Renungan GKE

Kamis, 06 Agustus 2015

“SADAR DIRI” ITU PENTING!





Mazmur 8:1-10

Adalah lagu yang berjudul Who Am I? (Siapakah Saya?) karangan Mark Hall dari kelompok musik Casting Crowns. Lagu ini dimulai dengan kalimat demikian: "Siapakah diri saya, sehingga Tuhan segala bumi ingin mengetahui nama saya, ingin merasakan luka yang saya alami?" Mengapa kita menjadi objek kasih, perhatian, dan pemikiran Allah? Dalam lagunya, Hall menjawab pertanyaan itu dengan: "Bukan karena siapa saya, namun karena apa yang telah Engkau lakukan; bukan karena apa yang telah saya lakukan, namun karena siapa Engkau." Saudara, lantunan syair lagu Mark Hall tersebut dapat menjadi perenungan yang mendalam tentang hidup kita. Ya, sebuah perenungan supaya kita sadar diri !

Kesadaran akan diri sendiri itu amat penting. Terlebih ketika kita hidup di tengah-tengah komunitas manusia lainnya. Baik dalam persekutuan sebagai umat Tuhan, atau sebagai bagian dari masyarakat. Sejatinya semua manusia itu pada dasarnya sama. Ya, sama-sama memiliki kelebihan, juga sama-sama memiliki kekurangan. Di hadapan Allah kita sama-sama memiliki cacat, meiliki dosa yang tentu Allah sangat mengetahuinya. Walau mungkin orang lain tidak mengetahuinya. Kesadaran seperti ini penting, supaya kita tidak menganggap bahwa kita selalu lebih dari yang lain. Mungkin saja kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Tapi sadarilah, kita tidak boleh meremehkan orang lain. Karena siapa tahu, dia juga memiliki kelebihan lain yang justru tidak kita miliki! 

Melihat keburukan orang lain belum tentu membuat kita lebih baik darinya. Dan bisa jadi, itu pertanda sikap iri hati terselubung atas kelebihan orang lain. Paling mudah memang melihat kekurangan orang lain. Kurang ini, kurang itu. Mestinya begini, mestinya begitu. Seharusnya begini seharusnya begitu, dst. Tetapi bagaimana ketika kita sendiri sebagai pelakunya? Apakah jauh lebih baik darinya? Ya, sadar diri itu kata kuncinya.  Sebagai umat Tuhan, tidak pada tempatnya bila kita hanya melihat cacat  kecil pada orang lain dan membesar-besarkannya, padahal pada waktu bersamaan kita lupa bahwa ternyata di hadapan Tuhan justru cacat kita jauh lebih besar.  

Bila kita sadar diri akan kekurangan-kekurangan yang ada pada diri sendiri. Bila kita terlalu sibuk mengurus atau memperhatikan kekurangan orang lain, jangan-jangan diri kita sendiri akhirnya jadi tidak terurus. Nas ini mengajak kita untuk sadar diri. Allah  menghargai kita secara pribadi seolah-olah kita adalah satu-satunya obyek perhatianNya. Allah menerima kita dengan apa adanya, bukan karena kelebihan kita, tetapi karena anugerahNya. Sungguh menakjubkan, seperti kata Paulus dalam kesaksiannya, Kristus "mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Gal. 2:20). Karenanya sebagai orang beriman “sadar diri” itu penting. Dengan demikian kita bisa menerima orang lain dengan apa adanya, seperti Tuhan juga menerima kita apa adanya. Amin!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar