Renungan GKE

Jumat, 22 Agustus 2014

WARISAN YANG PALING BERHARGA


Lukas 12:13-21

Saudara, ada pepatah mengatakan bahwa harta dan uang  tak kenal saudara. Benar begitu saudara? Oh, ya?! Dan  banyak kisah nyata kehidupan manusia memperlihatkan hal yang demikian memang  ada benarnya juga. Walau tidak semuanya. Tapi kebanyakan! Ya, bagaimana saudara sendiri sering bermasalah gara-gara soal harta. Soal pembagian warisan umpama. Kisah nyata berikut ini salah satu contohnya. Pernah baru tiga hari seorang ibu dimakamkan, 12 orang anaknya  dengan trik masing-masing sekiranya bila sampai saatnya nanti akan dibagikan warisan. Mereka mendesak ayah mereka yang sudah tua yang masih tinggal supaya secepatnya membagikan warisan. Maklum orang tua mereka punya cukup banyak harta dan tanah perkebunan.

Ada yang mengklaim, bahwa tanah  di wilayah A yang banyak pohon durian itu adalah nanti bagian saya. Yang lain ada yang sudah mengklaim bahwa tanah yang di wilayah B yang banyak pohon cempedak itu nanti menjadi bagian saya. Yang lain lagi mengklaim, bahwa tanah di wilayah C yang luas dan ditumbuhi banyakkebun rotan adalah nanti harus menjadi bagian saya. Demikian pun yang lain tidak ketinggalan mengklaim bahwa tanah di wilayah D di dekat aliran sungai yang banyak kebun karet itu nanti harus menjadi bagian saya. Lalu tanah kosong yang kurang subur yang agak di pedalaman sana? Nah itu nanti bagian saudara kita si Anu, karena dia sedikit berpartisipasi terhadap orang tua kita. Demikian seterusnya dan seterusnya…..

Yang tidak kalah menarik, beberapa di antara mereka tidak hanya mengklaim satu jenis warisan! Soalnya? Ya, disamping tanah warisan yang diklaim, rumah di jalan anu di ibukota Provinsi itu nanti juga menjadi bagian saya. Alasannya? Karena sayalah yang paling banyak mengeluarkan biaya waktu renovasinya. Lalu rumah yang di kampung ini yang  terbuat dari bahan kayu ulin dan bahan-bahan pilihan beserta tanah lingkungan, toko kecil di depan, beserta penggilingan padi? Nah, kalau yang ini adalah bagian saya, demikian yang lain mengklaimnya. Alasannya? Karena sayalah yang selalu bersama-sama dengan orang tua kita di sini, dan sayalah yang paling banyak membantu mereka mengurusnya selama ini! Yang lain lagi, yang merasa sebagai anak bungsu anak kesayangan bapaknya? Sambil bisik-bisik pada bapaknya: “Pa, nanti rekening bapak di Bank dan kaplengan tanah di ibukota Provinsi itu bagian saya ya pa?”

Saudara, demikianlah masalah dapat terjadi dalam keluarga, gara-gara soal harta dan warisan! Ada yang kecewa, ada yang bahagia.  Apalagi bila orang tua kurang bijaksana, pilih kasih pada anak-anaknya! Ketidakadilan dirasa, dendam membara, saudara sendiri dicelakakan juga bila ada kesempatan di kemudian hari.  Dapat Anda bayangkan apa yang terjadi. Ya, itulah bila nafsu rakus tak terkendali. Harta dianggap satu-satunya yang paling berharga dalam hidup. Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkannya.  Sesama saudara sendiri saling menyingkirkan!

Saudara, kisah tadi mirip dengan apa yang dikisahkan dalam Alkitab. Adalah seorang datang pada Yesus. Untuk meminta bantuan Yesus supaya saudaranya berbagi warisan dengannya (ay.13). Tidak diceritakan apakah orang ini korban ketidak adilan soal pembagian harta warisan keluarga. Atau justru dia ingin mendapatkan warisan lebih dari saudaranya yang lain. Tapi yang jelas, ia bermasalah dengan saudaranya soal warisan! Permintaannya ditolak oleh Yesus (ay.14). Bukannya Yesus mengabaikan arti pentingnya warisan yang diinginkannya. Lebih dari itu. Yesus tidak ingin dia terjerumus pada sikap  mengutamakan harta semata, sikap keserakahan manusia yang tidak jarang melupakan hal terpenting dan paling prinsif, yaitu kehidupan kekal! Harta kekayaan dan uang bukanlah jaminan kebahagiaan.  Harta kekayaan dan uang bisa jadi dapat berikan kebahagiaan sesaat, tapi tidak bisa menjadi dasar  kebahagiaan kekal untuk beroleh selamat di akhirat! Alkitab berkata: “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilanya.” (Pkh.5:9). Jika demikian, apa sih harta warisan yang paling berharga itu sesungguhnya?

Pertama:  Warisan Iman.

Warisan iman adalah hal mendasar yang harus dimiliki dan diwariskan oleh setiap orang percaya. Iman adalah pedoman bagaimana seharusnya kita menjalani hidup sesuai jalur yang Tuhan inginkan. Dengan iman kita dapat hidup sesuai dengan maksud Tuhan. Ya, tentu saja menjalani hidup berdasarkan aturan Tuhan. Bukan aturan kita manusia dengan sejuta keinginan, sejuta keserakahan yang berakhir pada kebinasaan! Menuai kesia-siaan, seperti Alkitab tegaskan: “Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya?” (Pkh.5:10). Sudahkah Anda memiliki dan memelihara warisan iman? Sudahkah anda mewariskannya kepada anak cucu kita? Setiap manusia yang tidak mewarisi dasar iman, dipastikan banyak salah jalan. Tidak akan pernah sampai ke tujuan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kedua: Warisan Kejujuran.

Dunia kita sekarang ini memang bermasalah soal kejujuran. Sikap yang tidak jujur akan sulit membedakan batas mana hak milik pribadi dan mana hak milik orang lain. Sulit menghargai kepemilikan orang lain. Atau juga kelebihan orang lain. Semua mau diklaim menjadi milik sendiri untuk memperkaya diri sendiri. Mana ada orang yang tidak jujur memiliki rasa takut akan Tuhan. Mana ada orang yang tidak jujur dapat dengan baik bersyukur. Yang ada hanyalah sikap yang pelit, sulit berbagi. Sikap yang tidak jujur akan melahirkan mental koruptor! Mengambil milik orang lain, milik negara, atau apa saja secara tidak jujur.  Ya, yang ada hanyalah keserakahan membabi buta. Pusat kebahagiaannya semata-mata hanya pada harta, pada apa yang didapatkan, bukan pada memberi dan berbagi. Padahal Alkitab memberitahukan rumus kebahagiaan: “Adalah lebih  berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kis.20:35). Warisilah sikap yang jujur, karena hanya orang yang jujurlah yang dapat sungguh-sungguh berbahagia.

Ketiga: Warisan Spirit Kehidupan.

Spirit kehidupan adalah semangat hidup. Motivasi untuk berjuang. Orang yang memiliki spirit hidup, tidak tergantung dari belas kasihan orang lain. Apalagi bila hanya bergantung dari harta warisan! Dia lebih merasa bahagia dengan setiap tetes keringat hasil perjuangan sendiri. Seorang Kristen yang memiliki spirit kehidupan pernah mengungkapkan isi hatinya: “Bagi saya, pantang berebut soal warisan. Toh pun saya tidak mendapat bagian, bagi saya tidaklah menjadi persoalan. Pantang berbangga karena warisan orang tua. Saya lebih bangga bila dapat mencari sendiri dan mendapatkan, toh tanpa warisan dari orang tua segala”. Wah…wah…wah… Orang seperti ini yang perlu diacungi jempol. Spirit hidup yang perlu kita teladani. Semangat kerja keras untuk mendapatkan hasil. Mental hidup seperti ini yang perlu kita miliki dan wariskan! Spirit hidup yang demikian menjadikan orang mampu merasakan arti sebuah perjuangan. Dapat dipercaya serta mampu mensyukuri segala nikmat yang Tuhan berikan. Jiwanya tentu melimpah dengan tulus untuk berbagi, rasa senasib-sepenanggungan. Pribadi yang tangguh tanpa sungutan di kancah badai kehidupan! Bukan bermanja-manja menunggu hasil berbagi warisan orang tua segala. Amin!


(Pdt.Kristinus Unting, M.Div)

Selasa, 15 Juli 2014

JADILAH ORANG KAYA YANG BIJAK!




Lukas 12:13-21

Kenapa orang kaya dalam nas ini dikatakan Yesus sebagai “orang kaya yang bodoh”?  Pertama, karena ia mengukur kesuksesannya hanya dari berapa banyak harta dan kekayaan yang dimilikinya. Tidak lebih dan tidak kurang! Kedua, cintanya kepada harta kekayaan dan uang melebihi rasa cintanya kepada sesama, melebihi yang lainnya. Ia tidak rela sedikit pun berbagi cinta kepada yang lain! Ketiga, harta kekayaan dan uang dijadikannya sebagai tujuan untuk menempatkan dirinya menjadi “tuhan” (hurup kecil).

Orang kaya yang bodoh… Oh, kenapa begitu banyak dijumpai dalam ranah kehidupan? Ya, karena pada umumnya manusia lebih pintar menambah dan mengali, ketimbang urusan mengurang dan membagi! Oh, ya?! Ya, pintar berusaha dengan berbagai cara. Yang haram pun terkadang dihalalkannya. Kreatif menggali dan memanfaatkan segala peluang yang ada untuk melipatgandakan usaha. Sangat lihai soal menakar dan menimbang supaya tidak pernah kurang. Juga cermat menyimpan tabungan di Bank. Tapi soal membagi alias berbagi? Nah…nah..nah… untung rugi pertimbangannya. Di sinilah masalahnya.  Paling banter lihai mengurangi hak milik sesama. Apa pun alasan dicari untuk membenarkannya. Maaf…maaf…maaf…!

Pada dasaranya manusia sudah dari sononya memiliki karakter ketamakan , seperti  kata Firman Tuhan:  “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya itu…..” (Pengkhotbah 5:9). Cara orang mendapatkannya, bagaimana orang memperlakukan dan mempergunakannya, dan apa tujuannya! Ya, di situlah titik persoalannya. Dan celakanya bila dengan memiliki semuanya lalu merasa lebih berkuasa.  Mau berbuat seenaknya kepada siapa saja dan apa saja. Berlaku semena-mena. Seakan menjadi “tuhan” kecil atas sesamanya.

Harta benda, kekayaan, uang atau pun jabatan sebenarnya bukanlah barang haram. Juga belumlah berarti dosa.  Hanya bila kurang diwaspada, bisa berbahaya. Yesus sendiri mensifatkannya: “Karena di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21). Tive manusia yang hanya pintar menambah dan mengali untuk mengumpulkan harta, tapi kurang pintar untuk membagi kepada sesama dan Kerajaan Allah, itulah ciri “orang kaya yang bodoh” .  Bukan “orang kaya yang bijak”. Seperti disifatkan Yesus, kaya harta dunia memang, segalanya melimpah! Tetapi sayang, bila tidak pernah kaya di hadapan Allah! Anda termasuk tive orang kaya yang mana?!  Amin!


MENJADI CERMIN CITRA ALLAH

Mazmur 122:1-9

Yerusalem adalah pusat ibadah dan pusat kehidupan berbangsa. Yerusalem tidak saja tempat umat menyembah Allah, tetapi juga tempat sumber pengayoman Allah melalui kepemimpinan umat yang diwujudkan. Masa kini, Gereja dan Negara adalah dua institusi berbeda fungsi dan tujuan. Namun keduanya adalah hamba Allah tempat kebaikan seharusnya diujudnyatakan sebagai syukur yang teralami oleh banyak orang. Bagi Israel, kota Yerusalem adalah simbol kehadiran Allah yang mempersatukan mereka, walaupun mereka terdiri dari beragam suku (4).

 Allah berkenan menyatakan kehadiran-Nya di Bait Allah Yerusalem (1Raj.9:3). Pemazmur bukan semata-mata kagum kepada kota Yerusalem melainkan rindu kepada Yahwe yang hadir di sana. Hal itu nyata lewat pernyataan pemazmur yang bersukacita untuk pergi ke rumah Yahwe dan menemukan kebaikan-Nya di sana (Mzm. 121:1, 9). Yerusalem juga menjadi simbol pemersatu Israel karena kuasa Allah dinyatakan lewat hamba-Nya, Daud dan keturunannya yang menjadi raja atas mereka (5).

Betapa indahnya kalau gereja boleh menjalankan peran baik sebagai pemersatu umat Tuhan maupun sebagai pengarah kebijakan-kebijakan para pemimpin negara ini. Simbol kehadiran Allah dan kehadiran kepemimpinan dalam gereja jangan sampai menjadi tempat eksklusif hanya untuk kelompok, etnis, suku, bahasa, status sosial tertentu. Mari kita yang sudah mengalami kasih karunia-Nya, memancarkan syalom Allah dalam Kristus kepada semua orang tanpa syarat dan batasan apa pun. Mari kita ungkapkan panggilan untuk menjadi berkat bagi sekalian orang itu baik dalam doa, program-program, maupun dalam tindakan nyata kita sehari-hari. Amin!


Jumat, 13 Juni 2014

DOA SEBAGAI SARANA MENJALIN KEINTIMAN DENGAN TUHAN


Lukas 18:1-8

Sebagai orang beriman, rata-rata kita tentu tahu apa artinya sebuah doa. Sedari kecil  barangkali kita sudah diajari untuk berdoa. Baik oleh ibu bapak, atau oleh guru ketika mengikuti Sekolah Hari Minggu. Ya, berdoa sebelum makan, berdoa sebelum tidur, berdoa sebelum bepergian, doa syukur, dan doa-doa lainnya berbagai macam! Bila ada orang Kristen yang tidak tahu artinya sebuah doa, atau tidak tahu berdoa, tentu pengecualian namanya. Atau malah perlu dipertanyakan! Padahal saking pentingnya doa bagi orang percaya sampai muncul istilah “Doa adalah nafas hidup orang beriman”. Oh, ya…?! Tidak kurang, Yesus sendiri mengingatkan para pengikut-Nya supaya berdoa terus-menerus. 

Melalui nas ini, Tuhan Yesus memberikan sebuah perumpamaan yang sangat menarik mengenai pentignnya sebuah ketekunan dalam berdoa. Diceritakan tentang seorang janda yang terus memohon kepada hakim lalim agar haknya dibela (ay 3). Sementara si hakim bukanlah orang yang takut akan Tuhan, dan sikapnya arogan dan lalim, tidak menghormati siapapun. Tapi lihatlah janda itu tidak jemu-jemu mendatanginya dan memohon. Dengan gigih janda itu berjuang hingga akhirnya sang hakim yang lalim pun luluh dan membenarkan si janda itu.

Apa yang Tuhan Yesus ajarkan lewat perumpamaan tadi begitu jelas. Sebuah gambaran untuk menegaskan, bahwa kita seharusnya selalu berdoa dengan tekun, dengan tidak jemu-jemu.  Layaknya orang bernafas. Terus-menenur bernafas.  Apakah doa anda selama ini sedemikian tekun? Layaknya orang terus-menerus bernafas? Atau sekali-sekali saja bernafas? Atau bilamana perlu saja baru bernafas?  Berhenti bernafas itu tandanya kita sudah tidak hidup! Alias sudah mati! Ketika senang Anda bernafas? Tetapi ketika kecewa apakah Anda tetap tekun bernafas? Sebab apalah gunanya senyuman sosok seorang mayat yang sudah tak bernafas lagi bukan?

Pada masa pencalekan misalkan, barangkali doa Anda begitu tekun siang dan malam dipanjatkan.  Entahlah  selepas ketika telah berhasil atau malah gagal, masihkah doanya begitu tekun dipanjatkan? Masihkah tekun beribadah? Atau, masihkah tekun  sumbang sana-sumbang sini terus dilakukan? Atau hanya sekali-sekali? Atau sudah terhenti layaknya orang sudah tak bernafas lagi? Bila jawabnya ya, bersyukurlah. Itu artinya Anda tetap hidup. Karena Anda tetap bernafas, toh di saat kecewa sekali pun. Itu pertanda masih ada kehidupan.  Masih ada pada Anda tanda-tanda kehidupan sebagai anak Tuhan. Menjadikan doa sebagai gaya hidup untuk menjalin keintiman dengan Tuhan. Bukan menjadikan doa sekedar “alat” yang sekali-sekali saja digunakan untuk mengatur dan memaksa Tuhan  memenuhi segala keinginan.  Amin!

(Pdt.Kristinus Unting, M.Div)


PEREMPUAN DALAM PANDANGAN ALKITAB


Bilangan 27:1-11

Seorang rekan pendeta dari Myanmar berkata bahwa di negerinya perempuan tidak diperbolehkan memimpin gereja. Jangankan menjadi pendeta, menjadi penatua di gereja pun tidak lazim. Demi melestarikan budaya patriarkat ini, warga gereja memakai ayat Alkitab. Perkataan Paulus bahwa "perempuan harus berdiam diri" dijadikan dasar pembenaran. Padahal faktanya, potensi dan peran perempuan sangat besar dalam gereja.

Bagaimana pandangan Alkitab sendiri  terhadap kaum perempuan?  Dalam Alkitab (khususnya PL), secara prinsip,Taurat memberlakukan laki-laki dan perempuan sederajat. Apa buktinya? Justru dalam menghadapi budaya patriarkat, Taurat melindungi kaum perempuan yang sering terabaikan hak-haknya. Taurat melindungi seorang istri yang diceraikan suaminya, dengan keharusan suami memberikan surat cerai pada istrinya. Tujuannya, istri tidak dituduh berzina bila ia dinikahi pria lainnya. Selain itu, suami pertama tidak dapat melecehkan mantan istrinya itu (Ul. 24:1-4). Demikian juga ketika suami mencurigai istrinya tidak setia, ia berhak mendapatkan keadilan dan kesempatan membuktikan diri tak bersalah (Bil. 5:11-19).

Dalam kasus putri-putri Zelafehad ini terlihat bahwa penerapan firman Tuhan dalam berbagai situasi selalu menjadi prioritas utama. Taurat mengaturkan hak pewaris yang tidak boleh keluar dari masing-masing kaum dan suku Israel. Oleh karena itu dalam kasus tidak adanya anak lelaki, Taurat mengatur agar anak perempuan pun boleh mewarisi harta ayahnya. Walau peran seorang perempuan di sini diungkapkan dengan cara yang berbeda dengan peran laki-laki, namun masing-masing dihargai dengan nilai yang sama dan mendapatkan bagian yang sama.

Bagaimana dengan di Indonesia, khususnya GKE? Peran perempuan tak kalah pentingnya dalam hidup bergereja. Para perempuan juga punya kepedulian tinggi terhadap pelayanan gereja. Melawat yang sakit dan berduka. Mengatur rumah tangga gereja. Mengurus konsumsi. Bahkan, memimpin jemaat. Sungguh, peran perempuan tak boleh dipandang sebelah mata. Perempuan pun berperan dalam rencana keselamatan Allah bagi dunia ini.  Bila ada gereja masa kini yang membedakan peranan wanita tidak seporsi dengan peran pria, perlu dipertanyakan. Karena sejak Kitab Kejadian 1 Allah telah menciptakan manusia pertama laki-laki dan perempuan dalam citra yang sama. Dan jika gereja tidak memberikan kesempatan dan menghargai keberadaan perempuan dalam persekutuan umat, akan melukai kepribadiannya dan mengingkari karunia Allah. Amin!

(Pdt.Kristinus Unting, M.Div).

ANTARA HAK DAN KEWAJIBAN



Keluaran 22:1-17
Nas ini berbicara soal cara hidup dalam kehidupan sosial. Supaya terjadi keseimbangan. Keseimbangan antara hak dan kewajiban.  Ya, intinya mengajarkan kita agar kita tidak hanya selalu menuntut hak sebelum kita melaksanakan kewajiban. Hak dan kewajiban itu haruslah selalu beriringan. Hak akan datang dengan sendirinya jika kewajiban telah dipenuhi. Kewajiban pun akan menuntut jika hak sudah terlebih dahulu diterima.
Banyak orang yang menuntut haknya tanpa terlebih dahulu melaksanakan kewajiban. Mereka kadang tahu tentang haknya saja tanpa tahu apa kewajibannya. Ada juga yang tahu hak dan kewajibannya, tapi ia meminta haknya terlebih dahulu. Setelah haknya ia terima maka ia baru kemudian melaksanakan kewajibannya. Seringkali kewajiban tersebut sulit ia laksanakan karena kewajiban biasanya lebih berat dilaksanakan setelah hak diterima.

Para Filusuf “teori korelasi” yang dianut para pengikut utilitarisme sekali pun berpendapat  bahwa selalu ada hubungan timbal balik antara hak dan kewajiban. Menurut “teori korelasi” pengikut utilitarisme tersebut, bahwa setiap kewajiban seseorang selalu berkaitan dengan hak orang lain, dan sebaliknya setiap hak seseorang berkaitan dengan kewajiban orang lain untuk memenuhi hak tersebut. Jadi sesungguhnya, jika ada korelasi yang baik dalam tananan kehidupan sosial, maka keseimbangan hak dan kewajiban pun menjadi lancar!  Hak yang tidak ada kewajibannya tidak pantas disebut hak. Demikian pun kewajiban tanpa hak adalah pemerasan!

Bagaimana dengan kita selaku umat Tuhan? Apakah sudah terjadi keseimbangan antara hak dan kewajiban? Atau hanya lebih banyak menuntuk hak ketimbang kewajiban? Hak untuk mendapat pelayanan yang lebih baik, hak untuk didengar doanya oleh Tuhan? Bagaimana tentang kewajiban dan  tanggungjawab apa sudah dilaksanakan?  Apakah hak yang menjadi  milik Tuhan, milik orang lain, milik gereja, sudah kita laksanakan? Atau malah diambil juga menjadi milik pribadi?

Saudara, Tuhan sudah memelihara, menjaga dan merawat kita dengan baik,setiap hari. Kita juga diminta untuk menjaga barang-barang milik kita dan milik orang lain.  Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini untuk kita pergunakan dengan baik. Maka, tidak baik kalau kita merusakkan barang orang lain. Kita harus belajar mencintai milik orang lain seperti milik kita sendiri. Bagaimana kita mengharagai barang orang lain? Nah ini! Konkritnya, Kalau pinjam barang orang harus dijaga dengan baik dan tidak dirusakkan. Wajib dikembalikan ke orang yang mempunyai barang, jangan disimpan berlama-lama dan akhirnya lupa. Kalau menemukan barang yang bukan miliknya harus dikembalikan.  Saudara yang terkasih, kalau kita menghargai barang orang lain, maka orang lain juga akan menghargai barang milik kita. Dengan demikian Tuhan akan amat mencintai kita. Amin!

(Pdt.Kristinus Unting, M.Div)

JANGAN GANTI BERKAT ALLAH DENGAN BERKAT MURAH!


Kejadian 27:30-40

Sejatinya setiap kita rindu untuk mendapatkan berkat dari Allah. Tubuh yang sehat, dijauhkan dari berbagai marabahaya. Segala rencana dapat tercapai sesuai harapan, usaha yang lancar-lancar saja tanpa kendala atau gangguan. Dan oh, ya….. nanti juga  berharap Tuhan memperkenankan kita masuk sorga! Hanya masalahnya saudara, dalam kenyataan hidup kita, berkat yang dari Allah tanpa kita sadari kita ganti dengan berkat-berkat murah. Layaknya Esau yang semestinya beroleh berkat hak kesulungan dari Allah, namun ia ganti hanya dengan semangkok kacang merah! Oh,ruginya….hanya mendapat semangkok kacang merah, namun bukan berkat yang indah dari Allah!

Bukankah hal yang demikian sering juga kita lakukan dalam kehidupan nyata kita? Apa umpama? Ya, ketika kita gantikan segala rencana Allah yang indah bagi hidup kita dengan pilihan-pilihan serta pertimbangan-pertimbangan kita yang salah! Oh, ya? Apa persisnya? Ya, ketika kita lebih memilih kursi jabatan dengan cara pintasan  berharap cepat nyaman, cepat melimpah dengan cara-cara pintasan! Cara licik menipu dan mengancam! Memeras, menipu, korupsi segala macam! Tidak dengan sabar memikul salib namun perlahan-lahan menuju kemuliaan! Apa contoh lainnya? Nah, tidak kurang ketika kita gadaikan iman untuk memilih pasangan hidup dengan yang tidak seiman, dengan alasan kemakmuran, gengsi, ketenaran segala macam!

Lalu ketika hidup ini jadi berantakan? Dan doa-doa kepada Tuhan seolah tak bisa diharapkan? Jadilah dendam kesumat membara dalam dada. Layaknya api membakar hutan! Persis seperti Esau kehilangan berkatnya karena dia seorang tidak beriman yang memandang rendah kekudusan berkat kesulungan! Namun apa dikata, kini ia mengubah pikirannya dan berusaha mendapatkan berkat itu dengan air mata, namun air matanya itu merupakan air mata kekecewaan dan kemarahan, bukan karena sedih atas pilihan-pilihannya yang berdosa. Pengalaman Esau mengingatkan kita akan pilihan-pilihan salah dalam hidup yang membawa berbagai dampak mengerikan yang tak terelakkan  dalam kehidupan.

Mengapa Esau tidak layak dikasihi Allah? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat sulit dijawab atau dijelaskan. Namun sudahkah kita mempertimbangkan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pilihan-pilihan kita sudah benar? Apakah cara hidup kita sudah benar? Kita terlampau sering beranggapan bahwa Allah "Sungguh tidak adil!" Oh, ya…? Benarkah? Ketika kita hanya mau berbagi serba sedikit kepada sesama atau dalam persembahan kepada Tuhan, lalu meminta berkat-berkat Allah yang luar biasa? Itu adil juga kah? Ketika pada masa pencalonan jadi calek, doanya siang malam, sumbang sini-sumbang sana segala macam, sekarang ibadahnya saja jarang-jarang? Apa kah itu juga disebut keadilan? Bila kita sungguh rindu untuk diberkati Allah, ya jangan gantikan berkat Allah dengan berkat-berkat murah! Amin!


(Pdt.Kristinus Unting, M.Div)