Renungan GKE

Rabu, 31 Oktober 2018

IKAU JATON KEJAU BARA KARAJAAN HATALLA

























Markus 12:28-34

Puna dia laluen. Gete-getei, paceh samasinde panombah ije biti oloh Tamat Surat jetoh limbah marima tontang maiyuh kare auh ajar Yesus tahiu parentah ije mambatang te. Ie marega toto auh ajar Yesus te, palus ie tombah: “Buah jete Guru; toto auchm, puna tikas Ije, tuntang sala bara ie jaton Tuhan beken. Tinai sinta ie hapan salepah atei, hapan salepah kaharati, hapan salepah hambaruan, hapan salepah kaabas, tuntang sinta oloh kilau arep kabuat, jete toto hai bara kare parentah ije ingehu tuntang bara kare parapah ije inyambalih." (Ay.32-34).

Puna beken bara je beken ampie ije biti oloh Tamat Surat jetoh. Puna aton auch kaharati marima kare ajar ije bahalap tandipah Hatalla. Tagal kapintar kaharatie marima kare auh ajar te, Yesus palus tombah auche: “Ikau jaton kejau bara karajaan Hatalla.” (Ay.34). Kilau hasur tahasak danom katining maselat batu, auch Yesus te puna handalem toto. Taduh, uras suni benyem kare oloh ije atun sakaliling, sampai jaton ije biti je bahanyi misek tinai taloh en-en omba Yesus.

Puna musuk toto angat hambaruan, manggau auch riman panyalah panombah Yesus te. Dia baya akan oloh Tamat Surat jete bewei. Tapi anga-angat kilau pangaranang kalawan sumbu manyingah kakaput kare atei bua itah kea. Atei bua gagenep itah ije taharu manggau auch katoton riman kahandak Hatalla uka belom tinduh, malis barasih haliai. Kilau oloh Tamat Surat toh, tantu itah handiai kea tege mikes kapintar kaharati. Mangatawan kare kahandak Hatalla. Maiyuh kare ajar ije bahalap. Itah kea tantu tukep kea dengan Karajaan Hatalla te.

Akai Indang, akai Apang, kilen auh riman panombah Yesus te “ikau jaton kejau bara karajaan Hatalla”? Narai rimae amon sakadar tukep tapi amun jaton umba suang Karajaan Hatalla te? Ela-ela itah kea baya sakadar tukep dan puna tukep dengan Karajaan Hatalla te kea, tapi jaton omba melai suang Karajaan Hatalla! Amun handalem marima, oloh Tamat Surat jetoh puna jaton eka pampateie. Kapintar kaharatie puna sukup. Ie kea maiyuh kare auh ajar Yesus tahiu parentah je mambatang te. Baya panyalahe, iye baya sabatas pangatawae bewei. Iye baya sakadar maiyuh auh Yesus. Tapi hindai toto-toto narima Yesus manjadi batang kaharape ije eter dehen.

Akai Indang, akai Apang. Amun manyaramin arep tandipah auch Hatalla, labi-labih tagal auch Yesus te “Ikau jaton kejau bara karajaan Hatalla”. Kinampin itah olih sinta Hatalla dengan salepah atei, salepah kaharati, salepah hambaruan, hapan salepah kaabas, amon atei itah leket kalit omba ramon Japang, gadget te kilau “tuhan” hong pambelom itah? Bara misik batiroh sampai lius batiruh atei itah puna are perse omba ramo te? Kilen ampie itah sinta omba oloh kilau arep itah kabuat amun sintan Yesus te jatoh basuang intu atei itah? Kipen isi labih hai kuasae bara kahandak Hatalla marentah hoang atei itah?

Itah puna aton tukep Karajaan Hatalla kilau oloh Tamat Surat te, awi puna aton kapintar marima kare kahandak Hatalla. Tapi jete hindai sukup amon jaton mina kaharati. Palus sampai jete ilalus dengan salepah atei, salepah hambaruan dan kaabas, manempo kare kahandak Hatalla ije tinduh barasih te. Malalus sintan Hatalla ije manjadi isi dahan itah tandipah oloh beken, kilau Kristus kea jari sinta itah? Awi te, narai gunae itah baya “tukep karajaan Hatalla” tapi dia omba suang Karajaan Hatalla”? Amen!

Selasa, 23 Oktober 2018

KOQ ALLAH BERSUMPAH?




Ibrani 6:13-20
Allah berjanji kepada Abraham dengan mengangkat “sumpah”, bahwa Dia akan memberkati Abraham dengan berlimpah-limpah dan keturunannya amat banyak, menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Untuk memperkuat janji-Nya kepada Abraham, Allah mengangkat sumpah demi diri-Nya sendiri. Koq Allah bersumpah? Bukankah orang Kristen diajarkan untuk tidak bersumpah, tetapi berjanji (misalnya dalam pelantikan jabatan)?
Kenapa kita dilarang “bersumpah”, sedangkan dalam nas ini nyata-nyata “bersumpah”? Kita dilarang bersumpah, karena kita manusia terbatas, penuh dengan dosa. Bak syair lagu “Kau yang berjanji kau yang mengingkari. Kau yang mulai, kau yang mengakhiri. Oh, mengapa begini….” Demikian kira-kira bila digambarkan. Manusia sulit menepati janji. Bayangkan bila mengangkat sumpah! Bayangkan tanggungannya, api neraka menganga! Apa sanggup?
Tentang soal bersumpah, Yesus sendiri secara jelas dan tegas memperingatkan: “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Allah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, atau pun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; Janganlah pula engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Mat.5:33-37).
Bila Allah “bersumpah”, wajar saja. Karena Dia Allah. Bila Allah yang berjanji, pasti Dia tepati 100%. Allah berjanji kepada Abraham dengan mengangkat “sumpah” untuk meyakinkan Abraham bahwa janji-Nya “Ya” dan “Amin” dapat dipercaya 100%. Tak perlu diragukan. Dan memang terbukti apa yang terjadi dengan Abraham dan keturunannya! Tak lebih, tak kurang!
Allah yang sama, berjanji kepada umat-Nya untuk memelihara, memberkati, dan menjamin keselamatan mereka hingga masuk sorga, bila mereka bertobat, taat mematuhi perintah-Nya. Hal itu diungkapkan-Nya melalui Firman yang yang boleh kita baca dan kita aminkan. Adakah kita sungguh mempercayainya? Bila Allah berjanji, lebih dari cukup untuk meyakinkan kita akan penyertaan Allah. Adakah kita tekun dan berpengharapan akan janji-janji-Nya?
Hanya sayang, manusia lebih taat dan takut kepada berita hoax ketimbang kepada Allah. Diminta menyebarkan 50 berita hoax kepada yang lain, langsung reflek saja melakukannya. Ketimbang taat pada Firman Allah atau mempersembahkan syukur 50 kali lipat dari yang biasanya. Sayang, manusia lebih dekat pada gadget ketimbang kepada Allah. Beberapa jam saja gadget tak ada di tangan, panas dingin, galau, tak ceria seperti tak ada pengangan hidup. Ketimbang dekat kepada Allah dan mempercayai janji penyetaan dan berkat Allah.
Persoalan sebenarnya, bukan pada Allah yang berjanji, bahkan “bersumpah” demi diri-Nya sendiri untuk memberkati. Tetapi pada manusia yang tidak sungguh-sungguh mengimani dan berpengharapan kuat pada janji-Nya. Manusia laksana kapal yang tanpa jangkar terombang-ambing kesana-kemari tak jelas arah. Manusia yang hanya banyak tuntutan pada Allah, tanpa pendirian, tanpa pengharapan yang kokoh serta tekun menjalani hidup pada jalan Allah. Paling-paling Allah diperlukan jika kepepet, lalu doa terburu-buru dipanjatkan memohon aneka pinta. Tanpa hati. Tanpa jiwa. Inilah yang jadi titik masalah! Amin!

Jumat, 19 Oktober 2018

PERMINTAAN YANG KELIRU



Markus 10:35-45

Bukan permintaan biasa, tetapi permintaan yang luar biasa. Bukan menduduki kursi jabatan jadi anggota pelengkap saja, tetapi kursi jabatan khusus, menjadi yang di sebelah kanan dan kiri Yesus! Itu artinya menjadi yang paling berkuasa dan termulia dari antara sepuluh murid lainnya. Bayangkan bila permintaan Yakobus dan Yohanes itu dikabulkan. Cara memintanya pun berlebihan, rada-rada mengatur Tuhan: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan seorang di sebelah kiri-Mu.” (Ay.37).

Permintaan itu tentu dilatarbelakangi ambisi besar untuk menjadi yang berkuasa. Membayang kemuliaan dan kehormatan ada di sana. Tinggal jari dimainkan, maka yang lain pasti akan menuruti segala apa yang diperintahkan. Mengetahui situasi yang terjadi, jelas saja kesepuluh murid yang lain jadi sangat marah. Marah karena cemburu. Persaingan tak sehat begitu kentara. Semua ingin menjadi yang utama.

Yesus memperingatkan mereka. Bahwa mereka tak tahu apa yang mereka minta. Di balik permintaan itu ada motivasi yang keliru. Kemuliaan dan kehormatan diri yang dicari. Bukan melayani demi kemuliaan Allah yang paling hakiki. Sungguh kontradiksi dengan apa yang Yesus lakukan. Justru turun dari ketinggian-Nya sebagai yang berkuasa di kemuliaan sorga untuk melayani manusia, bahkan mengambil rupa seorang hamba, menderita, bahkan taat sampai mati di kayu salib sebagai bentuk pengabdian yang tiada tara.

Yesus menjelaskan, bahwa kehormatan yang sesungguhnya adalah ketika sikap yang merendah dilakukan. Memanusiakan manusia sebagai bentuk solidaritas Ilahi dijalankan di bumi. Bukan memerintah dengan tangan besi, duduk ongkang-ongkang pada kursi kehormatan yang meninggi di awan-awan! Di sinilah kita berjumpa dengan arti keterpanggilan kita sebagai anak-anak Tuhan. Cara yang berbeda dari rata-rata manusia inginkan.

Meminta jatah kursi ikut duduk di kemuliaan sorga, toh semulia duduk di sebelah kanan dan kiri sebagai yang paling terhormat dari yang lainnya belumlah berarti sebuah dosa. Namun syarat standar Ilahi harus dipenuhi. Meminum cawan penderitaan. Yang pada gilirannya, seperti Yesus lakukan, hingga nyawa jadi taruhan. Apa sanggup? Mati bukan sembarang mati karena tujuan yang konyol untuk membayangkan 40 bidadari yang menanti di pintu sorga. Tetapi mati demi satu tujuan mulia, mengangkat martabat manusia dari kehinaannya.

Karenanya, jawaban Yesus tentang siapa nanti yang akan menduduki tahta mulia, sebelah kanan dan kiri-Nya adalah jawaban diplomatis sarat makna, manakala Yesus dalam kapasitasnya sedang on sebagai pelaku hamba itu sendiri. Sama-sama melaksanakan persyaratan Ilahi yang ada. Bukan sedang mengatakan sesuatu yang Dia sendiri tidak laksanakan. Rahasia Syarat ilahi untuk duduk di kemuliaan sorga nantinya telah Yesus tegaskan; “barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” persis sama seperti yang juga Yesus lakukan. (Ay.44-45).

Kesanggupan untuk menerima resiko dan tanggaungjawab sebagai harga mahal yang harus dibayar, bukan hanya pada kata-kata, tetapi pada realita setiap sikap menghamba dilaksanakan. Soal duduk di sebelah kanan dan kiri di kemuliaan Sorga nanti bukan karena soal loby, menjilat, atau sogokan segala. Tetapi benar-benar pada kemapanan kualitas diri kesanggupan meminum cawan penderitaan, berjalan pada jalan salib kebenaran, standar ilahi yang pasti, lurus setiap tapak menjalani hingga sampai akhirnya.

Di sinilah sulitnya. Di sinilah tantangannya. Karena memang, manusia lebih cenderung serakah dan mementingkan diri sendiri. Lebih cenderung menghitung-hitung untung ruginya. Karena itu tidak heran bila orang baru mungkin mau melakukan hal-hal besar dan spektakuler asal nama juga ikut besar dan popoler! Tidak heran pula bila orang sulit berkorban, apalagi sampai mati demi pengabdian dan pelayanan. Tetapi sebaliknya rela berkorban bahkan sampai mati kalau perlu demi kekuasaan, kemasyhuran, ucapan selamat dan setumpuk piagam penghargaan!

Apakah kita juga telah paham sampai kedalaman maknanya seperti yang Yesus maksudkan? Renungkan dalam-­dalam dan tariklah nafas panjang! Sebab sifat-sifat "hamba" hanya dapat dikenakan oleh orang-orang Kristen atau gereja sungguhan. Bukan yang tiruan. Dan selanjutnya, gelar-gelar kehormatan dan keagungan yang sesungguhnya diberikan oleh Allah sendiri secara absolut tak meragukan. Tanpa rekayasa apalagi kekeliruan!

Memang, orang yang bersedia mengambil sikap seorang hamba, tak ada namanya sering ngetren masuk koran. Malah-malah dianggap penghalang oleh kebanyakan manusia yang pura-pura. Yang mencari keuntungan diri semata. Matinya pun malah seperti daun kering berjatuhan. Tapi ingat, jadilah kematiannya laksana pupuk yang menyuburkan dan memberikan kehidupan. Amin!

MEMINTA JATAH KURSI



Markus 10:35-45

Yesus rupanya (menurut versi mereka) makin tenar saja. Para fans berat-Nya dari bermacam latar belakang. Dari bermacam kalangan. Baik dari kalangan orang terhormat setingkat Nikodemus, Zakheus, juga dari kalangan sekelas si pesakitan Lazarus. Para mantan si buta, mantan si timpang, mantan si kusta, mantan si kerasukan setan, mantan si pendosa, dan banyak lagi mantan-mantan yang lain tentu ada. Terlebih mereka yang pernah bersentuhan langsung dan mengalami atau menerima berkat pertolongan-Nya. Tentu tak ketinggalan, mereka yang pernah kekenyangan makan roti manakala ketika itu mujizat terjadi.


Sepertinya (harapan dari kebanyakan mereka) pada Yesus untuk beroleh pembebasan mendekati kenyataan. Terlebih bagi para murid orang dekat-Nya. Membayang, indahnya masa depan cemerlang hidup di alam kemerdekaan hingga di kemuliaan sorga tinggal menunggu waktu saja. Membayang diri jadi seorang boss kecil sebagai orang kepercayaan sang boss besar, duhai sangatlah menggoda! Maklum, di sana tersedia seperangkat nikmat, segudang kesenangan. Hidup dapat dibuatnya terasa nyaman. Serba menjanjikan. Aneka pasilitas pun tentu tak kurang.

Namun anehnya, Yesus sepertinya belum menentukan nama-nama siapa saja sekiranya akan menduduki kursi jabatan untuk melaksanakan roda pemerintahan. Para murid yang berkepentingan harap-harap cemas. Apakah sang boss besar lupa (maklum karena kesibukan dalam rangka persiapan) menaiki tangga jabatan? Atau jangan-jangan sang boss besar sudah ada pilihan mengantongi nama-nama lain, mungkin nanti diumumkan sebagai kejutan? Tak sabar diri, apakah juga termasuk orang yang dalam daftar pilihan?

Adalah dua orang murid, Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus. Para murid yang tergolong terhormat di kalangan para murid. Cukup berjasa manakala menghimpun kesepuluh murid Yesus pada awalnya. Mereka mendekati Yesus, mencari kesempatan untuk menyampaikan maksud hati. Mencalonkan nama untuk menduduki kursi jabatan terhormat nanti. Benar saja, duhai kesempatan itu ada, laksana pepatah “pucuk dicinta ulam tiba”. Singkat kata, mereka meminta “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan seorang di sebelah kiri-Mu.” (Ay.37).

Apa jawab Yesus? “Kamu salah meminta!”. Apanya yang salah? Apakah duduk di kursi jabatan itu salah? Tidak, tidak salah! Itu baik saja. Hanya motivasinya yang perlu diluruskan. Konsekwensinya perlu diketahui. Apakah meminta jatah kursi itu salah? Tidak. Tidak salah! Hanya masalahnya mereka belum mengerti. Sadarkah mereka tanggungjawabnya apa yang mereka terima? Cawan penderitaan sebagai konsewensi sudah menghadang di muka? Namun luar biasa tekad kedua murid ini. Mereka berjanji “sanggup” untuk menerimanya. Sanggup membayar harganya! (Ay.38).

Lalu sikap kesepuluh murid yang lain? Oh, langsung reflek saja. Dikatakan dalam nas, mereka marah. Marah kepada kedua teman mereka itu. Oh, ya? Tapi bila diselidiki lebih dalam, sebenarnya mereka bukan benar-benar marah. Tapi pura-pura marah. Seakan mereka tak ikut terlibat. Cuci tangan istilahnya. Padahal sebelumnya mereka juga punya niat yang sama. Hanya sayang, kalah taktik, kalah cepat dengan kedua teman mereka. Oh, manusia! Dasar manusia! Kemarin bersama untuk tujuan yang sama. Hari ini koq jadi beda? Teman sendiri sudah jatuh malah ikut ditekan demi menyalamatkan diri sendiri? Ehem, sikap cari aman, cari muka. Gambaran kemanusiaan kita sungguh kentara terwakilkan dalam diri mereka! (Ay.40).

Untuk itulah Yesus memperingatkan para murid supaya mengenakan sifat-sifat hamba yang melayani. Sehingga kursi yang diduduki menjadi berarti dan bernilai tinggi. Bukan malah jadi lupa diri. Seperti yang diteladankan oleh Yesus sendiri, walau sebagai sang penguasa tertinggi pemilik alam semesta, justru meninggalkan kursi takhta-Nya, turun langsung ke lapangan untuk kerja. Mengambil rupa seorang hamba, menderita, bahkan taat sampai mati di kayu salib. Bukan dilayani, melainkan melayani, bahkan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Ay.44).

Mengenakan sifat-sifat "hamba", apa sih nikmatnya? Di sinilah masalahnya. Di sinilah sulitnya! Pasalnya? Apabila orang mau sungguh-sungguh mengenakan sifat-sifat "hamba" maka sekaligus ia harus berani berjalan pada jalan salib! Berjalan pada sebuah keberprilakuan solidaritas kemanusiaan secara utuh dan menyeluruh. Kenapa mesti jalan salib? Karena hanya jalan saliblah jalan satu-satunya yang telah teruji kualitas kemapanannya untuk sebuah solidaritas. Tak ada jalan lain. Toh pun ada jalan lain, pastilah jalan pintas namanya! (Ay.45).

Apakah meminta jatah kursi itu dosa? Tidak! Hanya masalahnya, dalam dunia nyata, tidak jarang kursi digunakan sebagai sarana pemasyuran diri pribadi. Kekuasaan lalu menjadi tujuan. Dalam keadaan demikian, nilai-nilai pengabdian dan pelayanan sering menjadi persoalan. Sebab itu dapat kita mengerti jika untuk sebuah kekuasaan, kemashuran serta ketenaran, orang bersedia mengorbankan apa saja untuk meraihnya. Bahkan mengorbankan orang lain kalau perlu. Demi meraup sejumput kekuasaan dan kehormatan, orang tak segan-segan melepaskan seberapa yang ada di tangan, tetapi tidak di kantong-kantong persembahan. Sikap seperti ini yang Yesus peringatkan.

Gaya hidup kehambaan adalah gaya hidup berteladankan Yesus sendiri dengan komitmen penuh bersedia merendahkan diri, mengabdi. Turun dari kursi ketinggian yang mengawan-awan. Hadir dan berada di tengah-tengah pergumulan manusia nyata. Berjuang untuk kehidupan manusia yang lebih manusiawi. Bukan sebaliknya, untuk menjadi berkuasa, memerintah dengan tangan besi, semakin meninggi mangawang-awang membangun kekuatan bagi pemuliaan diri sendiri!

Kursi menjadi berarti bila menjadi titik berangkat peran pengabdian bagi kemanusiaan dijalankan. Hadir dan berjuang untuk kehidupan yang lebih manusiawi. Hadir di tengah-tengah pergumulan manusia nyata. Bagi pembebasan kemanusiaan dari kepekatan dosa. Dari segala macam penderitaan, ketidakadilan, maupun dari berbagai bentuk pelecehan kemanusiaan. Disitulah nilai atau bobot kursi yang diduduki. Di situlah kehormatan dan kemuliaan kita yang sesungguhnya dijumpai. Dengan kata lain, bahwa segala bentuk kehormatan dan kemuliaan itu baru memiliki nilai apabila kursi yang kita duduki, kita tempatkan pada aras yang setara dengan pengabdian, dalam pelayanan, kerja dan karsa yang dilandasi kerendahan hati, ketulusan, dan ketaatan. Amin!

KERAJAAN SORGA BANTING HARGA?



Markus 10:35-45

Nas ini tentu saja bukan berbicara dalam konteks perebutan kursi di kegiatan Pilkada pada umumnya, tapi soal kursi di pemerintahan kerjaan sorga. Yakobus dan Yohanes (dua bersaudara) anak-anak Zebedeus mengira, bahwa ambil bagian duduk di kursi pemerintahan sorga sama dengan cara mendapatkan kursi dalam kegiatan pilkada! Karenanya tidak heran mereka mencalonkan diri sekiranya mendapatkan tempat di sebelah kanan dan kiri Yesus bila berkuasa di kemuliaan Sorga nanti! Mumpung belum terlambat keburu direbut orang lain, maka mereka mencari kesempatan untuk menyampaikan keinginan pada Yesus.

Bak istilah “pucuk dicinta ulam tiba” kesempatan itu pun ada. Tanpa membuang-buang waktu, keinginan tersebut langsung disampaikan: “ “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan seorang di sebelah kiri-Mu.” (Ay.37). Pencalonan diri mereka bukan tanpa dasar kuat, bukan sekedar calon asal-asalan karena kesulitan mencari lapangan kerja. Tapi calon yang benar-benar mapan.

Yakobus adalah salah seorang murid yang paling berjasa dalam rangka menghimpun para murid, hingga terbentuk kelompok murid seperti sekarang ini ada. Demikian pun Yohanes, adalah seorang murid yang punya kemampuan intelektual di atas rata-rata dari para murid yang lain. Terlebih bila mengingat bahwa mereka juga adalah orang dekat dengan Yesus, laksana si Boss besar bagi mereka.
Berdasarkan trek record yang ada, mereka punya keyakinan besar usul mereka pasti dapat diterima. Namun ternyata, jawaban Yesus jauh berbeda dari apa yang mereka kira! Apa jawaban Yesus? “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” (Ay.38).

Apakah meminta jatah kursi di Sorga itu salah? Tidak. Tidak salah. Hanya masalahnya seperti kata Yesus “kamu tidak tahu” apa sebenarnya yang kamu minta! Salahnya tentu bukan pada kursi yang diminta, tetapi motivasi dibalik permintaan. Salahnya tentu bukan pada soal jabatan, tetapi tujuan di balik jabatan yang dimintakan! Meminta jatah kursi dan jabatan ikut memerintah di kerajaan sorga belumlah berarti sebuah dosa. Namun Yesus mengkritisi ketidaktahuan tentang apa yang mereka minta. Bukan kekuasaan untuk dilayani, memerintah dengan tangan besi, melainkan menghamba untuk melayani.

Yesus menghendaki agar mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi penderitaan yang diistilahkan-Nya dengan meminum cawan (penderitaan). Dengan kata lain bahwa kehormatan kedudukan di sebelah kanan dan sebelah kiri adalah hanya diberikan kepada orang-orang yang memperolehnya melalui kesetiaan dalam hidup dan pelayanan. Tidak bisa diberikan secara asal-asal, laksana Sorga banting harga. Tidak!

Kehormatan tentang kedudukan di sebelah kanan dan sebelah kiri bukan barang murahan, sesuatu yang dibagikan sekedar atas alasan kedekatan, loby, prioritas, atau “asal boss senang” atau promosi jabatan segala macam. Posisi di “sebelah kanan” dan di “sebelah kiri” adalah posisi orang besar atau pejabat terkemuka di kerajaan. Bukan posisi asal-asalan yang hanya jadi pelengkap semata. Karenanya akan diberikan “bagi siapa itu diberikan” sebagai yang berhak menerimanya berdasarkan “minum cawan” (penderitaan), harga mahal yang harus dibayar, bukti kesetiaan keimanan seseorang.

Syarat untuk mendapatkannya tentu berbeda dari cara pandang dunia pada umumnya. Tetapi berdasarkan “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” (Ay.43-44). Kerajaan Sorga tidak akan pernah banting harga! Amin!

Rabu, 17 Oktober 2018

MEMINTA JATAH KURSI





Markus 10:35-45

Yesus rupanya (menurut versi mereka) makin tenar saja. Para fans berat-Nya dari bermacam latar belakang. Dari bermacam kalangan. Baik dari kalangan orang terhormat setingkat Nikodemus, Zakheus, juga dari kalangan sekelas si pesakitan Lazarus. Para mantan si buta, mantan si timpang, mantan si kusta, mantan si kerasukan setan, mantan si pendosa, dan banyak lagi mantan-mantan yang lain tentu ada. Terlebih mereka yang pernah bersentuhan langsung dan mengalami atau menerima berkat pertolongan-Nya. Tentu tak ketinggalan, mereka yang pernah kekenyangan makan roti manakala ketika itu mujizat terjadi.

Sepertinya (harapan dari kebanyakan mereka) pada Yesus untuk beroleh pembebasan mendekati kenyataan. Terlebih bagi para murid orang dekat-Nya. Membayang, indahnya masa depan cemerlang hidup di alam kemerdekaan hingga di kemuliaan sorga tinggal menunggu waktu saja. Membayang diri jadi seorang boss kecil sebagai orang kepercayaan sang boss besar, duhai sangatlah menggoda! Maklum, di sana tersedia seperangkat nikmat, segudang kesenangan. Hidup dapat dibuatnya terasa nyaman. Serba menjanjikan. Aneka pasilitas pun tentu tak kurang.

Namun anehnya, Yesus sepertinya belum menentukan nama-nama siapa saja sekiranya akan menduduki kursi jabatan untuk melaksanakan roda pemerintahan. Para murid yang berkepentingan harap-harap cemas. Apakah sang boss besar lupa (maklum karena kesibukan dalam rangka persiapan) menaiki tangga jabatan? Atau jangan-jangan sang boss besar sudah ada pilihan mengantongi nama-nama lain, mungkin nanti diumumkan sebagai kejutan? Tak sabar diri, apakah juga termasuk orang yang dalam daftar pilihan?

Adalah dua orang murid, Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus. Para murid yang tergolong terhormat di kalangan para murid. Cukup berjasa manakala menghimpun kesepuluh murid Yesus pada awalnya. Mereka mendekati Yesus, mencari kesempatan untuk menyampaikan maksud hati. Mencalonkan nama untuk menduduki kursi jabatan terhormat nanti. Benar saja, duhai kesempatan itu ada, laksana pepatah “pucuk dicinta ulam tiba”. Singkat kata, mereka meminta “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan seorang di sebelah kiri-Mu.” (Ay.37).

Apa jawab Yesus? “Kamu salah meminta!”. Apanya yang salah? Apakah duduk di kursi jabatan itu salah? Tidak, tidak salah! Itu baik saja. Hanya motivasinya yang perlu diluruskan. Konsekwensinya perlu diketahui. Apakah meminta jatah kursi itu salah? Tidak. Tidak salah! Hanya masalahnya mereka belum mengerti. Sadarkah mereka tanggungjawabnya apa yang mereka terima? Cawan penderitaan sebagai konsewensi sudah menghadang di muka? Namun luar biasa tekad kedua murid ini. Mereka berjanji “sanggup” untuk menerimanya. Sanggup membayar harganya! (Ay.38).

Lalu sikap kesepuluh murid yang lain? Oh, langsung reflek saja. Dikatakan dalam nas, mereka marah. Marah kepada kedua teman mereka itu. Oh, ya? Tapi bila diselidiki lebih dalam, sebenarnya mereka bukan benar-benar marah. Tapi pura-pura marah. Seakan mereka tak ikut terlibat. Cuci tangan istilahnya. Padahal sebelumnya mereka juga punya niat yang sama. Hanya sayang, kalah taktik, kalah cepat dengan kedua teman mereka. Oh, manusia! Dasar manusia! Kemarin bersama untuk tujuan yang sama. Hari ini koq jadi beda? Teman sendiri sudah jatuh malah ikut ditekan demi menyalamatkan diri sendiri? Ehem, sikap cari aman, cari muka. Gambaran kemanusiaan kita sungguh kentara terwakilkan dalam diri mereka! (Ay.40).

Untuk itulah Yesus memperingatkan para murid supaya mengenakan sifat-sifat hamba yang melayani. Sehingga kursi yang diduduki menjadi berarti dan bernilai tinggi. Bukan malah jadi lupa diri. Seperti yang diteladankan oleh Yesus sendiri, walau sebagai sang penguasa tertinggi pemilik alam semesta, justru meninggalkan kursi takhta-Nya, turun langsung ke lapangan untuk kerja. Mengambil rupa seorang hamba, menderita, bahkan taat sampai mati di kayu salib. Bukan dilayani, melainkan melayani, bahkan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Ay.44).

Mengenakan sifat-sifat "hamba", apa sih nikmatnya? Di sinilah masalahnya. Di sinilah sulitnya! Pasalnya? Apabila orang mau sungguh-sungguh mengenakan sifat-sifat "hamba" maka sekaligus ia harus berani berjalan pada jalan salib! Berjalan pada sebuah keberprilakuan solidaritas kemanusiaan secara utuh dan menyeluruh. Kenapa mesti jalan salib? Karena hanya jalan saliblah jalan satu-satunya yang telah teruji kualitas kemapanannya untuk sebuah solidaritas. Tak ada jalan lain. Toh pun ada jalan lain, pastilah jalan pintas namanya! (Ay.45).

Gaya hidup kehambaan adalah gaya hidup berteladankan Yesus sendiri dengan komitmen penuh bersedia merendahkan diri, mengabdi. Turun dari kursi ketinggian yang mengawan-awan. Hadir dan berada di tengah-tengah pergumulan manusia nyata. Berjuang untuk kehidupan manusia yang lebih manusiawi. Bukan sebaliknya, untuk menjadi berkuasa, memerintah dengan tangan besi, semakin meninggi mangawang-awang membangun kekuatan bagi pemuliaan diri sendiri!

Apakah meminta jatah kursi itu dosa? Tidak! Hanya masalahnya, dalam dunia nyata, tidak jarang kursi digunakan sebagai sarana pemasyuran diri pribadi. Kekuasaan lalu menjadi tujuan. Dalam keadaan demikian, nilai-nilai pengabdian dan pelayanan sering menjadi persoalan. Sebab itu dapat kita mengerti jika untuk sebuah kekuasaan, kemashuran serta ketenaran, orang bersedia mengorbankan apa saja untuk meraihnya. Bahkan mengorbankan orang lain kalau perlu. Demi meraup sejumput kekuasaan dan kehormatan, orang tak segan-segan melepaskan seberapa yang ada di tangan, tetapi tidak di kantong-kantong persembahan. Sikap seperti ini yang Yesus peringatkan.

Kursi menjadi berarti bila menjadi titik berangkat peran pengabdian bagi kemanusiaan dijalankan. Hadir dan berjuang untuk kehidupan yang lebih manusiawi. Hadir di tengah-tengah pergumulan manusia nyata. Bagi pembebasan kemanusiaan dari kepekatan dosa. Dari segala macam penderitaan, ketidakadilan, maupun dari berbagai bentuk pelecehan kemanusiaan. Disitulah nilai atau bobot kursi yang diduduki. Di situlah kehormatan dan kemuliaan kita yang sesungguhnya dijumpai. Dengan kata lain, bahwa segala bentuk kehormatan dan kemuliaan itu baru memiliki nilai apabila kursi yang kita duduki, kita tempatkan pada aras yang setara dengan pengabdian, dalam pelayanan, kerja dan karsa yang dilandasi kerendahan hati, ketulusan, dan ketaatan. Amin!

Jumat, 12 Oktober 2018

MENJADI YANG TERDAHULU MEMASUKI PINTU SORGA



Markus 10:17-31

Memasuki pintu sorga tentu beda dengan orang memasuki pintu pesawat umpama, tinggal perlihatkan tiket, lalu bereslah sudah. Atau memasuki suatu negara lain, tinggal perlihatkan paspor, maka selesaikah sudah. Tinggal seenaknya melenggang masuk. Apakah memasuki pintu sorga itu teramat susah? Bisa sangat susah bisa sangat mudah. Bisa sangat susah, bila salah-salah, pintunya bisa sempit dan teramat sempit hingga laksana lobang jarum yang mustahil dimasuki bila tak tahu cara memasukinya. Bisa teramat mudah, karena tidak ada yang mustahil bagi Allah!

Tentang soal masuk sorga, Firman Allah sendiri menegaskan: “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu” (Ay.31). Kenapa bisa terjadi demikian? Kenapa ada orang (bahkan banyak) yang sudah cukup lama beragama atau menjadi Kristen, koq malah menjadi yang terakhir, dan ada juga orang yang baru kemarin tapi malah menjadi yang terdahulu?

1. Bila caranya salah. Mengira bahwa masuk sorga dapat dengan cara mempiutangi Allah dengan Amal saleh ritus agama. Dengan harapan bahwa Allah semakin bermurah hati, lalu otomatis membukakan pintu sorga. Yang diimani bukanlah Tuhan, tetapi perbuatan. Berhitung perbuatan, tukar guling dengan kemuliaan Sorga! Dia tidak tahu bahwa kemuliaan Sorga adalah Anugerah Allah semata.

2. Bila menuhani “mammon” melebihi ketaatannya kepada Tuhan. “Mammon” (uang dan harta kekayaan) menjadi semacam “tuhan” bagi hidupnya. Rela mengorbankan apa saja, melakukan apa saja, berapa pun besarnya biaya demi mammon yang menjadi tujuan. Tetapi tidak untuk kemuliaan nama Tuhan. Bagi Tuhan, hanya umpan dengan recehan, tapi mengharapkan besarnya pahala Sorga!

3. Bila imannya tidak berbuah. Apa yang dilakukan dalam ritus Agama, hanyalah ritus agama yang mandul, mati tak berdampak apa-apa, terlebih bagi lingkungan dan sesama manusia. Kejahatan terus berlangsung di mana-mana, ketidakadilan merajalela, penderitaan dan kelaparan di hadapan matanya. Tapi dia adem ayem saja. Asyik sendiri menaikan doa-kosong seadanya, berpuji Tuhan dengan cara yang memukau luarbiasa pada Allah yang Perkasa sebagai kekasih jiwanya, bukan untuk Tuhan kekasih jiwa semua umat manusia!

4. Bila tidak tahan uji. Dalam berbagai tantangan, ketika berbagai bentuk peneritaan, penganiaayaan karena iman pada Yesus Kristus, menjadi undur, laksana seorang prajurid yang lari terbirit-birit dan menyerah. Malah-malah jadi pengkhianat. Menjadi bulan-bulanan kemajuan jaman, menjadi serupa dengan dunia, tak ada ciri-ciri sebagai anak terang. Suam-suam kuku, redup dan mati, yang nampak hanyalah kegelapan yang sama dengan gelapnya dunia.

Sebagai anak-anak Tuhan, apalagi orang yang telah lebih dahulu mengenal kasih karunia Anugerah Allah telah diterima, tidak seharusnya justru menjadi orang yang terkemudian, apalagi malah-malah menjadi orang yang gagal masuk sorga. Menghadapi berbagai tantangan arus jaman yang dahsyat seperti di era sekarang ini, cara hidup beriman yang setengah-setengah, adalah pertanda batu uji yang dihadapi. Kalau ingin mengenal di mana kita di sisi Allah, lihatlah dimana Allah dalam diri kita. Jadilah orang yang terdahulu, dan tetap menjadi orang yang terdahulu hingga memasuki pintu sorga! Amin!

MEMPIUTANGI ALLAH UNTUK MELENGGANG MASUK SORGA?




Markus 10:17-31

Banyak manusia mengira, bahwa soal keselamatan, melenggang memasuki pintu sorga laksana orang menanam saham atau jasa pada rekening Bank mempiutangi Allah. Semakin banyak saham, berarti semakin besar saldo didapatkan. Semakin banyak ritus beragama dilaksanakan, semakin besar peluang memasuki pintu sorga. Semakin banyak jasa ditanamkan dalam berbagai bentuk pelayanan mau pun pengabdian, semakin besar kemungkinan sebagai jaminan menjadi orang utama untuk mendapatkan saldo berkat dari Allah beserta Sorga laksana hadiah utama!

1. Menanam Amal saleh mempiutangi Allah

Orang kaya yang satu ini, sebenarnya nyaris sempurna. Tinggal selangkah lagi melenggang mudah melewati pintu sorga. Betapa tidak, dia taat melaksanakan perintah agama. Dia bukan pemabuk, bukan pengguna obat atau narkoba. Bukan penjudi, penipu, penjilat, pembunuh atau berbagai kejahatan lainnya. Bahkan dia menghormati orang tuanya. Sejak muda telah dia laksanakan semuanya. Oh, luar biasa! Apa lagi yang kurang?

Dengan sombongnya dia datang dan bertanya pada Yesus seolah yakin untuk diiyakan untuk mendapat klaim pembenaran. Dia mengira, ritus agama yang telah dia jalankan sudah cukup untuk membeli sorga. Tapi sayang seribu sayang, segala usahanya selama ini untuk mempiutangi Tuhan untuk meraih hadiah sorga tidak ada apa-apanya. Imannya bukanlah iman dalam arti sesungguhnya. Hanyalah iman yang mati. Sekedar mengimani apa yang dia lakukan, bukan pada Allah yang sesungguhnya.

Ritus agama yang telah dilaksanakannya memang tak boleh diremehkan. Hanya sayang, imannya tak berbuah apa-apa. Kasihnya mandul tak berdampak bagi sesama. Dia lupa untuk apa Allah memberikannya kekayaan yang juga merupakan anugerah dari Allah baginya untuk dikelola menjadi berkat bagi sesmanya. Orang kaya yang satu ini pelitnya luar biasa. Sedikit pun ia tak rela berbagi. Dia malah menjadikannya layaknya “tuhan” bagi dirinya. Dia hanya menanam jasa ritus Agama yang tak seberapa, namun menuntut Sorga yang mahal untuk hadiah pahala!

Orang kaya ini sulit masuk sorga bukan sekedar karena dia kaya. Tapi hatinya. Hatinya mendua menuhani “mammon” sebagai tujuan, dan menuhani “Tuhan” dengan cara barter dengan Allah untuk ditukar dengan kemuliaan sorga. Lalu bagaimana ketika Allah menuntut secara total dari seluruh kedirian kita. Apakah hanya ingin cari berkatnya, tapi tidak resiko dan tanggungjawabnya? Ibarat orang mau makan buah nangka, hanya mau ambil enaknya, tapi tak mau kena getahnya? Hanya berpikir tentang imbalan sorga berdasarkan ritus seremonial agama. 

Masalah yang paling prinsif baginya, dia ragu-ragu ketika Yesus menantangnya dengan ajakan, “Ikutlah Aku”. Ikut Allah yang benar sumber segala kasih karunia, pemegang anak kunci pintu sorga yang sebenarnya. Juga Ikut Yesus ambil bagian dalam kancah realita kehidupan untuk menghadirkan tanda-tanda Kerjaaan Allah! Dia tak rela. Pintu soga pun semakin sempit, laksana lobang jarum yang mustahil dia melewatinya!

2. Menanam jasa tukar guling dengan Allah.

Mendengar perbincangan Yesus dengan si orang kaya yang tamak ini, para murid jadi harap-harap cemas, apakah kepengikutan mereka pada Yesus selama ini yang telah rela meninggalkan semuanya juga menjadi percuma? Apa jaminannya? Apakah Sorga imbalannya? Mereka telah sekian lama mengikuti Yesus. Segala apa yang yang ada pada mereka, mereka tinggalkan semuanya demi untuk mengikut Yesus. Apa lagi yang kurang? Tidak ada yang kurang. Hanya masalahnya, apa yang mereka lakukan tidak lebih dan tidak kurang hanyalah ibarat tanam jasa sebagai modal untuk mendapat sorga sebagai imbalannya. 

Masalahnya, mereka meragukan penyertaan Allah. Mereka was-was pertanda masih adanya awan tebal kekuatiran menyelimuti hati mereka.Mencari upah atas jasa yang ditanamkan, itu tidak salah. Hanya masalahnya, apakah kepengikutan kita selama ini hanya ikut-ikutan? Atau belajar menjadi murid sungguhan? Di sinilah titik persoalan! Ini inti yang paling menentukan! Ingin Tuhan memberikan berkat yang serba melimpah, keselamatan yang mahal bedasarkan tanam jasa yang tak seberapa. Keselamatan, masuk sorga hanyalah oleh anugerah Allah. Motivasi jadi standar ukuran! Inilah cara berpikir keliru yang Yesus luruskan.

Apa sebenarnya yang kita cari mengikut Yesus? Doa-doa yang terjawab? Mujizat? Kelimpahan berkat? Sukses dan juga selamat? Itu tidak salah. Yesus pun tidak menampiknya. Para murid mempertanyakan jaminan apa yang akan mereka terima. Justru Yesus menjajikan dua jenis berkat sekaligus, berkat keperluan jasmani dan berkat bebutuhan Rohani. Kebahagiaan di dunia dan selamat masuk kebahagiaan sorga! Luar biasa bukan?

Apakah kita sungguh-sungguh mempertaruhkan hidup mati kita hanya ditanganNya? Atau, apakah kita mengikut Yesus hanya setengah-setengah? Beriman setengah-setengah? Taat setengah-setengah? Berkorban setengah-setengah? Keperdulian dan berbagi setengah-setengah? Dibarengi kekuatiran tentang banyak hal kurang sungguh-sungguh mempercayai Allah? Ibarat tanam jasa yang tak seberapa, lalu mengharap mendapat laba dalam waktu singkat dan melimpah? Berpikir melulu tentang imbalan sorga berdasarkan tanam jasa semata seolah mampu meraih sorga? Inilah cara berpikir yang berbahaya. Seolah meraih sorga dapat dicapai dengan usaha manusia. Amin!



ADA APA DENGAN UANG DAN HARTA KEKAYAAN HINGGA PINTU SORGA JADI SEBESAR LOBANG JARUM DAN MUSTAHIL DIMASUKI?



Pengkhotbah 5:9-10; Matius 6:21

Ada apa dengan uang dan harta kekayaan, hingga mampu memindahkan manusia yang sudah nyaris 99,9% melangkahkan kakinya memasuki pintu sorga koq jadi gagal total 100%? Yang karenanya pintu sorga yang begitu lebar dapat dibuatnya hanya menjadi sebesar lobang jarung dan sangat mustahil dimasuki, dan kini sudah dipastikan menghantarkan manusia 100% lebih cepat masuk pintu neraka?

Sebenarnya bukan pada uang atau harta kekayaan. Uang dan hartakekayaan hanyalah benda mati, netral dan tak tahu apa-apa. Uang dan harta kekayaan bukanlah benda jahat. Bahkan sangat membantu serta besar manfaatnya bagi kelangsungan hidup manusia. Uang dan harta kekayaan baik-baik saja. Tetapi mata dan hati manusialah yang sangat menentukan. Tidak ada niat jahat padanya atau mengendalikan manusia. Malah manusialah yang mengatur dan mengendalikannya!
Ada apa dengan mata dan hati manusia begitu dikaitkan dengan yang namanya uang dan harta kekayaan? Nah ini yang perlu kita cermati. Bila dicermati berdasarkian Firman Tuhan, maka ada dua hal yang nyaris mustahil dielakkan oleh manusia begitu berhadapan dengan yang namanya uang dan harta kekayaan.

Pertama: Ada semacam milyaran partikel roh selaput “hijau” pada mata manusia

Mata manusia, anehnya, begitu melihat yang namanya uang, maka mata manusia seantero jagad menjadi “hijau”. Bayangkan saja, bila triliunan langsung disodorkan, lengkap dengan kuci Mercy, tanpa harus bersusah-payah, mata manusia langsung jadi “hijau”. Tidak hitam, kuning, ungu, abu-abu, tapi langsung “hijau”. Setelah “hijau” otomatis jadi kalap dibuatnya. Saraf otak, seluruh sel dalam tubuh jadi keringat dingin tak karu-karuan, jadi kalap mata dibuatnya, “Jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Mat.6:23).

Olehnya manusia seakan mengawang-awang antara langit dan bumi, semakin mabuk, mabuk, mabuk, dan semakin mabuk hingga lupa diri, lupa segalanya. Makin dicari, makin didapatkan eh, malah semakin tidak pernah cukup. Firman Tuhan menegaskan: “Siapa mencintai uang tidak akan pernah puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya.” (Pkh.5:9-10).

Kedua: Ada semacam partikel roh senyawa di hati manusia dengan uang dan harta kekayaan.

Di dalam hati manusia ada semacam milyaran partikel roh senyawa maknit jatuh cinta yang langsung terkoneksi, melekat erat pada uang dan harta benda dan sulit dilepaskan lagi. Hati manusia dibuatnya laksana orang mabuk cinta paling dahsyat, lebih dahsyat dari badai zsunami mana pun yang ada di dunia. Saking jatuh cintanya manusia menjadi terbius mabuk tidak ketolongan, siang dan malam, kapan saja selalu ketagihan, jauh lebih hebat dari sekedar ketagihan narkoba yang paling dahsyat yang pernah ada di dunia.

Hati, pikiran, tindakan, usaha manusia semakin tertuju padanya. Partikel senyawa roh maknit jatuh cinta pada hati manusia tersebut langsung kontak, lengket kayak maknit sulit dilepaskan begitu saja ketika berhadapan dengan yang namanya uang dan harta kekayaan. Firman Tuhan menegaskan tentang keberadaan hati manusia tersebut: “karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Mat.6:21). Dapat dibayangkan, betapa susahnya manusia melepaskannya begitu saja. Dia seakan dijadikan “tuhan” dalam diri manusia!

Pantas saja jika seorang lelaki yang datang pada Yesus, begitu kecewa, bersedih, manakala Yesus menguji nyalinya tentang uang dan harta kekayaan yang ada padanya, supaya dibagikan kepada orang miskin, ia tak rela. Toh itu menjadi syarat masuk sorga! (Mrk.10:22). Karena milyaran partikel roh selaput ”hijau” pada mata manusia dapat menjadikan uang dan harta kekayaan laksana “tuhan” bagi hidupnya, dan milyaran partikel roh senyawa di hati manusia laksana maknit yang melekat erat kontak dengan uang dan harta kekayaan, belum ada obat paten yang dapat menyembuhkannya. Kecuali manusia membuka hatinya untuk dipimpin oleh Roh Allah! Amin!

Rabu, 10 Oktober 2018

YANG MUDA YANG BERKARYA






“Demikianlah juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. (Titus 2 : 6-7a)”

“Pemuda”, katanya harapan masa depan, harapan orang tua, harapan bangsa, juga harapan gereja! Bagaimana supaya para pemuda kita benar-benar dapat menjadi harapan? Oh, saudara, tentu tidak terjadi begitu saja! Tentu melewati proses juga. Proses itu tentu malah sejak ia dari kandungan, masa bayi, remaja, bahkan hingga menjadi pemuda, untuk selanjutnya benar-benar dapat menjadi harapan masa depan. Itu artinya, tentu saja di mulai dari lingkungan rumah dimana ia dilahirkan. Bahkan sesuai pertumbuhannya, lingkungan gereja, sekolah dan lingkungan masyarakat sekitarnya tentu juga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter mereka. Bahkan tidak main-main, kemajuan teknologi memberikan andil besar dalam mewarnai kehidupan mereka!

“Pemuda”...... memang harapan kita semua. Tapi sudahkah mereka benar-benar telah dipersiapkan menjadi harapana, lakyaknya menjadi sebuah mahkota yang indah? Oh... itu memang tidak mudah. Tidak cukup hanya melalui ribuat kata-kata nasihat semata. Atau hanya sekedar anjuran supaya rajin sekolah minggu, atau rajin kebaktian pemuda semata! Tidak cukup dengan itu. Tetapi secara menyeluruh. Baik oleh orang tuanya, lingkungan gereja, masyarakat, dan tempat sekolahnya juga. Oleh semua pihak tentu saja.

Tidak kurang, banyak juga para orang tua telah mendidik anak-anak mereka sedemikian rupa, dengan harapan supaya anak-anak mereka menjadi orang baik-baik kelak? Tapi kenapa anak mereka tetap nakal, bebal, seperti tidak pernah di ajar? Nah, inilah masalahnya. Karena mereka bukan benda mati. Tapi juga punya mata dan telinga, juga punya hati, bahkan punya keinginan untuk menjadi seperti orang juga. Orang yang dianggapnya sebagai panutan, tentu saja. Maklum, mereka juga sedang mencari identitas diri. Hanya apakah idenditas diri itu telah mereka dapatkan secara tepat dari orang-orang atau lingkungan? Benarkah dalam lingkungan keluarga sendiri kita sudah memberikan semacam panutan identitas diri buat mereka? Atau hanya sekedar anjuran supaya rajin sekolah minggu, kebaktian pemuda saja buat mereka? Sementara kita sebagai orang tua sendiri malas sembahyang? Makan saja tanpa berdoa, bagaimana doa sebagai nafas kehidupan dapat kita teladankan?

Kita memang tidak menyangsikan maksud baik orang tua bagi anak-anaknya. Hanya sadar atau tidak, strateginya mungkin yang salah! Dapat saudara bayangkan bila ada anak berusia dua tahun sudah bisa membedakan, mana uang seribu, duapuluhan, dan limapuluhan ribu! Yang limapuluhan ribu dipilihnya, sambil ia perlihatkan kepada ibunya, bahwa uang itu untuk ke mall katanya. Astaga! Kenapa sampai bisa terjadi begitu? Apalagi kalau bukan bahwa ia sering dibawa ke mall dan uang sejenis itu yang sering ia lihat ketika ia dibawa oleh ibunya ke mall?! Lalu yang untuk persembahan? Mungkin tidak sempat dikasih tahu, atau memang orang tuannya sendiri jarang ke gereja. Atau ke gereja juga tapi hanya kebiasaan saja tanpa penghayatan, dan ketika persembahan..... Hehehehe...... (maaf)! Tahulah sendiri apa kira-kira jawabannya!

Tidak kurang waktu liburan? Si anak berkata kepada orang tua: “Pah/mah, aku pengin liburan ke anu...., minta uang jajannya.” Oh, maka segera orang tua mengusahakannya. Tidak kurang untuk urusan sekolahnya, urusan kecerdasan otaknya, orang tua habis-habisan mengusahakannya, jual ladang, atau ngutang , atau kredit dimana saja, demi anaknya. Oh, itu baik saja! Tapi kalau urusan rohaninya? Urusan moralitas, etika, atau daya tahan iman? Apa yang sudah dilakukan? Berapa biaya yang berani dikeluarkan?

Karenanya tidak heran bila di masa sekarang ini, banyak generasi mudah kita hanya cerdas otaknya, tapi merosot moralitasnya. tidak kurang di sekolah-sekolah, bahkan dijejali tambahan berbagai les pada sore hari juga, untu ktidak kurang dalam persekutuan gereja! Terkesan jalan sendiri-sendiri. Majelis dan jemaat jalan sendiri. Pemuda jalan sendiri, atur sendiri! Apa yang terjadi dalam rapat-rapat gereja kita? Oh, lebih banyak sibuk program ini program itu. Lalu program untuk pemuda? Paling-paling disediakan alat band, seolah selesailah sudah masalah! Silahkan pemuda latihan sendiri. Itu pun kalau ada anggarannya tersedia. Jika tidak, itu ditunda saja.

Lalu ketika mereka ibadah sini, ibadah sana, ke berbagai gereja? (syukur kalau pemuda ingat ingat gereja). Akh, paling-paling kita katakan pendeta atau majelis nda becus membina. Atau kalau mereka terlibat berbagai kenakalan remaja, ngebut di jalan, kumpul kebo, mabuk-mabukan di jalan, atau terjerumus dalam obat-obatan dan berbagai kejahatan? Oh tidak kurang (maaf!), para pendeta, majelis, aparat keamanan, para pejabat terkait dengan mudah saja mengatakan, itu kelalaian orang tua, yang seharusnya membina anaknya. Oh, jadi serba menyalahkan rupanya. Tapi tidak menyelesaikan masalah. Hanya anjuran, peringatan basa basi layaknya. Tidak ketinggalan para intelektual, menorot dari berbagai sudut pandang, sudut ini, sudut itu, tapi juga kurang menyengat dalam andil nyata, bagaimana yang seharusnya bersama-sama kita lakukan. Hanya kritik saja, banci jadinya!

Yang tidak kalah menarik, biasanya kita jadi begitu antusias memandang berbagai permasalahan generasi muda kita, justru ketika masalah sudah terjadi. Nasihat ini, nasihat itu. Padahal, tidak kurang juga kita sebagai orang tua, baik sebagai pemimpin gereja, tokoh masyarakat, artis terkenal, para penegak hukum, atau para pejabat negeri? Oh, pornografi, pornoaksi, seolah bukan barang langka lagi! Korupsi para pejabat seolah bukan sesuatu yang haram lagi! Kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan besar persentasenya! Tidak kurang (maaf untuk kesekian kalinya!), para penegak hukum banyak juga yang terlibat baku hantam di tempat remang-remang. Atau para pejabat terlibat narkoba yang berkeliaran saja? Atau para anggota dewan yang ketiduran di persidangan? Apakah kita anggap ini hal sepele dan tidak ada hubungaan keterkaitan sebagai panutan generasi kita? Masalahnya memang tidak gampang. Tidak cukup hanya lewat doa atau khotbah mimbar gereja saja. Harus oleh semua kita!

Lalu, dari mana kita memulainya? Yang utama tentu saja keluarga atau orang tua. Jadilah teladan, bukan hanya nasihat, atau larangan sebatan kata-kata. Yang tua, hiduplah sederhana. Kata “sederhana” dalam nas ini, tidak berarti orang tua lalu berpakaian compang camping! Tetapi dalam arti tidak hidup hura-hura, atau terlalu banyak teori yang muluk-muluk tetapi tidak nyata dalam tindakan. Ya, itu persisnya! Juga hidup terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. Ya, harus mulai dari itu (ay.2). demikian pun perempuan-perempuan yang tua, hiduplah sebagai orang yang beribadah, jangan hanya suka memanjakan anak ke mall saja, jangan memfitnah, jangan hanya sibuk ngurus kecantikan dan penampilan diri sendiri saja, atau malah jadi penjudi segala. Jika demikian bagaimana mungkin dapat membina perempuan muda dengan keteladanan? (ay.3).

Menurut hemat kita, ada baiknya juga pembinaan gereja harus secara serius, terprogram dan berkesinambungan. Program yang dimaksud tentu saja bukan sekedar menyediakan alat band, untuk gedebak-gedebuk, nda karu-karuan. Pembinaan yang hany bersifat hiburan! Atau hanya sekedar PA yang menambah kelelahan melanjutkan pelajaran teori yang di sekolahan! Yang dibutuhkan oleh pemuda tentu saja, semacam pendampingan, tempat curhat sebagai kawan untuk penguatan, kepercayaan identitas diri ke arah yang lebih kreatif menghadapi tantangan jaman! Ya, pembentukan kepribadian. Sudahkah itu kita pikirkan atau lakukan? Ini menjadi PR kita selaku gereja. Jadi bukan sekedar hanya menyalahkan mereka, menyalahkan orang tua, menyalahkan majelis, menyalahkan pemerintah, atau menyalahkan kemajuan jaman dan teknologi.Tidak ada yang salah dengan dunia ini. Matahari tetap terbit dari Timur dan tenggelam di Barat seperti sedia kala. Yang salah, kalau mau mencari siapa yang salah, ya semua kita yang harus berbenah diri!

Bagaimana peran pemerintah? Jangan serahkan mentah-mentah begitu saja kepada para orang tua, majelis atau guru SHA atau pembina pemuda saja. Karena mereka juga adalah harapan nusa dan bangsa juga. Harapan kita bersama! Apa peran Menteri Pemuda dan olah Raga dan jajarannya? Apakah cukup hanya mengurus soal sepak bola kita yang terpuruk jadi tertawaan dunia? Buatlah juga sekiranya bentuk melalui mana para pemuda kita terbina sejak generasi mudah hingga sungguh-sungguh jadi mahkota harapan bangsa. Tidak cukup hanya sekedar penyuluhan yang sekali-sekali saja.

Lalu bagaimana Anda para pemuda sendiri? Nah...nah..nah... Janganlah hanya menyalahkan orang tua, gereja, atau menyalahkan apa saja. Perlu juga Anda sebagai orang muda koreksi diri. Jangan hanya terbawa perasaan, merasa yang harus serba diperhatikan dan dituruti kemauan! Anda tahu latar belakang Hari Pemuda GKE (bagi Anda para pemuda GKE)?! Itu dicetuskan oleh para pemuda gereja GKE tempoe doelo, sebagai bentuk atau wadah bukti kreativitas , sebagai pemuda beriman, ambil bagian dalam keterlibatan mereka memberi warna gerejanya demi kesinambungan masa depan dan kesaksian! Lalu Anda sebagai pemuda Gereja sekarang? Atau lebih banyak bertanya “apa yang dapat gereja berikan untuk saya?”

Lalu bila dirasa gereja tidak memberikan apa-apa, jadi lari sani-lari sana, cari gereja hanya untuk hiburan, gedebak-gedebuk drum pengiring nyanyian? Oh... Bila itu pertanyaannya, bila itu yang Anda lakukan, berarti Anda bukan tambah lebih baik dan lebih maju dari para pemuda pendahulu Anda. Walau intelektualitas anda jauh lebih mafan dari mereka! Kuasailah dirimu dalam segala hal. Jadilah teladan dalam berbuat baik. (ay.7-8).

Penguasaan diri, itu kata kunci. Itu awal yang baik, untuk memilih yang baik, berpikir secara jernih, dan bertindak hingga benar-benar jadi mahkota yang indah sesuai apa yang diharapkan. Bukan menjadi sampah tak berguna yang ditenggelamkan oleh arus jaman yang serba menawan, namun yang hanya berakhir ke kuburan. Bangkitlah wahai pemuda. Lanjutkan dan buktikan kepada para pendahulumu, tanpa banyak embel-embel picisan ini-itu. Buktikan bahwa engkau masih ada di mana orang semakin menyepelekan Tuhan seperti di jaman ini. Dan buatlah Tuhan tetap tersenyum di atas sana! Amin!

MENGUBUR MENTALITAS “MISKIN”



Markus 10:17-31

Mentalitas “miskin” adalah mentalitas ketakutan atau kekuatiran berlebihan dalam diri manusia. Sangat mempengaruhi kepribadian, baik dalam cara berpikir, berperilaku dan bertindak. Mentalitas “miskin” sangat berbahaya, karena orang yang mengidap mentalitas “miskin” selalu berupaya mengamankan diri untuk mengatasi rasa kekuatiran yang dirasanya. Tak mampu melihat apa-apa selain dirinya sendiri. Seluruh pikiran dan usahanya selalu tertuju terhadap apa saja yang dianggap sekiranya dapat membuat dirinya aman, baik berupa harta, uang, jabatan, atau penghargaan. Merasa tak aman bila jauh darinya. Merasa tak berdaya bila tak memilikinya, melebihi Tuhan yang harus dipercaya!

Mentalitas “miskin” dapat melanda siapa saja. Baik dia seorang kaya maupun orang miskin. Mentalitas “miskin” sejatinya adalah merupakan kepribadian yang kurang meyakini akan penyertaan Tuhan yang mampu memenuhi segala perkara, sumber segala kasih karunia, tetapi lebih pada men –tuhan-kan diri sendiri yang dianggapnya satu-satunya yang dapat dipercaya.

Dalam nas ini, kita berjumpa dengan dua kelompok manusia yang bermental “miskin”, pertama adalah seorang kaya, dan kedua adalah para murid-murid Yesus. Seorang kaya yang disebutkan dalam nas ini, memang secara materi dia kaya, namun memiliki mentalitas “miskin”. Memang dia taat beragama, memenuhi berbagai kewajiban hukum agama yang berlaku, tapi tidak lebih sekedar usaha untuk mendapatkan sesuatu, pahala sorga. Bukan memberi diri dan apa yang ada padanya sebagai bakti ibadah yang lebih memberkati.

Si orang kaya dalam nas ini sangat sedih hatinya manakala Yesus melakukan tes uji nyali: “pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berilah itu kepada orang-orang miskin” (Ay.21a). Yesus pun tahu mentalitas “kemiskinan” seorang kaya ini begitu ragu atas tantangan Yesus: “datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Ay.21b). Kekayaannya sudah menjadi “tuhan” bagi hidupnya, melebihi Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat sesungguhnya, sumber segala kelimpahan dan penjamin hidup kekal di sorga!

Bagaimana dengan para murid? Keadaanya memang sedikit lebih baik dari si orang kaya ini. Buktinya, mereka telah rela meninggalkan semuanya dan mengikut Yesus. Tapi sayang seribu sayang. Mereka sebenarnya tidak sadar bahwa merekalah sebenarnya orang-orang kaya, namun mental mereka “miskin”. Mereka selalu bersama-sama dengan Yesus, Sang Maha Kaya, pemilik alam semesta. Bahkan anak kunci kerajaan Sorga ada di tangannya. Namun para murid diliputi kekuatiran yang besar. Selama ini selalu was-was akan jaminan dari Allah yang Akbar!

Lalu dari mana sebenarnya datang mentalitas “miskin” itu? Bisa jadi karena pengalaman pribadi, keluarga, lingkungan yang menjadikannya demikian. Dan yang tidak kalah menarik (maaf), mentalitas "miskin" juga sering datang dari ajaran yang salah dari para pengajar rohani kekristenan! Buktinya? Sering kita mendengar khotbah, ceramah, nasihat yang terlampau berat sebelah, lebih menekankan mentalitas “miskin”. Atas penafsiran yang salah kaprah, maka seolah-olah harta, kekayaan, kehormatan itu tidak baik.

Mentalitas “miskin” tersebut begitu melekat di hati sanubari istilah latah menjadi-jadi dari dulu dan kini : Dalam pelayanan jangan cari imbalan supaya “upahmu besar di Sorga”. Atau, yang sering kita dengar dalam istilah ”biar miskin di dunia asal kaya di sorga”. Begitu kantong bersembahan ada di hadapan, maka hanya recehan yang dipersembahkan, sambil mengingat nas yang malah lupa pasal dan ayatnya: “biar memberi sedikit, yang penting hatinya tulus”. Padahal memberi serba sedikit karena sudah terlatih bermental “miskin” karena pelit! Maka jadilah orang-orang Kristen bermental “miskin” pura-pura miskin, dan akhirnya benar-benar miskin. Tak mampu berbuat banyak di dunia. Hanya mengandalkan doa, lipat tangan semata!

Saudara, nas ini tidak berbicara tentang larangan orang menjadi kaya. Tidak! Tetapi soal jiwa yang serakah sehingga tak rela berbagi. Yesus pun tidak mengatakan salah tentang kekayaan dari si kaya ini. Tetapi hatinya yang melekat pada kekayaannya seolah menjadi “tuhan” bagi dirinya, melebihi Tuhan yang sesungguhnya. Yesus mengkritisi mentalitas “miskin” pada dirinya sehingga tidak mampu perduli dan berbagi dengan sesamanya. Ini yang salah. Mentalitas “miskin” seperti ini yang harus dikubur dan dikikis habis! Orang kaya bermental “miskin” akan mempersempit pintu soga baginya, hingga hanya sebesar lobang jarum yang mustahil dapat dimasukinya!

Yesus pun tidak menampik pertanyaan para murid soal jaminan apa yang akan mereka terima, bahkan berkat dunia dan Sorga Yesus sanggup menjaminnya. Hanya sayang, para murid memiliki mental yang “miskin” untuk meyakini penyertaan, berkat dan janji Tuhan. Yesus menginginkan para murid memiliki mentalitas yang “kaya”, diperkaya oleh Tuhan sehingga sanggup melakukan apa pun walau mereka miskin! Bukan serba merasa tak berdaya, melulu curiga sama orang kaya, dan membuat segala keputusan hanya berdasarkan rasa takut, melebihi rasa takut akan Tuhan. Amin!

Selasa, 09 Oktober 2018

MENGENAKAN SIFAT-SIFAT SEORANG HAMBA




Filipi 2:5-9

Mendengar istilah “hamba” (abdi, pelayan), atau “jipen” (bhs. Dayak Ngaju), “walah” (bhs.Dayak Maanyan), maka yang segera terlintas dalam benak kita adalah, suatu penempatan posisi yang rendah dalam strata sosial kemanusiaan, yang di lekatkan pada seseorang atau sekelompok orang, Dalam dunia nyata (kalau mau jujur), berstatus “hamba” (abdi, pelayan, jipen atau walah), sekiranya mungkin pastilah dihindari orang. Terhadapnya, komentar pun mungkin bernada sama: “amit-amit, jangan sampai mengenai kita, sebab mendengar namanya saja sudah tak mengundang se­lera!”. Demikian kira-kira tanggapan kebanyakan orang bila diungkap dengan kata-kata.

Hal demikian dapat dimaklumi. Sebab, bukankah berstatus “hamba” gelar-gelar terhormat ja­di susah didapat? Tapi pasti lain sikap orang terhadap istilah “tuan” (majikan, bos, pimpinan atau komandan), umpama. Itu kebalikannya! Ham­pir setiap orang mengidamkannya. Berstatus “tuan”, duhai sangatlah menggoda! Manusia normal macam apa bentuknya bila sampai tak tergiur untuk meraih­nya? Atau paling tidak memimpikannya? Berstatus “tuan”, wahai sangatlah mempesona! Maklum, di sana tersedia seperangkat nikmat segudang kesenangan Boleh jadi hidup dibuatnya terasa nyaman. Serba menjanjikan Tidak heran bila ada orang sampai stres best gara-gara kemilaunya idaman seperti disebutkan tadi karena hanya singgah di penghi­as mimpi-mimpi semata. Tak mampu muncul di alam nyata! Mengenakan sifat-sifat “hamba”, apa sih e­naknya? Ah, itu terang bagai siang! Sebab predi­kat “hamba” bukanlah kemilaunya sosok seorang raja dengan mahkota. Semua orang pun tau itu! Tapi kenapa kepada kita selaku orang percaya atau ge­reja dinasihatkan Rasul Paulus melalui nas ini, supaya kita mengenakan sifat-sifat “hamba” seperti diteladankan oleh Yesus sendiri? Di sinilah intinya. Ini penting dan sangat menentukan! Pasalnya? Karena di sinilah kita menjumpai kedalaman hakikat kekristenan kita, standar kenormalan hidup kekristenan kita (bdk.Matius 20:26-27; bdk. Markus 10:43-44).

Sifat-sifat “hamba” yang dinyatakan di situlah titik berangkat peran keterpanggilan dan pe­ngabdian kita yang sesungguhnya. Bahwa hakikat kekristenan kita adalah pengabdian dan pelayanan bagi kemanusiaan. Hadir dan berjuang untuk kehi­dupan yang lebih manusiawi. Hadir di tengah-tengah pergumulan manusia nyata. Bagi pembebasan kemanusiaan dari kepekatan dosa. Dari segala ma­cam penderitaan, ketidakadilan, maupun dari berbagai bentuk pelecehan kemanusiaan. Itu antinya, sifat-sifat “hamba” yang dinyatakan adalah bobot, nilai dan isi dari kekristenan kita. Di situlah dijumpai kehormatan dan kemuliaan kita yang sesungguhnya. Dengan kata lain, bahwa segala bentuk kehormatan dan kemuliaan itu baru me­miliki nilai apabila kita tempatkan pada aras yang setara dengan pengabdian, dalam pelayanan, kerja dan karsa yang dilandasi kerendahan hati, ketulusan dan ketaatan.

Mengenakan sifat-sifat “hamba”, apa sih nikmatnya? Nah… nah… nah.. disinilah masalah­nya. Di sinilah kesulitannya! Pasalnya? Apabila orang mau sungguh-sungguh mengenakan sifat-si­fat “hamba” maka sekaligus ia harus berani ber­jalan pada jalan salib! Berjalan pada sebuah keberprilakuan solidaritas kemanusiaan secara u­tuh dan menyeluruh. Kenapsa mesti jalan salib? Karena hanya jalan saliblah jalan satu-satunya yang telah teruji kualitas kemafanannya untuk sebuah solidaritas. Tak ada jalan lain. Toh pun ada jalan lain, pastilah jalan pintas namanya! Gaya hidup kehambaan adalah gaya hidup berteladankan Yesus sendiri.dengan komitmen penuh bersedia merendahkan diri, mengabdi. Turun dari ketinggiannya yang mengawan-awan. Hadir dan berada di tengah-tengah-tengah pergumulan manusia nyata. Berjuang untuk kehidupan manusia yang lebih manu­siawi. Bukan sebaliknya, semakin meninggi mangawang-awang membangun kelompok alit rohani bagi pemuliaan diri sendiri!

Tapi di sinilah titik masalahnya! Pasalnya ? Sebab dalam dunia nyata orang lebih suka yang se­baliknya. Kekuasaan, kehormatan dan kemuliaan adalah sarana pemasyuran diri pribadi. Sedangkan materi dan kelimpahan adalah tujuan pemasyhuran untuk di­ri sendiri. Dalam keadaan demikian, nilai-nilai pengabdian dan pelayanan sering menjadi persoal­an. Sebab itu dapat kita mengerti jika untuk sebuah kekuasaan, kemasyhuran dan ketenaran, orang bersedia mengorbankan apa saja untuk nueraihnya ;Bahkan mengorbankan orang lain kalau perlu. Demi meraup sejumput kekuasaan dan kehormatan, orang tak segan-segan melepaskan seberapa yang ada di tangan, tetapi tidak di kantong-kantong persembahan. Karena memang, manusia lebih cenderung sera­kah dan mementingkan diri sendiri. Lebih cenderung menghitung-hitung untung ruginya. Karena i­tu tidak heran bila orang baru mungkin melakukan hal-hal besar dan spektakuler asal nama juga i­kut besar dan popoler! Tidak heran pula bila o­rang sulit berkorban, apalagi sampai mati demi pengabdian dan pelayanan. Tetapi sebaliknya rela berkorban bahkan sampai mati kalau perlu demi kekuasaan, kemasyhuran, ucapan selamat demi tumpukan piagam penghargaan!

Mengenakan sifat-sifat “hamba”, apa sih is­timewanya? Nah… nah…nah… di sinilah tantangannya Di sinilah batu ujiannya! Pasalnya? Apabila orang sungguh-sungguh mengenakan sifat-sifat “hamba” maka sekaligus ia harus berani meng­hadapi resiko yang siap menghadang di muka! Kenapa mesti resiko? Karena itulah harga pantas yang harus dibayar mahal taruhannya! Soalnya, mengenakan sifat-sifat “hamba” memang tidak mudah. Popularitas pun tak cukup kuat untuk ikut serta. Me­ngenakan sifat-sifat “hamba” juga tidak murah. Dacing penimbang untung rugi mana pun tak mampu menimbangnya!

Sebagai orang-orang Kristen yang mengaku percaya pada Yesus atau gereja yang mengaku-nga­ku sebagai tubuh Kristus, apakah kita juga mengenakan sifat-sifat “hamba” yang diteladankan Yesus sendiri? Orang-orang Kristen yang menyadari hakikatnya sebagai pengikut Kristus atau gereja sebagai tubuh Kristus adalah orang-orang Kris­ten atau gereja yang mampu mempersepsikan diri­nya dalam pengabdian dan pelayanannya di tengah-tengah dunia di mana ia hadir di dalamnya. Karena itu, sifat-sifat “hamba” yang dimiliki selaku pengikut-pengikut Kristus mestinya menjadi norma di setiap aktivitas kita; entah kita sebagai pemimpin (abdi negara), entah kita sebagai tokoh (abdi masyarakat), entah kita sebagai pelayan-pelayan gereja atau pun kita sebagai jemaat Tuhan.

Orang-orang Kristen atau gereja yang tidak memiliki sift-sifat “hamba” adalah orang-oramg Kristen atau gereja yang telah kehilangan haki­kat dirinya dan telah kehilangan kesadaran akan panggilannya di tengah-tengah dome di mana is ditempatkan. Karena itu, maaf, mumpung tak lu pa members tahu, bahwa tugas orang Kristen atau gereja bukan nikmat-nikmat rohani saja Atau penjaja doa dan mujizat semata! Kalau hanya i­tu, orang Kristen atau gereja yang pincang namanya, Banci den mandul istilahnya! Orang Kristen atau gereja yang tak bereksistensi lagi bahasa elitnya. Orang Kristen atau gereja yang tak selayaknya hadir di bumi nyata!

Mengenakan sifat-sifat “hamba”, apakah an­da termasuk salah satunya? Bila anda telah faham sampai kedalaman maknanya, renungkan dalam-­dalam dan tariklah nafas panjang! Sebab sifat-sifat “hamba” hanya dapat dikenakan oleh orang-orang Kristen atau gereja sungguhan. Bukan yang tiruan. Dan selanjutnya, gelar-gelar kehormatan dan keagungan yang sesungguhnya diberikan oleh Allah sendiri secara absolut tak meragukan. Tanpa rekayasa apalagi kekeliruan! (bdk, ay.9). A­pakah anda juga termasuk hitungan?

Dan… Oh ya, sifat-sifat “hamba” hanya kemilau, agung, mempesona, jika dikenakan oleh o­rang-orang Kristen sungguhan. Bukan yang “kristen-kristenan”. Hanya oleh orang Kristen atau gere­ja yang bernyali dan paham akan kedalaman makna hidup dan matinya. Ya, hanya bagi orang-orang atau gereja yang paham pula akan letak kehormatan, keagungan dan kemuliaan yang sesungguhnya. Karena memang, keagungan seorang Kristen sejati itu bukan diukur dari gelar, jabatan atau repu­tasinya. Bukan pula diukur dari apa dan berapa yang ia dapatkan. Tetapi dari apa dan berapa yang dapat ia berikan. Dari apa dan berapa be­sar pengabdian, pelayanan serta kerelaan berkorban yang dapat kita nyatakan sebagai bukti ketaatan iman dan kasih tulusnya kepada Tuhan. AMIN.

Kamis, 04 Oktober 2018

KAYA TAPI MISKIN, IKUT TAPI IKUT-IKUTAN




Markus 10:17-31

Orang kaya yang satu ini, sebenarnya nyaris sempurna. Tinggal selangkah lagi melenggang mudah melewati pintu sorga. Namun sayang seribu sayang, ada satu penghalang besar. Hatinya melekat erat pada kekayaannya. Dan seolah menjadi “tuhan” baginya. Sehingga pintu sorga yang sebelumnya terbuka lebar, kini semakin sempit dan sempit hanya tinggal sebesar lobang jarum yang mustahil dapat dimasukinya. Padahal, dia taat melaksanakan perintah agama. Dia bukan pemabuk, bukan pengguna obat atau narkoba. Bukan penjudi, penipu, penjilat, pembunuh atau berbagai kejahatan lainnya. Bahkan dia menghormati orang tuanya. Sejak muda telah dia laksanakan semuanya.

Dia memang kaya, tapi sayang belum benar-benar kaya. Orang belum benar-benar kaya dalam arti sesungguhnya jika hanya sekedar rajin beramal kesana kemari, atau menyuapi anak panti, atau hanya kunjungan ke penjara, jika hatinya tetap melekat erat dan bersikap menjadikan kekayaannya laksana “tuhan” dan tujuan dan seolah mampu menyuapi “Tuhan” yang sesungguhnya untuk membeli Sorga. Karenanya tidak heran, dia begitu amat sedih, manakala Yesus menguji nyalinya: “pergilah, juallah apa yang kau miliki, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin…..” Dia tak rela, hatinya telah menyatu erat lekat pada hartanya….

Orang kaya yang satu ini merasa mantap dan bangga dengan ketaatannya melaksanakan perintah agama selama ini. Dia memang kaya, tapi sayang ternyata miskin. Miskin? Bukankah dia kaya? Miskin dalam arti apa? Miskin itu, bukan orang yang berkeliling kesana kemari untuk diberi sesuap nasi atau memungut belas kasihan uang recehan. Miskin dalam arti sesungguhnya, adalah orang yang tidak menemukan kepuasan terhadap kekayaannya (walau pun dia kaya), dan tidak menyadari keadaannya yang diberikan sedekah oleh Allah.

Yang salah bukan pada kekayaannya, tetapi hatinya. Kekayaan begitu menggodanya. Manusia cenderung memperlakukannya laksana “tuhan” bagi hidupnya. Celakanya, manusia dibuatnya kayak orang jatuh cinta, mabuk kepayang lupa segalanya. Semakin mengarah pada dirinya sendiri, merasa paling aman bila melekat padanya hingga lupa memikirkan sorga yang sesungguhnya. Tidak kurang bahaya, terkadang seolah berlaku laksana “tuhan kecil” bagi sesamanya. Berbuat sesukanya menggunakan kekayaannya. Ini yang perlu kita waspada.

Mendengar perbincangan Yesus dengan si orang kaya yang tamak ini, para murid jadi harap-harap cemas, apakah kepengikutan mereka pada Yesus selama ini yang bahkan telah rela meninggalkan semuanya apakah percuma juga? Apakah Sorga imbalannya? Mencari upah, itu tidak salah. Yesus pun tak menampiknya. Hanya masalahnya, apakah kepengikutan mereka selama ini hanya ikut-ikutan? Atau ikut tapi malah sambil sikut-sikutan? Atau belajar menjadi murid sungguhan? Di sinilah titik persoalan! Ini inti yang paling menentukan! Motivasi jadi standar ukuran! Amin!

Selasa, 02 Oktober 2018

PEREMPUAN KANAAN YANG PERCAYA



Matius 15:21-28

Dia hanyalah seorang perempuan. Pada jamannya merupakan kaum marginal yang direndahkan. Entah siapa namanya, juga tak disebutkan. Maklum, dia memang bukan seorang terhormat yang namanya sering terpampang dengan huruf-huruf besar di koran dan selalu diingat! Dalam nas pun hanya menggunakan sebutan “perempuan”. Bukan itu saja. Yang lebih menyakitkan, karena dia adalah seorang Kanaan yang nota-bene orang kafir sungguhan. Tidak heran, bila orang Yahudi menjuluki mereka dengan istilah “anjing”. Suatu istilah yang kasar, najis, kotor dan sangat hina. Dapat Anda bayangkan!

Apa yang menarik dari kisah perempuan kafir Kanaan yang satu ini? Nah, ini. Dia memiliki hati yang siap “men-Tuhan-kan Kristus sebagai Tuhan”. Ketika berjumpa dengan Yesus, rasa hormat dan sapaan agung dari hatinya yang suci begitu kentara: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud…” (Ay.22). Sungguh menakjubkan. Dia mengakui ke-Messias-an Yesus, sang pembebas dari keturunan Daud. Sebutan yang jarang diucapkan oleh seorang Yahudi sekali pun terhadap Yesus, justru datang dari seorang perempuan kafir Kanaan!

Kontras memang dengan orang Yahudi yang dianggap umat pilihan, anak kesayangan sang majikan, para Ahli Taurat, orang Farisi si umat suci, bukan kafir. Jangankan mengakui ke-Messias-an Yesus, malah Yesus dianggap penyesat yang selalu dicari cara untuk segera disingkirkan. Kontras memang, ketika dalam realita kehidupan banyak dijumpai orang-orang yang menganggap diri beriman, namun mulutnya penuh hujatan, hatinya hanyalah rancangan setan! Tak kurang, memperlakukan sesamanya seolah seperti binatang!

Iman perempuan kafir yang satu ini bukan iman abal-abal yang sekali menghadapi tantangan langsung kecewa dan mundur. Tidak! Perempuan ini datang kepada Yesus memohon pertolongan. Anaknya perempuan kerasukan setan. Ketika mengalami situasi yang tidak bersahabat, diacuhkan, ditolak, bahkan diusir, dia tetap bertahan. Bahkan ketika sebutan “anjing” diperdengarkan dan langsung ditujukan kepada dirinya, dia tidak kecewa. Entahlah ketika sebutan yang sama ditujukan kepada saudara dan saya, kepada orang-orang suci beragama.

Tidak hanya terhenti sampai di situ. Hinaan dan penolakan datang bertubi-tubi. Yesus dengan sengaja memberikan tantangan bernada penolakan untuk kesekian kali: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.“ Cara Yesus mengungkapkanya pun sangat menyakitkan. Perempuan kafir ini seolah tak dianggap. Yesus membelakanginya dan berbicara menghadap ke arah para murid. Dapat saudara bayangkan! Namun, semakin dihina dia justru semakin mendekat dan merendah di hadapan Tuhan: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.“

Saudara, “beriman sejati bukan berarti mendapat apa yang saya inginkan, tetapi beriman mendapatkan apa yang Tuhan berikan.” Iman sejati dimulai dengan kerendahan hati dan kerelaan mengakui Kristus sebagai tuan di atas segala tuan. Bukan men-tuhan-kan keinginan dan Yesus hanyalah alat untuk mematuhi keinginan. Bukan! Di hadapan Tuhan perempuan ini sadar bahwa sejatinya dirinya hanyalah si kafir yang tak layak menerima apa-apa. Namun dia tetap memohon belas pengasihan Tuhan. Yesus menghargai iman perempuan kafir ini dan menyembuhkan anaknya (ay.28). Saudara, hari ini apakah Tuhan menjumpai iman sejati pada kita seperti si perempuan kafir Kanaan ini? Amin!

MENEMUKAN TUHAN PADA DIRI SESAMA



(Matius 25:31-46)



Di hari penghakiman nanti (seperti yang dipaparkan oleh Yesus sendiri), ini yang akan terjadi. Ketika Yesus datang untuk kedua kali sebagai raja, semua manusia akan dihakimi di hadapanNya. Semua manusia ditetapkan dan ditempatkan seperti antara kelompok kambing dan domba. Ada yang ditempatkan di sebelah kanan (domba), ada yang di sebelah kiri (kambing). Sepanjang yang bisa kita pahami, yang ditempatkan di sebelah kanan (domba) tentu adalah calon penghuni sorga. Sedang yang di sebelah kiri (kambing) tentu para calon penghuni neraka!

Saudara, pertama-tama, tentu kita pengin tahu, apa sih yang menjadi kriteria pengelompokannya? Sehingga ada kelompok domba dan kelompok kambing? Nah, ini! Dari apa yang mereka perbuat kepada sesama! Tindakan sederhana, tetapi riil dan tepat guna! Perhatikan apa yang Yesus tegaskan: “…..sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Sungguh di luar dugaan. Tidak seperti yang kita perkirakan. Kita kira hal-hal spektakuler dan luar biasa yang menjadi penilaian.

Kita kira bahwa yang ditanyakan adalah tentang bagaimana bentuk ibadah kita. Atau keaktivan persekutuan doa kita. Atau berapa kali Anda membaca Alkitab tiap hari. Atau mungkin seberapa gigih Anda membela Tuhan atas nama baju kumal agama. Atau berapa banyak orang-orang yang Anda anggap kafir telah disingkirkan untuk membela kesucian Tuhan? Ternyata tidak! Ternyata berbeda dari kebanyakan yang kita perkirakan. Ternyata hal-hal yang sederhana saja. Saking sederhananya, bahkan kedua kelompok tersebut, baik kelompok domba maupun kambing tanpa mereka sadari bahwa mereka telah berbuat maupun telah tidak berbuat! Astaga! Hanya tindakan kecil dan sederhana saja rupanya. Berbagi sepotong baju bekas bagi yang tak berpunya, rasanya rata-rata kita mampu saja melakukannya.

Berbagi kasih sepiring nasi sop plus segelas Aqua, sebenarnya bukanlah hal yang terlalu luar biasa. Kalau hanya sepotong baju, segelas air, memberi tumpangan, mengunjungi yang sakit, atau kunjungan kepada yang terpenjara, rasa-rasanya bukankah terlalu sederhana bila dibandingkan dengan kemuliaan sorga yang tiada tara? Hanya masalahnya, kenapa sih yang sederhana itu pun terlalu sulit untuk dilakukan? Padahal, bukankah itu yang justru menentukan? Nah di sinilah persoalannya. Justru inilah yang menentukan pengelompokkannya, entah digolongkan pada kelompok domba atau pun pada kelompok kambing!

Lalu apa saja sih sifat-sifat positif yang mencirikannya sehingga ditempatkan menjadi kelompok domba (yang baik) dan sifat-sifat negatif yang mencirikannya sehingga ditempatkan pada kelompok kambing (yang tidak baik/jahat)? Menurut penelitian yang dilakukan berdasarkan pengalaman para gembala yang ada di belahan bumi Palestina dan sekitarnya telah mempelajari sifat fenotif (gambaran luar) dan genotif (karakter) dari kedua jenis binatang tersebut. Dari hasil penelitian ditemukan empat perbedaan mendasar seperti berikut ini:

Kelompok Domba.

Pertama: Pada umumnya Domba berwarna putih keemasan. Warna keemasan domba menunjukkan atau melambangkan kepada sesuatu yang terang dan sukacita. Warna itu menunjukkan bahwa domba memiliki warna yang mewakili apa yang dikenal manusia sebagai gambaran hal yang lebih positif (bersih/terang, mulia dll).

Kedua: Domba memiliki karakter yang jinak. Pada masa musim mencukur bulu domba tiba, domba tidak perlu diikat karena mereka sangat penurut dan percaya akan apa yang dikerjakan pencukur terhadap domba-domba. Karakter domba ternyata terwakili dari berkatnya, domba dengan bulunya yang tebal dan disaat masa cukur tiba, domba-domba menurut saja untuk dicukur. Artinya karakter dan keperluan domba itu sudah dibentuk atau terbentuk sedemikian rupa (genotif).

Ketiga: Kebiasaan domba suka mengelompok dalam satu kawanan (bisa berkawan). Makan rumput bersama, minum air bersama. Diwaktu malam, domba juga tidur berkumpul bersama saling menghangatkan, saling berbagi kehangatan. Di dalam kandang domba akan cendrung berkumpul dan bergerombol dan memilih tempat yang terbuka, hal ini dimungkinkan karena sifat yang suka berkawan juga karena memiliki bulu yang tebal sehingga tahan dingin.

Keempat: Domba mudah diatur dan mau diatur. Mendengar dan selalu patuh pada tuntunan sang gembalanya. Ketika suara gembalanya memberikan kode dengan teriakan, para domba dengan segera mengambil perhatian dan mengikuti perintah pengembala. Bila dituntun ke Barat, semua bersama-sama ke Barat. Bila dituntun ke Timur, ya semua ke Timur. Walau memang ada juga dua tiga ekor yang kesasar sendiri hingga terjatuh ke jurang (itu pengecualian)!

Di samping itu, domba memiliki sesuatu yang berharga dalam dirinya yang dapat ia persembahkan bagi orang lain. Bulu wolnya yang mahal, susu, bahkan dirinya sendiri rela dipersembahkan bagi orang lain. Bahkan yang tidak kalah berharga, yaitu rasa emosional para pengembala lebih nyaman terhadap domba-dombanya dibandingkan kambing yang cenderung liar. Domba memiliki karakter rela berkorban demi sempurnanya setiap pesta yang diadakan (ingat contoh ketika seorang ayah menyambut kedatangan anak bungsunya yang terhilang dengan pesta). Bukan kambing yang jadi korban, tetapi domba! Pokoknya domba itu melambangkan kesucian, kerelaan berkorban dan keperdulian. Seperti yang Yesus lakukan, mengorbankan diriNya bagi tebusan dosa umat manusia.

Kelompok Kambing.

Pertama: Nah, ini berbeda. Kambing pada umumnya berwarna hitam dan coklat. Warna coklat dan hitam biasanya difahami oleh manusia cenderung sebagai gambaran suasana kehidupan yang kelam, hitam, kedukaan, kejahatan dst.

Kedua: Kambing cenderung membangkang sulit diatur. Kambing tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Dia akan selalu melompat pagar untuk mencari makanan yang menurutnya lebih enak. Manusia yang meniru sifat kambing tentunya akan menunjukkan banyak kegelapan dari tingkah lakunya, perbuatan untuk kepentingan diri sendiri, juga ego dan tidak jujur serta ingin menang sendiri. Sifat ini adalah sifat yang bertentangan dengan rencana Allah kepada manusia. Bagaimana orang semacam ini dapat mengasihi orang lain?

Ketiga: Kambing lebih sukanya sendiri-sendiri. Tidak suka mengelompok (bersama-sama). Tok pun mengelompok juga, yang sering terjadi adalah saling menanduk. Saling merasa kuat, saling merasa berkuasa, saling merasa berhak, saling merasa berkepentingan. Bukan saling perduli, berbagi dan memperhatikan.

Keempat: Kambing kalau merumput suka berpindah-pindah. Suka pindah sana pindah sini dan serabutan serta cenderung sibuk tidak menentu. Ya, itulah kelompoknya kambing. Di samping itu, kambing lebih banyak mengembik ketimbang diam. Dan kalau mengembik, suaranya bernada mengejek, meremehkan, dan terkesan angkuh. Padahal domba walau tiap hari pakai woll, embiknya biasa-biasa saja. Tetap rendah hati. Tidak sombong.

Di depan pintu gerbang sorga…..

ketika semua manusia (termasuk Anda dan saya) menghadap takhta pengadilanNya….Apakah Anda dan saya termasuk kelompok yang mana? Kelompok kambing atau domba? Sebagai orang beriman, tentu kita semuaalah karakter hidup kita? Jika ya, maka ini yang akan nampak jelas, dia akan menemukan Tuhan pada diri sesamanya manusia. Dia akan melakukan sesuatu, berbuat sesuatu seolah berbuat untuk Tuhan sendiri secara alami. tanpa ia sadari. Bukan dibuat-buat, atau sengaja berbuat, atau pura-pura berbuat. Tetapi memang sungguh-sungguh berbuat untuk memanusiakan sesamanya. Namun tidak pernah merasa berbuat. Amin!

BUTAKAH ENGKAU? TULIKAH ENGKAU? DEGIL HATIKAH ENGKAU?



Markus 8:14-21

Ada pepatah: "Punya mata tapi tidak melihat, punya telinga tapi tidak mendengar". Bukankah orang yang punya mata seharusnya melihat (kecuali orang buta)?, dan bukankah orang yang punya telinga seharusnya mendengar (kecuali orang tuli)? Kenapa tidak melihat padahal punya mata? Kenapa tidak mendengar padahal punya telinga? Ada satu virus penghalang, "kedegilan hati" namanya.

Kedegilan hati, virus penghalang, menjadikan orang melihat tapi tidak melihat. Waktu melihat tapi pikirannya melayang ke tempat lain sehingga tidak fokus pada apa yang dilihat. Bisa jadi pula, karena menganggap apa yang dilihat tidak penting, jadi tidak sungguh-sungguh melihat. Tak mau tahu tentang apa yang dilihat. Atau melihat sambil lalu istilahnya, "kedegilan hati" lalu menghapusnya!

Kedegilan hati, menjadikan orang mendengar tapi tidak mendengar. Memang mendengar, tapi tidak serius mendengar. Atau menganggap tidak penting apa yang didengar, sehingga mendengar sambil lalu saja. Atau memang tidak mau tau tentang apa yang didengar, dan "kedegilan hati" segera memblokirnya!

Persoalannya. Mata, tidak hanya cukup asal melihat. karena anda tak akan mungkin dapat melihat di kegelapan pekat. Atau di balik gunung yang di sebelah sana. Telinga, tidak hanya cukup asal mendengar. karena tidak mungkin Anda dapat mendengar ribuan kilometer di seberang lautan sana. Harus ada alat tambahan, bernama "kepekaan". Kepekaan untuk melihat. Kepekaan untuk mendengar.

Kepekaanlah yang memungkinkan orang dapat membaca tulisan yang tidak tertulis, mendengar suara yang tak diperdengar. Kepekaanlah yang memungkinkan orang dapat membaca tulisan yang tak terlihat, apakah tulisan ancaman atau tulisan undangan untuk menerima rupiah jutaan. Kepekaanlah yang memampukan orang dapat mendengar nada lagu yang tak diperdengarkan, entah nada ancaman, rintihan memohon pengasihan, atau suara pelatuk pistol yang sedang diarahkan di balik layar reklame menawan!

Para murid, sama seperti kita. Memang punya mata. Masalahnya mereka tidak memiliki kepekaan pelihat sehingga tak bisa melihat makna dibalik lima roti dan dua ikan hingga jadi banyak. Tak bisa melihat siapa sesungguhnya Yesus di balik peristiwa. Tak bisa melihat mana ragi yang baik dan mana ragi beracun yang mematikan, karena kedegilan hati mengarahkannya kepada roti kepentingan dan kebutuhan!

Para murid, sama seperti kita. Memang punya telinga. Masalahnya mereka tak bisa mendengar hasil kesepakatan sidang rahasia di ruang hati komplotan Herodes bersama para konco-konconya yang sedang memasang perangkap. Juga tak bisa mendengar asahan pedang serta tombak rahasia yang akan diarahkan kepada mereka di balik niat jahat!

Tanpa kepekaan. Mungkin anda membaca jejeran banyak versi Alkitab. Walau tulisannya terbaca jelas, namun anda pasti tak akan bisa membaca mana versi nama "Tuhan" yang benar berasal dari tulisan Tuhan dan mana yang berasal dari tulisan setan!

Tanpa kepekaan. Mungkin anda mendengar dengan baik tentang berbagai dogma ajaran kebenaran dari berbagai versi penafsiran di berbagai kegiatan. Tapi yang pasti, anda tak akan pernah bisa membedakan, mana ajaran kebenaran yang berasal dari kemurnian menuju kehidupan, mana ajaran palsu yang mengandung "ragi" kebusukan, beracun, dan mematikan! Butakah engkau? Tulikah engkau? Degil hatikah engkau? Amin!

DUA ORANG SAMA-SAMA BERNAMA YESUS



Markus 15:6-15

Dalam peristiwa pengadilan Pilatus, adalah dua orang sama-sama bernama “Yesus”. Memang serupa, tapi jelas tidak sama. Yang satu adalah “Yesus Barabas” (ay.7; bdk. Matius 27:16), dan satunya lagi bernama “Yesus Kristus” (ay.10; bdk. Matius 27:17). Yang satu adalah penjahat, yang satunya lagi adalah juruselamat, alias penyelamat!

Menurut catatan Alkitab, orang yang bernama “Yesus Barabas” adalah seorang pemberontak. Tidak hanya itu, bahkan Injil Matius dengan cukup teliti mencatat nama ini dengan embel-embel seorang yang “terkenal kejahatannya”. Dia terkenal karena kejahatannya. Dia adalah seorang pemberontak. Dia juga adalah seorang pembunuh. Jadi setiap orang jangan main-main dengan yang bernama “Yesus Barabas”! (bdk.Matius 27:16).

Namun kenapa dalam peristiwa pengadilan Pilatus terjadi sesuatu yang diluar dugaan? Bukankah seharusnya “Yesus Barabas” tetap dipenjarakan dan “Yesus Kristus” yang mestinya dibebaskan? Kenapa yang terjadi justru sebaliknya? Kenapa Pilatus yang bukan orang kemarin, yang nota-bene adalah orang kuat di pemerintahan, perkasa dan dikjaya, tidak mudah terpengaruh, koq keputusannya jadi berobah hanya gara-gara teriakan orang banyak? Mestinya begitu. Tapi dalam kasus yang satu ini berbeda. Bukan kasus biasa. Dalam kasus yang satu ini Allah turut campur tangan untuk suatu tujuan yang jauh lebih mulia, yaitu dalam kontek penyelamatan umat manusia!

Dapatkah saudara bayangkan bila “Yesus Barabas” tetap dipenjarakan dan “Yesus Kristus” tidak menderita, mati dan disalibkan? Pahamkah kita bila apa yang Allah lakukan demi kasihNya kepada kita manusia, hingga “Yesus Barabas” beroleh semacam anugerah pembebasan justru melalui peristiwa korban “Yesus Kristus” yang benar-benar menyelamatkan? Melalui peristiwa pengadilan Pilatus, ada dua hal yang begitu kentara diperlihatkan.

Pertama, adalah sungguh kentara dosa manusia diperlihatkan, baik melalui para pemimpin Agama yang salah mempraktekkan cara beragama. Rasa iri hati, dengki menguak kepermukaan, tidak perduli oleh orang yang nota-bene bangga beragama. Bahkan dosa hasutan kepada orang banyak untuk mencapai tujuan. Demikian pun orang banyak yang terprovokasi, yang dipanas-panasi dengan bumbu fitnahan, semakin menjadi-jadi, tak lagi berakal sehat, laksana jadi anjing suruhan melakukan apa saja sesuai suruhan!

Tidak kurang, seorang Pilatus yang biasanya garang, digjaya, tak mudah terpengaruh, seorang negarawan sejati, tahu hukum, namun akhirnya nyalinya menjadi ciut, cuci tangan, cari aman, dan menuruti saja kemauan orang banyak hanya gara-gara massa tak terbendung. Bukankah semuanya itu menunjukkan keberdosaan kemanusiaan kita yang Allah tunjukan, untuk memperlihatkan betapa jahatnya kita manusia?

Kedua, pada peristiwa pengadilan Pilatus, di sisi lain, betapa Allah memperlihatkan kasihnya. “Yesus Kristus” adalah Raja! (ay.12; bdk.Lukas 23:2). Namun tentu saja bukan Raja dalam arti biasa, yang hanya membebaskan dari penjajahan untuk bebas dalam arti biasa. Bukan, bukan itu! Tetapi Dia adalah Raja Penyelamat, yang menyelamatkan manusia dari dosa, membebaskan manusia dari maut yang tidak mungkin dapat diatasi oleh manusia. Kecuali oleh Yesus sendiri melalui cara yang ditetapkan oleh Allah sendiri, dengan menggunakan sampel konsep korban universal yang berlaku bagi semua manusia.

Dalam peristiwa pengadilan Pilatus, terjadi peristiwa dimana “kasih Allah” bertabrakan dengan “dosa manusia” nyata-nyata diperlihatkan. Cermin hati dan tindakan Allah yang Maha bijaksana, sungguh kentara bedanya dengan cermin hati dan perbuatan manusia dosa menohok tajam hingga detail-detailnya!

Dalam peristiwa pengadilan Pilatus, sadarkah kita akan apa yang Allah lakukan untuk kita? Sadarkah kita bahwa hati, sikap, perbuatan serta tindakan para imam-iman kepala, tua-tua, dan ahli-ahli taurat, Mahkamah Agama adalah gambaran dosa kemunafikan kita sebagai orang beragama? Sadarkah kita bahwa sikap iri hati, dengki, provokasi, fitnah seperti yang mereka perlihatkan adalah cerminan keberdosaan yang sering kita sembunyikan, bila saat yang tepat akan kita munculkan? Sadarkah kita bahwa “Yesus Barabas” yang bebas adalah gambaran diri kita?

Dosa yang ada pada diri setiap manusia (termasuk kita) sungguh mematikan. Secara jujur, rasa-rasanya tidak mungkin ada satu pun di antara kita dapat menyelesaikannya. Apalagi boro-boro mau masuk sorga hanya mengandalkan jasa perbuatan baik kita. Namun Allah telah menyelesaikannya secara sempurna. Sebagai “Yesus Barabas” sang pendosa kita telah dibebaskan oleh “Yesus Kristus” sang pembebas! Karenanya, tidak ada yang lebih baik kita lakukan dalam hidup ini, selain ucapan syukur kepada Dia yang sungguh Agung, atas kasihNya yang begitu besar bagi kita. Terpujilah nama Yesus dari kekal sampai kekal. Amin!