Renungan GKE

Senin, 22 Oktober 2012

SEBERAPA BERHAGAKAH ALKITAB BAGI HIDUP ANDA?


Mazmur 119:121-128

Ada satu cerita menarik tentang sebuah jaringan pelayanan pendistribusian Alkitab bernama The Gideons. Jaringan ini telah beroperasi ke seluruh dunia, juga telah ke negara Rusia, bekas Uni Soviet. Selama kurang dari satu tahun di negara Rusia mereka tidak mengalami kesulitan dalam mengedarkan Alkitab. Mereka disambut baik oleh orang-orang di sana yang haus akan firman Allah. Pada suatu ketika, dalam rangka melaksanakan pelayanan, sampailah mereka di sebuah kota. Di sana, mereka diizinkan untuk menyebarkan kitab Perjanjian Baru di sebuah sekolah dasar. Saat itu mereka ditemani oleh seorang kepala polisi. Oleh karena itu, ketika mobil yang membawa mereka ternyata malah melewati sekolah yang ditunjuk, mereka jadi bertanya-tanya, jangan-jangan mereka akan dibawa untuk diinterogasi.

Setelah melakukan perjalanan selama enam atau tujuh kilometer kemudian, mereka berhenti di sebuah sekolah lain dan diminta membagikan Alkitab di situ. Mereka pun membagikannya kepada setiap murid dan anggota staf di sekolah tersebut.Tak lama kemudian, pemimpin kelompok itu bertanya kepada si kepala polisi, “Mengapakita berganti sekolah?” Kepala polisi itu menjawab dengan tenang, “Karena dua anak saya bersekolah di sini. Saya ingin memastikan bahwa mereka mendapat Alkitab.” Oh, luar biasa! Pejabat Rusia ini menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan Alkitab bagi anak-anaknya, dan mungkin juga supaya ia sendiri dapat membacanya.

Firman Allah itu begitu mulia dan berharga rupanya bagi mereka. Dalam situasi yang sulit pun mereka berusaha untuk mendapatkannya. Saudara, bagaimana dengan kita? Seberapa berhargakah firman Allah bagi kehidupan kita? Adakah seperti seorang pejabat Rusia, seorang Kepala Polisi yang begitu rindu akan Firman Allah? Ironis memang dengan apa yang sering terjadi dalam kehidupan kekristenan kita. Tidak jarang, Alkitab tidak ubahnya sebagai pelengkap. Mulus bentuknya hanya jadi pajangan di almaari-almari hiasan. Bahkan berdebu karena dibuka pun jarang! Dibacakan juga, mungkin pada saat-saat tertentu saja. Bila ibadah minggu telah tiba. Atau dibacakan jika tuan rumah diminta di kebaktian Rumah Tangga! Atau ada yang lebih ektrim, hanya dijadikan semacam jimat, ditaruh di dekat mayat, supaya kuasa jahat tidak berani mendekat?! Oh… Mestinya selagi hidup diberikan Alkitab supaya mengenal jalan selamat, bukan setelah jadi mayat baru didekatkan sama Alkitab. Itu terlambat! Tak bermanfaat!

Pemazmur ini mengungkapkan kepada kita bahwa ia telah mempercayakan dirinya kedalam tangan Tuhan.Ia berkomitmen untuk menjadikan Firman Tuhan sebagai penuntun kebaikan. Pemazmur rupanya begitu rindu pada jalan selamat yang Firman Tuhan ajarkan. Ya, rindu serta menjadikannya sebagai pegangan jaminan keselamatan (ay.121, 128) Rupanya pemazmur ini tidak hanya sekedar membaca Firman Tuhan, tetapi bahkan meminta kepada Allah, “Ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku” (ay.124). “Buatlah aku mengerti”. Juga, “supaya aku tahu peringatan-peringatan-Mu” (ay.125). Pemazmur ini begitu membenci “segala jalan dusta”, dan mendasarkan hidupnya pada prinsip bahwa “aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu” (ay.128). Saudara, apakah ini juga menjadi sikap kita?

Pdt.  Kristinus Unting, M.Div

Tidak ada komentar:

Posting Komentar