Renungan GKE

Senin, 23 Oktober 2017

KETIKA KANTONG PERSEMBAHAN PERSIS DI DEPAN ANDA!





II Korintus 9:6-15

Ketika kantong persembahan persis di depan Anda, apa yang Anda lakukan…? Entahlah, hanya Anda yang bisa menjawabnya! Karena hati orang siapa yang tahu. Entah biasa-biasa saja. Entah luar biasa. Entah tulus atau tidak. Entah polos atau ada apa-apanya. Entah si merah, si biru atau si recehan yang ikut serta. Persisnya, hanya Anda dan Tuhan saja yang tahu setiap keterlibatan kita dalam persembahan-persembahan dimana kita berperan ambil bagian!

Ketika kantong persembahan persis di depan Anda! Kenapa terasa sulit dan berat? Nah… nah… nah… Ini barangkali sudah dari sononya. Sudah terbiasa. Hanya bisanya menambah dan mengali, tetapi tak bisa mengurang dan membagi! Manusia pada umumnya memang rata-rata hafal betul yang namanya arti untung dan rugi! Ketika kantong persembahan persis di depan Anda, apa yang diikutsertakan? Hanya kita masing-masing yang tahu jawabnya! Berikut sebuah ilustrasi. Sebuah ilustrasi tentang sikap si pemberi dalam persembahan. Tentang si merah dan si hijau yang ikut serta dalam kantong persembahan!

Si merah dan si hijau pun ngobrol: Si merah Rp 100,000 bertanya kepada si hijau Rp 1,000 ; "Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan berbau amis?" Si hijau Rp 1,000 menjawab; "Karena begitu aku keluar dari Bank, terus dibawa si Nyonya ke pasar sayur, untuk sayur, ikan, urusan dapur Juga aku diberikannya kepada tukang parkir dan dan kepada para pengemis." Lalu si hijau Rp 1,000 bertanya balik kepada si merah Rp.100,000; "Kenapa kau begitu baru, rapi dan masih bersih?" Si merah Rp 100,000 dengan bangga menjawab; "Karena begitu aku keluar dari bank, terus dibawa sang majikan dan disambut perempuan cantik, dan beredarnya pun di restoran mahal, di kompleks pasar raya mall bergengsi dan juga hotel berbintang. Keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet."

Lalu si hijau Rp 1,000 bertanya lagi; "Pernahkah engkau berada di tempat ibadah?" Si merah Rp 100,000 menjawab; "Belum pernah". Si hijau Rp.1,000 pun berkata lagi; "Ketahuilah walaupun aku hanya Rp 1,000 tetapi aku selalu dibawa sang majikan dan nyonya ke ibadah. Aku juga dibawa ke tempat duka. Juga ada di tangan anak-anak yatim piatu dan fakir miskin bahkan aku bersyukur kepada Tuhan semesta alam, karena aku sering masuk ke kantong-kantong persembahan. Tentu akulah calon penghuni kerajaan Sorga! Lantas menangislah si merah Rp 100,000 karena merasa besar, hebat, tinggi tetapi tidak begitu bermanfaat selama ini. Saudara, berbicara soal persembahan memang tidak sederhana. Itu soal yang peka. Apalagi ini menyangkut soal uang segala.

Berbicara soal sikap orang terhadap persembahan, ada yang menggambarkannya, layaknya tiga model seperti berikut ini: si batu api, si spon dan si sarang lebah. SI BATU API: Untuk mendapatkan si batu api, saudara harus menghantam dia. Walau sudah dihantam, biasanya saudara hanya mendapat sedikit serpihan dan percikan bunga api. Pelit untuk memberi. Kalau pun mau memberi itu selalu dengan pertunjukan besar-besaran. Pemberi macam ini akan selalu menuntut agar namanya harus diumumkan dan berharap semua orang tahu. SI SPON: Untuk mendapatkan sesuatu dari si spon, saudara harus memerasnya lebih dulu, kalau perlu dengan aksi mengancam segala. Barulah si spon mau memberi. Artinya ia memberi karena terpaksa. Memberi bukan dari hati. SI SARANG LEBAH: Sarang lebah senang memberi, tanpa tekanan dan tanpa harus menunggu lebih dulu seseorang merengek-rengek kepadanya. Dia membiarkan madu yang dihasilkan terus mengalir agar orang yang sedang membutuhkannya bisa mendapatkannya. Uniknya, sarang lebah tidak akan pernah kehabisan. Ia akan selalu memberi, memberi dan selalu ada saja madu yang diberikannya, seolah tidak ada habisnya.

Ketika kantong persembahan tepat di depan Anda! Bagaimana sikap kita? Apakah kita pemberi macam bunga api yang selalu gembar-gembor ke sana ke mari untuk mengumumkan kedermawanan kita? Apakah kita pemberi macam spon yang menunggu ditekan dan dipaksa terlebih dahulu? Ataukah kita seperti sarang lebah yang memberi karena ketulusan? Entahlah…. hanya kita masing-masing yang tahu jawabnya!

Ketika kantong persembahan persis di depan Anda! Kenapa Anda tulus mempersembahkan persembahan Anda? Tentu saja, bila Anda sungguh menyadari dan mengakui bahwa Tuhan saja sumber segalanya. Tahu mensyukuri segala apa yang ada! Rasul Paulus memuji ketulusan pemberian jemaat di Makedonia (Psl.8:1-3), bukan karena mereka mampu dan berkelebihan. Tetapi justru dalam kekurangan, mereka bahkan mampu berbagi melebihi kemampuan mereka untuk membantu saudara-saudara mereka yang sedang berkekurangan di Jemaat Yerusalem! Demikian pun Rasul Paulus mengharapkan kepada Jemaat Korintus untuk meneladani hal yang sama (ay.5).

Ketika kantong persembahan persis di depan Anda! Apa perasaan Anda? Apakah Anda sebagai Anak-Anak Tuhan yang rindu menjadikan persembahanya menjadi persembahan yang diberkati danberkenan kepada Tuhan? Bila jawabnya adalah “YA”, maka ini yang harus Anda lakukan. Pertama: jangan mulai dari dompet Anda, tetapi mulailah dari hati Anda! Sebab bila Anda mulai dari dompet, maka Anda akan hitung-hitungan sama Tuhan. Kedua: Memberi persembahanan dari kelimpahan itu hal biasa, tetapi memberi persembahan dari kekurangan itu baru luar biasa! Ketiga: Sadarilah bahwa persembahan yang Anda berikan, bukan karena Tuhan membutuhkan pemberian Anda, tetapi ujian kualitas Iman Anda secara nyata! Apakah selama ini Anda sudah merasa sebagai orang beriman? Karena ukuran seorang beriman sejati tentu saja tidak sekedar dari apa yang ia dapatkan, tetapi juga dari apa yang dapat ia berikan. Amin!

SIAPA YANG BERTAHTA DI HATI ANDA?



2 Samuel 15:13-37

Alkisah (ini hanya kisah fiktif saja), bertemulah dua sosok setan mengadakan dialog. Yang satu kelihatan sangat gemuk, segar dan ceria. Sedangkan setan yang satunya lagi sangat kurus, sakit-sakitan, muram dan mirip seperti kata pepatah, hanya tinggal tulang. Apa masalah mereka? Apa yang mereka perbincangkan? Nah, ikuti dialog mereka seperti berikut ini. Setan yang gemuk membuka pembicaraan: “Koq kamu kelihatannya sangat kurus, sakit-sakitan, dan muram? Ada apa dengan mangsa anda?” (mangsa: maksudnya manusia yang mereka goda).

Dengan wajah sedih, setan yang kurus memberi jawaban: “Ya, itulah masalahnya. Habis mangsa saya itu sulit saya taklukkan. Bagai tembok beton, susah ditembus. Habis kalau saya goda bila ia makan, ia berdoa sebelum makan. Bila saya mau menyimpangkan jalannya, ia duluan berdoa ‘Tuhan, tuntunlah jalan hamba’. Bila saya goda tawarkan tempat foya-foya dan tempat remang-remang sehabis gajian, ia juga terlebih dahulu berdoa: ‘Tuhan, berkatilah uangku ini supaya dapat aku gunakan secara baik dan benar serta bersyukur’. Mau kerja berdoa, mau makan berdoa, merencanakan sesuatu berdoa. Aku tawarkan koran, ia malah baca Firman Tuhan. Aku tawarkan tempat menarik hiburan pada hari minggu, ia malah berangkat ke gereja.”

“Hahahaha......” setan yang gemuk tertawa ngakak setengah mengejek kawannya si setan yang kurus. “Kalau dengan mangsa saya beda” katanya. Terus ia menambahkan: “Kalo mangsa saya itu rapuh. Bagai rumah tampa pagar. Jadi mudah saya goda. Mau makan, nda berdoa, jadi saya yang gemuk makan. Bila jalan, saya belokkan jalannya ke tempat hiburan. Bila sehabis gajian, saya tawarkan tempat hiburan remang-remang, ia sangat suka. Bila bepergian perjalanan dinas, saya tawarkan perselingkuhan, ia semakin tak tau diri. Saya semakin bahagia. Jadi saya makin gemuk. Bangun tidur langsung baca koran, bukan Firman Tuhan. Apalagi hari minggu, saya tawarkan tempat rekreasi yang menggiurkan, ia langsung bagai kerbau ditarik moncongnya. Jadi saya makin gemuk. Pokoknya, di hatinya saya yang bertahta, sehingga saya mudah menguasainya”, ungkap setan yang gemuk. Setan yang kurus rupanya hanya tertunduk merenungkan nasibnya!

Saudar, sadarkah kita, bahwa sejak bangun tidur pagi, berpikir, dan beraktivitas sepanjang hari, hingga mau tidur di malam hari, ada dua kuasa yang siap akan bertahta di hati kita? Kuasa Allah dan kuasa setan tentu saja! Kuasa terang dan kuasa gelap istilahnya! Mana yang kita perkenankan bertahta di hati kita? Apakah kuasa Allah? Atau kuasa setan? Salah satu kuasa yang bertahta di hati kita, sangat menentukan karakter, cara berpikir dan cara bertindak kita! Menyinggung masalah sikap hati, melalui nas ini memperlihatkan kepada kita sikap orang-orang, seperti digambarkan berikut ini.

Nas ini diawali dengan pernyataan: “...Hati orang Israel telah condong kepada Absalom.” (ay.13). Hati orang Israel yang condong kepada Absalom tentu ada penyebabnya. Ya, apalagi kalau bukan hati mereka telah buta terhadap kebenaran. Hati mereka ditipu oleh kelicikan hati Absalom yang jahat. Lalu tentang Absalom sendiri? Dari beberapa keterangan ayat sebelumnya (misalnya psl. 15:1-7), jelas memperlihatkan niat jahat hatinya, dan apa-apa saja yang hendak dilakukannya. Segala pikiran dan niat jahat yang ada dalam hatinya tentu saja karena dikuasai oleh kuasa kegelapan yang menuntunnya. Firman Tuhan berkata: “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian.....“ (Gal. 5:17, 19-20).

Lalu bagaimana gambaran hati Daud dalam kasus cerita ini? Kenapa Daud mesti melarikan diri dari Absalom? Apakah Daud tidak sanggup melawan? Oh, saudara... kita tidak boleh meremehkan begitu saja akan kemampuan Daud. Terlebih panglimanya bernama Yoab adalah tangan kanannya, dan sudah banyak membuktikan kemenangan di dalam medan pertempuran! Tapi kenapa harus melarikan diri? Jawabnya tentu adalah ini. Daud tidak ingin terjadi pertumpahan darah. Daud tidak ingin menyaksikan darah dagingnya sendiri terbantai di medan pertempuran. Bagaimana pun juga Absalom adalah anak kandungnya sendiri. Sejahat-jahatnya Absalom, sebagai seorang ayah yang punya perasaan tentu Daud tidak tega membantai anaknya! Inilah gambaran hati Daud. Hati yang punya perasaan. Hati yang tidak tega! Oh..... Berbeda dalam pengalaman nyata kita, tidak jarang atas nama agama, orang tega membantai sesamanya!

Saudara, melalui nas ini juga memperlihatkan kepada kita sisi lain hati manusia. Hati yang setia. Coba kita baca certinya. Pada saat yang genting itu juga, manakala 600 orang, baik orang Kreta dan orang Pleti, rombongan raja Daud melarikan diri, terdapat seorang asing, orang Gad bernama Itai. Daud memperingatkannya supaya kembali ke tempat asalnya, namun Itai bersikeras tetap mengikuti rombongan Daud dengan setia. Bahkan Itai berikrar: “Tetapi Itai menjawab raja: Demi Tuhan yang hidup, dan demi hidup tuanku raja, di mana tuaku raja ada, baik hidup atau mati, di situ hambamu juga ada.” (ay.21). Oh luar biasa, ungkapan yang menempelak kita! Karena, benarkah selama ini, kita adalah hamba Tuhan yang setia? Benarkah selama ini kita adalah sahabat yang setia dalam suka dan duka? Atau hanya sahabat waktu suka, sementara dalam keadaan sulit kepepet, kita entah di mana....?!

Saudara, saya percaya, kita pasti menginginkan hidup kita sebagai orang percaya yang diberkati oleh Tuhan. Saya percaya bahwa kita menghendaki hidup ini baik adanya. Jika demikian jadikan Allah yang berkuasa dalam hati kita, menuntun cara berpikir kita, langkah dan tindakan kita. Karena itu, pagarilah hidup kita dengan doa. Jadikan Firman Tuhan sebagai landasannya. Serta ibadah sebagai lukisan keindahan jiwa! Jagalah hati kita, seperti dalam ungkapan Firman Tuhan: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Ams. 4:23). AMIN!

Rabu, 27 September 2017

JANGAN BERKECIL HATI WALAU DIREMEHKAN



II Korintus 10:1-11

Barangkali saudara punya pengalaman diremehkan orang lain. Diremehkan karena berbagai alasan. Bisa jadi karena dianggap tidak punya kemampuan untuk melakukan sesuatu. Kurang ini, kurang itu. Karena begini, karena begitu. Bisa jadi diremehkan justru sebenarnya karena dianggap saingan. Atau sikap balas dendam karena ada rasa ketersinggungan. Merasa kehilangan harga diri karena dikoreksi. Maka salah satu cara yang dianggap mudah dilakukan adalah balik membalas dengan cara mencari apa kekurangannya untuk dilecehkan. Saudara, itulah dunia nyata kita. Manusia lebih cenderung suka mencari kesalahan sesamanya yang dalam kesempatan tertentu dapat digunakan sebagai senjata untuk menjatuhkannya. 

Demikian pun yang dialami oleh Rasul Paulus. Dia diremehkan oleh kelompok-kelompok tertentu di Jemaat Korintus. Itu terjadi karena ulah para pengajar rohani abal-abal yang ada di Korintus. Cari muka dengan menampilkan kehebatan mereka. Baik dalam cara pelayanan, pendekatan mereka kepada warga jemaat, seolah terkesan mereka adalah para hamba yang rajin dan sungguh melayani. Khotbah mereka berapi-api, menyanjung-nyanjung jemaat, isinya hampir semua tentang Tuhan yang penuh berkat tercurah nikmat. Berbeda dengan Rasul Paulus yang lemah lembut bersahaja, lebih mengutamakan isi, lurus, penyadaran kepada umat tentang hukuman Tuhan, hari kiamat dan tentang bertobat!

Bila kita mengikuti secara lengkap dalam Alkitab, khususnya kitab II Korintus, kita dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang tuduhan kekurangan Rasul Paulus mereka ungkapkan. Rasul Paulu bagi mereka tidak ubahnya bak singa ompong yang hanya berani mengaum dari jauh, berkata-kata, menasihati dari jauh, tapi tidak berani bila berdekatan (ay. 1-2). Berapa hal seperti yang terungkap dalam nas ini ialah, bahwa menurut mereka Rasul Paulus itu hidup keduniawian, sombong, hanya tau menuntut (ay. 2-3, 8). 

Saudara, dalam hidup ini kisah pengalaman Rasul Paulus juga sebenarnya pengalaman manusia masa kini. Bisa jadi, itu yang saudara alami juga. Sudah melakukan yang benar, tetapi tetap dianggap salah juga. Apalagi bila yang dilakukan itu memang nyata-nyata suatu kesalahan. Oh, tak dapat terbayangkan apa yang terjadi! Ketika dalam keadaan terpuruk, tak ada satu pun yang perduli. 

Ketika kita mengalami penolakan yang mendalam dan begitu menyakitkan, tanpa sadar kita pun cenderung menolak orang lain. Namun demikian, pengalaman ditolak dapat kita olah menjadi sumber rahmat. Orang yang mampu mengolah pengalaman pahit ditolak, dapat menolong orang lain yang mengalami hal yang sama. Kita belajar dari Paulus, yang tidak menyimpan dendam meskipun ditolak. Melalui nas ini Rasul Paulus bagai Bapak yang sabar penuh kasih terhadap anak yang cerewet menjelaskan tentang keadaanya yang sebenarnya. Dia meminta jemaat Korintus untuk lebih berpikir secara dewasa untuk menilai dan mempertimbangkan segala sesuatunya. Tidak hanya memahami sekilas, tetapi secara tuntas (ay.9-11). 

Jika kita ingin mengalami damai dan kebenaran sejati dalam hidup ini, kita perlu belajar terus menerus untuk dibentuk oleh tangan Allah, membuka hati dan pikiran kita dengan Roh hikmat-Nya agar kita mampu mengenal Kuasa Illahi dalam diri orang-orang yang nampaknya sederhana. Karya dan Kuasa Allah sering terjadi melalui pribadi-pribadi yang sederhana.

Bisa jadi dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan dari kita meremehkan dan juga meragukan sesama kita terutama orang-orang yang sejak kecil kita kenal. Sering kita menganggap orang lain tidak bisa dan tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Dalam pergaulan hidup , berteman serta beroganisai kita juga terlalu mudah dan cepat menyalahkan bahkan menghakimi orang lain, menilai orang lain dan menjatuhkan nama baok orang lain. Apa yang tersembunyi di balik itu semua? Tidak lain adalah perasaan paling baik, paling benar, paling hebat, paling berjasa dan paling pandai...

Sadarilah bahwa Allah terkadang memberikan kuasaNya melalui orang-orang yang nampaknya sederhana untuk berbicara, melayani, melakukan perbuatan besar untuk mendatangkan damai sejahtera. Banyak orang disekitar kita yang nampaknya sederhana namun mempunyai kelebihan yang luarbiasa. Percaya dan berharaplah kepad aTuhan yang Maha pengasih dan penyayang dengan lebih sungguh. Jika apa yang saudara lakukan adalah sesuatu yang benar, maka tidak perlu berkecil hati bila ada orang yang mempersalahkan. Yakinilah bahwa Tuhan tidak pernah tutup mata di atas sana. Tuhan juga pasti memberkati Anda. Amin!

Senin, 25 September 2017

MEMBANGUN KEPERCAYAAN



(II Korintus 8:16-24)

Mencari orang yang benar-benar dapat dipercaya seperti dalam situasi kita saat ini memang amat sulit. Apalagi bila itu berhubungan dengan yang namanya keuangan. Bak pepatah “titip omong bisa lebih, titip uang bisa kurang.” Betapa tidak, sebab bukankah kenyataannya dalam hidup keseharian memperlihatkan kepada kita korupsi terjadi dimana-mana? Bukan saja dalam kehidupan sosial di masyarakat, tapi malah hal yang demikian terkadang dapat juga melanda kehidupan gereja. Katanya minta bantuan dana untuk penimbunan perluasan halaman parkir gereja. Setelah dana terkumpul bantuan dari para donator, dari warga jemaat sana sini? Eh malah dana yang ada raib tak jelas rimbanya. Bahkan warga jemaatnya sendiri rame-rame pinjam dana tak pernah dikembalikan.

Rasul Paulus punya niat yang tulus untuk membangun jemaat. Terutama untuk membantu Jemaat Yerusalem yang berkekurangan. Dia mempunyai semacam proyek besar dalam pengumpulan dana tersebut. Namun Paulus tak mau berspekulasi. Dia ingin bahwa pekerjaan ini dapat terlaksana dengan baik. Dia ingin supaya para jemaat donator yang membantu tidak kehilangan kepercayaan untuk maksud tersebut. Titus dan beberapa orang lain pun diutus ke Jemaat Korintus dan Jemaat sekitarnya untuk pengumpulan dana dimaksud.

Tentu saja Paulus sangat berhati-hati dalam hal ini. Paulus tidak ingin pekerjaan mulia ini menjadi cela (ay.20). Titus dan beberapa orang yang mendampinginya pun diutus. Untuk membangun kepercayaan jemaat yang akan membantu, dalam suratnya Rasul Paulus menjelaskan tentang beberapa hal. Pertama, bahwa mereka yang diutus adalah orang-orang yang telah teruji punya jiwa yang tulus mengabdi. Tidak mencari keuntungan (ay.17). Kedua, mereka adalah orang-orang yang berkepribadian baik, para pemberita injil yang sudah dikenal punya nama baik di jemaat (ay.18). Ketiga, mereka yang diutus memang orang yang punya jiwa sosial yang tinggi (ay.22a). Keempat, mereka yang diutus adalah orang-orangt yang memang dipercayakan secara penuh oleh seluruh jemaat yang mengutus (ay.19,23). Semua ini paulus ungkapkan tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka membangun kepercayaan kepada warga jemaat yang akan membantu.

Untuk pekerjaan yang mulia semacam apa yang Paulus laksanakan, niat baik saja tentu belum cukup. Membangun kepercayaan itu tentu amat perlu! Terkadang, bukan para donator atau jemaat yang berkemampuan tidak ingin membantu. Tapi masalahnya bila bantuan yang diberikan tidak dikelola dengan baik,tidak adanya transparansi, penggunaan dana yang tidak tepat sasaran, pertanggungjawaban yang tak jelas, tidak jarang para donator, warga jemaat yang berkerinduan untuk membantu akhirnya menjadi jera membantu, gara-gara bantuan mereka hilang percuma menjadi sia-sia.

Saudara, kita selaku gereja atau orang-orang percaya yang hidup ditengah-tengah dunia yang semakin sulit menemukan orang-orang yang dapat dipercayai, ada baiknya belajar dari cara kerja Paulus. Segala harta milik Gereja perlu ditata, didata, dipelihara dan dipertanggunjawabkan secara benar. Segala bentuk-bentuk usaha, apalagi yang menyangkut pencarian dana untuk rehab gedung gereja, membangunan fasilitas SHM, Pastory, tempat parker, taman gereja dan fasilitas lainnya mesti dikelola dengan baik.

Jadilah para pekerja (Baik pengelola, pengurus, atau panitia) Gereja yang sungguh-sunguh melayani untuk kemajuan bersama, tanpa mengambil kesempatan untuk keuntungan pribadi. Bagi yang dipercayakan melaksanakan tugas pencarian dana, jadilah orang yang dapat diandalkan, jujur dan bertanggungjawab. BHangunlah kepercayaan warga jemaat, niscaya semakin banyak berkat mengalir dan gereja pun pasti semakin baik dan diberkati. Amin!


Jumat, 08 April 2016

BILA "AMBISI" MENJELMA JADI "AMBISIUS"


II Samuel 18:19-33

“Absalom”... itu adalah nama sosok seorang muda yang luar biasa. Seorang muda yang sempurna. Maklum, ia anak keturunan raja. Bukan anak raja sembarangan, sebab Daud nama bapaknya! Absalom, wuuiii..... ! Bahkan Alkitab sendiri mengatakan bahwa di seluruh Israel tidak ada yang seperti dia. Ia begitu dipuji. Bayangkan saudara: “Dari telapak kakinya sampai ujung kepalanya tidak ada yang cacat padanya.” (psl. 14:25-26). Oh, luar biasa! Dan bukan hanya itu saudara. Bukan hanya kegantengannya, berbadan tegap, berwajah keras, tapi juga berwatak tegas! Karakter yang luar biasa!

Tidak hanya itu, karena ia juga memiliki semacam kemampuan mengambil simpatisan orang. Tentu saja karena sikap keramahan dan kebijaksanaannya. Sebab bila tidak, mana mungkin ia bisa mencuri hati banyak orang Israel menjadi pemuja dan pengikutnya! Mungkin Anda bertanya, apakah Absalom seorang ahli politik juga? Oh saudara, janganlah kita meragukan kemampuannya di bidang yang satu ini! Ia juga seorang yang pandai melihat peluang dan kesempatan, juga memanfaatkan keadaan. Ya, begitulah biasanyanya orang politik! Bayangkan saja bagaimana Absalom memperhatikan (dan sekaligus memanfaatkan) situasi yang ada. Memanfaatkan persoalan-persoalan sosial rakyat kecil. Ia mengambil kebijakan-kebijakan yang membantu dan menarik simpati mereka.

Absalom, oh seorang sosok yang luar biasa. Sosok yang sempurna, dari segala segi. Baik fisik ,sikap, dan kemampuannya. Bahkan kekuatan politiknya. Segala rencananya seolah tak ada rintangan untuk diraihnya. Musuh-musuhnya seolah berlutut di kakinya. Bayangkan, bagaimana ia berani membakar ladang Yoab, panglima perang rajanya. Bahkan Daud, sang raja (yang juga bapak kandungnya) sendiri pun lari terbirit-biri ke tempat pengungsian melarikan diri.

Absalom, oh... begitu sempurna. Begitu dikjaya! Ibarat perpaduan kegantengan Kenny G, keganasan Bronson atau Jamens Bon. Juga dilengkapi kebijaksanaan semacam dokter Gillespie dalam filem seri dokter Kildare! Karenanya tidak heran bila tive manusia sempurna semacam Absalom juga punya ambisi yang luar biasa. Tidak tanggung-tanggung. Ingin jadi penguasa. Ingin naik takhta. Ingin jadi raja. Salahkan? Salahkah bila manusia atau kita punya ambisi? Bukankah Presiden pertama kita Bung Karno pernah berujar: “Kejarlah cdita-citamu setinggi bintang di langit”?

Menyinggung masalah ambisi, saudara. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan yang namanya “ambisi”. Manusia yang tidak punya ambisi sebenarnya adalah manusia yang tidak tahu apa tujuan hidupnya, apa yang mau dicapainya. Ya, asal hidup! Ya pasrah apa adanya. Bisa jadi pasrah menyerah tak sanggup menjalani hidup, lalu ingin cepat-cepat masuk ke pintu kubur. Ambisi, bila hanya sebatas normal, ya baik saja. Yang juga sebenarnya kita perlukan dalam hidup menghadapi berbagai rintangan hingga akhirnya berkemenangan sampai ke cita-cita luhur yang diharapkan.

Ambisi, bisa juga menjadi bencana! Kenapa? Nah, inilah persoalannya! Dan memang, banyak manusia terjerat dalam lingkarannya! Juga bila tidak diwaspadai, keserakahan adalah saudara kembarnya! Akibatnya menghalalkan segala cara, melakukan apa saja untuk meraihnya. “Ambisi” lalu berobah menjadi “ambisius”. Ya embel-embel akhiran “us” di belakang ambisi, ini yang banyak menjatuhkan orang. Lihatlah Absalom dalam cerita nas ini. Bahkan ia begitu tega mau menggulingkan takhta raja, Daud, ayah kandungnya sendiri. Bukan dengan cara yang biasa. Tapi mau membantai semua, termasuk tega akan membunuh sang raja dalam pertempuran di medan perang! Awalnya memang terlihat hebat. Seolah tak ada kendala. Jalan secara luar biasa. Seolah Tuhan sekali pun tak ada.

Oh... manusia yang tidak jarang memiliki tive semacam Absalom! Wasdadalah! Jangan merasa punya kemampuan lalu seenaknya berbuat apa saja terhadap sesama manusia, alam lingkungan. Wahai para orang-orang muda yang sudah merasa mafan! Cantik atau tampan! Punya pendidikan yang brilian dan merasa hidupmu lebih dalam segalanya dari yang lain. Meremehkan manusia lain, orang tua sendiri mau dibinasakan bahkan Tuhan sekali pun disepelekan! Waspadadalah!

Belajarlah dari akhir riwayat Absalom yang mengenaskan. Ya, bukan kemenangan gemilang dalam peperangan. Tetapi kalah dan mati dengan cara yang mengenaskan sekaligus memalukan. Betapa tidak, sebab Alkitab mencatat bahwa bahwa kepalanya terangkut pada jalinan dahan-dahan pohon tarbantin yang besar akibat bagal yang ditungganginya tak dapat dikendalikan, dan tiga tikaman tombak Yoab tepat ke dada Absalom menamatkan riwayat seorang muda Absalom yang sombong dan serakah (ay. 9, 14). Lalu cara penguburannya?

Oh, cara penguburan seorang pembesar yang tidak seharusnya. Bukan dengan penghormatan kebesaran! Tapi itulah yang terjadi pada manusia serakah. Mayatnya hanya dilempar saja ke lobang yang besar di hutan (ay.17). Oh, orang muda yang sempurna, seharusnya masa depan orang tua, bangsa dan negara, tapi matinya sia-sia! Saudara, Itulah cara Tuhan memberikan semacam ganjaran kepada manusia-manusia ambisius semacam Absalom. Itu juga menyadarkan kita tentang cara Tuhan menghajar orang-orang yang durhaka kepada orang tua setive Absalom! (ingat perintah ke-5 dari hukum taurat).

Semoga nas ini menjadi pembelajaran buat kita semua! Bagaimana semestinya supaya hidup ini berharga dan mati tidak tersia-sia. Ya, seharunya demikianlah indahnya harapan kita menjalani hidup ini dan bila sampai saatnya akan kembali ke pangkuan Bapa dalam damai sejahtera! AMIN!

Jumat, 11 Maret 2016

ANTARA “HOSANA!” ATAU “SALIBKAN DIA!” ?



Matius 21:1-11

Yesus dielu-elukan ketika Ia masuk ke Yerusalem. Dari muka, samping, atau belakang semua mengiringiNya. Dan dalam Alkitab dicatat, mereka dalam jumlah besar. Dapat Anda bayangkan situasi yang terjadi waktu itu. Seandainya hal tersebut terjadi pada masa kini, bisa jadi tempat parkir yang ada tentu tidak mencukupi. Jalan-jalan pasti macet total. Banyak yang rela menghamparkan pakaian di jalan sebagai sikap yang menggambarkan rasa simpatisan. Daun-daun palem berlambaian mengiringi layaknya menyambut pahlawan bagi sebuah perjuangan yang selama ini didambakan.

Bagi mereka tentu Yesus adalah harapan. Ya, harapan yang akan membebaskan dari berbagai belenggu. Harapan dari berbagai kesulitan keadan. Pembebasan dari penjajahan yang dirasa jadikan hidup mereka terpuruk, diperlakukan semena-mena. Hak-hak sebagai manusia yang selama ini terabaikan. Tak ada yang berani memperjuangkan! Oh, tentu juga tak lupa harapan yang akan membawa kesejahteraan. Maklum, karena banyak juga di antara mereka sudah menyaksikan berbagai peristiwa yang Yesus lakukan. Roti jadi banyak. Yang buta, lumpuh, sakit disembuhkan. Dan yang luar biasa, Lazarus yang telah mati dimakamkan tiga haru pun mampu dihidupkannya!

Sangat beralasan bila gema pujian gegap gempita “Hosana!”, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan dikumandangkan. Harapan yang berdasar dan beralasan! Harapan akan sebuah pembebasan dari berbagai keadaan. Harapana yang pada umumnya rata-rata juga kita damba! Hanya sayang seribu sayang….Semakin lama, harapan pada Yesus bukan semakin gemilang. Namun sebaliknya, semakin menghilang. Ditelan keadaan. Ckckckckckck……..

Dan apa dinyana, ketika akhirnya mereka juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri…..Yesus yang diharapkan, sekarang bagai bola pingpong dipermainkan. Dihadapkan ke penguasa yang satu, dihadapkan pula ke penguasa yang lainnya. Dihadapkan ke Herodes, dihadapkan pula ke Pilatus. Oh, ironuis memang…..tak ada tanda-tanda kehebatan. Tak nampak kemapuan untuk membela diri. Yang ada hanyalah tamparan, pukulan cambuk dibadan. Wajah pun mulai memar-memar terkena hantaman. Dan bila diperhati lebih teliti, ternyata juga diantara butiran keringat bercampur debu dan darah yang mulai mengucur itu, telah berbaur dengan ludah penghinaan tanda –tanda penolakan!

Wow! Ceritanya tidak terhenti sampai di situ. Karena situasi pun semakin menegangkan! Karena nyata juga bahwa pada akhirnya Yesus akan diadili. Adakah yang masih sanggup mengumandangkan “Hosana!”, terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan? Oh, dapat kita maklumi bila semua bungkam seribu bahasa. Semua cari aman! Ya, wajar semata. Itulah manusia! Logikanya memang demikian. Bila situasi tidak menguntungkan,bukankah lebih aman bila ikut arus orang banyak, atau cari muka supaya supaya dianggap membela sang penguasa? Karenanya lumrah semata bila akhirnya gema “Hosana!” sekarang lalu berobah menjadi “Salibkan Dia!, salibkan Dia!”

Memasuki Minggu Sengsara ke VI ini, banyak hal menarik yang dapat kita jumpai. Tentu juga banyak pelajaran penting bagi kita sebagai orang percaya dalam rangka menyadari gambaran kita tentang Yesus Kristus. Sebagai orang beriman, tentu kita telah mengetahui tentang siapakah Yesus yang sebenarnya. Namun pengetahuan dan pengenalan kita tentang Yesus kadang kala sangat dangkal. Kita mungkin hanya mengetahui tentang Dia dari apa kata orang. Kita kadang kurang berusaha mengenal-Nya sungguh-sungguh secara pribadi melalui Kitab Suci. Untuk itu, seringkali kita pun menolak-Nya bahkan melupakan-Nya.

Banyak orang tergoda untuk menjadikan Tuhan sebagai pembebas dalam rangka mendapatkan rasa aman yang sementara dan bersifat duniawi semata. Bebas dari penjajahan, sakit penyakit, kemelaratan, dan berbagai kekuatiran hidup lainnya. Tuhan lalu diburu lewat doa dan mujizat. Bila ini didapatkan, nah ini baru Tuhan! Rasa kagum dan hormat pun dikumandangkan. Ribuan ucapan syukur dalam bentuk kesaksian-kesaksian pastilah dilakukan. Tetapi bagaimana bila ini tidak nampak dan tidak didapatkan? Akh, disini rupanya tidak ada Tuhan! Orang mulai bersungut-sungut dan memburunya ke tempat lain sekira mendapatkannya di sana. Bisa jadi pada awalnya gema “Hosana!” penuh kekaguman dan hormat!. Namun yang akhirnya segera berobah dengan sikap pengkhianatan “Salibkan Dia, Salibkan Dia!”

Kita semua disadarkan akan tugas panggilan kita. Juga motivasi kepengikutan kita kepada Kristus. Bahwa tugas panggilan kita bukanlah hanya sebatas menawarkan nikmat-nikmat rohani semata. Hidup beriman kita juga tidak hanya sebatas memburu doa dan mujizat saja. Bukan, bukan hanya sebatas itu! Kristus tidak menawarkan kekebalan dari kesulitan hidup, kesembuhan dari setiap penyakit, atau janji akan kesuksesan finansial yang tanpa usaha. Yang Sang Raja janjikan hari ini adalah diri-Nya sendiri sebagai kurban atas dosa-dosa kita, menjadi spirit untuk membangun kehidupan secara kreatif dan berdaya guna yang menjawab tantangan jaman. Dan bila Anda setia mengikutiNya, Anda tidak akan pernah dibuatNya kecewa! Amin!

(Pdt.Kristinus Unting, M.Div)

Kamis, 10 Maret 2016

MENCERMATI PERSOALAN KRUASIAL YANG KITA HADAPI



Yeremia 1:4-19

Yeremia dipanggil oleh Tuhan. Ia dipanggil bukan untuk diusung dalam salah satu perahu partai politik menduduki kursi jabatan atau di kursi dewan. Atau jadi bupati atau gubernur atau aneka jabatan lain yang menggiurkan. Bukan! Tetapi ia dipanggil oleh Tuhan untuk tugas khusus menyuarakan suara kenabian. dan suara kenabian yang disampaikannya pun bukanlah menyuarakan “berkat” yang nikmat kepada umat. Tetapi penghukuman dari Tuhan jika tidak bertobat. justru tugas itu harus disampaikan kepada para pejabat negara dan para nabi-nabi palsu yang ada pada jamannya. ya, inilah tugas yang dalam istilah kitab yeremia disebutnya sebagai tugas “…untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.” (ay. 10b).

Persoalan kruasial yang dihadapi Yeremia pada jamannya adalah kebejatan moral para elit politik yang tak terelakkan, dibarengi lenyapnya takut akan Allah dan hormat akan taurat-nya. Percabulan dan kecurangan menjadi biasa bahkan di tengah-tengah para imam dan nabi (psl. 5:30 dab; psl 6:13-15; 14:14). Daripada memberantas percabulan, mereka sebaliknya membantu penyebarannya. ironisnya, Yehuda yg menyembah berhala dan bercabul itu masih giat sekali melakukan ibadat keagamaan! Demikian pun cara kerja para nabi-nabi palsu se jamannya, yang pintar cari muka. Yang mulutnya manis demi mendapat simpatik dan demi keamanan pribadi! yang cuma beraninya mengatakan “damai sejahtera! damai sejahtera! tetapi tidak ada damai sejahtera." (bdk.yer. 8:11). namun yang tak pernah berani mengatakan tentang penghukuman tuhan secara lugas tentang hukuman yang menimpa.

Para imam-imam palsu yang dihadapi Yeremia juga adalah para imam yang mengeruk keuntungan dari jabatan mereka, dan ramalan mereka bahwa kapan pun Bait Suci Yerusalem tidak akan jatuh ke tangan orang Babel (psl. 6:13; 18:18; 29:25-32 dst). Nabi-nabi palsu itu meyakinkan umat Yehuda yg tertipu itu dalam optimisme yg dangkal (psl. 8:10-17; 14:14-18; 23:9-40 dst). Oh, dapat saudara bayangkan beratnya tugas itu! Lalu tanggapan Yeremia? Sudah dapat kita duga! Untuk tugas berat penuh resiko macam itu siapa yang suka? Apalagi bila nda jelas berapa uang saku atau bonus yang akan diterima. Terlebih bila nyawa sendiri jadi taruhannya? Akh, siapa yang mau mati muda dengan sia-sia? Anda mau?

Sama seperti manusia normal pada umumnya, seperti Anda dan saya, Yeremia pun dengan secara halus menyampaikan alasan penolakan. Suatu tugas pekerjaan yang mengusik kemapanan, menggoncang ’status quo’, menjungkirbalikkan konsep-konsep yang sudah dianut masyarakat, hanya mendatangkan risiko yang tidak kecil bagi sang pembawa berita, mungkin nyawa pembawa berita itu menjadi taruhannya.

Itulah sebabnya Yeremia gentar karena ia memahami betul risiko ini. Alasannya memang rasional. Dia masih muda, kurang pengalaman. Apa nanti kata orang bila seorang biasa, tak berpengalaman, tak punya nama, tak punya backing kuat, koq berani-beraninya menggugat cara kerja pemerintah yang nda becus soal hokum, soal kredit macet di Bank, soal korupsi, atau membongkar selingkuhan para pejabat?! Atau coba-coba menggubris perjuadian “dadu gurak” di setiap peristiwa menunggu jenazah, karena ternyata juga siapa sebenarnya backing kuat di balik semua itu? Oh, pantas saja bila masalah ini sepertinya tak pernah kunjung tuntas! Anda pasti tahu sendiri akibatnya bila berani sendiri menuntaskannya. Bisa jadi Anda sendiri yang akan dituntaskan!

Bila kita amati semua peristiwa pemanggilan Yeremia, memang unik. Secara saksama, di hadapan kita dipaparkan tentang Allah yang menjumpai dan menyentuh anak-Nya. Di sini Allah memperlihatkan kepada Yeremia bahwa kuat, hebat, mampu, dan keberanian hanya bersumber dari Dia semata! Inilah dasar pemanggilan Yeremia. Allah menjadikannya bukan sebagai seorang pengecut! Ya, “…untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.” Melihat begitu banyaknya tantangan yang kita hadapi di tengah-tengah dunia ini, bisa saja kita takut memainkan peran kita dan menunjukkan identitas kita sebagai duta-duta Tuhan.

Melihat situasi jamannya Yeremia, rasa-rasanya koq hampir persis sama kayak yang ada di sekitar kita. Kebejatan moral para elit politik yang tak terelakkan dibarengi merosotnya rasa takut akan Allah dan hormat akan Taurat-Nya. Percabulan dan kecurangan menjadi biasa bahkan di tengah-tengah para “imam agama” (5:30 dab; 6:13-15; 14:14). Kemerosotan moral bangsa tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja, namun telah menjamur hingga pelosok negeri.

Indikator yang bisa dijadikan dasar acuan kemerosotan moral bangsa Indonesia dapat terlihat dari memudarnya nilai-nilai luhur yang dulu dijunjung tinggi. Menurunnya rasa hormat terhadap orang tua juga merupakan fenomena tersendiri. Terlepas dari pola-pola perilaku yang berkembang dari hubungan anak dan orang tua, secara keseluruhan orang tua yang mengeluhkan “kekurangajaran” anaknya banyak terdengar. Oh, menyedihkan sekali! Para elit politik hanya sibuk berebutan kursi jabatan, menghambur-hamburkan uang kepada para bidadari hanya memuaskan birahi!

Kebanyakan orang juga berebutan ingin jadi pemimpin, tapi jalan saja banyak yang tak terurus alias rusak. Lalu peran para pejabat Kristen yang ada di kantor, di kursi dewan, di depan kelas para mahasiswa, atau yang bekerja sebagai penegak hokum, dsb.? “Kami kan hanya melaksanakan urusan dunia, apa yang telah menjadi kewajiban. Kami tak bisa berbuat apa-apa. Akh, maaf…maaf…maaf…! Akh, menggelitik sekali. Pantas saja soal judi “dadu gurak” di setiap peristiwa kematian saja tak pernah tuntas-tuntas juga! Apalagi persoalan lain yang semuanya menurun tajam!

Sementara peran Agama? Para tokoh agama? Atau Gereja? Akh…. Paling-paling bermanis-manis menyarakan “berkat” atau “damai sejahtera” semata. Promosi pun dibuatkan dalam baleho-baleho besar di pinggir jalan: “Hadirilah wisata rohani seorang Hamba Tuhan yang sudah sering pulang pergi ke sorga!” Atau hanya sibuk cari jiwa-jiwa, alih-alih ajaran dogma yang sesungguhnya, domba gereja tetangga dimasukan ke kandang memperbanyak gedung gerejanya.

Oh, menggelitik sekali! Sementara kemerosotan moral terus merosot tajam! Dan masih banyak anak-anak tak mampu melanjutkan sekolah karena kekurangan biaya! Sibuk persekutuan? Itu memang bagus! Sibuk mengikuti seminar rohani sana-sini! Sibuk cari gereja kesana-kemari, sibuk cari minyak urapan, sibuk cari berkat Tuhan? Ya, itu memang tak salah! Tapi hanya sibuk mencari “hak” dengan gereja, dengan Tuhan ini sikap kekristenan yang perlu dipertanyakan! Tuhan memang harus kita agungkan. Rutinitas agama memang terlaksana. Gedungnya memang semakin megah, ucapan syukur setiap waktu tak ketinggalan dilantunkan. Namun bila sumbangsih Agama begitu berhadapan dengan dunia nyata lalu menjadi mandeg ini yang disayangkan. Padahal Tuhan memanggil kita bukan menjadi Kristen pengecut. Dan ini yang memang tidak mudah! Amin!