Renungan GKE

Senin, 18 Februari 2013

KUASA UCAPAN




Amsal 16:24-33

Pollius Romillius, anggota senat Kekaisaran Roma pada zaman Julius Caesar yang berusia paling tua, saat merayakan hari jadinya yang ke-100 ditanya oleh kaisar tentang resep awet muda yang membuatnya selalu segar-bugar. Jawabannya, “Saya selalu makan makanan yang dicampur madu dan menghindari makanan yang mengandung minyak.” Juga, Aristoteles (Bapak Natural Science) menyatakan bahwa madu dapat mempertinggi kesehatan manusia dan memperpanjang umur.

Saudara, Sejak awal sejarah manusia, begitu menghargai “madu” sebagai sumber makanan alami yang mengagumkan. Bahkan beberapa ayat dalam Alkitab sendiri berbicara tentang madu sebagai kiasan utuk mengungkapkan hal-hal yang berharga, menarik, dan menyenangkan. Buktikan saja apa yang diungkapkan dalam nas ini untuk menggambarkan tentang betapa berharganya ucapan atau perkataan yang menyenangkan: “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang MADU, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” (ay.24). Dalam nas lain juga dikatakan, “Anakku, makanlah MADU, sebab itu baik: dan tetesan MADU manis untuk langit-langit mulutmu.” (Ams. 24:13).

Saudara, jangan remehkan soal ucapan! Ya, ucapan yang menyenangkan tentu rata-rata disukai semua orang. Ucapan yang tajam, kasar, dan selalu melukai pasti tidak terlalu disukai rata-rata orang. Kata bijak mengatakan: “Dengan sesendok madu dapat lebih banyak ditangkap serangga daripada dengan sesendok cuka, dengan mulut manis serta ramah-tamah lebih banyak diperoleh sahabat (kawan) daripada dengan perkataan yang tajam dan muka yg masam”.  Gambaran kepribadian seseorang pun nyata dari apa yang diungkapkan peribahasa berikut ini: “Laut madu berpantaikan gula, perkataan yang manis keluar dari mulut orang yang baik pribadinya lagi bijaksana.”

Orang yang mengucapkan kata-kata yang baik adalah orang yang berpijak dengan pijakan kuat di bumi dengan tangan-tangan yang senantiasa menengadah ke langit, mengharapkan rahmat dan kasih sayang Allah sumber hikmat dan berkat. Dalam makna yang lebih luas, perkataan yang baik adalah juga pohon yang kuat yang ranting-rantingnya senantiasa menghasilkan buah. Perkataan yang baik adalah menambah kesuburan induknya ketika kalimat itu disampaikan lagi kepada orang lain, demikian seterusnya.

Adapun perkataan yang buruk adalah seperti pohon yang sudah dicabut perakarannya dan tinggalah dia tak berarti apa-apa, karena rantingnya tak keluar, tunasnya tak muncul dan buah-buahnya tak berhasil mewarnai setiap musim. Sekalipun banyak pupuk dan air yang disiramkan ke sekitar pokoknya, tetap saja dia tak bisa bermanfaat. Saudara ingin menjadi orang yang disukai, sahabat yang menyengkan, dan diberkati Tuhan? Gunakan kata-kata yang baik, positif, ramah, membangun, kata-kata berkat. Gunakan menjadi sarana kesaksian yang penuh kuasa, gambaran kualitas diri seorang beriman yang bijaksana penuh kasih. Amin!

(Pdt.Kristinus Unting, M.Div)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar