Renungan GKE

Rabu, 20 Februari 2019

MENANG DENGAN KASIH


Lukas 6:27-36

Ada yang mengatakan bahwa ajaran Yesus tentang kasih yang mengampuni, itu tidak mungkin dilakukan oleh kita manusia biasa. Bayangkan bila dikutuk, malah didoakan. Ditampar pipi kanan, malah beri juga pipi yang lainnya. Itu hanya dapat dilakukan oleh Yesus saja, dengan alasan karena Dia adalah anak Allah. Mengampuni musuh saja sudah setengah mati susahnya. Apalagi jika sampai mendoakannya, berbuat baik padanya segala. Oh…oh…oh… jauh panggang dari api!

Bukankah yang namanya musuh perlu dilawan, kapan perlu disingkirkan? Bukankah disebut musuh, karena kita ditipu, dikhianati, disakiti, kecewa, terluka, terhina, hingga nama baik kita tercemar karenanya? Mendoakannya? Berbuat baik padanya? Sejujurnya, itu tak mudah dilakukan. Bahkan, nyaris mustahil dilakukan!

Ada pula yang mengatakan, bahwa ajaran kasih yang diajarkan Yesus merupakan ajaran yang tidak masuk akal (abnormal), suatu kelemahan, memperbesar peluang bagi kejahatan, ketidakadilan, dan perlakuan semena-mena. Masa mau diperlakukan oleh musuh semena-mena? Masa ditampar pipi yang satu, diberi juga pipi yang lainnya? Masa ditipu, diambil rumah dan tanahnya, koq malah diberikan juga mobil untuknya? Tidak diadukan supaya dipenjara dan dibiarkan melenggang saja? (Ay.27-29).

Saudara, sekilas memang tampaknya demikian. Tapi tunggu dulu. Dalam nas ini, Yesus tidak berteori tentang kasih. Tapi Dia adalah personifikasi dari Kasih Allah itu sendiri. Ketika Yesus berbicara soal mengampuni, Dia sebenarnya dalam kapasitas sebagai seorang hamba, manusia seperti kita. Yang dapat merasakan secara utuh perasaan dan penderitaan kita sebagai manusia (Bdk. Flp.2:6-8).

Demikian pun, tentu saja Yesus tidak mengajarkan untuk membiarkan perlakuan semena-mena, ketidakadilan. Atau diajar supaya menyerah, pasrah, adem ayem saja. Tidak! Justru sebaliknya! Yesus mengajarkan bagaimana cara melawan kejahatan terhadap musuh dalam cara yang lebih baik, yang lebih kreatif, supaya tidak menambah terjadinya kejahatan. Cara melawan dalam konsep kualitas ilahi, standar sorgawi. Bukan standar murahan ala duniawi! Bukan melawan kejahatan dengan kejahatan, tetapi melawan dengan kebaikan. Dengan kasih!

Apakah mungkin mengasihi serta berbuat baik kepada musuh? Jawabnya bisa “Tidak”, bisa “Ya”. Bisa “Tidak” bila kita mempergunakan standar manusiawi keberdosan kita. Persis seperti yang dilakukan Kain terhadap adiknya Habel, yang pasti membalas sakit hati karena merasa tersaingi (Bdk. Kej. 4:4-8). Namun bisa “Ya” bila kita menggunakan “standar kasih Kristus”, seperti yang diperbuat oleh seorang perempuan pendosa yang meminyaki kaki Yesus (Bdk.Luk. 7:37-38).

“Standar kasih Kristus” itu apa maksudnya dan seperti apa bentuknya? “Standar kasih Kristus” adalah standar melalui mana seseorang sadar akan keberdosaan dirinya di hadapan Allah, yang hanya bergantung pada anugerah pembenaran Allah. Pada gilirannya, Roh Allah akan memotivasinya untuk menggunakan standar yang sama ketika berhadapan dengan sesamanya, hingga di kedalaman kasih sebagaimana Kristus telah menerima dan mengampuninya. Kita tidak mungkin mengasihi musuh, jika kita tidak terlebih dahulu diisi oleh kasih Kristus.

“Standar kasih Kristus” dapat dimiliki, diawali sikap kesadaran penuh akan siapa diri kita di hadapan Allah, suatu pengakuan dosa secara utuh, hingga aliran-aliran kasih Kristus mengisi hati, jiwa, dan roh kita, menjadi darah daging, menjadi standar kualitas kasih ilahi laksana metacentrum yang siap dialirkan kepada siapa saja. Untuk lebih jelas, sebagaimana penegasan Kristus terhadap sikap seorang perempuan pendosa: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” (Luk.7:47).

Apakah ajaran Yesus tentang kasih pengampunan itu suatu kekeliruan, kelemahan? Atau membiarkan perlakuan sewenang-wenang dan ketidakadilan? Bisa jadi, bila salah mengartikan. Yesus di sini tidak mengajarkan kita dalam arti harafiah, ditampar pipi yang satu, lalu dikasih lagi pipi yang lainnya. Tetapi lebih pada gaya bahasa hiperbola, melebih-lebihkan untuk mempertajam maksud yang sebenarnya.

Para pendengar melalui mana ucapan Yesus ini ditujukan (yang hidup dalam lingkungan Hukum Taurat) paham betul apa yang Yesus maksudkan. Bahwa menurut hukum rabinis Yahudi, menampar (lebih tepat diterjemahkan menempeleng orang) dengan memakai bagian belakang telapak kanan mengandung arti penghinaan dua kali lipat ketimbang kalau menampar (menempeleng) dengan telapak bagian dalam tangan saja.

Makna yang terkandung di dalam perkataan Yesus “berikan juga pipimu yang lain” jauh lebih mendalam ketimbang tindakan yang nampak secara kasat mata mempermalukan seseorang. Dapatkah saudara bayangkan, ketika pipi yang satunya lagi ditampar (ditempeleng) dengan menggunakan telapak tangan bagian dalam, bukankah terlapak tangan bagian luar sedang mengarah pada pipi si pelaku sendiri? Dengan kata lain (secara hukum moral-etika orang Yahudi), bukankah itu artinya lebih mempermalukan si pelaku sendiri? (Ay.29a).

Demikian juga ucapan Yesus: “barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.” Bukan dalam arti harafiah, tetapi lebih kepada makna. Orang Yahudi (yang biasa menggunakan dua lapisan baju), bila dilepaskan jubahnya (baju luar), masih belum seberapa. Tetapi apabila melepaskan juga pakaian dalamnya, berarti mempermalukan si pelaku sendiri. Karena menelanjangi orang, itu sama artinya dengan tindakan paling jahat tak bermoral, yang mempermalukan si pelaku sendiri (Ay.29b; bdk. Mat.5:27-28).

Apa yang Yesus ajarkan, sebenarnya bukan kelemahan, atau pasrah diperlakukan semena-mena, tetapi memperlihatkan bahwa ajaran kasih yang mencirikan sifat ilahi jauh lebih berkualitas, ketimbang ajaran Taurat sekedar gigi ganti gigi, mata ganti mata, yang begitu diagungkan dan disombongkan (Bdk. Mat.5:17-48).

Ajaran Yesus tentang kasih, pengampunan, serta perbuatan baik kepada musuh, bukan kelemahan, bukan dalam arti membiarkan orang tidak adil, terus membiarkan kejahatan dan semena-mena, boleh melenggang merdeka seenaknya tanpa penjara. Tetapi perlawanan dalam cara kualitas ilahi, sekaligus mengajarkan pelaku untuk melihat betapa segala tindakan jahat yang dilakukan justru nampak jelas semakin mempermalukan diri sendiri.

Kemenangan terbesar sebagai umat beriman adalah ketika kita melawan dengan cara kasih dan berhasil mengasihi musuh. Menurut Alfred Plummer, bahwa “Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah tabiat Iblis; membalas kebaikan dengan kebaikan adalah tabiat manusiawi; membalas kejahatan dengan kebaikan adalah tabiat ilahi”. Amin!


Rabu, 13 Februari 2019

MERASA SANGAT MISKIN TANPA ALLAH


Lukas 6:17-26

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, yang lapar, yang menangis, yang dianiaya…..” demikian ucapan Yesus yang diarahkan khusus kepada para murid, setelah Dia mengajar dan menyembuhkan orang banyak dari berbagai pergumulan, derita, air mata, penyakit yang dialami, yang datang kepada-Nya dari berbagi tempat, dari seluruh Yudea, Yerusalem, bahkan yang datang dari daerah orang kafir, yaitu daerah pantai Tirus dan Sidon, (Ay.17; bdk. Mat.).

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, yang lapar, yang menangis, yang dianiaya….” Apa iya sih??? Apakah “miskin”, dalam pengertian secara umum (miskin harta, miskin jabatan, miskin penghargaan, dst.) adalah patokan standar syarat ideal untuk “berbahagia”? Apakah orang menderita, teraniaya hingga masuk ke penjara karena narkoba dan karena berbuat kejahatan dalam masyarakat otomatis masuk Sorga? Tentu bukan demikian yang Yesus maksudkan (Ay.20-23).

Apakah ucapan Yesus “celaka”, ditujukan kepada semua orang “kaya”, yang kenyang (makmur dan sejahtera), yang mendapat pujian (penghargaan), yang bisa tertawa-tawa, yang dapat makan di restauran otomatis semua dikategorikan “celaka”? Apakah seorang kaya yang berimaan, pemurah, tidak dapat “berbahagia” dan semua masuk neraka? Apakah Yesus mengajarkan kita anti terhadap kekayaan dan tidak boleh menjadi “kaya”? (Ay.24-26).

Entah berapa banyak orang Kristen sendiri yang menjadikan nas ini seolah menjadi patokan standar beroleh “kebahagiaan” karena menelan mentah-mentah, tanpa memahami konteks maksud dan tujuan Yesus secara dalam. Pokoknya asal miskin, asal menderita, asal menangis, asal teraniaya, pasti “berbahagia”. Juga buru-buru dengan seenaknya begitu saja menghakimi orang kaya. Pokoknya asal “kaya” pasti celaka, pasti dosa, pasti tidak boleh masuk sorga!

Lalu mengapa Yesus menggunakan kata “miskin” untuk beroleh bahagia? Bukankah orang miskin bisa jadi sangat repot sendiri ketika biaya rumah sakit, atau biaya sekolah anaknya tak mampu dipenuhi? Bahagia orang “miskin” yang dimaksudkan itu yang seperti apa? Mengapa Yesus menyinggung soal “kaya” dan mengatakannya celaka? Bukankah Abraham, Daud, Salomo, Yusuf juga kaya? Bukankah Firman Tuhan juga mengatakan bahwa kekayaan juga anugerah Tuhan, bukan pemberian setan? (Bdk. Kej.13:2; Pkh.5:18).

Istilah “miskin” dalam Perjanjian Baru menggunakan dua istilah, yaitu : πενης (penês) dan πτωχος (ptôkhos). πενης (penês) berarti miskin sedemikian rupa sehingga penghasilan sehari habis buat makan sehari. Sedangkan Kata πτωχοι (ptôkhoi), bentuk jamak dari πτωχος (ptôkhos) berarti mereka yang hidup dari meminta sedekah. Istilah “miskin” (ptokhos) yang digunakan dalam Injil Lukas mempunyai arti Sosio-Ekonomi-Religius.

Rabbi Jonathan Sack (seorang Yahudi Rabinik), dalam bukunya yang berjudul “The Great Partnership” (halaman 59), memberikan perspektif Yahudinya tentang latar belakang dari pengucapan “Berbahagialah orang yang miskin” yang disabdakan oleh Tuhan Yesus. Menurut Rabbi Sack (yang hafal betul konteks Yahudi mereka), bahwa ucapan Yesus tersebut, persis sama seperti yang dilakukan oleh seorang Khazan (seorang pemimpin ibadah dalam Sinagoge Yahudi), bahwa seorang Khazan selalu memulai pelayanannya dengan ucapan: “הִנְנִי הֶעָנִי מִמַּעַשׂ” (“HINENI HE’ANI MIMA’AS”: Ini aku, seorang miskin yang melayani, ingin melakukan suatu perbuatan baik).

Ketika Yesus mengambil filosofi tradisi pelayanan Khazan Yahudi tersebut, dihadapan pada audience-Nya yang terdiri dari orang-orang Yahudi, maka menjadi sangat nyambung dengan tradisi ibadah mereka, sangat jelas dan dimengerti oleh mereka bahwa “ptôkhos” (miskin) yang dimaksudkan Yesus bukan “miskin” dalam arti yang sempit, asal miskin!

Dalam konteks ini jelas, bahwa Yesus pada masa itu (yang tetap identik dengan masa kini) melawan pendapat yang mengatakan: “Orang menjadi miskin pasti karena hukuman atas dosa-dosanya dan orang menjadi kaya pasti karena ganjaran atas kebaikannya”. Karenanya, orang menjadi “berbahagia” seperti yang dimaksudkan Yesus, tentu bukan karena asal “miskin”. Atau celaka, masuk neraka asal “kaya”. Tetapi lebih pada soal sikap hati, entah ketika seorang dalam kondisi “miskin” atau pun ketika dalam kondisi “kaya”.

Masalahnya menjadi semakin jelas, manakala kita menyimak ajaran Yesus dalam perumpamaan dua orang yang berdoa di rumah ibadah, antara seorang Farisi dan Seorang Pemungut cukai. Seorang Farisi dengan bangga dan mebusungkan dada dalam doanya, merasa “kaya” (rohani), mengklaim sorga sebagai pahala. Sementara seorang pemungut cukai merasa tak layak, merasa “ptokos” (miskin) walau pun ia “kaya” (materi) di hadapan Allah. Dalam konteks “miskin” seperti inilah ucapan Yesus “berbahagialah, hai kamu yang miskin…” ditujukan.

Istilah “ptokos” (miskin) yang digunakan Yesus, mengajarkan kepada kita supaya sadar bahwa hidup kita hanya dari “sedekah” dari Allah. Menyadari bahwa yang namanya “berkat” bahkan anugerah keselamatan itu hanya bergantung pada Allah atas kemurahannya. Sikap hati yang demikian pada gilirannya, menyadarkan orang siapa dirinya di hadapan Allah.

Allah menghendaki manusia memiliki sikap “pokos” (miskin) di hadapan-Nya (bukan sekedar asal miskin harta, asal menangis, asal menderita), tetapi lebih pada kesadaran bahwa kehidupan kita sepenuhnya hanya bergantung dari belas-kasihan Allah. Hanya membutuhkan Allah untuk memberi kekuatan serta berkat-berkat dalam hidup kita. Karena di hadapan-Nya, siapapun kita, apapun jabatan atau pangkat kita, jalan kaki atau naik becak sampai Marcedez, makan nasi putih atau pizza, semua sama dihadapan-Nya.

Yesus mengkritik, bahkan menyebut “celaka” kepada orang “kaya” tentu saja bagi yang sombong, tamak, pelit, memandang rendah orang lain, meng-klaim sesuatu yang ada pada dirinya sebagai kepemilikan, yang seolah merasa sudah aman, seolah telah mendapatkan sorga sesungguhnya, menjadikannya standar kebahagiaan. Seolah telah menemukan “tuhan” bagi hidup, dan seakan tidak memerlukan “Tuhan” yang sesungguhnya. Tetapi pasti tidak bagi orang “kaya” yang beriman, pemurah, yang merasa “ptokos” (miskin) bila tanpa Allah. Amin!

Selasa, 05 Februari 2019

PENJALA IKAN MENJADI PENJALA MANUSIA



Lukas 11:1-5

Ketika dibentangkan nas ini, biasanya perhatian kita para pembaca lebih banyak tertuju pada soal mujizat. Ya, mujizat. Fokus seputar mujizat. Dan mentok pada mujizat. Yesus membuat mujizat, ikan jadi banyak, jala hampir koyak, muatan perahu penuh sesak. Lalu diberi keterangan tambahan, aplikasi embel-embel, Allah kita sungguh dahsyat, tidak ada yang mustahil Dia buat, barangsiapa percaya kepada-Nya engkau pasti mendapat berkat. Bila perusahaan Anda bangkrut, jika mengutamakan Tuhan seperti Petrus, yakin saja Allah sanggup memulihan keadaan Anda seperti semula, bahkan berlipat ganda. Tuhanlah teman usaha sejati Anda!

Padahal, maksud Yesus membuat mujizat ikan jadi banyak dalam konteks ini, hanyalah sebuah isyarat, ilustrasi pembuka, menggambarkan tugas pekerjaan misi Allah yang akan dilaksanakan oleh para murid nantinya, jauh lebih besar dari sekedar soal ikan, urusan perut yang berakhir di kamar kecil alias jamban! Bukan! Sebab pada akhirnya, Petrus dan kawan-kawan, bukan diarahkan untuk menjadi penjala ikan yang sukses segala macam. Atau jadi bos konglomerat pengusaha ikan. Tetapi menjadi penjala manusia berintegritas sesuai hakikat panggilan!

Di tepi danau Genesaret itu, dua kontras diperlihatkan. Kontras antara Petrus beserta kawan-kawan, manusia gagal yang sekali pun mapan dan Yesus yang sanggup melakukan segalanya, walau terlihat compang-camping sederhana, kayak anak si tukang kayu dalam kacamata orang dunia! Yesus memperlihatkan mujizat ikan jadi banyak di hadapan mereka, untuk menunjukkan siapa Dia yang memanggil mereka, hingga yang mustahil sekali pun tunduk pada kuasa-Nya. Seperti yang diilustrasikan-Nya melalui pengalaman nyata mereka. Sungguh beda adanya!

Yesus hadir di tepi danau Genesaret itu, tentu tidak kebetulan. Atau sekedar mempertontonkan glamour mijizat Ilahi sekedar tontonan. Atau sekedar hiburan murahan piknik di tepi danau Genesaret yang indah menawan! Tidak! Tapi ada tujuan khusus. Khusus untuk menjala Petrus dan kawan-kawan. Apakah Yesus mau menjadikan mereka para penjala ikan yang sukses dan mapan? Oh, juga tidak! Tetapi untuk menjadikan mereka segera meninggalkan jala dan ikan. Bersiap untuk suatu tugas yang jauh lebih besar dan bermakna. Menjadi penjala manusia, melalui mana Anugerah kasih Allah dinyatan. Bukan untuk tujuan murahan soal ikan biasa yang hanya berakhir di jamban.

Sesungguhnya, disinilah kisah yang sebenarnya Penulis Injil Lukas mau mengarahkan kita. Kisah yang merobah hidup mereka. Dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Berawal dari pengalaman nyata bersama dengan Tuhan, sadar akan keterbatasan diri, bahwa di hadapan-Nya diri ini hanyalah seorang pendosa, manusia hina. Segala kemapanan serta kebanggaan untuk tujuan keinginan duniawi semata sering mengecewakan dan sia-sia. Lalu ditutup dengan ending yang manis, penundukkan diri secara total, meyakini penyertaan Tuhan, melahirkan sebuah komitmen sebagai respon pribadi atas simpulan-simpulan pengalaman yang ada.

Kesadaran diri semacam ini pada gilirannya akan melahirkan komitmen yang kuat, menjadi murid dengan integritas mapan hingga emeritus, bukan jadi murid ikut-ikutan. Tetapi menjadi murid yang rela tanpa terpaksa meninggalkan jala dan perahu keinginan duniawi di kenyamanan, untuk melanjutkan misi kehidupan di daratan. Memberi jawab atas persoalan kemanusiaan yang berjubel berdesakan di sepanjang pantai kehidupan dengan aneka warna pergumulan penuh air mata yang sedang menanti jawaban uluran kasih Tuhan. Amin!

Selamat Hari Pensiun GKE 2019.

Senin, 04 Februari 2019

TIDAK TUMBANG OLEH PENOLAKAN





Lukas 4:21-30

Kenapa orang-orang Nazaret marah dan menolak Yesus? Apakah karena pernyataan-Nya tentang soal penggenapan Nas nabi Yesaya? Tidak! Atau, apakah karena ajaran-Nya? Juga tidak! Bila kita cermati lebih dalam berdasarkan konteks nas, justru ajaran Yesus membuat mereka terfana! Bahkan dikatakan mereka “membenarkan Dia”. Artinya, mereka tidak marah, tidak menolak-Nya soal deklarasi penggenapan nas Nabi Yesaya, atau soal ajaran yang disampaikan-Nya. Mereka malah heran akan keindahan ajaran yang disampaikan-Nya. Itu dapat kita buktikan pada dua ayat awal (ay.21-22a).

Jika demikian, lalu apa yang membuat mereka marah dan menolak-Nya? Untuk memahaminya, kita harus mulai menggali secara cermat awal penyebab kenapa mereka marah lalu menolaknya. Kemarahan mereka bermula ketika Yesus memberikan "tanggapan" umpan balik atas apa yang mereka persoalkan, menyangkat status sosial bapak-Nya (Yusuf). Dengan kata lain, mereka meragukan kemesiasan-Nya juga menyangkut status sosial-Nya. Perhatikan baik-baik kalimat teks ayat berikut, “bukankah Ia ini anak Yusuf?”, “anak si tukang kayu?” (Ay.22b; bdk. bdk. Mrk.6:3).

Apa yang bisa kita tangkap dari makna ungkapan “bukankah Ia ini anak Yusuf?” Bukankan ungkapan seperti itu biasanya hendak menelisik ke belakang ke masalah status sosial keluarga? Apa iya Dia ini (Yesus) yang berasal dari keluarga tak berpendidikan di dusun terpencil bernama Nazareth adalah Mesias? Bukankah sangat jelas bahwa pertama-tama ini yang mereka persoalkan? Bukan yang lain. Bukan masalah klaim penggenapan kitab nabi Yesaya atau isi ajaran-Nya yang mereka persoalkan.

Mengutip sebuah buku berjudul “Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth” tulisan Reza Aslan keturunan Persia, seorang profesor penulisan kreatif di University of California, Riverside, terbit pada 16 Juli 2013, mengatakan bahwa: “Yesus berasal dari desa bernama Nazareth dan berasal dari keluarga tekton, artinya bahwa Dia berasal dari kalangan yang paling miskin di antara yang miskin." Tanpa kecuali, itu berati juga berlaku untuk keluarga Yusuf dan Maria penduduk Nazaret.

Lalu perhatikan umpan balik pernyataan Yesus atas apa yang mereka persoalkan….. “Maka berkatalah Ia kepada mereka: ‘Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum. Dan kata-Nya lagi: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.’” Bukankah jawaban Yesus tersebut berkaitan dengan masalah status sosial? (Ay.23-24).

Dan berikutnya. Nah…nah…nah… perhatikan sungguh-sungguh, karena di sinilah titik awal hingga puncak kemarahan mereka. Ketika Yesus menempelak mereka secara beruntun. Diawali dengan menelanjangi sikap mereka yang sombong suka meremehkan orang lain, menganggap diri sebagai anak emas Allah, penyandang status umat pilihan Allah! Mereka tersinggung dan sangat marah, merasa dilecehkan, direndahkan, karena dibandingkan dengan bangsa kafir. Malah tidak lebih baik dari bangsa kafir yang justru dikaruniai Allah anugerah, seperti pada jaman Nabi Elia dan Elisa! (Ay.25-27).

Yesus memberikan tanggapan secara beruntun, menempelak, menelanjangi kesombongan mereka, hingga mereka merasa direndahkan. Inilah titik balik permulaan penyebab kemarahan mereka. Toh pun mereka akhirnya menolak ajaran Yesus, itu hanyalah akibat rembetan kemarahan. Ibarat pun ajaran Yesus itu adalah emas berlian, pasti juga akan ditolak karena merasa luka ditempelak dan direndahkan.

Penolakan mereka terhadap Yesus, adalah penolakan luar-dalam! Bukan hanya semata-mata soal ajaran, tetapi juga status sosial yang bagi mereka dianggap jadi batu sandungan. Bahkan bila kita cermati, justru inilah penyebab utama mereka mereka persoalkan, kemesiasan-Nya mereka ragukan! (bukankah Ia ini anak Yusuf?). Ibarat barang, walau mumpuni kualitas isi, gara-gara casing dipersoalkan, tak jadi beli. Awalnya cinta karena terpesona pada ajaran-Nya, akhirnya berobah jadi benci karena merasa ditempelak tergores luka di hati!

Apa makna nas ini bagi kita? Pertama, Janganlah kita memandang sebelah mata, meremehkan, melecehkan, memperlakukan orang lain secara tidak adil hanya berdasarkan kacamata status sosialnya, serta janganlah keadilan dan kebenaran kita tumpulkan, bahkan menjadi penjilat gara-gara kita disilaukan oleh kemapanan status sosial seseorang. Kedua, Janganlah menjadikan Tuhan seperti apa yang kita mau tetapi menjadikan diri kita seperti yang Tuhan mau. Ketiga, belajarlah pada Yesus, Sebagai pionir pemberita kabar Baik serta kebenaran Misi Allah yang setia tanpa dipengaruhi oleh situasi dan kondisi apa pun dalam situasi sosial. Toh pun harus ditolak, tindak tumbang oleh penolakan! Amin!

Jumat, 01 Februari 2019

KENAPA YESUS DITOLAK DI NAZARET?




 Lukas 4:21-30

Kenapa Yesus ditolak di Nazaret? Padahal, bukankah pengajaran-Nya penuh hikmat dan membuat orang banyak hingga terkagum-kagum heran? Bukankah Yesus juga begitu banyak membuat mujizat di tempat lain dan tentu mereka juga telah mendengarnya? Tapi kenapa di kampung halama-Nya sendiri Dia ditolak? Ada apa dengan orang-orang Nazaret? Apa yang tidak beres dengan mereka? Bila kita telusuri dengan saksama, maka inilah beberapa alasanya.

Mengutip sebuah buku berjudul “Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth” tulisan Reza Aslan keturunan Persia, seorang profesor penulisan kreatif di University of California, Riverside, terbit pada 16 Juli 2013, mengatakan bahwa: “Yesus berasal dari desa bernama Nazareth dan berasal dari keluarga tekton, artinya bahwa Dia berasal dari kalangan yang paling miskin di antara yang miskin." Tanpa kecuali, itu berati juga berlaku untuk keluarga Yusuf dan Maria penduduk Nazaret.

MASALAH PERTAMA: STATUS SOSIAL

Mereka menyangsikan keberadaan Yesus sebagai sang pembebas dari Allah karena Yesus bukan dari keluarga “keraton” tetapi keluarga “tekton”. “Keraton” dan “Tekton” itu layaknya seperti langit dan bumi bedanya. “Keraton” adalah suatu istilah sebutan bagi golongan bangsawan, para konglomerat, orang-orang terpandang, terdidik dan terhormat! Sedangkan “Tekton”? Apalagi kalau bukan suatu istilah untuk sebutan bagi kaum bawahan, terpinggirkan, golongan orang miskin dan melarat, buta huruf dan tak terdidik.

Apa iya Dia ini (Yesus) yang berasal dari keluarga tak berpendidikan di dusun terpencil bernama Nazareth dapat mengklaim diri-Nya sebagai sang pembebas yang diutus dari Allah, yang menggenapi nubuat dalam kitab nabi Yesaya untuk menyatakan tahun rahmat Tuhan? Apa iya, hikmat dan mujizat yang dilakukan-Nya itu berasal dari Allah? Apa iya Yesus si Tukang kayu ini dapat menjadi pembebas bagi kita terhadap penjajahan Romawi yang bertangan besi?

MASALAH KEDUA: AJARAN TAURAT TENTANG KEESAAN ALLAH YANG SALAH DIMENGERTI

Bagi orang Yahudi, Allah itu Esa. Tidak dapat disamakan atau dipersekutukan dengan apa pun. Deklarasi Yesus tentang diri-Nya sebagai penggenapan nubuat Nabi Yesaya dianggap penistaan agama, suatu dosa besar! Melanggar Hukum Taurat perintah pertama, karena telah menyekutukan diri-Nya dengan Allah. Mereka heran bercampur bingung atas deklarasi yang yang disampaikan-Nya. Mereka lalu mempersoalkan status Yesus. Mereka saling mempertanyakan satu dengan yang lainnya: “Bukankah Dia ini anak Yusuf?” (Ay.23; bdk. Kel.20:3-5: bdk. Ul.6:4).

Mereka mulai kecewa terlebih karena Yesus tidak mau memperlihatkan satu kuasa mujizat pun ditempat mereka, karena Yesus tahu kedegilan hati mereka. Padahal mereka ingin menyaksikan mujizat seperti yang mereka dengar dilakukan-Nya di tempat lain. Kemarahan mereka semakin menjadi-jadi manakala Yesus menempelak dosa kedegilan hati mereka secara beruntun. Secara blak-blakan Yesus mengungkapkan sikap kesombombongan, kekerasan hati, ketidakpercayaan dan penolakan atas diri-Nya yang berarti menolak Allah yang membebaskan mereka.

PERSOALAN KETIGA: TERSINGGUNG KARENA MERASA DIRENDAHKAN

Kemarahan mereka sampai pada titik puncak karena Yesus justru memuji bangsa kafir yang rendah hati dan diberkati oleh Allah. Bukan kepada mereka yang merasa bangga sebagai umat pilihan. Yesus mengungkapkan penolakan Allah kepada mereka melalui kilas balik pengalaman nenek moyang mereka seperti pada jaman nabi Elia dan nabi Elisa. Justru orang-orang dari bangsa kafir yang menerima anugerah Allah. Mereka sangat tersinggung, karena dibandingkan dengan bangsa kafir dan merasa sangat direndahkan! (Ay.25-27).

Di sini kita melihat ketika manusia hanya berpatokan pada anggapan kebenaran pada dirinya sendiri sebagai klaim satu-satunya kebenaran, sehingga diluar dari itu semua dianggap tidak ada yang benar. Hanya mencari kesalahan dan kekurangan dari orang lain, tetapi tidak pernah dengan rendah hati melihat kekurangan diri sendiri. Disini juga kita melihat kekerasan hati manusia ketika tidak bisa membuka diri untuk menerima kritik atau masukan untuk pertobatan dan pembenahan diri. (Ay.28-29).

Kerajaan Allah tidak pernah gagal walau ditolak. Berita tentang pertobatan, keselamatan dan kasih Allah terus dinyatakan. Berkat bagi yang menerima dengan kerendahan hati dan sukacita, tetapi tentu kutuk bagi yang menolak karena kesombongan dan kekerasan hati. Bagi para penerima anugerah keselamatan tentu diharapkan tidak hanya berbangga atas anugerah Allah yang diterima. Atau terhenti hanya sebatas terkagum-kagum, sekedar mencari Yesus untuk mendapatkan tanda mujizat. Tetapi ambil bagian dalam tanggungjawab iman untuk bersama-sama menyaksikan kasih Tuhan di setiap pergulatan kehidupan (Ay.30) Amin!