Renungan GKE

Selasa, 02 Oktober 2018

MENEMUKAN TUHAN PADA DIRI SESAMA



(Matius 25:31-46)



Di hari penghakiman nanti (seperti yang dipaparkan oleh Yesus sendiri), ini yang akan terjadi. Ketika Yesus datang untuk kedua kali sebagai raja, semua manusia akan dihakimi di hadapanNya. Semua manusia ditetapkan dan ditempatkan seperti antara kelompok kambing dan domba. Ada yang ditempatkan di sebelah kanan (domba), ada yang di sebelah kiri (kambing). Sepanjang yang bisa kita pahami, yang ditempatkan di sebelah kanan (domba) tentu adalah calon penghuni sorga. Sedang yang di sebelah kiri (kambing) tentu para calon penghuni neraka!

Saudara, pertama-tama, tentu kita pengin tahu, apa sih yang menjadi kriteria pengelompokannya? Sehingga ada kelompok domba dan kelompok kambing? Nah, ini! Dari apa yang mereka perbuat kepada sesama! Tindakan sederhana, tetapi riil dan tepat guna! Perhatikan apa yang Yesus tegaskan: “…..sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Sungguh di luar dugaan. Tidak seperti yang kita perkirakan. Kita kira hal-hal spektakuler dan luar biasa yang menjadi penilaian.

Kita kira bahwa yang ditanyakan adalah tentang bagaimana bentuk ibadah kita. Atau keaktivan persekutuan doa kita. Atau berapa kali Anda membaca Alkitab tiap hari. Atau mungkin seberapa gigih Anda membela Tuhan atas nama baju kumal agama. Atau berapa banyak orang-orang yang Anda anggap kafir telah disingkirkan untuk membela kesucian Tuhan? Ternyata tidak! Ternyata berbeda dari kebanyakan yang kita perkirakan. Ternyata hal-hal yang sederhana saja. Saking sederhananya, bahkan kedua kelompok tersebut, baik kelompok domba maupun kambing tanpa mereka sadari bahwa mereka telah berbuat maupun telah tidak berbuat! Astaga! Hanya tindakan kecil dan sederhana saja rupanya. Berbagi sepotong baju bekas bagi yang tak berpunya, rasanya rata-rata kita mampu saja melakukannya.

Berbagi kasih sepiring nasi sop plus segelas Aqua, sebenarnya bukanlah hal yang terlalu luar biasa. Kalau hanya sepotong baju, segelas air, memberi tumpangan, mengunjungi yang sakit, atau kunjungan kepada yang terpenjara, rasa-rasanya bukankah terlalu sederhana bila dibandingkan dengan kemuliaan sorga yang tiada tara? Hanya masalahnya, kenapa sih yang sederhana itu pun terlalu sulit untuk dilakukan? Padahal, bukankah itu yang justru menentukan? Nah di sinilah persoalannya. Justru inilah yang menentukan pengelompokkannya, entah digolongkan pada kelompok domba atau pun pada kelompok kambing!

Lalu apa saja sih sifat-sifat positif yang mencirikannya sehingga ditempatkan menjadi kelompok domba (yang baik) dan sifat-sifat negatif yang mencirikannya sehingga ditempatkan pada kelompok kambing (yang tidak baik/jahat)? Menurut penelitian yang dilakukan berdasarkan pengalaman para gembala yang ada di belahan bumi Palestina dan sekitarnya telah mempelajari sifat fenotif (gambaran luar) dan genotif (karakter) dari kedua jenis binatang tersebut. Dari hasil penelitian ditemukan empat perbedaan mendasar seperti berikut ini:

Kelompok Domba.

Pertama: Pada umumnya Domba berwarna putih keemasan. Warna keemasan domba menunjukkan atau melambangkan kepada sesuatu yang terang dan sukacita. Warna itu menunjukkan bahwa domba memiliki warna yang mewakili apa yang dikenal manusia sebagai gambaran hal yang lebih positif (bersih/terang, mulia dll).

Kedua: Domba memiliki karakter yang jinak. Pada masa musim mencukur bulu domba tiba, domba tidak perlu diikat karena mereka sangat penurut dan percaya akan apa yang dikerjakan pencukur terhadap domba-domba. Karakter domba ternyata terwakili dari berkatnya, domba dengan bulunya yang tebal dan disaat masa cukur tiba, domba-domba menurut saja untuk dicukur. Artinya karakter dan keperluan domba itu sudah dibentuk atau terbentuk sedemikian rupa (genotif).

Ketiga: Kebiasaan domba suka mengelompok dalam satu kawanan (bisa berkawan). Makan rumput bersama, minum air bersama. Diwaktu malam, domba juga tidur berkumpul bersama saling menghangatkan, saling berbagi kehangatan. Di dalam kandang domba akan cendrung berkumpul dan bergerombol dan memilih tempat yang terbuka, hal ini dimungkinkan karena sifat yang suka berkawan juga karena memiliki bulu yang tebal sehingga tahan dingin.

Keempat: Domba mudah diatur dan mau diatur. Mendengar dan selalu patuh pada tuntunan sang gembalanya. Ketika suara gembalanya memberikan kode dengan teriakan, para domba dengan segera mengambil perhatian dan mengikuti perintah pengembala. Bila dituntun ke Barat, semua bersama-sama ke Barat. Bila dituntun ke Timur, ya semua ke Timur. Walau memang ada juga dua tiga ekor yang kesasar sendiri hingga terjatuh ke jurang (itu pengecualian)!

Di samping itu, domba memiliki sesuatu yang berharga dalam dirinya yang dapat ia persembahkan bagi orang lain. Bulu wolnya yang mahal, susu, bahkan dirinya sendiri rela dipersembahkan bagi orang lain. Bahkan yang tidak kalah berharga, yaitu rasa emosional para pengembala lebih nyaman terhadap domba-dombanya dibandingkan kambing yang cenderung liar. Domba memiliki karakter rela berkorban demi sempurnanya setiap pesta yang diadakan (ingat contoh ketika seorang ayah menyambut kedatangan anak bungsunya yang terhilang dengan pesta). Bukan kambing yang jadi korban, tetapi domba! Pokoknya domba itu melambangkan kesucian, kerelaan berkorban dan keperdulian. Seperti yang Yesus lakukan, mengorbankan diriNya bagi tebusan dosa umat manusia.

Kelompok Kambing.

Pertama: Nah, ini berbeda. Kambing pada umumnya berwarna hitam dan coklat. Warna coklat dan hitam biasanya difahami oleh manusia cenderung sebagai gambaran suasana kehidupan yang kelam, hitam, kedukaan, kejahatan dst.

Kedua: Kambing cenderung membangkang sulit diatur. Kambing tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Dia akan selalu melompat pagar untuk mencari makanan yang menurutnya lebih enak. Manusia yang meniru sifat kambing tentunya akan menunjukkan banyak kegelapan dari tingkah lakunya, perbuatan untuk kepentingan diri sendiri, juga ego dan tidak jujur serta ingin menang sendiri. Sifat ini adalah sifat yang bertentangan dengan rencana Allah kepada manusia. Bagaimana orang semacam ini dapat mengasihi orang lain?

Ketiga: Kambing lebih sukanya sendiri-sendiri. Tidak suka mengelompok (bersama-sama). Tok pun mengelompok juga, yang sering terjadi adalah saling menanduk. Saling merasa kuat, saling merasa berkuasa, saling merasa berhak, saling merasa berkepentingan. Bukan saling perduli, berbagi dan memperhatikan.

Keempat: Kambing kalau merumput suka berpindah-pindah. Suka pindah sana pindah sini dan serabutan serta cenderung sibuk tidak menentu. Ya, itulah kelompoknya kambing. Di samping itu, kambing lebih banyak mengembik ketimbang diam. Dan kalau mengembik, suaranya bernada mengejek, meremehkan, dan terkesan angkuh. Padahal domba walau tiap hari pakai woll, embiknya biasa-biasa saja. Tetap rendah hati. Tidak sombong.

Di depan pintu gerbang sorga…..

ketika semua manusia (termasuk Anda dan saya) menghadap takhta pengadilanNya….Apakah Anda dan saya termasuk kelompok yang mana? Kelompok kambing atau domba? Sebagai orang beriman, tentu kita semuaalah karakter hidup kita? Jika ya, maka ini yang akan nampak jelas, dia akan menemukan Tuhan pada diri sesamanya manusia. Dia akan melakukan sesuatu, berbuat sesuatu seolah berbuat untuk Tuhan sendiri secara alami. tanpa ia sadari. Bukan dibuat-buat, atau sengaja berbuat, atau pura-pura berbuat. Tetapi memang sungguh-sungguh berbuat untuk memanusiakan sesamanya. Namun tidak pernah merasa berbuat. Amin!

BUTAKAH ENGKAU? TULIKAH ENGKAU? DEGIL HATIKAH ENGKAU?



Markus 8:14-21

Ada pepatah: "Punya mata tapi tidak melihat, punya telinga tapi tidak mendengar". Bukankah orang yang punya mata seharusnya melihat (kecuali orang buta)?, dan bukankah orang yang punya telinga seharusnya mendengar (kecuali orang tuli)? Kenapa tidak melihat padahal punya mata? Kenapa tidak mendengar padahal punya telinga? Ada satu virus penghalang, "kedegilan hati" namanya.

Kedegilan hati, virus penghalang, menjadikan orang melihat tapi tidak melihat. Waktu melihat tapi pikirannya melayang ke tempat lain sehingga tidak fokus pada apa yang dilihat. Bisa jadi pula, karena menganggap apa yang dilihat tidak penting, jadi tidak sungguh-sungguh melihat. Tak mau tahu tentang apa yang dilihat. Atau melihat sambil lalu istilahnya, "kedegilan hati" lalu menghapusnya!

Kedegilan hati, menjadikan orang mendengar tapi tidak mendengar. Memang mendengar, tapi tidak serius mendengar. Atau menganggap tidak penting apa yang didengar, sehingga mendengar sambil lalu saja. Atau memang tidak mau tau tentang apa yang didengar, dan "kedegilan hati" segera memblokirnya!

Persoalannya. Mata, tidak hanya cukup asal melihat. karena anda tak akan mungkin dapat melihat di kegelapan pekat. Atau di balik gunung yang di sebelah sana. Telinga, tidak hanya cukup asal mendengar. karena tidak mungkin Anda dapat mendengar ribuan kilometer di seberang lautan sana. Harus ada alat tambahan, bernama "kepekaan". Kepekaan untuk melihat. Kepekaan untuk mendengar.

Kepekaanlah yang memungkinkan orang dapat membaca tulisan yang tidak tertulis, mendengar suara yang tak diperdengar. Kepekaanlah yang memungkinkan orang dapat membaca tulisan yang tak terlihat, apakah tulisan ancaman atau tulisan undangan untuk menerima rupiah jutaan. Kepekaanlah yang memampukan orang dapat mendengar nada lagu yang tak diperdengarkan, entah nada ancaman, rintihan memohon pengasihan, atau suara pelatuk pistol yang sedang diarahkan di balik layar reklame menawan!

Para murid, sama seperti kita. Memang punya mata. Masalahnya mereka tidak memiliki kepekaan pelihat sehingga tak bisa melihat makna dibalik lima roti dan dua ikan hingga jadi banyak. Tak bisa melihat siapa sesungguhnya Yesus di balik peristiwa. Tak bisa melihat mana ragi yang baik dan mana ragi beracun yang mematikan, karena kedegilan hati mengarahkannya kepada roti kepentingan dan kebutuhan!

Para murid, sama seperti kita. Memang punya telinga. Masalahnya mereka tak bisa mendengar hasil kesepakatan sidang rahasia di ruang hati komplotan Herodes bersama para konco-konconya yang sedang memasang perangkap. Juga tak bisa mendengar asahan pedang serta tombak rahasia yang akan diarahkan kepada mereka di balik niat jahat!

Tanpa kepekaan. Mungkin anda membaca jejeran banyak versi Alkitab. Walau tulisannya terbaca jelas, namun anda pasti tak akan bisa membaca mana versi nama "Tuhan" yang benar berasal dari tulisan Tuhan dan mana yang berasal dari tulisan setan!

Tanpa kepekaan. Mungkin anda mendengar dengan baik tentang berbagai dogma ajaran kebenaran dari berbagai versi penafsiran di berbagai kegiatan. Tapi yang pasti, anda tak akan pernah bisa membedakan, mana ajaran kebenaran yang berasal dari kemurnian menuju kehidupan, mana ajaran palsu yang mengandung "ragi" kebusukan, beracun, dan mematikan! Butakah engkau? Tulikah engkau? Degil hatikah engkau? Amin!

DUA ORANG SAMA-SAMA BERNAMA YESUS



Markus 15:6-15

Dalam peristiwa pengadilan Pilatus, adalah dua orang sama-sama bernama “Yesus”. Memang serupa, tapi jelas tidak sama. Yang satu adalah “Yesus Barabas” (ay.7; bdk. Matius 27:16), dan satunya lagi bernama “Yesus Kristus” (ay.10; bdk. Matius 27:17). Yang satu adalah penjahat, yang satunya lagi adalah juruselamat, alias penyelamat!

Menurut catatan Alkitab, orang yang bernama “Yesus Barabas” adalah seorang pemberontak. Tidak hanya itu, bahkan Injil Matius dengan cukup teliti mencatat nama ini dengan embel-embel seorang yang “terkenal kejahatannya”. Dia terkenal karena kejahatannya. Dia adalah seorang pemberontak. Dia juga adalah seorang pembunuh. Jadi setiap orang jangan main-main dengan yang bernama “Yesus Barabas”! (bdk.Matius 27:16).

Namun kenapa dalam peristiwa pengadilan Pilatus terjadi sesuatu yang diluar dugaan? Bukankah seharusnya “Yesus Barabas” tetap dipenjarakan dan “Yesus Kristus” yang mestinya dibebaskan? Kenapa yang terjadi justru sebaliknya? Kenapa Pilatus yang bukan orang kemarin, yang nota-bene adalah orang kuat di pemerintahan, perkasa dan dikjaya, tidak mudah terpengaruh, koq keputusannya jadi berobah hanya gara-gara teriakan orang banyak? Mestinya begitu. Tapi dalam kasus yang satu ini berbeda. Bukan kasus biasa. Dalam kasus yang satu ini Allah turut campur tangan untuk suatu tujuan yang jauh lebih mulia, yaitu dalam kontek penyelamatan umat manusia!

Dapatkah saudara bayangkan bila “Yesus Barabas” tetap dipenjarakan dan “Yesus Kristus” tidak menderita, mati dan disalibkan? Pahamkah kita bila apa yang Allah lakukan demi kasihNya kepada kita manusia, hingga “Yesus Barabas” beroleh semacam anugerah pembebasan justru melalui peristiwa korban “Yesus Kristus” yang benar-benar menyelamatkan? Melalui peristiwa pengadilan Pilatus, ada dua hal yang begitu kentara diperlihatkan.

Pertama, adalah sungguh kentara dosa manusia diperlihatkan, baik melalui para pemimpin Agama yang salah mempraktekkan cara beragama. Rasa iri hati, dengki menguak kepermukaan, tidak perduli oleh orang yang nota-bene bangga beragama. Bahkan dosa hasutan kepada orang banyak untuk mencapai tujuan. Demikian pun orang banyak yang terprovokasi, yang dipanas-panasi dengan bumbu fitnahan, semakin menjadi-jadi, tak lagi berakal sehat, laksana jadi anjing suruhan melakukan apa saja sesuai suruhan!

Tidak kurang, seorang Pilatus yang biasanya garang, digjaya, tak mudah terpengaruh, seorang negarawan sejati, tahu hukum, namun akhirnya nyalinya menjadi ciut, cuci tangan, cari aman, dan menuruti saja kemauan orang banyak hanya gara-gara massa tak terbendung. Bukankah semuanya itu menunjukkan keberdosaan kemanusiaan kita yang Allah tunjukan, untuk memperlihatkan betapa jahatnya kita manusia?

Kedua, pada peristiwa pengadilan Pilatus, di sisi lain, betapa Allah memperlihatkan kasihnya. “Yesus Kristus” adalah Raja! (ay.12; bdk.Lukas 23:2). Namun tentu saja bukan Raja dalam arti biasa, yang hanya membebaskan dari penjajahan untuk bebas dalam arti biasa. Bukan, bukan itu! Tetapi Dia adalah Raja Penyelamat, yang menyelamatkan manusia dari dosa, membebaskan manusia dari maut yang tidak mungkin dapat diatasi oleh manusia. Kecuali oleh Yesus sendiri melalui cara yang ditetapkan oleh Allah sendiri, dengan menggunakan sampel konsep korban universal yang berlaku bagi semua manusia.

Dalam peristiwa pengadilan Pilatus, terjadi peristiwa dimana “kasih Allah” bertabrakan dengan “dosa manusia” nyata-nyata diperlihatkan. Cermin hati dan tindakan Allah yang Maha bijaksana, sungguh kentara bedanya dengan cermin hati dan perbuatan manusia dosa menohok tajam hingga detail-detailnya!

Dalam peristiwa pengadilan Pilatus, sadarkah kita akan apa yang Allah lakukan untuk kita? Sadarkah kita bahwa hati, sikap, perbuatan serta tindakan para imam-iman kepala, tua-tua, dan ahli-ahli taurat, Mahkamah Agama adalah gambaran dosa kemunafikan kita sebagai orang beragama? Sadarkah kita bahwa sikap iri hati, dengki, provokasi, fitnah seperti yang mereka perlihatkan adalah cerminan keberdosaan yang sering kita sembunyikan, bila saat yang tepat akan kita munculkan? Sadarkah kita bahwa “Yesus Barabas” yang bebas adalah gambaran diri kita?

Dosa yang ada pada diri setiap manusia (termasuk kita) sungguh mematikan. Secara jujur, rasa-rasanya tidak mungkin ada satu pun di antara kita dapat menyelesaikannya. Apalagi boro-boro mau masuk sorga hanya mengandalkan jasa perbuatan baik kita. Namun Allah telah menyelesaikannya secara sempurna. Sebagai “Yesus Barabas” sang pendosa kita telah dibebaskan oleh “Yesus Kristus” sang pembebas! Karenanya, tidak ada yang lebih baik kita lakukan dalam hidup ini, selain ucapan syukur kepada Dia yang sungguh Agung, atas kasihNya yang begitu besar bagi kita. Terpujilah nama Yesus dari kekal sampai kekal. Amin!

BUKA MATAMU, PASANG TELINGAMU!



Markus 8:14-21

Laksana pukulan cambuk bermata paku pada punggung keledai dungu, lamban dan bodoh, demikian Yesus menyentak lamunan indah para murid yang mungkin kala itu sedang memandang camar bercinta lalu-lalang di atas perahu mereka di danau Galiela yang mereka arungi. Yesus menjitak lamunan mereka dengan peringatan keras agar tersadar akan bahaya besar yang sedang mengancam mereka, yang Yesus istilahkan dengan “ragi Farisi dan “ragi Herodes”. Dasar keledai dungu, lamban dan bodoh, mereka tak jua mengerti apa yang Yesus maksudkan. Malah mereka mengira Yesus sedang menyindir mereka karena lupa membawa perbekalan dan hanya membawa sebiji roti saja (Ay.14-16).

Bagi para murid, mujizat yang Yesus lakukan tidak begitu lama berselang sebelumnya, tentang lima roti dan dua ikan hingga mampu memberi makan lebih dari 5000-an orang seolah tak membekas sama sekali di hati mereka. Tentang kedunguan, kelambanan dan kebodohan para murid, Yesus gambarkan layaknya orang punya mata tapi tak mampu melihat, punya telinga tapi tak mampu mendengar, punyai otak untuk bernalar namun tak mampu mengerti, memiliki hati namun tak mampu menangkap makna! (Ay.17).

Penglihatan mereka tak ubahnya kayak mata badak, hanya tubuhnya bongsor tapi penglihatannya terkenal paling buruk di dunia, yang tak bisa membedakan antara mana pohon dan mana yang manusia. Demikian pun, pendengaran mereka ibarat satwa bunglon yang tertutup gendang telinganya. Waspadalah, dua kubu pemangsa besar laksana predator berbahaya ada di sekelilingmu. Para Farisi munafik atas nama hukum agama, serta para kelompok Herodian penguasa politik tengik haus darah memasang perangkap beracun mematikan sedang mengintaimu! Butakah engkau? Tulikah engkau? Degil hatikah engkau?! (Ay.18).

Yesus yang memiliki kepekaan Ilahi tahu persis apa sekiranya yang akan dihadapi para murid. Yesus tidak menghendaki para murid yang walaupun sekelompok kecil dan lemah jadi cacing hina kepanasan bila berhadapan dengan para predator pemangsa. Yesus membenahi mereka dengan stategi jiitu agar para murid memiliki ketajaman penglihatan, kepekaan pendengaran, serta kemantapan hati nurani untuk lolos dari perangkap besar para predator beracun dan mematikan! (Ay.19).

Buka matamu, pasang telingamu! Miliki penglihatan bak burung hantu, hingga mampu melihat di kegelapan sekalipun, hingga mampu mendeteksi setiap pergerakan para predator yang mematikan! Buka telingamu! Miliki kepekaan pendengaran laksana ngengat, satwa dengan pendengaran luar biasa yang pernah ada di dunia, hingga 150 kali lebih baik dari pendengaran manusia. Kepekaan pendengaran yang bisa segera menghindar saat ada kelelawar atau pemangsa lainnya yang akan memangsanya.

Peringatan Yesus kepada para murid tentang “ragi Farisi” bukan mengada-ada! Itu teramat nyata! Baru saja Yesus bersoal jawab dengan orang-orang Farisi, para degil hati, para kelompok beragama sombong yang menjadikan taurat dalam penafsiran mereka sendiri dan pemutar balik fakta. Kelompok munafik yang hanya bangga pada seremonial agama. Ajaran mereka busuk kayak “ragi” yang merusak seluruh adonan yang ada. Menjadikan kemurnian Taurat terkontaminasi oleh jamur beracun yang mematikan! Buka matamu, pasang telingamu! (Ay.20).

Peringatan Yesus kepada para murid tentang “ragi Herodes” bukan rekayasa! Kelompok herodian adalah penguasa politik yang buas, penguasa rakus. Yang siap membantai siapa saja yang dianggapnya saingan atau musuh. Herodes adalah tipe pemimpin yang mudah panas, mudah mengobar janji, kurang teliti dan yang begitu mudahnya diperalat oleh kepentingan lain, oleh bisikan orang yang ada di belakangnya. Bagi Yesus, pembunuhan Yohanes pembabtis pada peristiwa sebelumnya bukanlah sesuatu yang tanpa makna. Cepat atau lambat, para murid adalah incaran berikutnya! Dan memang kita tahu apa yang Yesus nyatakan, ternyata terbukti di kemudian hari, secara bahasa politik, penyaliban Yesus tidak lepas dari andil besar pemimpin tengik si Herodes!

Di perahu melintasi danau Galilea, para murid bukan dibawa untuk mengasingkan diri dari kebisingan dunia supaya jadi katak dibawah tempurung. Bukan juga maksudnya sekedar piknik atau tour rohani tanpa makna, sekedar menyaksikan sekumpulan burung camar beterbangan lalu-lalang bercinta sembari berbagi remah-remah roti di angkasa. Atau bukan pula sekedar ber-Halleluya puji Tuhan, nikmat-nikmat rohani semata. Tetapi secara khusus dan serius mempersiapkan mereka, agar begitu perahu sudah merapat dan tertambat di darat, para murid sudah memiliki penglihatan dan kepekaan atas bahaya yang ada di sekeliling mereka. Waspadalah, karena siapa tahu “ragi Farisi” dan “ragi Herodes” sudah duduk sebangku di perahu gerejamu, ikut menyamar di berbagai kegiatan hari besar perayaanmu, atau berbaur dan mulai meracuni generasi mudamu! Miliki kepekaan itu. Buka matamu, pasang telingamu! Amin!

NAMA DI ATAS SEGALA NAMA




Ibrani 1:1-4

Bak istilah “tak kenal maka tak sayang” demikianlah penulis Kitab Ibrani memperkenalkan sekaligus menjelaskan secara mendalam tentang satu nama, yaitu Yesus Kristus, “nama di atas segala nama” kepada para pembacanya. Nama itu, tidak sekedar klaim kebanggaan ilahi layaknya nama sebuah bangunan kosong yang bernama gedung “gereja”, yang berdiri dengan congkaknya di tengah korban tsunami melanda, dimana para mayat korban bergelimpangan di sekitarnya. Bukan, bukan semacam itu! Tetapi tentang satu nama, melalui mana rahasia kuasa dan rencama Allah yang tersembunyi selama ini bagi dunia dinyatakan (Ay.1).

Nama Yesus itu, seperti dimaksudkan penulis kitab Ibrani, adalah nama yang pada-Nya terkuak nyata “cahaya kemuliaan Allah” sangat kentara. Dia bukan perantara seperti para nabi sebelumnya, atau para malaikat, tetapi “Anak Allah” sendiri. Istilah “Anak Allah” yang digunakan tentu bukanlah dimaksudkan bahwa Allah telah beranak dalam pengertian manusia umumnya, tetapi “Anak Allah” dalam pengertian teologis, dari pemahaman filsafat, dalam arti bahwa Allah rela merendahkan diri-Nya menjadi manusia, mengambil rupa sebagai hamba yang melayani, maka istilah “Anak” digunakan! Nama itu adalah penopang (penyangga) dari semua ciptaan yang ada, melalui-Nya nasib seluruh ciptaan dipertaruhkan. Termasuk nasib manusia, penentu sorga atau neraka (Ay.2).

Yesus, yang adalah “Anak Allah” (dalam pengertian teologi) adalah gambaran wujud nyata dari sang pencipta alam semesta dalam rupa insan hadir di bumi, berbicara langsung (tanpa perantara), akrab menyapa manusia, menyatakan isi hati, memperlihatkan kasih Allah secara nyata melalui korban dan mati-Nya di kayu salib, penyempurna dari apa yang ada dalam Taurat sebelumnya! Dia hadir ke bumi untuk menuntaskan perkara dosa manusia, yang selama ini belum tuntas sepenuhnya. Dan setelah menuntaskan penyucian dosa, Dia kembali ke Sorga, duduk “di sebelah kanan” sebagai yang berkuasa. Itulah sebabnya Dia lebih tinggi dari para Malaikat, para nabi, para hamba Tuhan mana pun yang pernah ada. (Ay.3).

Istilah duduk “di sebelah kanan” bukan maksudnya sama seperti pemahaman manusia biasa, bahwa Yesus yang naik ke sorga duduk bersamaan dua orang, yang duduk di sebelah kirinya adalah Allah, dan yang duduk di sebelah kanannya adalah Yesus. Bukan! Bukan demikian. Duduk “di sebelah kanan” adalah istilah teologi untuk sebutan “kehormatan” atau “kemuliaan” (lawan dari istilah kiri yang berkonotasi kurang terhotmat, kurang suci). Artinya, bahwa Yesus itu layak ditinggikan, layak mendapat kehormatan, duduk bertahta sebagai yang termulia, kembali pada kodrat ke-Allah-an-Nya sebagai satu-satunya yang Maha Kuasa!

Nama Yesus, nama termulia, bukan pada merek luarnya, seperti yang sering orang membanggakan merek nama Tuhan atau merek nama gerejanya atau merek nama Pendetanya. Bukan! Tetapi pada pekerjaan yang dilakukan oleh nama itu, nama yang paling peka dan perduli pada keprihatinan terdalam manusia, satu nama dimana “bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.” (Flp.2:10). Nama yang sanggup turun langsung ke jurang maut, ke dasar inti persoalan untuk mengangkat manusia yang terpuruk oleh kungkungan dosa api neraka di bawah sana.

Nama itu, adalah nama di atas segala nama, nama termulia, nama yang paling ditakuti oleh setan, karena nama itu dianggap gangguan terbesar bagi setan untuk leluasa dengan berbagai cara memperdaya dan menjerumuskan manusia. Karenanya tidak heran bila setan bersama antek-anteknya berusaha keras siang dan malam, sampai kapan pun, berapa pun biayanya, apa pun caranya, asal nama itu dapat dikaburkan dari pandangan manusia (jika mungkin dimusnahkan), sehingga manusia tak pernah mengenalnya, salah jalan dan selalui menuju ke neraka (Ay.4).

Singkat kata, nama Yesus itu jauh lebih tinggi, lebih indah dari nama semua malaikat, menjadi sentral dari segalanya. Melalui-Nya, wajah Allah sendiri dihadapkan pada kita para pendosa, manusia hina dan celaka. Setiap kali kita mengingat korban yang dilakukan oleh nama itu, seharusnya membuat kita tersadar akan segala dosa, betapa hinanya kita. Tak dapat dibayar oleh apa pun termasuk oleh perbuatan amal baik kita. Setiap kali kita mengingat nama teragung itu, seharusnya membuat kita lebih bersyukur, karena kita begitu berharga di mata-Nya, tanpa memperhitungkan pelanggaran kita. Masihkah kita rela menyia-nyiakan hidup ini, sengaja merusaknya dengan berbagai bentuk dosa, keserakahan, hidup dalam kuasa kegelapan? Amin!

Selasa, 18 September 2018

RAHASIA MENJINAKKAN LIDAH


Yakobus 3:1-12

Membahas soal “lidah” bukanlah perkara gampang. Sorga atau neraka taruhannya! Tidak cukup dengan nasihat murahan seperti kalimat “hati-hati gunakan lidahmu” untuk mengatasinya. Sebagai manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, tak ada seorang manusia pun yang terbebas dari dosa karena lidah! Demikian Rasul Yakobus secara serius telah mengingatkan. Karenanya perlu diwaspadai dengan sungguh oleh para “juru lidah”, para media, pembicara, dan penceramah. Terlebih para pengkhotbah, pencerah, para penyambung lidah Allah! (Ay.2).

Lidah….. laksana sang “penguasa” dalam diri manusia. Ibarat kita seekor kuda, lidah adalah alat “kekang” yang memaksa kuda tunduk tidak dapat meronta! Cukup hanya dengan kekang yang kecil menguasai mulutnya, maka tubuh kuda akan diam tak bisa berbuat apa-apa! Lidah, laksana “raja” yang mengatur hampir semua aspek kehidupan manusia. Ibaratkan kita adalah kapal, lidah adalah “kemudi” yang mengusai jalannya kapal, sebesar apa pun kapal itu! (Ay.3-4).

Lidah, laksana “media” promosi penentu, bisa menjadikan seserorang jadi berharga, atau malah menjatuhkannya hingga layaknya sampah! Beberapa tahun lalu, di Indonesia banyak orang terpukau pada setiap kata-kata inspirasi bijak yang dilantunkan sang motivator ternama, Mario Teguh. Namun sungguh disayangkan, begitu diketahui latar belakang riwayat hidupnya yang dianggap tidak sejalan dengan lantunan kata-kata menawan, namanya pun (maaf!), seolah berobah drastis jadi “motivator sampah”! Oh, lidah……. “memang lidah tak bertulang, tak terbatas kata-kata…..” (Ay.5a).

Yang lebih berbahaya, Rasul Yakobus pun selanjutnya menggambarkan bahwa lidah itu laksana “api”. Api lidah sendiri dinyalakan oleh api neraka (maksudnya bukan api Roh Kudus)! Begitu ia menyala, seberapa pun hutan yang ada, termasuk apakah di situ ada kebun karet, sengon, rambutan, mangga, atau kebun apa pun yang saudara punya, pasti semua dilalapnya. Api tidak perduli perasakaan duka Anda atas yang telah berpuluh-puluh tahun telah merawat kebun masa depan Anda! Oh, betapa mengerikan! Betapa berbahaya! “Lidah”, bagian kecil yang ada pada diri manusia itu, ternyata tidak sesederhana seperti yang orang kira pengaruh yang ditumbulkannya (Ay.5b).

Jangan kira mudah menjinakkan lidah. Lidah, akan secara replek secepat kilat akan merespons setiap apa yang mebuatnya bisa marah, tanpa sempat mengedit ucapan! Kata-kata kasar, caci-maki meluncur begitu saja tak terkendali. Ucapan “kafir”, “anjing”, “babi”, “kerbau” (silahkan lanjutkan sendiri), enteng saja disebutkan. Apalagi terhadap orang yang dianggap musuh (musuh politik?), atau siapapun yang dianggap saingan, atau orang yang pernah menyakitkan. Fitnahan, gosip, pencemaran nama baik terhadap lawan lewat kata-kata, dianggap cara yang syah saja untuk dilakukan! Penyesalan datang kemudian. Permohonan maaf dianggap jalan keluar paling relevan! Kata maaf diberikan, hanya ibarat paku yang pernah ditancapkan, dicabut pun dengan kata maaf, namun masih meninggalkan bekas lobang! (Ay.6).

Berbicara tentang “lidah” sebenarnya tidak sekedar pembahasan soal kata-kata yang dihasilkan lidah itu sendiri, tetapi sekaligus tentang “kata verbal” yang merekat pada sifat manusia, yang mempengaruhi roda kehidupannya. Tentang hal ini, Rasul Yakobus ungkapkan : “Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia…” Manusia memang bisa mengusai atau menjinakkan segala burung dan jenis binatang dengan sifatnya, tetapi manusa tidak akan pernah sanggup menjinakkan lidahnya sendiri. Karenanya, tidak sederhana menjinakkan lidah, tidak cukup hanya sekedar nasihat “hati-hati gunakan lidahmu”. Tidak, Tidak sesederhana itu! (Ay.7).

Lalu bagaimana seharusnya kita dapat menjinakkan lidah yang begitu buas dan mematikan? Apa rahasia Firman Allah yang memberkati, sehingga lidah kita menjadi lidah yang kudus, yang menjadi berkat, yang membebaskan kita dari ganasnya api neraka? Ini rahasianya. Lidah tidak berdiri sendiri! Lidah terhubung langsung dengan dua temannya yang lain, otak dan hati. Ibarat sutradara dibalik layar, otak dan hati paling berperanan. Itulah dalang sesungguhnya!

Bila ingin menjinakkan lidah, maka jinakkan dalangnya. Ibaratkan mau menjinakkan tubuh kuda, maka kuasai mulutnya dengan kekang kuda. Atau mau menjinakkan kapal besar, maka kuasai kemudinya! Kata bijak mengatakan “ lidah orang berakal berada di belakang hatinya, dan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya." (Ay.3-4).

Otak yang kotor dan hati yang tak bersih, apa mungkin dapat menggemakan kalimat yang jujur? Pikiran yang penuh curiga, hati yang sarat dendam kesumat, iri hati, dan takut tersaingi, apa mudah melantunkan kata pujian, hormat, atau berkat? Bila harga diri ada yang menodai, apa mudah sabar dan menahan diri? Seperti kata Rasul Yakobus “adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pohon anggur dapat menghasilkan buah ara?

Persoalannya bukan pada lidah itu sendiri, tetapi kualitas otak dan hati yang tersembunyi di baliknya itulah yang jadi biang masalah. Ibarakan mata air yang asin, mana mungkin akan mengeluarkan air tawar. Hanya otak dan hati yang telah diperbaharui laksana sumber mata air tawar dan jernih oleh pikiran dan hati Kristus sajalah yang memungkinkan lidah, menjadi lidah yang dapat memegahkan perkara-perkara besar dan indah (Ay.5,12). Amin!