Renungan GKE

Sabtu, 18 Mei 2019

PERINTAH SALING MENGASIHI


 
Yohanes 13:31-35

Yesus memerintahkan kepada para murid untuk saling mengasihi. Yesus mengistilahkannya sebagai perintah baru. Kenapa disebut Perintah baru”? Baru yang seperti apa? Baru, karena standar yang digunakan bukan standar lama ala Hukum Taurat, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tetapi standar baru seperti yang Yesus contohkan, pengorbanan dan pengampunan.

Kasih yang diajarkan Yesus lebih dari sekedar kasih Eros, Fileal, atau Storge. Tetapi kasih Agape, kasih dalam kualitas tententu hingga jalan salib sekali pun mampu dilalui. Disebut perintah baru karena dampaknya sungguh luar biasa bila dilakukan, yang karenanya manusia akan sampai bertemu Tuhan, bukan kesasar salah jalan! Kenapa Yesus memerintahkan supaya murid-murid-Nya saling mengasihi seperti yang Dia lakukan?

1. Saling mengasihi adalah kekuatan.

Yesus memerintahkan kepada para murid untuk saling mengasihi tentu supaya mereka memiliki kekuatan untuk mampu bertahan. Kekuatan untuk bertahan menghadapi situasi yang sulit. Daya kekuatan untuk tetap bertahan dalam iman. Tidak saling mempersalahkan, tidak saling cari kambing hitam. Saling menjatuhkan, lempar batu sembunyi tangan.  

Bila kita perhatikan konteks, sebentar lagi Yesus akan menjalani siksaan berat hingga mati di salib untuk sebuh misi Ilahi demi kasih-Nya menyelamatkan manusia dari dosa. Tentu para murid (walau belum nampak bagi mereka) akan mengalami situasi yang sulit. Dalam situasi yang sulit, dapat kita bayangkan apa sekiranya akan terjadi. Integritas diri dipertaruhkan, iman dan kesetiaan akan diuji. Di sinilah akan dijumpai hakikat kasih sesungguhnya seperti yang Yesus maksudkan.

2. Saling mengasihi adalah hidup berkemenangan di dalam Tuhan

Firman Tuhan menyaksikan, Allah memenangkan serta menyelamatkan manusia melalu cara kasih. Yesus Kristus berkorban, menderita dan mati, untuk menebus dosa manusia dengan cara kasih. Itulah keteladanan yang Yesus berikan. Kasih bukanlah kelemahan tetapi justru kekuatan. Firman Tuhan berkata: “…..Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya…..” (Rm.1:16).

Dalam kacamata dunia memang salib Kristus sebagai konsekwensi kasih Agape merupakan kekalahan dan kebodohan saja. Kekalahan dan kebodohan dalam cara pandang manusia yang akan binasa. Tetapi beda dari cara pandang Tuhan. Kasih adalah kemenangan. Kemenangan di dalam Tuhan! Firman Tuhan berkata: “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (I Kor.1:18).

3. Saling mengasihi adalah standar hidup umat percaya

Kasih adalah ciri khas setiap murid-muridNya. Standar hidup umat percaya, bukan sekedar simbol, slogan, atau wacana semata. Tetapi melekat menjadi gaya hidup setiap kita umat percaya. Untuk itu, Yesus memberi pengajaran sekaligus teladan. Ia berkata: “…..supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu…..” (ay 34).

Yesus tidak sedang berteori soal kasih. Tetapi telah, sedang dan terus melakukan kasih. Kelahiran, kematian, hingga kebangkitan-Nya adalah bukti nyata kasih Allah bagi manusia. Cara hidup berkemenangan di dalam Tuhan bukan membalas kejaharan dengan kejahatan. Tetapi dengan kasih. Dengan pengampunan. Itulah kualitas kasih yang membedakannya dari kasih cara dunia.

4. Saling mengasihi merupakan idenditas diri orang percaya.

Salib di bukit Golgota adalah bukti kasihNya yang tiada taranya. Suatu pembuktian berkorban tanpa pamrih. Kasih yang diajarkan Yesus adalah Kasih Agape. Kasih yang rela berkorban tanpa pamrih. Seperti yang Yesus teladankan, kesediaan  mengampuni murid-muridNya,  bahkan yang mengkhianatiNya sekalipun. Kesediaan untuk menerima keadaan murid-muridNya apa adanya, sekalipun sangat mengecewakanNya.

Tiada yang lebih indah dalam hidup ini, selain kita mampu saling setia dalam suka dan duka. Dalam susah dan senang tetap kuat dalam ikatan kasih pada janji setia sejak pertama di altar gereja sewaktu peenguhan dan pemberkatan nikah diikrarkan. Tiada yang lebih berharga dari hidup ini, selain kekuatan untuk mengampuni kepada setiap mereka yang pernah menyakiti dan mengkhianati kita.

Tiada yang lebih agung dalam hidup ini, selain kesediaan untuk menerima orang lain apa adanya, sebagaimana Kristus menerima kita apa adanya. Tiada yang lebih mulia dalam hidup ini, selain kesediaan untuk berbagi toh dari segala keterbatasan yang ada, bukan sekedar berbangga atas berapa yang didapatkan semata. Di dunia yang semakin renta ini, masihkan Kasih Kristus melekat di darah daging kita?

Kasih yang sesungguhnya, bukan pada waktu yang nyaman biasa-biasa saja, tetapi manakali Ketika iman harus diuji di antara dua pilihan, jalan salib atau harus cari jalan aman, jalan tol bebas hambatan! Tidak mudah memang. Namun di sinilah kentara idenditas sesungguhnya anak-anak Tuhan, membedakannya dengan anak-anak dunia yang akan menuju kebinasaan! Amin!

Rabu, 08 Mei 2019

DIBANGKITKAN UNTUK MENYAKSIKAN KASIH TUHAN



Kisah Para Rasul 9:36-43

Dorkas hanyalah perempuan biasa, sama seperti kita. Tak ada yang terlalu menonjol dan istimewa. Dia bukan seorang pengkhotbah ternama, atau orang besar dengan tindakan spektakuler yang dapat membuat orang terfana. Namun satu hal yang indah dalam hidupnya. Dia mengalirkan kasih Tuhan bagi sesama melalui talenta yang ada padanya. Walau ia hanya menggunakan jarum dan benang yang lekat dengan kesehariannya untuk membuat baju dan pakaian. Hasil karya tangannya dibagikan kepada para janda yang membutuhkan pertolongannya. Jemaat di sekitarnya tertolong atas kehadirannya.

Namun apa dikata, suatu ketika dia mati. Sama seperti manusia lain pada umumnya. Tak ada yang berkuasa menyelamatkannya. Jemaat merasa sangat kehilangan atas kepergiannya. Semua berduka. Namun kuasa Yesus yang bangkit, melalui murid yaitu Petrus membangkitkannya. Suatu bukti bahwa Yesus sanggup membangkitkan manusia dari kematian. Dialah sumber kebangkitan.

Selaku umat Tuhan di kekinian, barangkali kita punya kerinduan yang sama bagi setiap kekasih kita yang berpulang mendahului kita, sekiranya dibangkitkan secara fisik ala Dorkas. Namun kenapa itu tidak terjadi? Dorkas dibangkitkan sungguh dibutuhkan bagi konteks jemaat mula-mula. Untuk membuktikan tentang Yesus sumber kebangkitan dinyatakan. Dorkas dibangkitkan sebagai pembuktian. Persoalannya, bukanlah sekedar hidup secara fisik, tetapi apakah kita percaya bahwa Dia (Yesus) adalah pokok kebangkitan yang menyelamatkan kita dari dosa dan kematian?

Dorkas dibangkitkan, bukan sekedar untuk menikmati hidup untuk pribadinya semata. Tetapi untuk menyaksikan kasih Tuhan bagi sesama. Bagaiamana dengan kita? Tuhan sudah memberikan kepada setiap kita talenta dan kemampuan. Sudahkah kita gunakan untuk menjadi berkat bagi sesama?

Hidup ini, bukan sekedar panjang umur di dunia, apalagi boro-boro minta kuasa dibangkitkan secara fisik ala Dorkas, jika hidup di dunia hanya jadi beban, jadi mayat hidup, mengotori serta memperbanyak samapah hidup yang berdampak negatif bagi kehidupan dan alam lingkungan?

Tuhan rindu menghadirkan setiap kita di dunia untuk menyaksikan kuasa kasih-Nya. Sekiranya melalui sesederhana apa pun yang kita lakukan bagi kemanusiaan serta alam lingkungan, orang dihentarkan untuk semakin mantap mengenal, taat dan beriman, bahwa hanya Yesus saja ada kuasa yang menyelamatkan. Alam pun turut memuji kebesaran Sang penciptanya. Amin!

Jumat, 03 Mei 2019

SUSAH SENANG SELALU BERSAMA



Yohanes 21:1-19

Apa yang menarik dari cara hidup para murid pasca kematian Yesus? Nah, ini. Mereka selalu bersama-sama. Dalam suka maupun duka. Susah senang selalu bersama. Perhatikan apa kata Alkitab, “Kata Simon Petrus kepada mereka: ‘Aku pergi menangkap ikan.’ Kata mereka kepanya: ‘Kami pergi juga dengan engkau.’ Mereka berangkat.” (Ay.3).

Petrus berkeputusan demikian, bisa jadi untuk mengurangi beban yang dirasakan. Dapat dimengerti, karena dia salah satu murid yang paling merasa terbebani. Beban rasa bersalah, dalam peristiwa kematian Yesus sebelumnya, dia juga banyak melakukan kesalahan, hingga penyangkalan sebanyak tigas kali. Para murid yang lain dapat menangkap apa yang dirasakannya. Mereka peka akan apa yang terjadi di antara mereka. Karenanya mereka tak mau Petrus menanggungnya sendiri.

Kebersamaan adalah kekuatan. Terlebih ketika menghadapi krisis kehidupan. Kebersamaan seharusanya menjadi darah daging kita selaku umat percaya, sehingga tetap kuat menjalani hidup ini. Suami atau isteri, atau keluarga yang tetap setia dalam suka dan duka adalah kekuatan menghadapi berbagai gelombang pencobaan di arena kehidupan.

Kebersamaan, oh, sungguh dibutuhkan di dunia kita sekarang ini. Namun sayang, rupanya semakin langka saja. Waktu sang teman mencaleg, mudah saja berjanji akan mendukung dan memilihnya. Banyak uangnya dikuras hingga puas. Pas ketika ada pihak lain yang menawarkan jasa, uang, atau kemudahan lainnya, pilihan jadi beralih. Nilai kebersamaan raib berganti dengan rupiah yang datang. Sungguh malang. Rasa kecewa, dikhianati, rasa senasib sepenanggungan kini tiada lagi. Tinggal meratapi nasib merana sendiri. Tak ada teman yang mendekat untuk saling menguatkan.

Susah senang selalu bersama, sungguh tergambar jelas dari para murid. Itulah tanda yang menjadi berkat hingga mereka menerima berkat demi berkat Paskah dari Yesus yang berkenangan dari maut dan kematian. Lihat juga ketika mereka menjala banyak tangkapan. Mereka saling membantu. Saling merespon, saling mengisi, berbagi tugas. Bukan saling berebut ikan. Atau saling menenggelamkan perahu untuk merampas ikan yang ada. Sungguh, susah senang selalu bersama, banyak untungnya. Juga berkatnya (Ay.7-8).

Susah senang selalu bersama, apa untungnya? Berapa banyak berkatnya? Ya, yang pertama-tama ada kekuatan. Kekuatan untuk mengurangi beban. Beban berkurang membuat pikiran semakin waras dan tenang. Ketika kita dapat tenang, saat itu penglihatan kita semakin jelas untuk melihat bahwa tidak jauh dari kita ternyata ada Tuhan! Orang yang sedang stress mana mungkin merasa Tuhan itu dekat dengannya. Malah Tuhan pun dipersalahkannya. Kedua, bila seseorang mendapat berkat, maka semua kebagian berkat. Coba saja andai petrus hanya berangkat sendiri lalu mendapat berkat. Bisa jadi murid yang tinggal tak kebagian berkat!

Andai saja sikap susah senang selalu bersama itu ada. Ada di keluarga, di kantor, di Gereja, di organisasi, di usaha, di Universitas, di pemerintahan atau di mana saja, betaka kuat dan makmurnya negara kita, oh luar biasa! Ketika lemah, masih ada kekuatan. Ketika diberkati, berkatnya berlipat-lipat ganda! Tidak salahnya kita kembali mencoba, sehingga berkat Paskah menjadi sungguh nyata. Paskah sungguh-sungguh hidup dan menghidupan. Bukan sekedar Paskah terpampang di tema setiap perayaan, atau di acara malam perenungan. Lalu setelah acara berakhir, kembali lagi merenungi nasib malang karena dikalahkan oleh roh jaman dengan aneka tawaran mematikan hingga ke sum-sum, tulang, hingga aliran darah kita seolah hanya hidup bila gadget laksana infus yang memberi kehidupan setiap menit ada di tangan! Amin!

Kamis, 02 Mei 2019

“ITU TUHAN!”



Yohanes 21:1-19

Betapa sulitnya melihat kehadiran Tuhan dalam hidup kita, manakala peristiwa pahit melanda. Demikian pun keadaan para murid pasca kematian Yesus. Hidup laksana tanpa harapan. Putus asa mengisi hari-hari hidup mereka. Mereka pun kembali dalam kehidupan semula, menjala ikan di danau. Itu pun tak cukup membantu. Keterampilan yang biasa mereka lakukan, juga menemui kegagalan. Betapa semakin berat beban dirasa. Terlebih pengalaman masa lalu di saat-saat penyiksaan Yesus selalu terngiang di telinga. Yang terlihat di depan serba gelap saja (Ay.1-3).

Namun Yesus yang bangkit, tidak meninggalkan para murid. Terus membimbing mengarahkan mereka untuk beroleh kepercayaan diri serta keyakinan akan kuasa Tuhan yang telah bangkit. Tidak mudah memang. Tidak heran bila biasanya orang mempertanyakan kuasa, kehadiran Tuhan, rada-rada mempersalahkan serta menyangsikan tentang Tuhan manakala hidup sarat beban!

Yesus yang bangkit tidak sedang meninggalkan para murid. Tetapi selalu ada hadir bersama mereka. Yesus tahu keberadaan mereka. Kini Yesus berdiri di pantai danau Tiberias menyatakan kuasa-Nya yang telah bangkit. Tapi sayang seribu sayang, kehadiran Yesus tak nampak bagi mereka. Tentu saja, karena kegamangan hidup membuat mereka hanya terfokus pada masalah mereka (Ay.4-5).

Hati yang terluka oleh berbagai peristiwa pahit dalam hidup, beratnya beban yang dihadapi memang sulit bagi kebanyakan orang melihat Tuhan hadir dalam hidupnya. Juga sulit untuk mendengar tuntunan-Nya apa sekiranya terbaik untuk menuju jalan berkat. Namun, tidak kurang cara Tuhan untuk memulihkan hati yang terluka. Penampakkan Yesus bagi para murid kini untuk yang ketiga kalinya. Bukan yang pertama atau kedua. Tuhan dengan sabar membimbing para murid, sedikit demi sedikit, tapi pasti, hingga mereka akhirnya kuat kembali (Ay.6).

Dan benar saja, tanda-tanda pengharapan untuk mengenal Tuhan yang telah bangkit kini mulai tumbuh. Perintah dari seseorang di tepi pantai yang belum jelas bagi mereka untuk menebarkan jala ke tempat yang dalam hingga sesutu yang di luar nalar mereka terjadi, pembuka tirai kepekaan seorang murid (Yohanes) sudah dapat mengenal bahwa “Itu Tuhan!”. Melihat kehadiran Tuhan dalam hidup memerlukan penalaran dan kepekaan. Terlalu fokus pada masalah dan beban membuat mata rohani kita kabur untuk melihat kehadiran Tuhan (Ay.7).

Kehadiran Tuhan tidak cukup hanya dilihat dari cara pandang ketika kita memikirkan beban. Karena penglihatan kita sedang bermasalah. Itulah salah satu pelajaran penting peristiwa Paskah yang memberkati. Itulah awal titik terang yang membuat penglihatan para murid semakin terang untuk melihat dengan jelas bahwa “Itu Tuhan!” Jangan biarkan kegamangan hidup menggelapkan kehadiran Tuhan untuk mengarahkan, menolong, menguatkan serta memberkati hidup kita. kuasa kebangkitan kristus adalah kuasa kemenangan, Tuhan selalu hadir di keseharian kita. Memulihkan keadaan kita.

Yesus yang telah bangkit, mengenal kita secara pribadi. Tuhan mau memulihkan keadaan kita. Petrus, tentu salah seorang dari sekian murid yang paling terluka. Betapa tidak! Peristiwa kematian Yesus sebelumnya, adalah pengalaman pahit baginya. Pembelaan yang konyol, pemahaman yang buta akan maksud sang guru, sikap takabur, penyangkalan hingga tiga kali, tentu terbabawa-bawa di setiap angan. Rasa bersalah, beban dosa, penyesalan seumur hidup, menjadi aib yang tak terhapus. Namun, Yesus yang bangkit dari kuasa maut merangkul Petrus dengan kasih. Yesus tidak membuang Petrus. Yesus tidak membunuh karakter Petrus. Beda dengan yang dilakukan manusia terhadap sesamanya.

Di mata Tuhan, Petrus tetaplah Petrus. Punya potensi besar menjadi murid yang akan melanjutkan misi menghadirkan tanda-tanda kerjaan Allah di bumi. Yesus memulihkan keterpurukan Petrus. Hanya Yesus yang sanggup memulihkan hati yang terluka. Ya, hanya Yesus! Dengan cara-Nya yang unik, Yesus membangun kembali harapan Petrus. Tiga pertanyan beruntun yang kualitas pertanyannya makin menurun, membuat luluh lantak segala keakuan selama ini. Petrus seolah melihat cermin diri ditelanjangi, dibedah, nanah keberdosaan masa lalu kentara nyata. Lalu diobati, dipulihkan, untuk dikuatkan olehTuhan kembali (Ay.15-16).

Mengasihi Tuhan, harus dimulai dengan kerendahan hati, bukan keakuan diri! Dengan apa adanya, tanpa pura-pura, apalagi dengan ambisi pribadi yang saatnya akan melahirkan penyangkalan semata. Itulah pelajaran penting berikutnya. Seberdosa apa pun kita, Tuhan tidak pernah membuang kita. Asal saja kita mau diubahkan oleh-Nya. Tuhan tahu bahwa setiap kita punya potensi. Tuhan memberkatinya. Tanpa kehadiran kuasa Tuhan, kecerdasan, atau segala kemapanan hanyalah kegagalan semata. Seperti para murid yang telah berpengalaman, namun semalaman seekor ikan pun tak didapatkan (Ay.17-18).

Tuhan tidak pernah membunuh karakter kita. Tetapi membaharuinya untuk semakin mapan dan berdayaguna dan menjadi berkat dalam hidup. Berhentilah menyesali nanah penyangkalan akan kasih Tuhan. Yesus yang bangkit dengan kuasa kemenangan pasti dan selalu hadir di tepi pantai menanti kita. Memberikan petunjuk, arahan, pemulihan, bahkan berkat, jika kita bernalar serta peka untuk melihat kehadiran Tuhan di setiap jerih juang kita, walau secara tersamar melihat bahwa “Itu Tuhan!”, hidup kita tidak pernah tersia-sia! Amin!



Selasa, 30 April 2019

GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBAKU



Yohanes 21:15-19

Menurut saudara, mengapa Yesus bertanya kepada Petrus: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Bukankah apabila kita baca dalam Alkitab, tanpa diragukan, bahwa Petrus adalah seorang murid beriman yang sangat mengasihi Yesus? Di Kaisaria Filipi, bukankah dia yang mewakili para murid lainnya mengungkapkan pernyataan bersejarah bahwa Yesus itu adalah “Anak Allah yang hidup”? (Matius 16:16). Ketika Perjamuan malam sebelum Yesus ditangkap, bukankah Petrus pula satu-satunya murid yang berikrar kepada Yesus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau? (Lukas 22:23). Tidak kurang di taman Getsemai, bukankah dia juga satu-satunya murid yang mebuktikan kasihnya kepada Yesus, yang dengan gagah berani menetakkan telinga seorang hamba Imam Besar dengan pedangnya, ketika peristiwa penangkapan Yesus?

Bukankah dari semua yang ia ucapkan dan lakukan itu menunjukkan bahwa Petrus sangat mengasihi Yesus? Apakah yang masih dianggap kurang pada diri Petrus? Adakah yang salah dalam penghayatan iman dan kasihnya kepadaYesus? Dan kenapa ia mesti ditanya tentang sesuatu yang malah sudah ia buktikan, bahkan pertanyaan yang sama sampai diulang tiga kali oleh Yesus? Saudara, secara kebiasaan, apabila kita menanyakan seseorang untuk meminta pernyataannya lebih dari satu kali atau berulang-ulang, boleh jadi bahwa sebenarnya kita masih menyangsikan pernyataan orang tersebut. Atau mungkin pula kita menginginkan suatu pernyataan yang sungguh-sungguh sehingga dapat dipertanggungjawabkan dari orang yang kita tanya.

Pertanyaan Yesus ini pasti menunjukkan ada yang salah dalam penghayatan iman dan kasih Petrus. Andaikata tidak ada yang kurang atau salah pada iman dan kasih Petrus, Yesus pasti tidak bertanya dan memberikan tantangan: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Lalu apa yang salah atau kurang dalam penghayatan iman dan kasih Petrus itu? Nah, disinilah letak persoalannya! Saudara, benar bahwa Petrus mengasihi Yesus, tapi apa yang ia nyatakan atau lakukan bagi Yesus itu adalah didasarkan pada motivasi yang salah! Artinya, bahwa apa yang dilakukan oleh Petrus bukanlah dalam pengabdian kasih yang sesungguhnya. Ia mau berbuat dan bertindak, tetapi juga diiringi harapan agar nama juga ikut besar dan popoler.

Karena itu tidak heran bila Petrus melakukan semuanya kadang-kadang disertai sikap penonjolan diri, ingin menjadi selalu yang utama, sok tahu, sok pahlawan. Tidak jarang pula dibumbui sikap kesombongan dan kecongkakaan yang berbuahkan ketakaburan. Menurut Alkitab, bahwa sikap congkak adalah dosa dan pasti menerima hukuman Tuhan: “Sebab Tuhan semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan.” (Yesaya 2:12). Di dalam Alkitab juga dikatakan: “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Amsal 16:18). Pernyataan Alkitab ini terbukti saudara, sebab bukankah sikap seperti ini yang menghantarkan Petrus kepada pengkhianatan?

Pertanyaan Yesus ini sebenarnya adalah suatu tantangan dalam rangka pembaharuan iman dan kasih Petrus supaya diletakkan pada dasar motivasi yang benar. Saudara, soal motivasi itu sangat penting dan menentukan! Sebaik dan sebesar apapun yang dilakukan orang bila tanpa dilandasi motivasi yang benar tentulah sia-sia dan percuma! Bila kita teliti dengan cermat, kita dapat melihat dengan jelas motivasi yang salah dari Petrus dalam menyatakan kasihnya kepada Yesus.

Pertama: Kasih yang dilandasi sikap “pamrih”.

Sikap pamrih adalah suatu sikap dimana orang mau berbuat, dan dibalik apa yang diperbuatnya dianggap mendatangkan keuntungan. Itulah juga motivasi Petrus mengasihi Yesus. Benar bahwa Petrus berikrar: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau.” (Lukas 22:33). Tetapi ucapan itu dinyatakannya setelah murid-murid bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Setelah Yesus memperbincangkan soal kerajaan dan tahta, tentang siapa yang akan menghakimi ke-12 suku Israel dan tentang siapa yang akan duduk makan semeja dengan Yesus nantinya (Lukas 22:24-33). Sebab itu saudara, orang yang memiliki sikap pamrih tidak mungkin mau berkorban apalagi sampai menanggung resiko.

Apabila situasi menguntungkan, sebesar apa pun pengorbanan itu pasti akan dilakukan. Tetapi sekiranya situasi tidak menguntungkan, sekecil apa pun itu pasti sulit dilakukan. Perhatikan sikap Petrus. Dalam situasi yang menguntungkan dapat saja ia berjanji setia kepada Yesus: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama dengan Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” (Matius 26:35). Tetapi ketika menghadapi situasi yang sulit dan tidak menguntungkan, bukankah dari mulut yang sama terlontar kata-kata penyangkalan? Sikap pamrih memang penuh dengan pertimbangan. Ya, pertimbangan untung rugi tentu saja! Sebab itu tidak heran apabila segala waktu, tenaga, pengorbanan atau juga uang segala macam sulit diberikan, walau itu untuk gereja atau untuk Tuhan sekali pun.

Kedua: Kasih yang didasarkan pada ukuran “prestise”

Saudara, kasih yang didasarkan pada prestise adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan hanya demi gengsi, martabat atau hanya demi mendapatkan nama baik dan kehormatan pribadi. Apabila kita membaca dakam Alkitab, ini juga motivasi Petrus kepada Yesus. Dari data pribadi Petrus terlihat dengan jelas suatu sikap penonjolan diri, ingin menjadi selalu menjadi yang utama. Dari nada bicaranya terdapat kesan kesombongan. Sebagai contoh, dalam ucapannya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” (Matius 26:33).

Lalu bagaimana ketika tantangan yang sesungguhnya benar-benar tiba? Nah…nah…nah… kita semua pun tahu dari catatan sikap Petrus dalam Alkitab di sekitar peristiwa penyaliban Yesus. Semua orang Kristen pun tahu itu! (Matius 26:69-74; Markus 14:66-72; Lukas 22:56-62; Yohanes 18:15-18, 25-27). Ya, ternyata Petrus tak mampu membuktikan imannya kepada Yesus. Hanya gara-gara tanya sederhana dari si tua renta kepada Petrus dalam situasi yang agak terjepit di tengah orang banyak. Tapi toh pun demikian, Petrus yang penuh dengan cacat dan kekurangan, tetap saja diterima oleh kasih dari Yesus yang terulur membentang…..

“Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?”. Bagai rembulan tertusuk ilalang, pertanyaan itu membentang jalang! Bahwa kenyataannya kasih Petrus yang selama ini dilakukan belumlah merupakan kasih yang sebenarnya! Artinya, bahwa kasih yang selama ini Petrus lakukan belumlah benar-benar mengasihi Yesus, tetapi kurang lebih suatu sikap penonjolan diri semata. Ya, pertanyaan yang menantang untuk dijawab dengan pembaharuan iman dan kasih!

“Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”. Sekarang Yesus semakin memperlunak pertanyaan-Nya (tanpa tambahan kalimat “lebih daripada mereka ini?”). Seolah alam pun ikut muram, pertanyaan kedua menyesak dada! Betapa tidak, suatu pertanyaan halus tapi juga menyengat rasa! Menyadarkan Petrus bahwa kasih yang benar kepada Yesus itu haruslah dimulai dari kerendahan hati, bukan keakuan dan kesombongan diri seperti yang pernah terjadi!

“Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”. Laksana bumi gemetar menahan kedahsyatan kawah api, seluruh jiwa raga menatang pertanyaan ketiga! Ya, pertanyan yang meminta kejujuran untuk menyadarkan Petrus, bahwa iman dan kasih yang benar itu haruslah iman dan kasih yang dapat dipertanggungjawabkan. Bukan hanya sebatas janji ucapan! Bahwa iman dan kasih yang benar kepada Yesus itu adalah soal tanggungjawab dan harus berani menerima segala konsekwensinya!

Pertanyaan-pertanyaan Yesus pasca kebangkitan-Nya ini adalah dalam rangka pemugaran iman dan kasih, untuk meluruskan motivasi Petrus yang keliru selama ini. Membaharui iman dan kasih Petrus yang masih dianggap kurang mapan! Pertanyaan-pertanyaan Yesus ini bak sembilu menusuk dada, untuk melahirkan kesadaran penuh, untuk menangisi nanah penyangkalan yang pernah dilakukan. Untuk menyesali dan mau membaharui diri dari kejatuhan yang pernah terjadi. Ya, pertanyaan menyala pemberi upaya, supaya bangkit membangun kembali kisah kasih sejati dalam tekad baru kerendahan hati: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” (ayat 17c).

Inilah sikap Petrus yang baru. Sikap yang terpuji. Sikap yang perlu kita teladani! Ya, sikap yang berani membaharui diri dan tidak akan pernah berhenti lagi untuk mengasihi Yesus. Inilah sikap yang baru yang seharusnya dimiliki oleh setiap kita yang mengaku-aku percaya kepada Yesus. Ya, ucap janji dan bukti harus sejalan. Karena memang itulah yang paling menentukan! Amin.

Sabtu, 27 April 2019

YESUS MENEMUI SANG REALIS





Yohanes 20:24-29

Banyak orang nyinyir pada Tomas, karena dia sulit percaya akan berita kebangkitan Yesus sementara murid lain semua pada percaya. Tipe Tomas memang tipe manusia yang sulit percaya sebelum melihat bukti. Apakah bagi Yesus sikap Tomas ini dipersalahkan begitu saja? Tidak! Yesus juga menghargai sang realis. Justru untuk itulah Yesus hadir secara khusus. Khusus untuk Tomas sang realistis.

Saudara, iman yang sekedar asal percaya, itu juga berbahaya. Iman yang menjadi sebuah pilihan setelah dimantapkan oleh bukti, itu juga belumlah berarti sebuah dosa! Bukankan di dunia kekinian kita banyak juga orang dibodohi oleh berita hoax atau isyu-isyu menyesatkan karena hanya didasarkan pada asal percaya saja? Tanpa berupaya memahami, mengkaji, meneliti terlebih dahulu kebenarannya?

Sikap Tomas, bukanlah 100% salah semata. Karena demikianlah sisi kehidupan ini. Terlebih ketika iptek seolah mendominasi di segenap kehidupan manusia. Haruskah kita memaksa semua orang percaya dengan iman saja? Salahkah bila mereka juga menuntut bukti untuk lebih meyakinkan? Yesus yang penuh kasih, tidak menolak Tomas, atau memarahi Tomas atas caranya untuk percaya. Yesus juga datang padanya dengan pembuktian hingga akhirnya Tomas pun percaya!

Apa yang Yesus lakukan kepada Tomas, seharusnya juga membuka cakrawala baru bagi kita sebagai Gereja atau umat percaya secara kreatif menyaksikan Yesus yang bangkit dan menang atas kuasa kematian. Tidak melulu hanya memaksa dunia menerima begitu saja tentang Yesus yang menang tanpa dapat membuktikan. Sementara dunia menawarkan jalan keluar terhadap aneka persoalan dengan caranya untuk membuktikan.

Berita tentang Yesus yang bangkit dan berkemenangan, juga mengharuskan kita untuk secara kreatif sebagaimana Yesus lakukan kepada Tomas. Dunia yang kepadanya Injil diberitakan bukanlah dunia yang adem ayem. Tetapi dunia yang galau, penuh curiga. Adalah naif bila memberitakan Yesus yang bangkit dan memaksa semua orang untuk menerima hanya dengan percaya saja sebagai satu-satunya cara, tanpa bisa membuktikan apa-apa bahwa Yesus sungguh bangkit bagi mereka. Yang benar adalah, Yesus juga mengasihi Tomas sang realis dengan pembuktian, hingga akhirnya Tomas bertelut “Ya Tuhanku dan Allahku!” Amin!

Jumat, 26 April 2019

BERKAT PASKAH BAGI UMAT PERCAYA




Yohanes 20:19-29

Pada tahun 1957, Letnan David Steeves berjalan keluar dari Pegunungan Sierra di Nevada, Kalifornia, setelah 54 hari pesawat jet pelatih Air Force-nya menghilang. Ia menceritakan kisah yang tak masuk akal tentang bagaimana ia bertahan hidup di belantara bersalju setelah terjun dengan parasut dari pesawatnya yang mati mesin.

Sebelum ia menunjukkan bahwa dirinya masih hidup, sebenarnya secara resmi ia dinyatakan telah mati. Saat penyelidikan selanjutnya gagal menemukan bangkai pesawat, Steeves dianggap berbohong dan ia dipaksa mengundurkan diri karena ceritanya diragukan. Lebih dari 20 tahun kemudian, kisahnya terbukti dengan ditemukannya bangkai pesawat oleh sebuah regu Pramuka.

“Kisah bertahan hidup” lain yang terjadi berabad-abad lalu juga masih kontroversial sampai saat ini. Seorang lelaki bernama Yesus Kristus yang berjalan keluar dari padang gurun Yudea membuat banyak pernyataan yang sulit dipercaya banyak orang. Lalu Dia dihukum mati dan dinyatakan mati. Namun, tiga hari kemudian Dia muncul dan menunjukkan bahwa diri-Nya hidup. Sejak itu muncul berbagai pandangan skeptis.

Tidak kurang bagi para murid, penyiksaan, pembunuhan, hingga akhirnya Yesus mati disalibkan, bagi mereka adalah pengalaman paling menyakitkan. Putus asa, ketakutan, was-was, rasa tidak aman, ketiadaan pengharapan mengisi hari-hari hidup mereka.

Tidak mudah untuk menerima begitu saja berita tentang kebangkitan. Yang ada adalah duka mendalam. Yang mereka lakukan kini hanyalah berkumpul bersama para murid lain untuk saling menguatkan. Itu pun diselingi rasa ketakuan. Tidak heran bila mereka berkumpul dengan pintu-pintu yang terunci, takut serta rasa was-was pada orang-orang Yahudi yang dapat mengancam keselamatan mereka.

Namun, di tengah suasana ketidakpastian, Yesus hadir di tengah-tengah mereka secara ajaib, menyapa para murid: “Damai sejahtera bagi kamu.” Hingga dua kali kalimat yang sama Yesus ucapkan kepada para murid tercatat dalam nas ini dalam rangka pemulihkan rasa putus asa mereka, memberikan penguatan supaya sungguh-sungguh berpengharapan. Kuasa kemenangan Paskah menginspirasi mereka untuk ke luar, menyaksikan Yesus yang bangkit dan menjadi berkat.

Lalu bagaimana dengan Tomas? Banyak orang nyinyir pada Tomas, karena dia sulit percaya akan berita kebangkitan Yesus sementara murid lain semua pada percaya. Tipe Tomas memang tipe manusia yang sulit percaya sebelum melihat bukti. Apakah bagi Yesus sikap Tomas ini dipersalahkan begitu saja? Tidak! Yesus juga menghargai sang realis. Justru untuk itulah Yesus hadir secara khusus. Khusus untuk Tomas sang realistis.

Saudara, iman yang sekedar asal percaya, itu juga berbahaya. Iman yang menjadi sebuah pilihan setelah dimantapkan oleh bukti, itu juga belumlah berarti sebuah dosa! Bukankan di dunia kekinian kita banyak juga orang dibodohi oleh berita hoax atau isyu-isyu menyesatkasn karena hanya didasarkan pada asal percaya saja? Tanpa berupaya memahami, mengkaji, meneliti terlebih dahulu kebenarannya?

Sikap Tomas, bukanlah 100% salah semata. Karena demikianlah sisi kehidupan ini. Terlebih ketika iptek seolah mendominasi di segenap kehidupan manusia. Haruskah kita memaksa semua orang percaya dengan iman saja? Salahkah bila mereka juga menuntut bukti untuk lebih meyakinkan? Yesus yang penuh kasih, tidak menolak Tomas, atau memarahi Tomas atas caranya untuk percaya. Yesus juga datang padanya dengan pembuktian hingga akhirnya Tomas pun percaya.

Apa yang Yesus lakukan kepada Tomas, semestinya membuka cakrawala baru bagi kita sebagai Gereja atau umat percaya secara kreatif menyaksikan Yesus yang bangkit dan menang atas kuasa kematian. Tidak melulu hanya memaksa dunia menerima begitu saja tentang Yesus yang menang tanpa dapat membuktikan. Sementara dunia menawarkan jalan keluar terhadap aneka persoalan dengan caranya untuk membuktikan.

Berita tentang Yesus yang bangkit dan berkemenangan, juga mengharuskan kita untuk secara kreatif sebagaimana Yesus lakukan kepada Tomas. Dunia yang kepadanya Injil diberitakan bukanlah dunia yang adem-ayem. Tetapi dunia yang galau, penuh curiga. Adalah naif bila memberitakan Yesus yang bangkit dan memaksa semua orang untuk menerima hanya dengan percaya saja sebagai satu-satunya cara, tanpa bisa membuktikan apa-apa bahwa Yesus sungguh bangkit bagi mereka. Yang benar adalah, Yesus juga mengasihi Tomas sang realis dengan pembuktian, hingga akhirnya Tomas bertelut “Ya Tuhanku dan Allahku!” Amin!