Renungan GKE

Rabu, 30 Januari 2019

BUKANKAH DIA INI ANAK SI TUKANG KAYU?




Lukas 4:21-30

Yesus mengajar tentang kebenaran Firman Allah di Sinagoge, di Nazaret. Ajaran-Nya sungguh mengagumkan, mudah dimengerti, kata-kata-Nya indah membuat semua orang terpesona. Hanya sayang seribu sayang, para pendengar tidak malah bertobat dan hidup di jalan Allah. Mereka malah kecewa dan menolak-Nya.

Alasan penolakan mereka lumrah semata, dimana-mana pun di seluruh dunia hampir sama. Ya, masalah profesi dan status sosial. Mereka sibuk membahas profesi dan status sosial-Nya sebagai anak si tukang kayu. Mereka mempertanyakan satu dengan yang lainnya di antara mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” (Ay.22b).

Dalam nas yang sejajar, Injil Markus, lebih tajam "Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudaraNya yang perempuan ada bersama kita?" (bdk. Mrk.6:3). “Bukankah Dia ini anak tukang kayu?” Inilah alasan penolakan mereka. Mereka kecewa lalu menolak Dia. Mereka menolak walau pengajaran-Nya luar biasa, gara-gara Dia anak si pengusaha kayu, anak tukang meubel, suatu profesi yang tidak rohani. Dianggap manusiawi. Bukan anak atau keturunan para Nabi, atau orang Lewi yang dianggap rohani.

Lalu kenapa Allah mengutus Anak-Nya sebagai Juruselamat dunia melalui anak si tukang kayu, bukan dilahirkan melalui para Ahli Taurat, para Imam yang dianggap rohani? Karena di balik ketidaktahuan mereka bahwa pekerjaan duniawi Yesus sebagai tukang kayu merupakan persiapan yang sempurna untuk pelayananNya. Allah yang bebas dan kreatif, tidak hanya menyelamatkan manusia dari dosa secara rohani saja, tetapi hadir menyatakan kabar baik secara utuh untuk memperbaiki semua yang telah 'rusak', baik rohani mau pun jasmani.

Dalam Injil Markus 2:17, dikatakan: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Melalui cara-Nya yang bebas, unik dan kreatif, melalui anak seorang tukang kayu dari Nazaret memperlihatkan kepada kita betapa Allah tidak hanya dapat memperbaiki soal hati yang rohani semata, tetapi sekaligus memperbaharui kehidupan sosial kita menjadi lebih baik lagi.

Sayangnya, yang sering terjadi, kehidupan beriman kita persis seperti orang-orang Nazaret, kita hanya ingin Allah tampil menyelamatkan kita dengan cara yang separo-separo saja. Hanya dengan cara yang rohani saja, secara rohani saja, untuk keselamatan rohani saja. Namun menolak dengan cara-Nya yang jasmani “anak si tukang kayu”, menganggap cara-Nya terlalu duniawi untuk menyelesaikan masalah duniawi kita yang justru bermasalah dalam hal duniawi sebagai dampak kekeliruan yang rohani.

Karya Allah yang unik dan kreatif melui Yesus “anak si tukang kayu” merupakan kesempatan bagi manusia untuk menerima tahun rahmat Tuhan, tahun pembebasan dari dosa, sekaligus pembebasan dari keterpurukan kehidupan sosial manusia. Melalui Yesus “anak si tukang kayu” adalah cara Allah untuk menyembuhkan setiap hati yang terluka. Ia adalah seorang penghibur sekaligus tukang kayu yang memperbaiki kehidupan kita dari segala keterpurukan kita, menuju kehidupan kita menjadi lebih baik lagi. Amin!

Senin, 28 Januari 2019

MENOLAK ALLAH YANG COMPANG CAMPING



Lukas 4:21-30

Ibarat anjing terinjak ekornya, langsung reflek, sangar, ganas, langsung menggigit si pelaku yang membuatnya merasa sakit. Demikian kurang-lebih gambaran orang-orang sekampung-Nya manakala seusai Yesus mengajar di Rumah ibadah di Nazaret. Cuaca pengab, AC belum terpasang waktu itu, umat berjubel, panas dan berpeluh, menambah percepatan naik darah di ketegangan masalah.

Memang sudah ada tanda-tanda sebelumnya sejak nubuat Kitab Nabi Yesaya dibacakan-Nya. Pada ayat sebelumnya dikatakan, mata semua mereka tertuju pada-Nya seakan mengawasi setiap gerak-gerik-Nya. Namun, cara Yesus mengajar membuat orang banyak kagum akan hikmat yang dimiliki-Nya, berbeda dari para Ahli Taurat mereka. Mereka membenarkan Dia, heran atas kata-kata indah yang diucapkan-Nya (Ay.21-22a).

Rupanya ajaran Yesus yang penuh hikmat seolah belum cukup menghantarkan mereka untuk mengenal Allah yang benar, bertobat, dan menerima-Nya sebagai Juruselamat untuk membebaskan mereka dari dosa. Mereka lebih mempersoalkan masalah status-Nya yang compang camping anak si tukang kayu, bukan memahami makna serta isi pesan penting Ilahi yang diajarkan Yesus bagi mereka untuk diterima (Ay.22b).

Di sinilah titik bermula masalah terjadi. Ketika Yesus menempelak kedegilan hati mereka secara beruntun. Diawali dengan membuka tabir sikap mereka yang sombong, yang meremehkan serta memperlakukan para nabi utusan Allah sebelumnya Dia bentangkan. Secara blak-blakan Yesus mengatakan tentang apa yang ada dalam pikiran mereka, bahwa mereka juga memperlakukan-Nya dengan cara yang sama. Meremehkan kuasa dan kasih Allah yang bermurah hati kepada mereka dengan cara Allah yang kreatif dan bebas. Bukan menurut pikiran dan cara manusia mereka yang terbatas!

Yesus pun menyatakan secara blak-blakan, bahwa Dia tidak akan melakukan mujizat di tempat mereka. Yesus tahu, bahwa itu percuma, hanya akan mereka jadikan semacam sirkus tontonan! Sekedar untuk membuat mereka heran karena dilakukan oleh seorang manusia compang camping anak si tukang kayu. Bukan menjadikan mereka percaya bahwa diri-Nya adalah Allah yang kreatif untuk membebaskan mereka dari dosa!

Untuk mempertajam penjelasan tentang kekerasan hati mereka, Yesus mengungkapkan persamaannya dalam kilas balik dosa kedegilan hati nenek moyang mereka di jaman Nabi Elia. Tidak kurang kuasa mujizat Allah bekerja melalui nabi Elia, ketika langit tertutup selama tiga tahun enam tahun dan enam bulan tanpa curahan hujan. Nenek moyang mereka tetap keras hati melawan Allah.

Yesus mengungkapkan, atas penolakan mereka, justru anugerah Allah dinyatakan bagi bangsa lain, seperti yang Allah nyatakan kepada seorang janda di sarfat (Ay.25-26; bdk.I Raj.17:1, 8-16). Tidak kurang, Yesus melengkapi tuturan dosa kekerasan hati nenek moyang mereka seperti di jaman Nabi Elisa. Tidak ada orang kusta di Israel yang disembuhkan selain seorang Naaman, orang Siria, dari bangsa lain yang dianggap bangsa kafir namun merendahkan diri! (Ay.27; bdk. II Raj.5:1-14).

Konsep tentang ke-Allah-an dalam Taurat tentang “tidak ada tuhan selain Allah” (bdk.Kel.20:4), yang salah mereka mengerti sejak dari kandungan, secara turun temurun, membuat mereka sulit untuk memahami Allah yang dapat berkarya secara kreatif dan bebas, bahkan yang dapat hadir secara nyata melalui manusia Yesus yang compang camping hadir di bumi. Hukum Taurat yang sebenarnya hanyalah bayangan saja dari apa yang akan digenapi oleh Yesus, justru mereka jadikan patokan standar untuk menentukan keberadaan Allah, serta menjadi standar tingkat kesucian seseorang untuk meraih sorga milik Allah.

Yesus yang memiliki nalar ilahi tahu persis apa yang ada di benak mereka hingga di kedalamannya. Dalam kemarahan ilahi, Yesus merombak total cara berpikir, konsep ke-Allah-an, cara beragama ala Taurat yang selama ini salah mereka pahami. Yang membatasi Allah dengan cara-Nya yang kreatif dan bebas. Ibarat anjing, bukan terinjak ekornya. Tetapi memang sengaja diinjak ekornya. Bukan sekali diinjak tapi berkali-kali diinjak. Dapat Anda bayangkan apa yang akan terjadi. Mereka marah. Sangat marah! Kemarahan pada Allah yang compang camping, menjadikan Anugerah Allah berpindah. Berpindah pada siapa saja yang bernyali, rendah hati dan membuka diri (Ay.28-30). Amin!

Minggu, 27 Januari 2019

ADAKAH TEMPAT BAGI YESUS DI HATIMU?



Lukas 4:21-30

Yesus pulang kampung. Menurut versi Injil Lukas, hal itu terjadi tidak lama berselang setelah Dia berpuasa 40 hari 40 malam di padang gurun. Kenapa Yesus pulang kampung? Apakah untuk berlibur? Piknik atau cuti? Oh, tidak! Tapi untuk apa? Tidak kebetulan Yesus pulang kampung. Pada ayat 14 sebelumnya dikatakan, Dia dalam kuasa Roh. Itu artinya ada hal yang khusus, ada sesuatu yang penting harus dilakukan dalam rangka misi Allah tentu saja. Misi Allah tersebut adalah kabar baik, memulihkan serta mengangkat harkat martabat manusia dari keterpurukannya karena kuasa dosa.

Dalam rangka melakukan perjalan pulang, Yesus melintasi daerah Galilea yang luas. Dalam perjalanan itu tentu juga melintasi daerah-daerah lain, seperti Samaria, Tirus dan Sidon, wilayah orang-orang yang dianggap kafir. Yesus menggenapkan apa yang telah dalam kitab nabi Yesaya (Bdk. Ay.18-19). Yesus mengajar dari satu tempat ke tempat lain. Mereka menyambutnya dengan sukacita. Memuji Dia atas apa yang Allah perbuat untuk mereka (Bdk.Psl.10:13-15; Mat.11:20-23).

Lalu bagaimana dengan yang di kampung halaman-Nya sendiri? Di Nazaret? Rupanya ini berbeda. Pada awalnya mereka memang kagum atas ajaran Yesus. Namun itu hanya sebatas kagum, tak merobah hati mereka untuk bertobat. Pada akhir kisah seperti yang dituturkan dalam kitab, mereka menolak Dia. Tidak ada tempat bagi Yesus di hati mereka. Hati mereka lebih keras dari batu. Sombong, angkuh, curiga, meremehkan bahkan berusaha untuk membunuh-Nya (Ay.28-29).

Mereka sulit menerima Yesus sebagai juruselamat yang berasal dari Allah, karena sejak dalam kandungan, lahir, bahkan hingga dewasa, ajaran Taurat menjadi darah daging mereka, bahwa “tiada tuhan selain Allah”. Allah hanya ada di sorga, tidak mungkin jadi manusia compang camping. Sementara Yesus menyatakan diri-Nya yang diurapi, berasal dari Allah, bagi mereka itu pelanggaran terhadap Hukum Taurat, menyekutukan Allah.Terlebih, Yesus tidak membuat mujizat di hadapan mereka, tetapi malah menempelak, menelanjangi dosa kedegilan hati mereka, maka yang terjadi ibarat lagu “cinta berobah jadi benci”.

Nama Yesus memang jadi momok yang menakutkan, menjadi batu sandungan bagi setan dan antek-anteknya untuk beroperasi dengan leluasa menjalankan misi kejahatannya di dunia. Karenanya tidak heran setan dengan berbagai macam cara agar manusia tidak mengakui dan mempercayai-Nya sebagai juruselamat dunia. Salah satunya dengan cara mengeraskan hati manusia. Bagaimana dengan Saudara dan saya? Apakah Yesus itu dipuji dan disembah ketika mujizat-Nya begitu kentara? Ketika segala doa-doa semua terjawab sesuai keinginan baru kita percaya? Lalu bagaimana jika tak nampak, masihkah ada tempat di hati bagi-Nya? Amin!

Jumat, 25 Januari 2019

HANYA MENERIMA ALLAH YANG NECIS



Lukas 4:14-21

Yesus menyatakan kuasa dan kasih Allah. Ia mengajar kebenaran supaya manusia bertobat, mengenal Allah dan diselamatkan. Tidak kurang, mujizat sebagai penyerta pembuktikan kuasa kasih Allah Ia nyatakan. Namun, anugerah Allah tidak serta-merta diterima semua orang. Ada yang menerima dengan sukacita dan menjadi berkat bagi hidup mereka. Tapi sebaliknya, ada juga yang menolak anugerah yang begitu berharga, yang menentukan akhir perjalanan manusia.

Yang menarik dan unik, bila kita teliti secara cermat (dari beberapa nas terkait yang sejajar) di sepanjang pelayanan Yesus menyusuri Wilayah Galilea, justru daerah-daerah yang dianggap orang kafir (Tirus dan Sidon) menerima-Nya dengan antusias dan sukacita. Mereka bertobat, menerima anugerah Allah yang menyelamatkan mereka (Ay.14-5; Bdk.Luk.10:13-15).

Namun sebaliknya, justru di daerah Khorazim, Betsaida, kapernaum, bahkan Nazaret, yang nota bene taat syariat Taurat, rutin beribadah pada setiap Sabat justru yang menolak dengan keras. Padahal di daerah mereka, seperti tercatat dalam Alkitab, adalah daerah yang paling banyak terjadi mujizat. Bahkan tidak jarang mujizat Yesus lakukan di rumah sembahyang mereka. Mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri, bukan sekedar mendengar kabar dari orang lain.

Dari beberapa catatan Alkitab, betapa banyak mujizat Yesus lakukan ketimbang di daerah lain. Misalnya: Anak perempuan Jairus dibangkitkan (Mrk. 5:22; Luk. 8:41); Melepaskan orang yang kerasukan setan di Sinagoge (Mrk. 1:21-28); Orang lumpuh yang diturunkan dari atap dan sembuh (Mrk. 2:1-12); Yesus membuat empat murid menangkap ikan dengan cara yang ajaib (Luk. 5:1-11); Dengan ikan, Yesus menyediakan uang pajak yang harus dibayar Petrus (Mat. 17:24-27); Menyembuhkan pegawai panglima Roma yang sakit parah (Mat. 8:5-13); Menyembuhkan anak seorang pegawai raja di pengadilan raja Herodes (Yoh. 4:46-54); Menyembuhkan banyak orang dan mengusir setan, maka “berkerumunlah orang-orang di kota itu didepan pintu” (Mrk. 1:29-34).

Mereka kagum. Mereka terpukau pada ajaran Yesus, namun tidak berdampak apa-apa pada perobahan hati mereka. Mereka tak ubahnya sekelompok orang para pencari ajaran yang menyenangkan telinga. Ibarat orang cari Gereja atau pengkhotbah yang hanya indah dipandang mata. Mujizat harus dihadirkan sebagai pembuktian Allah yang hebat. Bukan ajaran sehat yang mengkoreksi dosa hingga bertobat dan mengenal jalan selamat.

Kenapa terjadi demikian? Kenapa tidak berdampak bagi hidup mereka? Padahal Allah punya niat baik menyelamatkan mereka. Kitab nabi Yesaya yang mereka dengar melalui pembacaan, sekarang digenapkan bagi mereka. Ada di hadapan mata mereka (Ay.18-19). Bila kita cermati, ada beberapa penyebab yang paling mendasar. Inilah beberapa penyebabnya.

PERTAMA: MUIZAT HANYA DIJADIKAN SIRKUS TONTONAN

Di tempat mereka, setelah Yesus membacakan Kitab nabi Yesaya, Yesus tidak melakukan mujizat. Dikatakan dalam nas: “Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk.” “Yesus lalu duduk”. Yesus tahu apa yang mesti dilakukannya. Yesus tidak ingin menjadikan mujizat barang murahan. Mujizat bukanlah tujuan, melainkan sarana sebagai pembuka pintu, supaya manusia mengenal, mengerti, lalu percaya kepada Dia yang adalah berasal dari Allah. Yang menyelamatkan dosa manusia (Ay.20a).

Yesus tahu, bahwa percuma saja melakukan mujizat bagi mereka, tanpa terlebih dahulu mereka membuka hati untuk bertobat. Mujizat bukan bujukan rayuan kekanakan Ilahi supaya orang bermanja-manja memenuhi selera manusia. Tapi sebaliknya, manusia harus bertobat, percaya, maka Allah menganugerahkan kasih-Nya yang melimpah, tidak membiarkan manusia menderita begitu saja tanpa pertolongan apa-apa. Bisa saja dengan cara-Nya yang diluar dugaan manusia, yaitu mujizat!

Kita tidak diajar menjadi orang beriman pemburu mujizat. Cara beriman kekanak-kanakan, yang menjadikan Tuhan laksana jongos memenuhi selera. Tetapi menjadi manusia hidup benar, yang diawali dengan kesadaran akan dosa, bertobat, dan sungguh-sungguh percaya kepada Dia, dan hanya Dia yang dapat menyelamatkan. Tidak pada yang lain.

KEDUA: TIDAK MAU DIKOREKSI DOSANYA

Perhatikan apa kata nas : “…..dan mata semua orang yang ada dalam rumah ibadat itu tertuju pada-Nya” (Ay.20b). Kenapa semua mata mereka tertuju pada-Nya? Karena yang mereka perhatikan adalah gerak-gerik-Nya. Namun dalam hati mereka curiga, seribu tanya dalam benak mereka. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik pikiran mereka. Masa si anak tukang kayu mengajari kita? Apa lebihnya dari kita? Apalagi yang dapat mengampuni dosa kita? Namun mereka jadi kebingungan, karena Yesus mengajar tidak seperti Ahli Taurat mereka.

Ajaran Yesus sungguh memukau. Membuat mereka terpesona. Maksud baik Allah disampaikan dengan jelas bagi mereka. Namun mereka lebih memperhatikan tampilan luar-Nya. Yesus yang compang camping, tampilan yang tak lebih baik dari mereka. Mereka jadi bingung campur curiga. Mujizat yang Yesus lakukan di daerah mereka, tidak cukup kuat untuk membuktikan kepada mereka, siapa Yesus itu sebenarnya. Karena mereka lebih tertarik kepada status sosial-Nya, ketimbang misi apa yang sedang disampaikan-Nya.

Benar saja. Coba perhatikan pada ayat-ayat selanjutnya, ketika Yesus mulai menempelak kedegilan hati mereka dengan keras. Dalam nas dikatakan, mereka sangat marah. Mereka hanya ingin mendengar firman untuk telinga, tetapi bukan untuk hati. Ingin mendengar apa yang menyenangkan, tapi bukan untuk pertobatan (Bdk. Ay.28-29).

KETIGA: HANYA MENERIMA ALLAH YANG NECIS

Mereka sulit menerima Allah yang compang camping, kayak anak si tukang kayu. Mereka hanya memahami Allah itu hanya boleh ada di sorga, tidak mungkin bisa menjelma jadi manusia menginjakkan kaki di bumi. Apalagi jadi manusia Yesus yang compang camping. Hikmat dunia memang sangat sulit menerima Allah bisa jadi manusia. Apalagi sampai menderita, mati, disalib, dikuburkan. Allah tidak mungkin bisa menderita. Allah tidak mungkin bisa mati. Allah tidak mungkin disalib dan dikuburkan. Allah itu satu, maha Kuasa, tiada Tuhan selain Allah. Allah itu harus necis, elegan, berwibawa. Tidak mungkin jadi manusia, apalagi compang camping kayak anak si tukang kayu!

Hal itu terjadi tentu saja karena ajaran Taurat sudah melekat, sejak dari kandungan hingga mereka lahir, jadi kanak-kanak hingga dewasa, sudah menjadi darah daging mereka. Mereka hanya sibuk mempersoalkan identitas Yesus yang tidak necis. Itu artinya, mereka berkesimpulan (menurut ide dasar ajaran Taurat mereka) bahwa Yesus itu tidak mungkin Allah. Karenanya mereka menolak mentah-mentah. Atas penolakan dan kekerasan hati mereka, tidak heran ketiga kota ini mendapat kutukan(Bdk.Mat.11:20-24: Luk.10:13-15).

Puing-puing kota yang telah menghitam berantakan rata dengan tanah layaknya sehabis dilalap api membara kebakaran ini masih bisa disaksikan hingga kini sebagai bukti sejarah hukuman Tuhan atas penolakan terhadap-Nya. Bagaimana dengan saudara dan saya? Anugerah, berkat dan keselamatan hanya berlaku bagi manusia yang merasa tak berdaya, merasa compang-camping, merasa hina di hadapan Allah. Bukan bagi manusia yang berbangga atas kemapanan diri, yang merasa necis, yang tak pernah sadar bahwa Allah sedang menyamar dan menguji nyali kita dengan cara-Nya yang compang-camping! Amin!

Kamis, 24 Januari 2019

JANGAN TERBUAI OLEH PUJIAN



Lukas 4:14-21

Yesus menggenapi misi Allah. Setelah berpuasa 40 hari 40 malam di padang gurun sebagai persiapan, Ia dalam kuasa Roh langsung menuju ke daerah Galilea dan akhirnya ke Nazatet tempat Ia dibesarkan. Di sanalah Ia mengawali misi Allah tersebut. Kenapa ke Galilea? Kenapa ke Nazaret? Karena disanalah tempat yang paling membutuhkan uluran kasih Allah untuk suatu pembebasan. Apakah Yesus akan memimpin pergerakan pemberontakan melawan penjajahan Roma seperti yang diharapkan kebanyakan orang? O, tidak! Tetapi misi kabar baik, keselamatan yang datang dari Allah (Ay.14-15).

Tidak ringan tugas yang harus dilaksanakan-Nya. Mengajar, menyembuhkan, dan melayani orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Hingga akhirnya diri-Nya sendiri rela Ia korbankan untuk tebusan dosa manusia. Untuk melaksanakan misi yang berat tersebut tentu saja dibutuhkan komitmen yang kuat, motivasi yang jelas, keteguhan hati, pengabdian penuh, serta kerelaan berkorban (Ay.16-17).

Hanya memang, setiap pekerjaan sebaik apa pun dilakukan, tak ada yang tanpa resiko atau tantangan dihadapi. Demikian pun dihadapi oleh Yesus. Apa tantangan yang dihadapi oleh Yesus? Nah ini! Sejak awal kedatangan-Nya di daerah Galiela, sudah tersiar kabar tentang diri-Nya. Cara Ia mengajar membuat banyak orang terfana karenanya. Orang jadi terkagum-kagum dibuat-Nya. Yesus dipuji semua orang. Ibarat selebritis, Yesus sekarang sedang naik daun (Ay.18-19).

Memuji dan dipuji, itu manusiawi semata, bukanlah dosa. Bahkan Alkitab sendiri mengatakan: “Setiap orang dipuji seimbang dengan akal budinya.” (Ams.12:8a). Orang yang tidak bisa memuji kelebihan orang lain, pertanda bersemayam kesombongan. Demikian pun sebaliknya, orang yang mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan pujian, juga perlu diwaspadai. Menurut ilmu psikologi, orang yang demikian tanpa disadarinya dalam bahasa yang terbalik hendak mengatakan bahwa ia ingin dipuji dua kali! Pura-pura ogah dipuji tapi mau lebih dipuji! Waspadalah!

Manusia normal macam apa bentuknya jika ada orang memuji “ Wow Bapak keren!”, “Ibu hebat!”, atau “khotbah Bapak/Ibu Pendeta luar biasa!”, “Nyanyian Anda hebat!”, “Kepemimpinan Anda hebat”, “Anda orang jujur”, dan seterusnya, jika sampai tidak ada sesuatu yang terasa nyaman di dada? Walau anda pura-pura seolah tidak memerlukannya dan mengatakan “Akh, saya tidak perlu dipuji!”.

Tidak ada yang salah dengan pujian. Hanya memang “pujian” perlu diwaspadai. Ibarat pisau dua sisi, dapat digunakan untuk memudahkan apa yang dikerjakan, namun sisi yang lain dapat melukai diri sendiri. Jangan sampai mabuk pujian! Jadinya lupa diri. Sombong dan meremehkan orang lain. Motivasi jadi tidak murni. Lebih terarah untuk menyenangkan hati si pemuji, semakin mabuk untuk lebih dipuji. Kesenangan duniawi semakin dicari. Komitmen awal, tanggunjawab kepada yang ilahi lalu diingkari. Ini sungguh berbahaya.

Belajarlah pada Yesus. Yesus tidak terganggu dengan pujian. Misi Allah tetap dijalankan. Tidak batal atau berbelok arah karena pujian. Pengajaran murni, perbuatan keperdulian kasih Allah tetap pada komitmen awal dijalankan. Yesus, walau dipuji semua orang, tetap sederhana dan compang camping, tidak lalu berobah jadi orang lain. Tetap apa adanya. Tidak menyalahgunakan kesempatan untuk kemuliaan diri. Tetap memiliki komitmen penuh, memiliki sikap sebagai seorang hamba, hingga taat sampai mati di kayu salib (Ay.20-21; Bdk. Flp.2:6-8).

Apakah Anda sering mendapat pujian? Itu bagus! Itu artinya ada potensi, sesuatu yang luar biasa Anda miliki. Lalu bagaimana kita selaku umat Tuhan ketika mendapat pujian? Ambil sisi positifnya saja. Syukur bila ada yang memuji, ketimbang Anda dicaci melulu oleh semua orang di sepanjang waktu karena tidak ada yang becus dilakukan? Melulu mendapat caci maki, jangan terus dicari, itu artinya ada sesuatu yang tidak beres dalam diri.

Sadarilah, pujian adalah ujian. Ujian kestabilan jiwa. Pujian diberikan tidak selalu karena keadaan, bisa jadi karena ada tujuan! Pujian tidak menipu orang yang tahu diri. Tidak jadi mabuk karenanya! Jika mendapat pujian, secara bijak jadikanlah untuk memotivasi diri lebih bersemangat mengerjakan sesuatu yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Anggaplah sebagai suatu penghargaan yang patut dipertanggungjawabkan. Kata bijak mengatakan: “Jangan terbang karena pujian. Jangan tumbang karena cacian.” Tetaplah rendah hati untuk lebih baik lagi melayani Tuhan dan sesama. Amin!

Jumat, 18 Januari 2019

YESUS KRISTUS: “BATU PENJURU – BATU HIDUP – BATU SANDUNGAN” (B3)



I Petrus 2:1-10

Dalam kitab I Petrus 2:1-10, tiga istilah sekaligus yang dikenakan kepada Yesus Kristus, yaitu “Batu Penjuru” – “Batu Hidup” – “Batu Sandungan” (B3). Kenapa demikian? Tentu ada maksudnya. Yang pasti karena nilai atau fungsinya.

Berbicara soal batu, di Indonesia sendiri beberapa waktu lampau pernah heboh soal batu. Penggila batu-batu langka dan sangat berharga. Yesus Kristus digambarkan laksana batu pilihan yang mahal, tentu bukan karena sekedar langka, sekedar dijadikan aksesoris semata. Tetapi langka, mahal dan berharga, lebih kepada fungsinya.

1. Batu Penjuru – “B1” (Ay.4-5).

“Batu Penjuru” adalah batu yang sangat penting bagi suatu bangunan. Harus batu pilihan. Bukan asal-asalan. Harus batu yang paling kuat, bukan batu yang rapuh. Karena batu ini sangat penting, tumpuan kekuatan, penyangga bangunan. Disamping kuat, “batu penjuru” harus rata, bukan benjol-benjol, karena batu ini sekaligus menjadi tali sifat yang meluruskan bangunan, merekatkan dinding pada sisi yang satu dengan sisi lainnya. Sehingga bangunan menjadi rata, tidak jenjang, tidak miring, menyebabkan didinding tidak merekat alias retak. Karenanya tidak heran jika dikatakan sebagai batu terpilih dan mahal.

Umat Tuhan digambarkan layaknya sebuah bangunan, dan Yesus Kristus adalah “batu penjuru”. Bukan bangunan biasa, tetapi gambaran sebuah rumah Kudus, imamat yang rajani, untuk tujuan Kudus. Jika terdapat segala tipu muslihat, segala macam kemunafikan, kedengkian dan saling fitnah dalam persekutuan, adalah gambaran persekutuan yang rapuh, miring, jenjang, retak, karena bukan Yesus Kristus yang digunakan sebagai “batu penjuru”.

2. Batu Hidup – “B2” ( Ay.6-7)

Apa iya ada batu yang hidup? Bukankah semua batu yang ada hanyalah benda mati? “Batu hidup” adalah suatu istilah untuk menggambarkan suatu batu yang dari padanya dapat mendesain sebuah bangunan seperti apa yang diharapkan. Batu yang kuat dan rata adalah sifat mendasar dan penting yang harus dimiliki sebuah batu penjuru. Hanya sifat dasar seperti inilah yang akan memberi daya kekuatan, daya “hidup” bagi sebuah bangunan hingga terus dapat dibangun diatasnya sesuai dengan apa yang diharapkan.

Yesus Kristus sebagai “Batu Hidup” merupakan standar kebenaran ilahi yang ditetapkan Allah sendiri, menjadi dasar iman Kristen, sehingga umat percaya atau gereja akan menjadi batu hidup yang kuat dalam pembangunan rumah rohani. Tahan menghadapi goncangan, tak tergoyahkan oleh gempa bumi kehidupan yang dilancarkan oleh kuasa kegelapan. Melalui berbagai-bagai karunia pelayanan yang ada umat Tuhan saling melengkapi menjadi sebuah kesatuan yang indah bagi persembahan yang hidup, menyaksikan perbuatan-perbuatan Allah yang besar di dunia bagi kepentingan kerjaaan-Nya.

3. Batu Sandungan – B3 (Ay.8-9).

“Batu Sentuhan” atau “Batu sandungan”, kedua istilah ini dalam pengertian Alkitab, pada sisi tertentu tidak selalu berarti negatif. Kedua istilah dalam konteks nas ini, dalam bahasa aslinya ternyata memiliki makna yang netral (bisa positif maupun negatif), tergantung dari respont manusia terhadap-Nya. Hal tersebut dapat terlihat dalam ayat-ayat lainnya dimana Tuhan Yesus sendiri juga dikonotasikan sebagai batu sandungan (Mat. 15:12: Rm. 8:33: 1 Kor. 1:23).

Yesus Kristus sebagai “batu Sentuhan” atau “Batu Sandungan” dalam konteks nas ini, tentu tertuju bagi manusia yang menggunakan standar hikmat dunia, yang menjadikan Yesus laksana batu yang dibuang dan tidak berguna. Mereka yang tidak rata, miring, jenjang, bengkok hatinya, yang menggunakan standar patokan lain bagi hidupnya, mereka akan terantuk, tersandung, jatuh, dan binasa karenanya. Namun menjadi berbeda bagi yang percaya, yang taat kepada Firman Allah. Berbahagialah setiap orang yang menjadikan Yesus sebagai “Batu Penjuru” bagi hidupnya, mereka menjadi berharga dan terhormat di hadapan Allah, sebagaimana Yesus Kristus dipilih terhormat di hadirat Allah. Amin!

Kamis, 17 Januari 2019

TEKNIK MEMBANGUN RUMAH KEHIDUPAN ANTI GEMPA

 I Petrus 2:1-10

Tempatnya jelas-jelas disebutkan di “pejuru” alias di “pojok”. Tapi bukan berarti suka “mojok” alias menyendiri, menyembunyikan diri, tak mau ikut repot atau direpotkan. Karena memang letaknya di “pojok”, maka kebanyakan orang pun memandangnya seolah “dipojokkan”, namun banyak orang tersandung karenanya, terutama bagi yang kurang memperhatikan. Apalagi yang suka melintas jalan pojok sambil main gadget!
Batu yang satu ini memang letaknya di pojok, tempat yang tidak spesial menarik, tapi fungsi serta peranannya sungguh menentukan daya tahan serta kestabilan bangunan (tidak miring, tidak roboh), sekaligus menjadi semacam tali sifat yang meluruskan bangunan, merekatkan dinding pada sisi yang satu dengan sisi lainnya. Para ahli teknik bangunan pasti mengetahui betapa pentingnya fungsi batu yang satu ini, “batu penjuru”.
Bukan hanya bangunan gedung mewah yang memerlukan teknik bangunan yang menjadikannya kokoh, kuat dan megah, tetapi kehidupan persekutuan kita selaku bangunan imamat yang rajani pun harus dibangun berdasarkan teknik bangunan Firman Tuhan sehingga menjadikannya kokoh, kuat, dan menjadi berkat!
Lalu apa makna serta hubungannya Yesus yang digambarkan sebagai “batu penjuru” oleh Rasul Yakobus dengan kehidupan umat Tuhan yang tersebar di berbagai tempat di perantauan? Dan bagaimana teknik membangun kehidupan persekutuan sehingga menjadi sebuah bangunan rumah rohani, kudus, tahan terhadap gempa kehidupan dan menjadi berkat? Bukan menjadi gudang roboh angker terbengkalai, hanya dihuni para hantu, dracula atau kuntilanak? Ada empat (4) teknik yang harus dikerjakan:
1. Datanglah Pada Yesus Sebagai Batu Hidup (Ay.2, 4).
Untuk membangun kehidupan menjadi rumah imamat yang rajani, yang kudus, yang layak sesuai dengan maksud Allah, maka pertama-tama kita harus datang kepada Yesus Kristus. Bukan datang kepada dukun, tukang santet, ke botol minyak urapan, atau ke pohon besar tempat para jin bersemayam.Tetapi datang kepada Yesus Kristus yang memberi hidup dan menghidupkan.
Istilah “datang” bukan sekedar datang doank! Tapi mensifatkan kesediaan untuk rindu datang dengan pertobatan dan kerendahan diri, lalu diisi, ibarat diisi oleh air susu yang murni, bukan air susu kalengan yang telah bercampur dengan berbagai zat sekedar penyedap rasa! Apalagi susu yang telah kadaluarsa, menjadi racun yang mematikan (Bdk. Ay.2).
Disamping sebagai “batu penjuru”, Yesus juga digambarkan sebagai “batu hidup”. Istilah untuk sebutan kebermaknaan nilai berharga bagi suatu persembahan rohani, kudus dan yang berkenan kepada Allah. Seberapa pun tingginya bangunan yang akan dibangun, bila bukan untuk kegiatan kudus, tidak digunakan untuk kemuliaan Allah, tak ada nilainya bagi Allah. Seberapa pun luasnya bangunan, bila mring, retak, tidak lurus, mudah ambruk oleh berbagai macam tawaran miring di kehidupan. Karenanya, Yesus menjadi batu penjuru yang mahal, sekaligus menjadi “batu hidup” bagi setiap yang percaya, tetapi menjadi batu sandungan bagi yang hidupnya rapuh terombang ambing dan suka menjalani hidup yang miring-miring! (Ay.4).
2. Kesediaan Untuk Dipergunakan Sebagai Batu Hidup (Ay.5).
Dari gambaran yang ada dalam nas, jemaat Tuhan di perantauan bukan lagi gambaranan sebuah bangunan yang kokoh, tetapi bangunan yang tanpa dasar kuat, sehingga rapuh, tidak lurus, retak, dan akhirnya roboh. Kenapa sampai hal yang demikian terjadi? Karena mereka menggunakan patokan standar mereka sendiri. Mereka tak ubahnya semacam “batu mati”, tak mau dijadikan “batu hidup” untuk membangun terus diatas dasar batu penjuru yang ada.
Ketimbang ambil bagian menjadi “batu hidup” bagian utama bangunan, mereka malah lebih memilih untuk menjadi kusen pintu, jendela atau aksesoris lainnya di ruang tamu atau ruang makan, pusat perhatian, atau di tempat-tempat sentral menawan. Atau malahmalah lebih memilih jadi garasi mobil mewah, biar dianggap keren. Bangunan utama tidak terbangun, terbengkalai. Atau dibangun juga ala kadarnya, tidak kokoh, retak, dan menunggu saatnya akan roboh.
Allah tidak menghendaki umat-Nya menjadi “batu mati”, tetapi menjadi batu hidup untuk terus membangun dari dasar batu penjuru yang ada secara kreatif. Segala karunia Allah, berkat, kemampuan, serta segala talenta yang dimiliki harus dipergunakan menjadi “batu hidup” yang memberikan arti tanda-tanda kehidupan bagi bangunan (Ay.5).
3. Bangunlah Bangunan Rohani Untuk memberitakan Perbuatan Allah Yang Besar (Ay.9).
Yesus Kristus adalah batu penjuru Gereja. Itulah dasar dan alasan adanya gereja. Gereja tidak dibangun atas dasar “batu-batu tonjolan” kita manusia. Gereja yang dibangun atas dasar “batu-batu tonjolan” akan menjadi bangunan persekutuan yang aneh dan angker kayak rumah dracula!
Gereja bukanlah pula semacam bangunan casino, komplek pelacuran rohani, atau bamngunan tempat kumpulan sampah. Tetapi semacam rumah kerja para umat terpilih, imamat yang rajani, umat kudus, yang memberitakan serta menampakkan perbuatan-perbuatan besar dari Allah, yang pada gilirannya dihadirkan di berbagai aktivitas realita kehidupan, di keluarga, di kantor, di sekolah atau Universitas, di Rumah sakit, di kerukunan, di pasar, di berbagai aspek kehidupan.
Gereja memang bukanlah kumpulan manusia sempurna, tetapi yang telah disempurnakan oleh Allah. Orang-orang yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menjadi terang, mejadi umat kudus milik Allah untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar dari Dia sebagaimana Dia kehendaki. Hal ini dimungkinkan, bila Kristus benar-benar dijadikan sebagai batu penjuru (Ay.9).
4. Jagalah Mutu standar Bangunan Produk Standar Ilahi (Ay.10).
Allah memanggil umat-Nya atau gereja keluar dari kegelapan ke dalam terang dengan satu maksud yang jelas! Allah tidak menghendaki umat-Nya menjadi “batu tonjolan”, batu yang menonjol sendiri-sendiri lepas dari prosedur bangunan di berbagai tempat yang hanya menjadi beban bagi bangunan. Bangunan menjadi tidak rata, hanya mempersempit bangunan, dan mempercepat robohnya bangunan. Tentu tidak!
Mutu standar kehidupan umat Tuhan atau Gereja akan terjaga bila bermacam kejahatan, tipu muslihat, segala macam kemunafikan, iri dengki, dan saling fitnah, yang membuat miring dan retaknya lingkungan persekutuan harus dibuang. Jika ini masih bercokol, bukan perbuatan Allah yang besar yang diberitakan, tapi kurang lebih tempat kumpulan pelarian manusia sampah, memindahkan sampah dan hanya memperbanyak jumlah “manusia sampah”.
Allah sendiri yang menjadikan standar mutu. Allah sendiri yang menetapkan kita dan menempatkan kita pada kualitas standar mutu, yang dulunya bukan umat Allah, sekarang menjadi umat Allah. Yang dulunya adalah calon penghuni neraka, sekarang diberi belas kasihan oleh korban Kristus. Karenanya, kita hidup bukan asal hidup, tetapi kesadaran akan maksud Allah menjadikan kita untuk menjadi “batu hidup” untuk terus membangun hidup secara kreatif ke arah yang lebih baik berdasarkan kualitas standar ilahi, bukan menjadi “sampah hidup”. Amin!

Kamis, 10 Januari 2019

MENAHAN DIRI



Lukas 3:15-22

Masih ingat sebuah lagu populer era 80-an ciptaan besutan Rinto Harahap “Seandainya Aku Punya Sayap”? Sebuah ungkapan rasa, andai punya sayap bisa terbang untuk menghindar dari kejamnya dunia? Terbang ke dunia yang lain untuk mendapatkan sesuatu yang dianggap lebih baik dari yang ada? Namun apa daya, kesempatan terbang untuk menghindar dari kejamnya dunia tak ada, hanya sebatas angan, karena sayap memang tak punya!

Seandainya aku punya sayap, eheeem…. Terbanglah aku mencari sesuatu yang lebih nyaman, lebih bergengsi. Untuk apa aku harus jadi jongos begini, di gubuk reot ini, melarat begini, jadi bawahan seperti ini. Aku akan terbang mencari sesuatu yang lebih nyaman dari yang ada di sini. Seandainya aku punya sayap kesempatan, cesss…..!!! Hanya sayang seribu sayang, sayap kesempatan didapat setengah mati, kecuali kesempatan dalam kesempitan, atau menjilat supaya diberi kesempatan!

Saudara, jika Yohanes Pembaptis mau, ia sudah menjadi orang besar, popoler dan terhormat. Tak perlu berandai-andai untuk punya sayap, karena “sayap” kesempatan untuk terbang memang sudah dimilikinya, tinggal ia mengembangkannya untuk terbang kemana ia suka. Bayangkan saja, kesempatan itu terbuka lebar, manakala orang pada menanti dan berharap tentang Mesias, dan semua mata sedang mengarah padanya (Ay.15).

Tinggal mengucapkan sepatah dua patah kata : “memang akulah Mesias itu”, atau “ikutlah petunjukku, karena akulah Mesias yang diutus untukmu”, maka bereslah sudah. Namun diluar dugaan rata-rata kita, itu tak dilakukannya. Malah sebaliknya, dengan terus terang ia memberi jawab tentang keberadaanya kepada mereka: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” (Ay.16a).

Bukankah dalam praktek bergereja sering terjadi justru sebaliknya? seperti yang dilakukan oleh kelompok orang tertentu, atas nama baptisan ala Yohanes Pembaptis mencuri kemuliaan Tuhan secara halus untuk meraup keuntungan, memindahkan domba dari kandang orang? Padahal bila dipahami secara benar, itu hanyalah kulit luar, papan penujuk yang mengarah pada Yesus Kristus sebagai sentral, yang akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api, dalam arti yang lebih besar! (Ay.16b).

Tak kurang, sayap kesempatan itu terus terbuka lebar baginya. Manakala orang banyak bahkan Yesus sendiri dibaptis olehnya. Hingga akhirnya turun Roh Kudus dalam rupa burung merpati dan suara dari langit berkata “Engkaulah anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Ay.21-22). Sebenarnya itu sayap kesempatan besar! Coba gunakan saja trik hoax, sebarkan berita palsu, katakan pada semua orang: “lihat, akulah yang membaptiskan Yesus”, atau “baptisanku hebat, lihat, sampai-sampai Allah berkenan pada-Nya setelah aku membaptiskan-Nya”.

Yohanes Pembaptis memperlihatkan kejujuran, kerendahan hati. Menahan diri, tak mau mencuri kemuliaan bagi dirinya sendiri melalui baptisan yang ia laksanakan, atau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Keteladanan seorang hamba sejati antara kata dan perbuatan menyatu padu melekat jadi satu, bukan yang separo-separo, kepura-puraan demi sesuatu! Yang baik-baik ditampilkan untuk menutupi niat jahat dibalik trik tipu daya demi sesuatu yang ingin dituju!

Kontradiksi memang dengan dunia nyata kita. Sementara manusia di dunia berlomba-lomba mencari sayap kesempatan, berapa pun biayanya, apa pun caranya, bahkan jalan pintas atau menjilat sekali pun jadilah, asal mendapat kesempatan. Sayap kesempatan untuk terbang entah jadi apa, jadi yang terhebat, terhormat, yang berkuasa berpangkat!

Kata bijak mengatakan: “ kebesaran seorang Kristen sejati bukan diukur dari gelar, reputasi atau seberapa yang dia dapatkan di ketinggian, tetapi dari sikap mengabdi, mengambil rupa seorang hamba, dan dari apa yang dapat dia berikan sebagai bukti ketaan iman pada ranah kehidupan di kerendahan.” Masihkah itu melekat erat menyatu bagai urat nadi di karakter kehidupan nyata kita? Ketika jadi orang besar, masih adakah sikap mengabdi? Tetap rendah hati? Atau malah semakin lupa diri? Amin!


Jumat, 04 Januari 2019

MAHINGKEP TANDIPAH AWAU TE


Mateus 2:1-12

Oloh pintar bara hila timor mampait sonto barega akan itah. Amun itah mangomang ayat 11 bara Surat Barasih toh, aton ije perkara handalem rimae. Iete katika ewen (oloh pintar bara hila timor) sundau dengan awau te. Inyurat: “Palus ewen tame huma; maka ewen sundau awau te dengan indue Maria, balalu ewen mahingkep…..”

“MAHINGKEP”, en riman auch te? “Mahingkep” bara kata dasar “Hingkep” (tengkurap) “lie flat on stomach, lie with face downward”. Amon inambah dengan awalan “Ma” “MA-HINGKEP”/ “MAMPAHINGKEP” (menengkurapkan diri) “make someone lie on the stomach”.

Boh, kilen je sampai “mahingkep”? Kilen Surat Barasih salenga mangguna kata “mahingkep”, padahal jete rimae “tiarap”? Padahal dia mungkin oloh pintar bara hila timor te “tiarap” manyembah kilau anak awau je sampai mahingkep? Kea alasan budaya oloh Timur Tengah amon mahormat baya dengan “sujud-sembah”, dia sampai “mahingkep” (tiarap)?

Nah, jetoh perlu panjelasan labih handalem. Amun sacara kata- perkata, istilah “mahingkep” te puna sala haliai ingguna. Tapi itah harus kea musti barima, bahwa Surat Barasih mangguna kata “Mahingkep” te kea awi tege pire-pire alasan. Surat Barasih mahapan terjemahan kata “mahingkep” jete mangguna bahasa “hiperbola” (mampatimben, mampadalem) kare riman, kilen angat kanahoang oloh pintar bara hila timor te manyembah awau te (dia musti ewen harus tiarap). Tapi katimben ewen manyembah, labih bara sakadar “sujud-sembah”.

Puna jaton kata “sujud” into bahasa Ngaju. Tikes je tege iete kata “mamparandah arep”, maka ingguna kata “mahingkep”! Istilah “mahingkep” ingguna, mangganti kata “sujud” je jaton melai kotak Ngaju, hapan mampatimben kandalem riman eweh manyembah, labih randah saranda-randah, labih marandah bara sakadar “sujud-sembah”, maka ingguna kata “mahingkep”.

“Mahingkep” hong Surat Barasih, jete akan tampengan (hiperbola). Jadi dia musti baarti ewen palus manduan kilau ampin tantara je “tiarap” atawa kilau anak awau je “mahingkep”. Tapi kandalem auch riman kanahoang atei ewen mamparandah saranda-randah arep ewen tandipah awau te.

Dia lue-luen ampin oloh pintar bara hila timor toh marega, mahormat Hatalla Pangkahai Tuhan. Baya oloh je toto barasih tontang randah atei je olih malalus te, sampai “mahingkep” tandipah awau te. Padahal, huma te baya eka kandang meto papa bewei. Padahal Yusuf/Maria te oloh kurik bewei. Padahal, awau te baya menter hong dulang, imungkus hapan talamping bewei.

Toto haliai, ewen oloh je puna pintar tontang harati. Kapintar oloh tetek, belom hong karasih, katindoh, kamantoh. Kagantong pangkat totang kapintar ewen imrarandah tandipah padadusan kuasan Hatalla. Oloh pintar bara hila timor mampait sonto barega akan itah, katika manempo Hatalla. Jaton eka tampengan je labih handalem, bara ampin ewen mamparandah arep, dengan cara je paling randah dia bara tikas, sampai inampengan hong kotak Ngaju “Mahingkep”! Amen!

Kamis, 03 Januari 2019

ORANG-ORANG MAJUS ABAD 21




Matius 2:1-12

Pada zamannya, (dalam konteks Alkitab dalam peristiwa kelahiran Yesus), mereka dikenal dengan sebutan “Orang-Orang Majus Dari Timur”, dapat disetarakan setingkat Menteri di zaman kita sekarang. Mereka orang-orang terpandang di pemerintahan, khususnya di daerah “Timur” melalui mana mereka berasal, yang dalam berbagai tafsiran menyebutkan berasal dari daerah Mesopotamia atau Irak sekarang.

Disamping kedudukan terhormat mereka di pemerintahan, mereka juga adalah para anstronom, para ahli teknologi pada jamannya, suatu ilmu pengetahuan soal perbintangan, ilmu yang mempelajari fenomena di langit. Pada peristiwa kelahiran Yesus, “Orang-orang Majus” memberikan warna tersendiri dalam peristiwa kelahiran sang Juruselamat, dari awal perjalanan hingga mereka tiba di kandang hina, berjumpa dengan sang juruselamat, Raja di atas segala Raja, menyembah dan mempersembahkan persembashan mereka.

Lalu apa bedanya “Orang-Orang Majus Pada zaman Kelahiran Yesus”
dengan “Orang-Orang Majus Abad 21”? Bila kita cermati, baik dari keterangan dari sumber Alkitab juga berdasarkan banyak fakta yang bisa kita pelajari dan cermati, memang terdapat pergeseran nilai. Zaman telah berobah. Hal itu dapat kita ungkapkan sebagai berikut:

1. ORANG-ORANG MAJUS DI ZAMAN KELAHIRAN YESUS

Orang-orang Majus di zaman kelahiran Yesus, tentunya juga adalah orang-orang sibuk di pemerintahan. Namun yang menarik, mereka rela menyediakan waktu, melakukan perjalanan jauh yang tak terbayangkan pada konteks mereka saat itu, sekedar memberikan ucapan selamat serta penghargaan tinggi untuk kelahiran Raja baru, berdasarkan petunjuk pengetahuan yang mereka miliki (Ay.1).

Berdasarkan petunjuk bintang, mereka berangkat dengan tekad, keyakinan, dan maksud mulia, yaitu untuk menyembah. Bukan berlomba-lomba untuk menjadi sang bintang. Menghambur-hamburkan berapa saja biayanya asal bisa jadi sang bintang. Bukan pula ada perasaan tersaingi segala macam. Jika rasa semacam itu ada, mana mungkin mereka rela pergi jauh untuk datang menyembah, memberikan hormat, apalagi memberikan persembahan segala macam (Ay.2).

Mereka berangkat bukan untuk menghabiskan biaya program milyaran rupiah, sekedar perjalanan reses, penelitian yang tak jelas hasilnya. Tidak! Tetapi untuk tujuan mulia, ucapan selamat, menyampaikan pemberian sebagai ungkapan kerendahan hati, rasa hormat. Tak ada perasaan yang lain. Berbeda dengan tipe Raja Herodes, yang malah terkejut, merasa tersaingi karena ada Raja baru yang lahir, yang dengan trik jahat secara licik hendak melakukan niat jahat untuk menyingkirkan (Ay.3-8).

Berdasarkan petunjuk bintang sebagai panduan sesuai pengetahuan yang mereka miliki, tibalah mereka di gubuk reot dimana akhir tujuan telah tercapai. Mereka sangat bersukacita atasnya. Bintang pengetahuan yang mereka miliki mengarahkan mereka menuju kepada Raja di atas segala Raja. Pengetahuan yang mengantarkan orang semakin cerdas beriman. Bukan malah ingin menjadi “tuhan” karena memiliki pengetahuan. Ini yang menarik dan perlu kita renung dalam (Ay.9-10).
Setelah sampai di tempat itu, mereka tidak hanya basa basi ngbrol di luar, tetapi masuk ke dalam kandang hewan, masuk bersama untuk mengikuti ibadah ilahi di dalam kandang. Masuk ke dalam bukan sekedar menyaksikan, atau sibuk membagi kartu nama, tetapi untuk menyembah dan menyampaikan persembahan mereka yang paling berharga.

Yang tidak kalah menarik, mereka lebih taat kepada petunjuk ilahi, walau hanya lewat mimpi. Mereka kembali melewati jalan lain pulang ke negeri mereka. Pengetahuan yang mereka miliki, bukan semata-mata untuk kesenangan diri mereka sendiri, tetapi yang ditundukkan semata-mata untuk dipakai seturut maksud Tuhan. Sungguh luar biasa! (Ay.11-12).

2. ORANG-ORANG MAJUS ABAD 21

Lalu bagaimana dengan orang-orang Majus Abad 21? Apa yang berbeda? Orang-orang majus abad 21 juga tak kalah sibuk. Sangat sibuk. Saking sibuk, kata sambutan pada acara-acara yang dianggap tetek bengek lebih banyak hanya diwakilkan. Kecuali pada acara-acara akbar. Bukan kata sambutan di gubuk reot kandang hewan.

Orang-orang Majus Abad 21 bukan tidak melakukan perjalanan ke kandang hewan. Juga melakukan perjalanan dua belas hari safari rohani. Bukan menggunakan onta, tetapi dengan pesawat udara, delapan jam melewati Yordania, atau singgah mendarat di Cairo Mesir. Setiap moment bersejarah didatangi hingga ke Betlehem yang sekarang bagai istana, bukan untuk menyembah dan menyampaikan persembahan, tetapi sekedar selfie dalam canda ria. Akhirnya pulang sekedar bawa oleh-oleh. Tak ketinggalan minyak urapan sebagai tanda bukti telah sampai ke tanah perjanjian.

Orang-orang majus abad 21 lebih fokus pada pembangunan gedung mewah demi sesuatu, bukan untuk sesuatu, hingga ketiduran sejuk ber-AC nyaman. Toh harus berangkat juga melakukan perjalanan, lebih pada biaya anggaran yang ada tersedia, berangkat untuk menghabiskan sesuatu demi mendapatkan sesuatu. Bukan memberikan sesuatu untuk memuliakan Tuhan. Lebih banyak menggunakan petunjuk gadget hingga memerah matanya, bukan berdasarkan petunjuk bintang. Bintang malah menjadi tujuan. Bukan untuk mencari Tuhan.

Orang-Orang Majus Abad 21 terkesan jarang masuk gubuk reot kandang hewan, atau di gereja sederhana. Hanya segelintir saja dari mereka yang ada. Mereka lebih banyak dijumpai di gereja berbintang, pengkhotbah berbintang, di mall, tempat-tempat istimewa untuk membahas soal bintang, supaya jadi bintang. Toh pun hadir juga di gubuk reot, gereja sederhana, di penjara atau di tempat panti asuhan, kecuali karena alasan-alasan tertentu, atau karena moment-moment tertentu.

Orang-orang Majus Abad 21 juga terkesan jarang memberikan persembahan terbaik sekelas emas, kemenyan dan mur, seperti orang-orang majus sebelumnya. Tapi malah banyak membagikan kartu nama, menjelaskan nomor urut ke berapa, entah kenapa. Toh pun ada, hanya segelintir orang saja di safari-safari Natal, bukan ber-Natal.

Paling tidak, dari kedua gambaran orang-orang majus dalam situasi serta zaman yang berbeda, menghantarkan kita untuk lebih serius berkaca, apa dan siapa kita di bawah terang kebenaran Firman Tuhan. Sekiranya tahu menempatkan diri untuk sesuatu yang bermakna. Sekiranya hidup yang dijalani tetap segaris lurus dengan apa yang Tuhan kehendaki, hidup dalam penyertaan Allah dan tak pernah menjadi sia-sia. Amin!

OLOH PINTAR BARA HILA TIMOR



 Mateus 2:1-12

Are bewei ampin macam oloh pintar melai penda andau toh. Hong Ewanggelion Mateus 2:1-12 imparahan akan itah tege telo macam ampin oloh pintar. Tege oloh pintar mangalintar, tege je tapas kapintar, kea aton oloh je puna toto pintar. Palus kilen ampin panyalahe ampin telo macam kapinter jete?

1. Raja Herodes (Pintar mangalintar)

Ie te Raja. Musti bewei ie te oloh pintar. Dia maka tau jadi raja amon ie te oloh homong. Baya kapintar aie te kapintar je inggare “pintar mangalintar”. Kilen ampin bandae oloh je inyewut pintar mangalintar te? Narai panyalahe Raja Herodes te kapintar aie inggare kapintar je mangalintar?

Amon itah moap Surat Barasih, kilau melai Ewanggelion Mateius bagi due toh, batarang haliai imparahan akan itah. Katika Oloh Pintar bara hila Timor dumah misek Raja Herodes tahiu perkara Rajan oloh Yahudi ije taheta inakan, ie paham tangkejet. Mbuhen ie tangkejet? Tantu bewei awi kabar te manjadi gangguan akae. Palus lembut tiroke manggau akal handak mampalumat te.

Oloh ije pintar mangalintar, jete kapintar je pura-pura, kapintar hapan manyahokan taloh basilim papa hong arepe, kea kapintar hapan mampadaya mampahomong oloh beken. Hetoh batantu haliai ampin kapintar je ingguna Herodes te handak mampahomong Oloh Pintar Bara Hila Timor. Maka kuan Herodes dengan ewen: “Lius, gau anak te bua-buah; maka amon keton sundau ie, sanan te akangku, mangat aku kea manalih, manyembah ie.” (Ay.8).

Auch Herodes te baya pura-pura bewei, baya kapintar mangalintar hapae manyahokan taloh basilim papa hong ateie, basa amun ie sundau anak awau (Raja Taheta) te, musti impateie, awi jete musuh, saingan akae. Kuae amon pasuru anak awau te ie kea akan manyembah, jete tanjaro bewei, hapae mamparata jalae, mangat oloh Pintar bara hila Timor te harap auch ayue te, tontang bajeleng manyundau anak awau te, mangat ie bajeleng kea malalus kare niat papa handak mampalumat anak awau te.

2. Kapala Imam tontang oloh Tamat Surat (Tapas Kapintar)

Kapala Imam tontang oloh Tamat Surat kea oloh pintar. Amon jaton kapintar kaharati mangatawan panyalah soal atoran sumbayang, soal agama, soal auch riman suang kotak Hukum Taurat, mustahel ewen iangkat melai jabatan jete, manjadi kare Kapala Imam. Mustahel ewen te inggare oloh Tamat Surat. Dia inggare oloh balajar surat, tapi “tamat” surat.

Ewen puna paceh toto hafal auh kare nujum kawan nabi melai surat barasih. Ewen mansuman akan Herodes auch nujum te: “Koan ewen dengae: Intu Betlehem hong tanah Yudea; karana kalotoh auch surat nabi: “Maka ikau, o Betlehem hong tanah Yuda, ikau jaton toto kurik haliai intu bentok kare mantir Yuda; karana bara ikau kareh lembut mantir te, ije manyakatik utus oloh ayungku, Israel.” Tapi ampie kapintar ewen te lalangen bewei. Sewute bewei je pintar, tapi langena, tapas kapintare. Baya pintar mambasae, tapi dia ati kaharatie tahiu narai suang isi je imbasae (Ay.4-6).

Jaka toto ewen te pintar, tantu bewei ewen pasti salabih helo bara oloh pintar bara hila Timor te manasaran manggau anak awau te, awi jete puna aton jari tarasurat melai Surat Barasih ain ewen. Tapi ampie dia, ewen dia hage-hager hingkat bara eka ewen. Padahal jete tukep toto omba eka ewen! Buhen bukue? Jaton beken, awi tapas kapintare!

Oloh je tapas kapintare, antah jete sacara umum, atawa tapas kapintare soal Agama, puna are manampa masalah hong pambelom bentok masyarakat. Kapintar baya hong teori, tapi hindai buah hong praktek. Kapintar je macam te, jete kapintar je dia baguna, hayang bewei. Kapintar je baya akan jongos oloh. Baya kapintar hapan manjelap, tapi dia kapintar akan katetek, katindoh manempo Hatalla. Manaharep oloh je tapas kapintare, puna bahali toto.

3. Oloh Pintar Bara Hila Timor (Puna Toto Pintar)

Oloh Pintar bara hila Timor, jete oloh pintar. Puna toto-toto pintar. Pintar ije aton kaharatie. Kapintar ewen te batanto haliai katika ewen manggau auch barita mahalau oloh je ianggap katawan barita, iete oloh tempon kuasa, Raja Herodes. Dia mambarangai eka misek (Ay.1-2).

Kalote kea, ewen mangguna kapintar akan manggau kahalap, taloh je barega hong pambelom. Kapintar je hapadanan hasaroroi tandipah auch Hatalla. Dia kapintar je marusak, hapan malawan Hatalla, awi handak jadi Hatalla. Tapi kapintar je magah ewen manempo Hatalla je bujur, tontang mahingkep mahormat Hatalla, dia baya hapan auch, tapi hapan gawi mukei ramo manenga je bahalap, bulau, garo, tontang minyak mor (Ay.11).

Batarang kea, katika ewen impingat Hatalla hajamban nupi bele ewen buli tinai tanggoh Herodes. Ewen olih marima jete bua-buah, tontang mantoh tagal karandah atei tandipah Hatalla, palus manomon peteh te. Kapintar je tege kaharati mangatawean narai je bahalap ije perlu ilalus, tontang narai je papa, je ela ilalus (Ay.12).

Jetoh kapintar je puna toto pintar. Kapintar je akan kaharati, kapintar je baguna. Kapintar oloh tetek ije magah ewen manintu kabujur, karasih, kamantoh, manempo Hatalla. Kapintar je tau akan sonto, kapintar je imberkat tontang ingilak Hatalla. Enkah kapintar itah puna toto kapintar je imberkat tontang ingilak Hatalla? Amen!