Renungan GKE

Selasa, 20 November 2018

KETIKA HATI NURANI DIKALAHKAN KENYAMANAN DIRI




Yohanes 18:33-37

Gedung pengadilan itu, adalah saksi bisu sejarah dimana pernah terjadi peristiwa pengadilan Illahi VS pengadilan manusiawi sedang berlangsung dalam waktu bersamaan! Di ruang pengadilan itu, Yesus diproses perkara-Nya oleh sang penguasa (pengadilan manusiawi) bernama Pontius Pilatus! Namun di ruang pengadilan yang sama, tanpa disadari oleh manusia, juga sedang berlangsung pengadilan terhadap Pontius Pilatus, sang penguasa dunia, oleh sang penguasa alam semesta (pengadilan Ilahi), raja di atas segala Raja, Yesus Kristus yang berasal dari kemuliaan Sorga!

Kalimat padat, bergengsi, sarat makna, terukur penuh isi, silih berganti dilontarkan saling menginterogasi. Forum pengadilan kelas tertinggi yang pernah ada. Bertemunya pengadilan Illahi vs pengadilan manusiawi pernah digelar di bumi. Berakhir pada ketokan palu masing-masing, oleh cara keputusan standar kebenaran manusia dan sekaligus ketokan palu cara keputusan standar kebenaran Ilahi! Di ruang pengadilan itu, sungguh kentara apa yang terjadi. Sifat manusia, penguasa dunia yang rela mengorbankan orang lain demi keamanan dan kenyamanan diri sendiri. Sedangkan Tuhan Yesus rela mengorbankan diri Nya sendiri demi keamanan, kenyamanan, dan keselamatan manusia.

Pada awal pembuka, Yesus diinterogasi oleh Pilatus dengan satu pertanyaan sederhana, namun sarat muatan politis: “Engkau inikah raja orang Yahudi?” Kenapa pertanyaan seperti ini yang diajukan? Orang sekelas Pilatus tentu tidak sembarangan. Sebagai seorang penguasa digjaya, pemimpin berkelas dan cerdas, seorang ahli strategi politik, pasti tahu persis apa yang hendak dilakukannya dengan pertanyaan semacam itu! “Engkaukah raja orang Yahudi?”. Pertanyaan itu memang sederhana. Tapi yang pasti bukan pertanyaan basa-basi!

Dengan pertanyaan itu, ada dua makna yang bisa kita tangkap di dalamnya. Pertama, Pilatus ingin memastikan, untuk mengukur, sejauh mana kira-kira kekuatan lawan, sekiranya Yesus ini benar-benar raja seperti yang dituduhkan. Kedua, pertanyaan itu adalah jebakan. bila Yesus menjawab ya, berarti dianggap pemberontak yang akan melawan pemerintah Romawi. Dan ini tentu saja menjadi bahan bagi Pilatus untuk menjatuhkan hukuman seperti yang dituduhkan. Dari jawaban yang diberikan, Yesus ini, bukanlah musuh politik yang dianggap membahayakan dan menjadi ancaman. Kedudukan Pilatus tetap aman!

Sekarang giliran sang penguasa Ilahi, Yesus yang datang dari Allah Bapa, menginterogasi Pilatus! Jawaban Yesus atas pertanyan Pilatus, tanpa disadarinya, pikirannya dan sikapnya sedang diinterogasi, dibedah oleh Allah. Interogasi Yesus terhadap Pilatus: “Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya tentang Aku?” Hati nuraninya diuji. Kepekaannya dilucuti. Tantangan untuk menerima “kebenaran” sejati menanti! Namun sayang seribu sayang, itu tak terjadi. Kenyamanan mengalahkan hati nurani.

Yesus terus mendesaknya, membedah hati nuraninya dengan menjelaskan tentang asal, tujuan dan misi yang dijalankan-Nya. Bahkan “kebenaran” Illahi dibentangkan di hadapannya, sekiranya Pilatus tersadar dan membuka diri. Namun ternyata tidak! Hatinya membeku. Pilatus tetap berkutat melekat erat pada kenyaman diri. Bahkan bernada mengejek “Jadi Engkah adalah raja?” ketika Yesus menjelaskan asal usul dan misi yang dijalankan-Nya. Yang dia lihat, hanya sebatas mata melihat, Yesus yang hanya compang camping. Tidak lebih dan tidak kurang!

Sebagai umat percaya, sadarkah kita akan fungsi, peran, dan harapan Allah pada setiap kita? Ketika berbagai perkara dalam kehidupan dibentangkan? Akankah kebijaksanaan untuk memutuskannya secara arif bijaksana, adil dan benar, setiap ketokan palu yang dipakukan? Atau segalanya dijalankan dengan pertimbangan “yang penting aku aman”? Mempertahankan pilihan yang salah adalah kekonyolan! Sadarilah, pada saat yang sama, ketokan palu pengadilan Allah berlaku atas kita. Keadilan yang sejati hanya bisa terjadi bila orang pertama-tama mau datang, bertobat, membuka diri dan mau diisi oleh Yesus sebagai sumber “kebenaran” yang sesungguhnya. Sudahkah itu kita lakukan? Amin!



Senin, 19 November 2018

KETIKA YESUS DIADILI


Yohanes 18:33-37

Ketika Yesus diadili, apa yang menarik untuk kita perhatikan? Pertama-tama adalah ini. Dia diperlakukan layaknya bola pingpong kesana-kemari. Dihadapkan ke Pontius Pilatus, lalu ke Herodes, dan balik lagi ke Pontius Pilatus. Kenapa itu terjadi? Karena mereka para penegak hukum pada kebingungan, hukuman apa yang layak dijatuhkan sesuai tuntutan, karena alasannya mengada-ada, tak memadai serta tak ada bukti kuat yang memberatkan-Nya sebagai terdakwa.Yesus diadukan ke pengadilan, karena menurut mereka, Yesus itu raja. Lalu apa masalahnya kalau Yesus itu raja? Tidak! Mereka tak rela! Raja compang camping kayak Yesus, tak ada pasukan bersenjata, mana mungkin dipercaya dapat melawan penjajah politik membebaskan mereka!

Disamping itu, menurut mereka, ajaran-Nya menyimpang dari yang biasa (menurut versi Hukum Taurat). Banyak orang disesatkan. Padahal fakta di lapangan, yang terjadi justru sebaliknya. Yesus meluruskan pemahaman yang salah tentang cara beragama, mengangkat harkat martabat orang-orang kecil, memulihkan kepercayaan diri, menyembuhkan, merangkul mereka dengan kasih. Yesus bukan raja pemberontak yang mengajak orang berdemo untuk merusak, berorasi koar-koar dengan pengeras suara. Tetapi mengajarkan kasih, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Memberi motivasi untuk hidup, hingga orang mengenal jalan kebenaran dan diselamatkan!

Ketika Yesus diadili, apa pula yang menarik untuk kita cermati? Nah, ini juga cukup menggelitik. Yesus diajukan ke pengadilan bukan oleh orang biasa. Tetapi oleh para tokoh agama. Mereka bersikeras menuntut sekiranya Yesus dihukum. Bukan dihukum biasa di penjara. Tetapi harus dibunuh. Mereka memang tidak ingin membunuh Yesus dengan tangan mereka sendiri (karena mereka taat Hukum Taurat), namun mereka memperalat orang lain untuk melaksanakan niat mereka. Setali tiga uang!

Pilatus masuk ke gedung pengadilan. Para pengadu di mana? Mereka di luar saja (karena mereka tak ingin menajiskan diri mereka). Maklum karena mereka mempersiapkan diri melaksanakan ritual agama, makan Paskah (bdk.ay.29). Kesucian tubuh dan ritual agama dijaga 100% kesuciannya, namun praktek beragama dalam realita nol besar. Hati mereka busuk 100% layaknya bangkai di peti mati lobang kuburan, yang di atasnya ditutupi cor semen putih mengkilap!

Di ruang pengadilan itu, tak ada siapa-siapa, selain beberapa pengawal kerajaan yang berjaga-jaga. Yesus diinterogasi oleh Pilatus dengan pertanyaan berbau politis: “Engkau inikah raja orang Yahudi?”. Pilatus tak percaya, ketika melihat sendiri siapa yang ada di hadapannya. Kalau Yesus ini raja, koq compang camping seperti ini? Naluri Pilatus tau, bahwa orang ini tidak berbahaya, bukan ancaman bagi pemerintahan wilayah kekuasaannya.

Pilatus cukup lega. Terlebih ketika mendengar tuturan dari mulut Yesus sendiri (walau Dia raja) bahwa kerjaan-Nya bukan dari dunia ini. “Raja” dalam versi yang berbeda. Tak ada sangkut paut langsung yang menjadi ancaman membahayaan bagi sang Pilatus! Dalam hati kecil, Pilatus ingin membebaskan orang ini. Pilatus memancing dengan pertanyaan sekiranya Yesus membela diri, sebagai dasar Pilatus dapat membebaskan-Nya: “apakah yang telah engkau perbuat?”.

Anehnya, tidak seperti kebanyakan orang lakukan, Yesus tidak membela diri atas tuduhan orang terhadap-Nya, malah menjelaskan tujuan dan misi kerajaan-Nya! Namun sayang. Pilatus tak cukup jeli tentang apa yang sedang Yesus ucapkan. Tinggal selangkah saja lagi, sebenarnya Pilatus mendapat pengalaman indah yang akan merobah seluruh hidupnya. Ketika raja di atas segala raja, raja penyelamat dunia sedang berbicara tentang sesuatu yang paling bermakna, “kebenaran” yang sesungguhnya!

Andai saja Pilatus jeli, mencerna, membuka diri, berlutut dan bertobat di hadapan-Nya. Namun itu mustahil terjadi! Karena Pilatus adalah sang penguasa, yang merasa aman duduk di kursi empuk pemerintahan. Tak ada yang dia kuatirkan, demikian kira-kira dalam benaknya. Karenanya, tentu sulit baginya untuk mendengar “suara kebenaran” karena memang manusia-manusia berkarakter semacam Pilatus, yang memang bukan berasal dari “kebenaran” tentu lebih mengutamakan “yang penting aku aman”!

Ketika Yesus diadili, apa yang mesti kita renung dalam? Itulah peristiwa keseharian kita. Keberdosaan manusia tergambar di sana. Bisa jadi posisi kita persis sama seperti para pengadu, yang nota-bene suci menjalankan ritual agama, namun iri dengki menyelimuti hati, tak rela dengan kelebihan orang lain, dengan berbagai macam trik busuk untuk menjatuhkannya. Atau bisa jadi, posisi kita persis sama seperti Pilatus. Sang penguasa yang acuh, tahu kebenaran. Namun kebaikan yang tak kesampaian untuk dilakukan, karena terselindung rasa aman semu “yang penting aku aman”?

Mencermati pengadilan yang dilakukan terhadap Yesus, perilaku, ucapan, komitmen, serta ketulusan-Nya melaksanakan misi Bapa, hingga darah penghabisan. Duri halang merintang, hingga bernanah tak pernah mundur setapak pun dalam keberanian, hingga tertancap di atas salib tegak! Secara nalar akal sehat, terlebih dengan hikmat Allah, tahulah kita apa arti semuanya. Ya Yesus, Ya Rajaku! Engkau benar-benar Raja. Raja di atas segala Raja yang datang dari Allah Bapa. Ampuni kami yang terlalu congkak membaggakan diri. Hidup beragama namun yang tak sejalan dalam hidup keseharian kami. Ampuni kami yang tahu kebenaran, namun tak berani berbuat apa-apa, karena lebih memilih “yang penting aku aman”. Amin!

Sabtu, 17 November 2018

APA YANG KITA BANGGAKAN?


Markus 13:1-8

Apa yang kita banggakan? Gedung ibadah megah, yang menaranya berjuntaian seolah melambai-lambai ke langit? Bait Allah yang megah, yang sebenarnya mustahil diruntuhkan (karena bangunan ini sangat kokoh dan megah) akhirnya rata dengan tanah! Padahal (menurut pemahaman mereka), Bait Allah adalah simbol kehadiran Allah! Ternyata Allah tak sudi tinggal di kesempitan gedung kebanggaan manusia yang fana.

Apa yang kita banggakan? Kekuasaan, kedudukan, lengkap denganbudyguard kaki tangan yang kuat mau dengan seenaknya mengusai yang lain? Itu pun tak cukup kuat untuk dibanggakan. Karena bak isilah, “di atas langit, masih ada langit”. Silih berganti itu terjadi, dan selalu terjadi. Tak ada manusia yang benar-benar kuat untuk aman selamanya dengan kuasa, kedudukan, serta perlengkapan kekuatannya yang ada. Sehebat apa pun Hitler, pada saatnya juga runtuh tak berbekas sama sekali.

Apa yang kita banggakan? Harta, kekayaan, atau uang? Boleh saja manusia berbangga untuk sementara. Tapi bila saatnya tiba, seperti Yesus katakan: “akan terjadi gempa bumi di berbagai tempat, dan akan ada kelaparan” (Ay.8). Lalu apa artinya rumah mewah, tanah, mobil, harta kekayaan yang ada, bila gempa, petaka dimana-mana? Apa artinya simpanan di Bank jika tidak ada yang menjual makanan karena bencana melanda?

Apa yang kita banggakan? Apakah berkolosi dengan dunia, harus jadi penjilat demi mengamankan diri, atau harus jalan pintas dilakukan untuk mempertahankan hidup? Itu pun tak ada artinya, bila keganasan api neraka kebinasaan bila saatnya melanda. Yesus memperingatkan sebelum harinya tiba, bukan untuk menakut-nakuti saja! Tetapi supaya kita peka dan siaga! Tau mengambil sikap sehingga benar-benar siap untuk turut serta dalam kemuliaan-Nya!

Apa yang kita banggakan? Tak ada! Yang ada dan pasti sangat berguna, adalah keteguhan hati, iman dan percaya pada-Nya. Hidup yang selalu terjaga, tak rela terkontaminasi oleh kerakusan hidup kedagingan cara dunia! Hidup yang tak pernah rela melepaskan imannya, menggadaikan, apalagi menjual murah imannya demi sejumput kenikmatan sesaat, hingga berbelok dan tersesat! Tetaplah kuat. Tetaplah berpusat pada-Nya, pada petunjuk-petunjuk-Nya. Berjalan sesuai arah yang ditentukan-Nya. Jangan pernah melepaskan-Nya. Percayalah akan janji-Nya, bahwa Dia akan menyelamatkan setiap kita yang percaya pada-Nya. Amin!

Jumat, 16 November 2018

KENAPA DUNIA MEMBENCI ORANG BENAR?




Yohanes 15:16-25

Kenapa dunia membenci orang benar? Pasti ada penyebabnya, ada alasannya. Bila Anda salah satu dari orang benar itu, Anda perlu mengetahui kenapa hal tersebut terjadi. Yang pasti karena dunia tidak mengenal Juruselamat yang sesungguhnya. Penguasa dunia yang dimotori kuasa iblis yang gelap ini tidak pernah suka, bila orang-orang yang dipilih Allah mendapat anugerah keselamat (Ay.16-17). Bila lebih diperinci, inilah beberapa alasan kenapa mereka dibenci.

Pertama-tama, karena orang benar itu beriman kepada Yesus yang sangat dibenci oleh dunia! Kenapa dunia membenci Yesus? Yang pasti adalah ini. Karena Yesus bukan dari dunia ini. Bukan berasal dari kegelapan. Tetapi dari atas, dari terang. Sebab itu Yesus tidak pernah kompromi dengan dosa! Setiap kemunafikan dunia ini ditelanjangiNya. Segala bentuk usaha dunia yang menghalalkan segala cara blak-blakan ditegorNya! Segala bentuk ketamakan, kesombongan, ketidakadilan, serta sikap ketidakperdulian kepada sesama manusia, terang-terangan ditelanjangiNya. Karena itu dunia sangat membenciNya. Karena memang terang tidak akan pernah menyatu dengan kegelapan!

Kedua, karena orang benar itu dipilih oleh Allah sendiri. Dibenarkan, dikasihi, dibaharui, serta dipersiapkan untuk suatu tujuan yang mulia yang berakhir pada kemuliaan sorga, sedangkan orang-orang dunia tidak! Orang benar itu konsisten, setia, tulus, dan pemurah. Bahkan mungkin pengorbannya luar biasa bagi orang lain, bagi dunia dan masyarakatnya, sedangkan orang dunia tidak! Karenanya dunia yang gelap tidak pernah suka itu terjadi. Mereka adalah alat kaki tangan setan, biang kejahatan dan akan berakhir pada kebinasaan. Karenanya tidak heran, bila dunia membenci mereka (Ay.18).

Ketiga, orang benar itu memiliki perbendaharaan kebaikan yang tak pernah habis-habisnya. Orang benar bisa berlaku demikian, karena mereka beriman kepada Yesus sebagai sumber kebenaran. Meneladani hidup Yesus. Melaksanakan perintah Yesus! Dan siapa pun yang mau sungguh-sungguh menjadi muridNya juga pasti dibenci. Orang dunia yang gelap ini merasa terganggu dengan kebaikan orang benar. Orang dunia penuh iri hati, orang benar tidak! Orang dunia bila dizolimi akan membalas dengan kejahatan sedangkan orang benar tidak!

Apakah anda orang benar? Orang benar memiliki kelimpahan kebaikan yang tak habis-habisnya dalam dirinya. Dia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, karena dia selalu mampu mentranspormasikan kebaikan Allah di dalam Kristus yang telah menyatu dalam dirinya. Mereka telah diisi dengan nilai-nilai, standar-standar dan tujuan yang sangat bertentangan dengan cara-cara yang tidak benar dari masyarakat yang bobrok, tetapi selalu berdasarkan patokan dan selalu mengarah pada "perkara yang di atas, bukan yang di bumi" (Bdk. Kol 3:2).

Apakah Anda orang benar? Teguhkanlah imanmu, karena dunia selalu membencimu. Tetaplah berbuat kebaikan, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Orang benar lebih rela menderita karena kebenaran, dari pada berbahagia berujung kebinasaan! Charles Haddon Spurgeon pernah mengatakan: “The world is not your friend. If you are, then you are not God’s friend, for he who is the friend of the world is the enemy of God” (Dunia bukanlah sahabatmu. Jika dunia adalah sahabatmu, maka engkau bukanlah sahabat Allah, karena ia yang adalah sahabat dunia adalah musuh Allah). Amin!

MENGENAKAN KRISTUS SEBAGAI SENJATA TERANG


Roma 13:11-14

Suatu kisah yang benar-benar terjadi. Pada suatu hari, sebagai tanda penghargaan dan kekaguman, Perdana Menteri Jepang berkenan berkunjung ke pabrik Honda. Sudah selayaknya, tamu terhormat ini disambut sendiri oleh pucuk pimpinan tertinggi pabrik tersebut. Dan itu tidak lain adalah sang presiden direktur, sekaligus pemilik dan pendiri Honda Corporation.

Ketika saat kunjungan kian mendekat, staf terdekat Pak Honda semakin gelisah. Bos mereka masih tetap bersantai dengan pakaian bengkelnya, yang di sana sini “kotor” terkena tumpahan oli dan sapuan gemuk. “Pak, rombongan akan tiba lima menit lagi. Apakah bapak tidak sebaiknya berganti pakaian dahulu?”, kata mereka setengah gugup setengah gemetar. “Mengapa aku harus tukar pakaian?,” sergah sang bos besar. Dan memang, Mr.Honda menyambut tamu kehormatan sang Perdana Menteri Jepang dengan pakaian bengkelnya!

Kisah di atas dapat menjadi inspirasi untuk memahami persoalan seperti yang terjadi di Jemaat Roma. Dan juga dapat terjadi pada kehidupan cara beragama kita pada umumnya. Jemaat Roma cukup bermasalah. Mereka memang berpakaian kostum baru bermerek ‘Kristen”, namun cara hidup mereka tidak mencerminkan kekristenan. Mereka memang mengganti kostum bermerek “Kristen” namun cara hidup mereka tetap dalam cara hidup yang lama (Ay.11).

Di dalam Jemaat sendiri, Kasih Kristus tidak nampak dalam kehidupan Jemaat, malah ada kelompok orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, pemecah belah jemaat, memprovokasi, mengajarkan Injil lain, yang bertentangan dengan Injil yang murni. Mereka terkotak-kotak, antara golongan Kristen-Yahudi dan golongan Kristen-Non Yahudi. Demikian pun cara hidup mereka sangat dipengaruhi gaya hidup metropolitan kota Roma yang menawarkan beraneka ragam bentuk kenikmatan dunia (Ay.12).

Rasul Paulus mengingatkan Jemaat, bahwa sebagai umat Tuhan semestinya menanggalkan cara-cara hidup kegelapan, tetapi harus hidup dengan sopan, tidak dalam pesta pora dan kembakuan, percabulan dan hawa nafsu. Semestinya tubuh dengan segala kelengkapan yang ada di dalamnya dirawat untuk menjadi persembahan yang kudus bagi Allah, bukan untuk melakukan hidup dalam kegelapan. (Ay.13.14)

Bukan perubahan lahiriah yang harus kita pusingkan. Bukan mereka-merek Gereja yang paling prinsip. Bukan ajaran siapa nama Allah yang paling nomor satu. Bukan juga soal bentuk ibadah yang harus jadi masalah, melainkan perubahan hati. Perobahan sikap. Perubahan yang berasal dari perubahan hubungan kita dengan Kristus yang menggerakkan kita menuju cara hidup yang berkenan kepada Allah. Hidup dalam terang Kristus. Hidup yang berbeda dari cara hidup kegelapan. Amin!

BERJAGA-JAGALAH TERHADAP GADGET ANDA!


Lukas 21:34-38

“Berjaga-jaga” seperti yang dimaksudkan Yesus dalam Injil Lukas ini, tentu tidaklah seperti layaknya satpam yang selalu siaga dengan pentungan, siang dan malam mengawasi para maling atau penjahat yang sekiranya mengganggu lingkungan. Yang dijaga, bukanlah yang berada di luar diri kita. Tetapi diri kita sendiri! Menjaga diri sendiri yang rentan terhadap melakukan berbagai jenis kejahatan, lebih condong pada pesta pora, kemabukan, narkoba merajalela penakluk tua dan muda, yang telah merambat dari kota hingga ke pelosok desa (Ay.34).

Menjaga diri sendiri jauh lebih sulit dari sekedar menjaga maling atau penjahat sungguhan. Karena pada dasarnya hati manusia lebih condong pada kepentingan-kepentingan duniawi. Lebih percaya pada berita hoax ketimbang taat pada Firman Tuhan. Yang panik, gelisah, panas dingin, rasa tersiksa bila sekian jam saja gadget tak ada di tangan! Menjaga ke-diri-an kita yang lebih suka dan rela melekat-erat dengan gadget, yang telah menjadi semacam “tuhan”, yang tanpanya kehidupan seakan tak akan ceria, layu dan merana.

Lebih sulit lagi, karena menjaga diri sendiri berarti kita menjaga para maling, penjahat, yang dari sononya telah memanipulasi karunia dan berkat Allah, lebih suka yang serba instan, jalan pintas, jalan mudah tanpa banyak biaya. Lebih memilih berfoya-foya ketimbang berbagi dan perduli dengan sesama. Jadinya seperti orang mabuk lupa diri, seolah tak akan pernah mati. Terus mencari dan mencari. Cara apa pun mau dilakukan, entah memeras atau merampas, demi mempertahankan, menikmati dan demi kepuasan hidup. Nilai-nilai kejujuran, ketulusan, pengabdian, rela berbagi dan memberi, rasa takut akan Tuhan tiada tempat lagi dalam diri (Ay.35).

Yang kita jaga tentu saja para penjahat, yang melenggang seenaknya di hati, otak, mata, telinga, dan mulut kita, tak terdeteksi kamera monitor CCTV! Yang dari sononya terkontaminasi oleh dosa. Seperti Kain yang terganggu dan merasa tersaingi oleh kebaikan adiknya Habel. Maka penjahat itu pun merancangkan aksinya dibantu oleh temannya si otak. Demikian pun si mata, tak enak melihat keberhasilan tetangga, maka berembuklah mereka dengan temannya si otak, si hati, si telinga, dan meminta si lidah untuk bermain silat memperdaya musuh dengan fitnah untuk menjatuhkannya. Lalu bagaimana kita berjaga-jaga? Menjaga diri supaya memiliki rasa takut akan Tuhan, hidup dalam kebenaran? (Ay.36).

Pertama-tama: Berdoalah senantiasa memohon Roh Tuhan menguasai serta mengendalikan hati kita, memberikan hikmat untuk mendapat kekuatan, peka terhadap segala sesuatu yang dapat merusak iman, bijak dalam setiap keputusan dan tindakan. Kedua: Hargai, pergunakan waktu dengan tepat. Lakukan sesuatu yang berguna dan menjadi berkat. Seperti Yesus contohkan, pada siang hari Dia mengajar di Bait Allah, pada malam hari Dia pergi ke Bukit Zaitun untuk bersaat teduh, berdoa, dan beristirahat melepas penat. Ketiga: Dekatlah selalu dengan Tuhan. Ketika Yesus mengajar di Bait Allah, pagi-pagi benar mereka datang untuk mendengarkan Dia. Jagalah gadget Anda. Semakin dekat kita dengan Tuhan, semakin kecil kemungkinan kita menyimpang dari hidup dalam kebenaran (Ay.37-38). Amin!

DIHIDUPKAN UNTUK MEMBERI HIDUP





Lukas 7:11-17

Suatu peristiwa menyentuh kalbu pernah terjadi, pernah menjadi berita viral di berbagai media sosial, tepatnya pada tahun 2012 silam. Betapa tidak, pria bernama Ding Zu Ji terlihat menggendong ibunya pada sehelai kain untuk dibawa ke rumah sakit. Hal ini dilakukan Ding Zu Ji karena sang ibu tercinta mengalami patah tulang dan tak bisa berjalan. Karena ingin segera mengantarkan ibunya ke rumah sakit, Ding Zu Ji menggendong ibunya layaknya seperti bayi.

Hal tersebut menjadi pemandangan yang sangat mengharukan bagi orang-orang yang berada di dalam rumah sakit. Peristiwa itu pun sontak saja menjadi perbincangan di dunia maya karena aksi mulia yang dia lakukan. Ini bukan dilakukan oleh orang biasa, karena ternyata Ding merupakan seorang kepala biro investigasi Taiwan. Dia mengaku siap mengundurkan diri dari jabatannya agar ia bisa mengurus ibunya yang sudah tua dan renta.

Sejak ayahnya meninggal tahun 2006, Ding menjadi sangat dekat dengan ibunya. Bahkan, setelah ibunya mengalami sakit patah tulang, dia merawat ibunya dengan baik. Ding sewaktu masih dalam kandungan pun kisahnya sungguh menyayat hati, karena waktu itu ibunya hampir pernah dibuang ke laut gara-gara identitas sang ibu dan almarhum ayahnya yang beda kewarganegaraan, identitasnya dianggap tak jelas dan lengkap. Namun kisah pahit masa lalu keluarganya tidak menjadikannya berputus asa hanya meratapi nasib.

Bak pepatah “nasib orang siapa yang tahu”, dan benar saja, usaha, kesabaran, ketekunan, keuletan dan kerja keras perjuangan hidupnya memang tidaklah sia-sia. Hingga akhirnya dia menjadi orang sukses. Demikian pun, jabatannya tidak mengurangi arti bakti dan kasih sayangnya kepada bunda tercinta. Tidak menjadi alasan baginya untuk tidak berbakti kepada bundanya. Oh, kisah yang mengharukan. Oh, anak muda yang berbakti pada orangtuanya. Demikian kisah mengharukan yang pernah kita baca di salah satu media yang ada.

Sungguh beruntung ibu ini, memiliki seorang anak muda yang membahagiakan. Apalagi ini seorang anak laki-laki. Memang pantas dia hidup. Memang pantas dia mendapat panjang umur untuk hidup. Tidak pantas dia dikutuk untuk cepat-cepat mengakhiri hidup. Karena hidupnya memang benar-benar hidup. Memberi hidup! Anak muda yang luar biasa. Jarang-jarang terjadi, apalagi di jaman kita kini. Yang terjadi justru sebaliknya. Banyak kisah orang tua sakit hati. Anak mereka memang hidup, tapi layaknya orang mati. Ada juga yang mati-matian diberi hidup, tapi malah sukanya cari mati.

Merenung kisah haru Ding Zu Ji bersama bundanya, jadi teringat kisah tentang anak muda dalam kisah nyata seperti yang tercatat dalam Alkitab, terdapat pada Injil Lukas 7:11-17 seperti dalam nas ini. Kisah anak muda laki-laki, anak seorang jada di kota Nain. Itu anak satu-satunya. Anaknya masih muda. Anak kebanggaan, pusat harapannya. Anak yang mengabdi, hidupnya penuh arti. Benar-benar hidup dan memberi hidup. Hanya sayang, umurnya tak panjang. Oh, bagai langit runtuh, ibu ini sangat berduka. Anaknya tiba-tiba mati. Namun apa dikata, manusia tak punya kuasa ketika mati menjemput datang.

Namun kisahnya tidak terhenti hanya sampai di situ. Karena Alkitab mencatat peristiwa, di pintu gerbang kota Nain peristiwa ini terjadi. Peristiwa seindah nama kota Nain yang dalam bahasa Arab berarti “mempesona”, dimana duka diubah menjadi sukacita. Salah satu dari tiga peristiwa manusia pernah dibangkitkan, yang pernah terjadi di sepanjang sejarah manusia di muka bumi. Dilakukan oleh Yesus sebagai pembuktian bahwa Dialah satu-satunya Allah yang berkuasa atas maut dan kematian. Mempertegas bahwa sengat maut telah dipatahkan. Oleh-Nya nasib manusia tidak lagi hanya terhenti di pinggir kuburan!

Yesus pun menjamah anak muda ini dan berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” (Ay.14). Padahal menjamah mayat bagi orang Yahudi najis hukumnya! Tapi Yesus tak perduli. Kasih-Nya malah melampaui lebih dari hanya sekedar soal kenajisan. Yesus malah memegang tangannya sebagai tanda betapa Allah mau dekat kepada manusia yang dianggap najis dan hina. Bahkan, manusia yang paling berdosa sekalipun dirangkul oleh kasih-Nya yang agung dan menghidupkan.

Anak muda itu bangun, lalu duduk, dan mulai berkata-kata, sebagai dimulainya tanda-tanda kehidupan. Yesus menyerahkan dia kepada ibunya yang sungguh mengharapkanya. Dia begitu berharga bagi ibunya. Yesus memberi kesempatan bagi anak muda ini untuk hidup. Dia dihidupkan tidaklah dimaksudkan sekedar asal hidup, tetapi supaya dapat memberi hidup. Karena itulah Yesus sekali lagi memberikan kesempatan baginya untuk hidup. Supaya berkarya dalam hidup dan menghargai hidup. Bukan asal hidup. Apalagi bila malah merusak hidup.

Tuhan telah menganugerahkan kepada kita masing-masing kesempatan untuk hidup. Entah apa yang kita lakukan untuk menghargai hidup? Selama kita hidup mestinya ada hal penting yang harus kita lakukan. Sebelum kematian menjemput datang, berbuatlah sesuatu yang berharga bagi orang tua, keluarga, gereja, lingkungan masyarakat, atau alam lingkungan, sekiranya Tuhan pun senang. Karena ketika kematian menjemput datang, tak ada satu pun yang tersisa lagi yang dapat kita banggakan.

Hidup ini bukan sekedar untuk dibanggakan. Jangan bangga dengan tempat tidur yang empuk nyaman, karena tempat tidur kita yg terakhir adalah kuburan. Jangan bangga dengan mobil mewah menawan, karena mobil terakhir kita adalah ambulance. Jangan bangga dengan rumah mewah, karena rumah terakhir kita hanyalah setumpukan tanah. Jangan bangga dengan titel, gelar, atau jabatan megah, karena titel kita yg terakhir adalah almarhum/almarhumah.

Hidup yang Tuhan anugerahkan ini sangat berarti. Karenanya harus dijalani dan diisi dengan sebaik-baiknya. Sebagai orang beriman paling tidak ada lima perkara yang harus diwaspadai sebelum masuk liang kubur. Doa jangan sampai kendor. Ibadah jangan sering libur. Berbagilah dengan sesama bila makmur. Pelihara sifat hidup jujur. Pingin kaya jangan harus jadi koruptor!

Sadarlah, hidup itu ada batasnya. Pasti ada saatnya finish! Kita tidak tahu kapan waktunya kematian tiba. Jangan tertipu dengan usia muda, karena syarat mati tidak harus tua. Jangan terpedaya dengan tubuh dan badan yang sehat, karena syarat mati tidak mesti sakit. Teruslah berbuat baik, menjalani hidup dengan baik, walaupun tidak banyak orang yang memahami atau menerima apa yang kita beri dan lakukan dari hidup ini. Perbaiki sekiranya apa yang salah. Jadi orang jangan takabur karena sejatinya kita hanyalah seonggokan tanah. Miliki semangat hidup, teruslah berjuang, teruslah melangkah, pantang mundur sebelum masuk liang kubur. Amin!

Kamis, 15 November 2018

PERINGATAN YESUS TENTANG AKHIR ZAMAN


Markus 13:1-8

Wuuiiiiih…..anggun, elegan, mempesona. Bagai mawar bumi berpadu keharuman langit! Demikian kira-kira bila kita mau menggambarkannya. Bagi orang Yahudi, "Bait Allah" tidak sekedar tempat beribadah namun dianggap sebagai tempat kehadiran Allah. Sekaligus simbol kebanggaan, sebuah prestise. Sungguh menakjubkan bangunan yang satu ini. Kokoh, berpadu artistik anggun menawan. Mata siapa tidak akan terpana bila sedang memandangnya? Kuning emas semakin kentara di beberapa sisinya yang ada, begitu sinar mentari numpang lewat melintasinya.

Suatu ketika, Yesus dan murid-murid-Nya keluar dari tempat itu, seorang murid berkata kepada-Nya: “Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu.” Tapi apa jawab Yesus? Sungguh tak diduga. Tak banyak bunga kata seperti yang biasa dilakukan kebanyakan orang pada setiap kata sambutan. Tak banyak neko-neko, Yesus pun langsung menjawab: “Kau lihat gedung-gedung yang hebat ini? Tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.” (Ay.1-2).

Bait Allah, sungguh, tempat yang sangat sakral. Dua loh batu, tabut perjanjian itu ada di ruang Maha Kudus. Tempat Allah berdiam. Tak boleh sembarangan orang memasukinya. Hanya persoalannya, di Bait Allah, Dia memang dipuji, namun cara hidup mereka tetap tak berobah. Kesombongan rohani menjadi-jadi. Yesus menubuatkan keruntuhan Bait Allah, dan itu sungguh-sungguh terjadi sebagai bentuk kemurkaan Allah!

1. Ibadah palsu (Ay.5).

Siapa yang tidak bangga jika memiliki gedung gereja yang megah? Itu syah-syah saja. Paling tidak itu menunjukkan salah satu buah dari persekutuan nyata dan kesaksian bisu bagi dunia. Hanya masalahnya, apakah cara hidup beragama kita sudah selaras dengan perobahan sikap hidup yang berkenan kepada Allah dan memang layak disebut “Gereja”? Apakah hati kita memang pantas sebagai penyandang predikat “hati gereja”. Atau sekedar ibadah di gedung yang disebut gereja tapi cara hidup dan berhati draculla? Bait Allah diruntuhkan rata dengan tanah sebagai tanda peringatan kemurkaan Allah atas cara beragama munafik, yang hanya berkiblat pada gedungnya, tetapi tidak pada perobahan dalam sikap hidup.

Hidup kekristenan kita terkadang tidak ubahnya seperti cara pandang orang Yahudi soal gedung ibadah, Hanya berkiblat bangga ke gedungnya. Hingga lupa untuk apa sebenarnya ia ada dan ditempatkan di dalam dunia! Soal cara beribadah seremonialnya yang dibangga-banggakan, seolah menjadi toluk ukur bernar-tidaknya menjadi orang Kristen. Hanya sibuk dan bernikmat-nikmat berpuji Tuhan di balik tembok gereja.

2. Manipulasi nama Kristus (Ay.6).

Dalam peringatannya, Yesus semakin mempertegas, mengingatkan secara serius: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Akan datang banyak orang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” Semakin rumit di otak para murid. Terlebih mengingat cara berpikir, cara melihat yang tentu saja sebatas mata mampu melihat!

Apa yang Yesus nubuatkan sungguh semakin kentara. Telah terjadi banyak manipulasi. Nama Yesus dikomersilkan untuk cari keuntungan manusiawi. Reklame-reklame maraknya ibadah seremonial terpampang di berbagai sudut jalan. Ajaran yang aneh-aneh bermunculan laksana jebakan tikus sekedar usaha memperbanyak anggotanya dengan cara yang tidak terpuji. Tema kesuksesan menjadi sentral atasi kehidupan yang sulit.

3. Kekacauan dan bencana (Ay.7-8).

Akan terjadi kekacauan dan bencana. Semua ingin jadi penguasa. Peperangan terjadi dimana-mana. Bangsa yang satu akan menguasai yang lain. Hidup menjadi sungguh tidak aman dan nyaman. Bencana alam bahkan kelaparan terjadi. Dalam situasi demikian orang lalu mencari jalan aman, jalan pintas sebagai jawaban. Ada yang rela menjual imannya demi kedudukan. Bahkan ada yang jadi penjilat, kambing politik demi cari aman. Kejahatan apa pun akan dilakukan, demi menyelamatkan diri dan rasa aman palsu.

Menjadi umat Tuhan yang mapan di tengah berbagai pergumulan, yang pertama-tama dibangun adalah "Moment Spiritual". Pemahaman kita tengan "Gereja" harus sungguh jelas. Dengan demikian ia akan menjadi umat Tuhan yang eksis, benar-benar menjadi "garam" dan "terang dunia". Gedung gerejanya boleh runtuh, namun pengharapan, iman, dan kasihnya tetap eksis dijalankan sesuai dengan makna keterpanggilannya. Jika tidak, jadilah ia semacam barang antik tak berguna. Amin!

Sabtu, 10 November 2018

JANGAN JADI PENYESAT





Markus 9:42-50


Kenapa Yesus berbicara soal penyesatan kepada para murid? Kenapa soal anak kecil koq dibawa-bawa? Apa istimewanya? Bahkan Yesus sangat keras menyoal penyesatan jika hal itu terjadi terhadap para anak kecil yang percaya. Ucapan Yesus pasti ada dasar dan alasannnya. Yang pasti, tentu karena ada penyesat dan banyak orang dirinya tersesat. Jika tidak, mana mungkin Yesus bicara sangat keras soal penyesatan yang terjadi.

Bila kita menyimak konteks nas sebelumnya, maka semakin jelas duduk perkara soal penyesatan seperti Yesus maksudkan. Dua peristiwa dekat sebelum Yesus memperingatkan soal penyesatan kepada para murid. Pertama-tama, para murid mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka (Ay.33-37). Lalu peristiwa berikutnya, manakala para murid mau melarang karena ada seorang yang bukan murid Yesus (bukan golongan mereka) mengusir setan demi nama Yesus (Ay.36-41).

Rupanya para murid masih diliputi pemikiran kedagingan untuk menjadi yang terpenting, selamat sendiri, senang sendiri, merasa sebagai yang paling istimewa, paling berhak tentang kerajaan Sorga, dan dengan berbagai cara untuk menggapainya. Sedangkan yang lain (yang bukan golongan kita), tidak berhak, tidak penting (apalagi anak-anak) atau orang kecil dianggap tidak level, tak perlu dijatahkan. Prioritas paling belakangan. Sekedar jadi objek. Atau seperti dalam istilah: “Senang bila melihat orang susah, dan susah bila melihat orang senang”.

“Penyesatan” berakar di ranah hitam pemikiran, niat, kehendak yang dikendalikan oleh illah roh jaman keinginan daging untuk mencari keuntungan diri sendiri. Menghalang-halangi orang lain, menjadi batu sandungan, membuat orang lain tersakiti, terperangkap, tidak bisa bergerak maju. Hingga akhirnya orang lain terjatuh, tersesat. Malah menyimpang dari ajaran Tuhan. Tepat sekali untuk menggambarkan apa yang Yesus maksudkan, seperti dalam bahasa aslinya “skandalon” (Ibrani) yang berarti "jerat”, “perangkap" atau "batu sandungan".

Kenapa Yesus sangat keras memperingatkan tentang penyesatan terhadap seorang anak? Karena merekalah para generasi penerus yang akan menggantikan generasi pendahulunya. Cara hidup, persekutuan, pola bergereja, keadaan masyarakat akan ditentukan oleh apa yang ditanamkan kepada mereka sejak kecil. Mentalitas, moralitas, spiritualitas sejak kecil menjadi darah daging mereka, dan sulit untuk dirobah manakala mereka telah menjadi dewasa atau menjadi orang tua. Akan berdampak ketika mereka jadi para penatua & Diakon, atau jadi pemimpin masyarakat. Bisa menbawa kemajuan berkat atau malah jadi penghambat kemajuan.

Dapat dibayangkan apa yang terjadi bila sejak kecil diajarkan sesuatu yang salah. Akan sangat kuat berpengaruh pada jiwanya dan sulit untuk dirobah. Bila sejak kecil sudah diajar sesuatu yang salah, Tuhan itu seolah teman sepermainan mereka. Dengan enteng saja mengatakan “Selamat pagi Bapa, selamat pagi Yesus, selamat pagi Roh Kudus”!

Dapat dibayangkan bila sejak kecil mereka sudah terbiasa belajar lebih banyak waktu ke mall, belanja apa saja sesuka-suka, berapa pun habisnya, tapi tidak untuk gereja, atau persembahan dari yang sisa-sisa, sesuka-suka, sambil terngiang di otaknya ajaran salah kaprah “biar memberi sedikit, yang penting hatinya banyak”. Atau pengajaran penyesatan yang salah ditafsirkan: “bila tangan kananmu memberi, jangan sampai diketahui tangan kirimu”, untuk menutupi pemberiannya yang sedikit, malu entar keliatan yang duduk di dampingnya. Mentalitas korup sudah tertanam sejak kecil. Sungguh berbahaya!

Kenapa terjadi penyesatan? Yang jelas, karena waktu kecil tidak mendapat pembinaan mental, moral, spiritual yang memadai dalam keluarga. Tidak tahu (buta akan kebenaran Firman Allah). Keinginan daging lebih dominan dalam kehidupan. Juga sikap skeptis (kekuatiran berlebihan) tentang hidup. Masalah hidup selalu dicarikan jalan keluar yang serba mujizat cepat, doa serba terjawab cepat saji. Menginginkan yang serba instan, jalan pintas untuk mendapatkan apa yang diharapkan (Bdk. Yud.1:20-22).

Kenapa orang bisa tersesat? Karena tidak memiliki rasa takut akan Tuhan. Dibakar oleh api dosa. Dosa dianggap hal yang sepele saja. Uang kolekte bisa-bisa disunat juga kayak copet, karena Tuhan-kan "maha pengampun"? Juga tidak heran bila orang rela jadi gembong narkoba karena sulitnya lapangan kerja. Para generasi muda jadi sasaran. Jaringannya kayak ranjau di mana-mana. Jangan coba-coba, tidak cukup dikhotbahkan hingga berliuran dari atas mimbar saja.

Menghadapi penyesatan tidak cukup oleh satu dua orang saja. Tidak cukup dibebankan lewat khotbah para ulama semata. Karena yang di luar sana tertawa-tawa kayak Ninja misterius entah siapa, dari mana dan akan ke mana. Karena (seperti yang diberitakan oleh berbagai media), eh ada juga ulama jadi gembong narkoba! Masalah mentalitas, moralitas, spiritualitas ditambah pengaruh lingkungan, serta pendidikan seharusnya sebuah rangkaian yang mestinya menjadi satu kesatuan untuk menuntaskan. Dapat dibayangkan bila itu tidak jalan. Hanya menyalahkan para orang tua yang sibuk kerja mencari sesuap makan.

Menarik untuk disimak pendapat Seto Mulyadi (seorang Psikolog anak) tentang apa yang terjadi berkaitan dengan dunia pendidikan anak-anak kita: “Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.” Hanya dipicu supaya otaknya cerdas, tapi miskin mentalitas dan spiritualitas? Apalagi bila ditunggangi intrik-intrik busuk politik membangun dinasti kekuatan. Dapat dibayang kan di dunia kita apa yang terjadi?

Oh, penyesatan…. Menjelang akhir jaman, semakin kentara penyesatan. Terjadi di mana-mana. Kapan saja. Oleh siapa saja. Salah siapa? Kenapa? Kita tak perlu cari kambing hitam. Kita semua harus berbenah diri. Bukan sekedar hanya menyalahkan para orang tua, ulama, gereja, dunia pendidikan, atau para penguasa. Tapi kita semua. Kita semua perlu bebenah diri. Mulai dari mana? Mulai dari di sendiri! Kita sendiri jangan tersesat. Sebab bila tersesat, bagaimana dapat menuntun orang lain ke jalan yang benar? Bila kita sendiri tidak memiliki dasar iman dan kokoh, gereja sini, gereja sana, ikut sini, kadang-kadang ikut sana. Tuhan sini Tuhan sana, apa yang dapat diharapkan?

Lalu apa yang harus dilakukan? Jangan anggap enteng dosa. Jangan coba-coba. Atau hukuman Tuhan dianggap sepi saja. Cermati secara dalam apa kata Yesus: “Dan jika tangamu menyesatkan engkau, penggallah…..Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah….. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah…..” (Ay.43-47). Tentu saja Yesus tidak berbicara secara harapafiah. Tetapi memperingatkan dengan keras supaya sungguh-sungguh serius untuk menjaga tangan, kaki, dan mata yang sekiranya menjadi batu sandungan bagi orang lain, atau malah menyesatkan diri sendiri.

Penyesatan memang selalu ada, tak mesti kita harus jadi korban penyesatan bila kita memang tegas tak ingin tersesat! Walau terlindung camera CCTV dan ada kesempatan untuk curi uang orang, bila kita memiliki kepribadian yang mapan, tak bakalan jadi batu sandungan, atau kaki melangkah menuju penyesatan. Bila sudah terbina, terlatih sejak kecil memberi persembahan yang terbaik dan terbanyak, tidak ada yang menjadi persoalan dalam kehidupan beriman. Ibarat garam murni yang asin, tak bakalan jadi hambar oleh perobahan situasi dan kondisi.

Masalahnya, bagaimana kita akan mewariskan nilai-nilai kejujuran, jiwa pemurah bila sejak kecil kita sendiri hidup di lingkungan orang tua yang pelit, sebelum berangkat ke gereja selalu diajar disuruh ke warung menukarkan uang besar dengan recehan untuk dimasukan ke kantong-kantong persembahan? Setiap Om atau Tante yang bertamu ke rumah datang dari kota, selalu dibisikan ke telinga sang anak, “Nak…nah…coba minta duit sama Om/Tante, mereka banyak duit!”.

Lalu ketika jadi orang sekali pun, tak pernah memiliki jiwa pemurah dan memberi, yang ada di otaknya adalah tukang meminta. Minta pelayanan, minta dinomorsatukan, minta diprioritaskan, minta diutamakan. Tapi tak pernah memberi apa yang terbaik dari dompetnya. Buah yang jatuh tak pernah jauh dari pohonnya.

Persoalannya, apakah kita selalu mempunyai “garam” yang murni dalam diri kita? Jujur, pemurah, perduli, sikap menghargai, tidak cari masalah dengan orang laiin sudah diwariskan dari sononya? Garam yang murni pasti selalu berasa, selalu ada asinnya. Pasti mencegah pembusukan, bahkan setiap masakah selalu nikmat di mana saja. Kecuali kalau garam itu (hambar), apa yang dapat diteladankan, dicontohkan dan dikatakan kepada para anak kecil, remaja, para pewaris nilai-nilai luhur kita untuk masa yang akan datang? Amin!

Selamat hari Anak, Remaja & Kesejahteraan keluarga GKE.


Senin, 05 November 2018

DOA BAGI PUTERA-PUTERIKU

Markus 9:42-50

Yesus sangat perduli dan mengasihi anak-anak. Perduli terhadap pertumbuhan mereka, terlebih imannya. Tentu saja, karena mereka adalah generasi penerus yang akan menggantikan geresasi sebelumnya. Menjadi generasi seperti apa yang diharapkan di masa datang, tentu tidak terlepas dari pembinaan yang diberikan kepada mereka. Karenanya Yesus bersikap sangat keras bahkan terkesan ekstrim. Bagi siapa saja yang menyesatkan seorang anak kecil, dikatakan lebih baik baginya diikatkan batu kilangan dilehernya dan dibuang ke laut!

Mendidik dan membina para anak di era sekarang ini, tidak sesederhana yang dibayangkan. Atau semudah apa yang kita katakan. Tentu saja, karena mereka bukan benda mati, yang serba menurut begitu saja segala apa yang dikatakan atau apa yang diteladankan. Ada yang menggambarkan, bahwa setiap seorang anak keluar dari rumah, ia akan berhadapan dengan sembilan kekuatan “tuhan” lainnya di luar sana, sangat berpengaruh yang harus dihadapi. Baik pandangan tentang Tuhan yang berbeda, godaan, dan aneka kejahatan lainnya yang setiap saat mengintai untuk menggerogoti atau merusak jiwa kepolosan mereka.

Masalahnya semakin kompleks saja, terlebih bila mengingat bahwa masalah kemiskinan, lingkungan, dunia pendidikan, teknologi juga berpengaruh besar terhadap kepribadian dan masa depan mereka. Menarik untuk disimak pendapat Seto Mulyadi (seorang Psikolog anak) tentang apa yang terjadi berkaitan dengan dunia pendidikan anak-anak: “Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Tidak mudah memang bagi setiap orang tua yang sambil berjuang mencari sesuap nasi untuk terus mengawasi anaknya sepanjang waktu. Di era sekarang, teknologi ikut pula mempengaruhi meningkatnya jumlah korban kejahatan seksual yang menimpa anak-anak kita. Para predator anak, terus-menerus mencari akal untuk menjebak dan mengincar anak-anak kita. Nalar mereka sudah mati, sehingga hukum pun seperti tak mampu untuk mencegah mereka.

Mencermati liputan BBC Indonesia (2/1/2018) menurunkan kabar bahwa di 10 destinasi pariwisata Indonesia ditemukan kasus kejahatan seksual anak. Salah satu penyebabnya adalah banyak anak di bawah umur yang dipekerjakan di tempat pariwisata. Orang tua lebih memandang keuntungan ekonomis ketimbang memikirkan pariwisata yang lebih ramah anak. Karena itulah, tanggungjawab kita bersama untuk mencegah, dan melindungi masa depan anak-anak kita.

Menghadapi dampak globalisasi yang luar biasa masuk dan ada di depan mata kita. Tidak mungkin oleh sepihak saja, tetapi oleh semua pihak. Namun tentu saja, apa pun alasannya, orang tua bersama-sama dengan gereja adalah orang yang paling bertanggungjawab untuk mencegah, dan melindungi masa depan anak-anak kita. Kita memang tidak mungkin membendung dampak globalisasi yang luar biasa masuk dan ada di depan mata kita, tetapi yang dapat kita buat adalah menanamkan nilai-nilai luhur, sehingga menjadi manusia yang berkarakter. Tidak memanjakan, tidak dididik menjadi manusia cengeng, tetapi peka, tegar, kerja keras namun tetap rendah hati. Kurang lebihnya, persis seperti yang tergambar dalam sebuah puisi, sang legendaris, sang Jenderal Douglas Mac Arthur “Doa untuk Puteraku”:

Tuhanku…
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang sabar dan tabah dalam kekalahan.
Tetap jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku…
Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai
dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.
Putera yang berhasrat
untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya…
Berikan dia cukup rasa humor
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku…
Berilah ia kerendahan hati…
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

Untuk dapat menjadi teladan yang baik bagi para anak, tentu saja dituntut kemurnian hidup yang mengandalkan Yesus. Hidup yang murni dalam kasih, kesetiaan, kejujuran, serta ketaatan yang nampak dalam hidup keseharian. Laksana garam yang tak hilang keasinannya. Sebagai orang tua, tentu berbangga bila anak-nya berhasil. Demikian pun para anak tentu bangga memiliki para orang tua yang telah mewariskan harta tak ternilai bagi mereka hingga saatnya mereka menjadi orang yang berhasil. Amin!

Selamat Hari Anak, Remaja & Kesejahteraan Keluartga GKE