Renungan GKE

Jumat, 13 Juni 2014

JANGAN GANTI BERKAT ALLAH DENGAN BERKAT MURAH!


Kejadian 27:30-40

Sejatinya setiap kita rindu untuk mendapatkan berkat dari Allah. Tubuh yang sehat, dijauhkan dari berbagai marabahaya. Segala rencana dapat tercapai sesuai harapan, usaha yang lancar-lancar saja tanpa kendala atau gangguan. Dan oh, ya….. nanti juga  berharap Tuhan memperkenankan kita masuk sorga! Hanya masalahnya saudara, dalam kenyataan hidup kita, berkat yang dari Allah tanpa kita sadari kita ganti dengan berkat-berkat murah. Layaknya Esau yang semestinya beroleh berkat hak kesulungan dari Allah, namun ia ganti hanya dengan semangkok kacang merah! Oh,ruginya….hanya mendapat semangkok kacang merah, namun bukan berkat yang indah dari Allah!

Bukankah hal yang demikian sering juga kita lakukan dalam kehidupan nyata kita? Apa umpama? Ya, ketika kita gantikan segala rencana Allah yang indah bagi hidup kita dengan pilihan-pilihan serta pertimbangan-pertimbangan kita yang salah! Oh, ya? Apa persisnya? Ya, ketika kita lebih memilih kursi jabatan dengan cara pintasan  berharap cepat nyaman, cepat melimpah dengan cara-cara pintasan! Cara licik menipu dan mengancam! Memeras, menipu, korupsi segala macam! Tidak dengan sabar memikul salib namun perlahan-lahan menuju kemuliaan! Apa contoh lainnya? Nah, tidak kurang ketika kita gadaikan iman untuk memilih pasangan hidup dengan yang tidak seiman, dengan alasan kemakmuran, gengsi, ketenaran segala macam!

Lalu ketika hidup ini jadi berantakan? Dan doa-doa kepada Tuhan seolah tak bisa diharapkan? Jadilah dendam kesumat membara dalam dada. Layaknya api membakar hutan! Persis seperti Esau kehilangan berkatnya karena dia seorang tidak beriman yang memandang rendah kekudusan berkat kesulungan! Namun apa dikata, kini ia mengubah pikirannya dan berusaha mendapatkan berkat itu dengan air mata, namun air matanya itu merupakan air mata kekecewaan dan kemarahan, bukan karena sedih atas pilihan-pilihannya yang berdosa. Pengalaman Esau mengingatkan kita akan pilihan-pilihan salah dalam hidup yang membawa berbagai dampak mengerikan yang tak terelakkan  dalam kehidupan.

Mengapa Esau tidak layak dikasihi Allah? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat sulit dijawab atau dijelaskan. Namun sudahkah kita mempertimbangkan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pilihan-pilihan kita sudah benar? Apakah cara hidup kita sudah benar? Kita terlampau sering beranggapan bahwa Allah "Sungguh tidak adil!" Oh, ya…? Benarkah? Ketika kita hanya mau berbagi serba sedikit kepada sesama atau dalam persembahan kepada Tuhan, lalu meminta berkat-berkat Allah yang luar biasa? Itu adil juga kah? Ketika pada masa pencalonan jadi calek, doanya siang malam, sumbang sini-sumbang sana segala macam, sekarang ibadahnya saja jarang-jarang? Apa kah itu juga disebut keadilan? Bila kita sungguh rindu untuk diberkati Allah, ya jangan gantikan berkat Allah dengan berkat-berkat murah! Amin!


(Pdt.Kristinus Unting, M.Div)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar