Gates pada tahun 80-an pernah bermimpi suatu saat dapat menghadirkan komputer di setiap rumah. Sesuatu yang dianggap sulit diwujudkan pada masa itu. Mimpinya itu hari ini menjadi kenyataan dengan kepemilikan komputer yang tumbuh pesat setiap tahun, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi begitu mencengangkan pada zaman ini yang tidak pernah dibayangkan duapuluh atau bahkan sepuluh tahun yang lalu. Bill Gates dengan visinya mampu menjadikan dirinya sebagai orang terkaya di dunia. Perlu diingat, mimpi dapat mengubah hidup seseorang.

Banyak orang-orang sukses di dunia memulai sesuatu dengan menghadapi berbagai kesulitan. Namun cita-cita yang dibarengi visi yang jelas, tujuan yang jelas, keberanian serta kerja keras, memungkinkan sesuatu yang luar biasa dalam perjalanan hidup mereka dapat diperoleh. Bahkan sesuatu yang tampaknya mustahil dapat terjadi bagi orang rata-rata! ketekunan dan kerja keras mereka telah membantu mereka untuk setia pada usaha-usaha mereka. Berkat kesetiaan dan ketekunan itu mereka meraih sukses dalam usaha-usaha mereka. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berani menghadapi tantangan demi tantangan dengan penuh iman. Untuk itu, kita mesti menyertakan Tuhan dalam usaha-usaha kita.

3. Melangkah Bersama Tuhan

Suatu hari, Gibran bertanya kepada gurunya. Gibran : "Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup..?" Sang Guru : "Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali kebelakang..!" Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa.. Lalu Sang Guru bertanya : "Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun...???" Gibran : "Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya, karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yg lebih indah. Namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi..!"

Sambil tersenyum, Sang Guru berkata : "Ya, itulah hidup.. semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya. Karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan.." Karena itu janganlah mencari kesempurnaan, tapi sempurnakanlah apa yang telah ada pada kita... Bila tak kuasa memberi, Jangan mengambil. Bila mengasihi terlalu sulit, Jangan membenci. Bila tak mampu menghibur orang, Jangan membuatnya sedih. Bila tak mungkin meringankan beban orang lain, Jangan mempersulit/memberatkannya. Bila tak sanggup memuji, Jangan menghujat. Bila tak bisa menghargai, Jangan menghina.

Saudara, melangkah bersama Tuhan berarti kita beriman dan berpaut hanya kepada Tuhan. Bukan kepada yang lain! Melangkah bersama Tuhan berarti kita memberanikan diri melangkah dengan terus melihat ke mana Tuhan akan memimpin kita. Jangan biarkan keamanan dan kenyamanan yang kita rasakan saat ini membuat kita enggan terlibat dalam penggenapan rencana baik Tuhan tersebut. Berkat Tuhan tidak tergantung dari situasi dan tempat. Juga tidak dapat diperhitungkan dengan ilmu pasti manusia yang terbatas. Pandanglah harapan ke depan berlandaskan akan janji Tuhan dan dengan mata Iman. Ya, karena itulah hakikat iman. Bagaimana dengan Anda? Apakah Allah juga menjadi pusat hidup Anda saat ini? Jika ya, melangkahlah di tahun yang baru, tahun 2016 bersama Tuhan dengan iman! Berkat Allah ada di depan Anda! Selamat Tahun Baru 2016. Amin!

Kamis, 10 Desember 2015

KETIKA KESEMPATAN DISALAHGUNAKAN




Markus 6:21-43

Sejatinya, semua orang punya kesempatan dalam hidupnya. Kesempatan yang negatif maupun kesempatan yang positif. Kesempatan untuk perbuatan jahat maupun yang baik. Tergantung orang memilih dan menjalaninya. Demikian pun yang diceriterakan dalam nas ini. Adalah seorang perempuan bernama Herodian. Seorang terhormat. Isteri seorang pejabat. Suaminya bernama Herodes sang raja yang berkuasa. Diadakanlah pesta besar-besaran pada hari ulang tahun sang baginda suaminya. Pesta yang luar biasa tentu saja. Pada suasana sukacita itu Sang baginda mau memberikan hadiah kepada anaknya yang menari menyukakan hatinya: “Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu.” Bahkan sang Baginda menawarkan permintaan apa saja dan mengikatnya dengan sumpah (ay.22).

Oh luar biasa….ini sebuah kesempatan emas. Mungkin karena saking bingungnya tentang permintaan apa yang akan diajukan, sang anak ini meminta petunjuk dari ibunya. Oh, kesempatan! Aji mumpung! Disebutkan: “Akhirnya tiba juga kesempatan bagi Herodias…” (ay.21). Eheeem…ini dia. Herodias tanpa membuang waktu atas kesempatan yang ada! Dan apa dinyana, ia memberikan anjuran kepada anaknya untuk meminta kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam! (ay.25-25). Kenapa kepala Yohanes yang dimintanya? Kenapa tidak yang lain? Nah, ini masalahnya. Karena sejak lama Herodian menyimpan dendam kepada Yohanes berhubung Yohanes pernah menegor soal perkawinannya yang tidak beres dengan si Baginda Herodes.

Dendam kesumat gara-gara ketersinggungan dan tidak mau menerima tegoran dari orang biasa karena merasa diri orang terhormat, seperti inilah yang bisa terjadi. Apalagi bila diri memiliki kuasa dan kesempatan itu ada, oh…..apa saja dapat dilakukan. Sejahat apaun tega diperbuat kepada orang lain, demi kepuasan atau menjaga gensi diri. Tidak gampang memang untuk berbuat baik. Tidak mudah memang untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Juga tidak sederhana memang menenteramkan hati agar tetap bening terjaga dari rasa ketersinggungan atas tegoran yang orang lain sampaikan. Bila kesempatan ada, nah… taulah kita apa yang akan terjadi rata-rata di pentas kehidupan nyata manusia. Terlebih ketika kita hidup di jaman melalui mana “kasih” semakin menjadi barang langka seperti sekarang ini.

Saudara, satu hal penting menjadi bahan perenungan mendalam kita dari nas ini, terlebih bagi kita sebagai orang beriman. Supaya kita selalu mawas diri. Mejaga hati. Bebaskan diri dari sikap tak terpuji yang terbelenggu oleh kuasa kegelapan. Sikap yang tidak pernah mau menerima kritik, tegoran. Ketika setiap momen atau kesempatan yang ada, selalu yang jahat yang dikeluarkan dari perbendaharaan pikiran serta tindakan. Sebagai orang beriman, sebaiknya menggunakan setiap kesempatan untuk sesuatu yang berharga dan mulia. Ketika memiliki kuasa dan jabatan atau ketika mendapat kepercayaan, gunakan untuk melayani kehidupan bagi sesama dan ciptaan menuju kearah damai dan sejahtera. Karena akhirnya, tidak ada yang lebih bernilai selain pemikiran yang membangun dan setiap perbuatan yang mulia di hadapan Tuhan dan sesama dari setiap kita. Amin!

Senin, 23 November 2015

UNDANGAN KESELAMATAN


Lukas 14:15-24

Pernahkah saudara mendapat undangan untuk menghadiri suatu acara panting? Undangan pasta ulang tahun, pengucapan syukur, pesta pernikahan, atau pun undangan-undangan penting lain misalnya? Saudara, barangkali kita pernah mendapatkan undangan-undangan semacam itu. Bahkan mungkin sering. Bila kita mendapatkan undangan itu artinya kita mendapat suatu penghargaan besar dari si pengundang. Semakin besar pengaruh atau status si pengundang maka semakin besar pula nilai penghargaan bagi yang diundang. Coba umpama bila yang mengundang itu adalah seorang jutawan atau seorang pejabat. Maka biasanya orang yang diundang adalah orang-orang yang dianggap pantas untuk diundang. Mana mungkin kira-kira ia mengundang orang-orang buta, orang timpang, orang gembel, orang yang korengan diharapkan menghadiri undangan. Coba pula misalnya bila si pengundang itu adalah seorang raja. Maka tentu orang yang diundangnya adalah orang-orang yang dianggap panting untuk diundang. Orang-orang yang dianggap terhormat tentu saja!

Bagaimana kira-kira andaikata kita sebagai orang biasa tau-tau mendapat undangan dari bapak Presiden untuk manghadiri undangan kenegaraan? Boleh jadi kita berkata: "mimpi apa aku semalam"? Tentu kita akan berupaya untuk datang karena peristiwa semacam itu tentulah suatu peristiwa yang tak terlupakan seumur hidup kita, sebuah kenang-kenangan yang berharga! Betapa tidak, apabila kita telah diundang dan mendapatkan suatu penghargaan besar tiada tara. Suatu penghargaan langka yang tidak mungkin didapat semua orang. Seumur hidup belum tentu semua orang mendapatkannya. Walaupun setiap orang mendambakannya. Saudara, bagaimana kira-kira bila hal tersebut memang benar-benar terjadi dalam kehidupan kita? Bagaimanakah sikap kita? Dan... maaf, bila mengingatkan, bahwa saudara dan saya memang benar-benar telah diundang. Ya, benar-benar juga diundang dalam pasta perkawinan. Ya, Sang Penguasa, raja di atas segala raja, Sang Mahakaya benar-benar mengundang kita dalam suasana pesta anak-Nya. Bagmana sikap kita?

Saudara, Ini adalah soal Kerajaan Sorga. Yang dipaparkan Yesus dalam nas ini, Yesus sendiri mengumpamakannya sama dengan seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anak-Nya. Ia telah mengundang banyak orang ke pasta yang diadakan-Nya. Untuk bersama- sama bergembira. Tapi masalahnya, para undangan tidak dapat menghadiri pesta tersebut. Apa pasalnya? Mereka masing-masing punya alasan. Alasan yang memang tak dapat ditawar-tawar. Alasan yang memang juga tak boleh diremehkan! Ya, karena menyangkut keperluan hidup alias jaminan hidup. Yang bila diabaikan bisa fatal akibatnya! Untuk itulah mereka satu-persatu meminta maaf kepada si pengundang. Maaf karena urusan ladang. Maaf karena harus mengusrus usaha. Yang lain juga maaf.., karena barang sebentar bersenang menakmati kebahagiaan keluarga. Ya, maaf,., maaf. , , maaf ... Dan siapa yang mengatakan bahwa segala urusan mereka itu salah? Tidak, tidak salah! Masalahnya saudara, mereka tidak menyadari bahwa undangan tersebut teramat penting. Bahwa undangan itu bukanlah undangan biasa, tetapi dari sang baginda raja, yang bisa menentukan nasib seseorang!

Taukah saudara apa artinya bila undangan tersebut tak diindahkan? Mengertikah kita apabila sang baginda kecewa? Yang pasti bisa terjadi kesulitan bagi si diundang nantinya! Karena bila tak datang ke undangan raja boleh jadi dianggap suatu penghinaan bagi sang baginda. Bila ini sampai terjadi tentu malanglah nasib si orang yang tak mengindahkan undangan sang baginda. Padahal undangan semacam itu belum tentu terjadi kedua kali. Saudara, perumpamaan Yesus tentang hal Kerajaan sorga dalam nas ini masih ada kelanjutannya. Rupa-rupanya sang raja ini seorang yang murah hati. Walaupun para undangan istana itu mempunyai dalih yang bermacam-macam, bahkan sampai menangkap, menyiksa bahkan membunuh hamba-hamba utusannya. Namun ia tetap mengundang orang-orang untuk datang ke pestanya. Namun kali ini para undangannya bukan lah orang-orang terhormat. Pokoknya orang jahat, orang gembel, bandit, dan sebagainya diundang!

Saudara, apa yang mau dikatakan Yesus melalui perumpamaan dalam nas ini? Adalah orang-orang yang telah dipanggil menjadi pengikut-pengikut Kristus. Menjadi anggota jemaat warga Kerajaan Allah, tetapi masih tetap dalam dosanya. Dengan bermacam dalih mereka menolak undangan sorgawi. Nah, ini! Apabila hanya karena urusan perut, soal jamian hidup, atau juga masalah kebahagiaan hidup di alam fana ini kita menjadi sangat sibuk. Selalu sibuk. Terlalu sibuk. Dan akhirnya diperbudak oleh kesibukan. Dan persoalan yang diurus kesibukan tadi menjadi satu-satunya yang dianggap paling berharga. Menjadi satu-satunya tujuan hidup. Di sinilah celakanya! Apalagi bila karenanya kita sampai menganggap soal keselamatan menjadi tak ada artinya. Di sinilah bahayanya! Lalu akhirnya kita menjadi kehilangan makna hidup yang sesungguhnya. Untuk apa sebenarnya kita ada di tengah-tengah kehidupan ini. Apa yang mestinya dilakukan sebagai persiapan bila nanti memasuki alam yang di seberang sana?!

Saudara, kesibukan adalah bahaya nomor satu paling menggoda, yang dapat menjauhkan kita dari Tuhan. Sibuk itu sendiri sebenarnya tidaklah salah! Tetapi bila terlalu sibuk, nah inilah yang bisa berbahaya. Kita lalu seperti orang terkena bius. Lupa capek. Lupa sakit. Lupa hari-hari ajal kita yang makin mendekat. Akhirnya kita tidak menyadari untuk apa semua yang kita cari, kita kerjakan, kita usahakan dan kita peroleh bila malaikat maut keburu datang. Banyak orang meremehkan berkat, anugerah Tuhan dan lebih memilih hidup dalam dosa yang berujung pada maut. Inilah gambaran dari kehidupan banyak orang di masa sekarang yang selalu berfokus pada dirinya dan kepentingannya sendiri. Bahkan dengan berbagai dalih mereka berusaha menghindar dari Tuhan.

Dalam dunia rohani ada banyak orang seperti ini. Kelihatannya mereka mau datang kepada Yesus. Mereka mau diajak ke gereja, mau dibaptis, mau belajar Kitab Suci, mau melayani Tuhan, mau memberi persembahan dsb, tetapi waktu mereka betul-betul ditantang untuk datang kepada Yesus dan menerimaNya sebagai Juruselamat dan Tuhan, mereka menolak! Namun ada juga yang datang, tetapi tidak mau mengenakan pakaian pesta yang telah disediakan oleh Kristus. Yaitu "pakaian" kebenaran. Banyak orang menerima undangan untuk percaya kepada Yesus, tapi gagal untuk menanggalkan pakaian lama dan mengenakan pakaian Kerajaan Allah, banyak orang yang percaya kepada Yesus masih hidup dengan cara hidup dan pola pikir yang lama yang tidak sesuai dengan Firman Allah dan tidak hidup dalam ketaatan. Tidak sungguh-sungguh. Tidak serius! (bdk. Mat.22:11-14; Why. 3:18).

Jadi dalam nas ini ada dua pelajaran penting yang perlu kita perhatikan, ketika Tuhan mengundang Anda: soal kesungguhan, keseriusan kita dalam hal hidup keagamaan kita. Bahwa soal kesibukan janganlah sampai menggantikan hal-hal yang paling prinsip dalam hidup kita. Sedangkan yang berikutnya: bahwa soal hidup dalam kebenaran haruslah selalu diutamakan. Jangan dikesampingkan, Kita telah dikasihi oleh Allah melalui korban Kristus. Kita telah dianggap berharga dan telah diundang dalam sukacita sorgawi hanya semata oleh kasih Allah. Janganlah sampai kita sia-siakan atau mengabaikannya! Saudara, saat ini Tuhan mengundang kita untuk datang dan menikmati persekutuan bersama-Nya. Apakah Anda menyambut dan menerimanya dengan serius dan penuh sukacita? AMIN.

(Pdt.Kristinus Unting, M.Div)