Renungan GKE

Minggu, 16 Februari 2014

KASIH ITU HARUS PRAKTIS DAN NYATA



Roma 15:22-33

Paulus menulis surat ini dalam rangka pelayanan rasulinya kepada dunia bukan Yahudi, untuk mempersiapkan jalan bagi pelayanannya di Roma serta rencana pelayanan ke Spanyol. Paulus meyakinkan orang percaya di Roma bahwa dia sudah berkali-kali merencanakan untuk memberitakan Injil kepada mereka, namun hingga saat itu kedatangannya masih dihalangi (ay.13-15). Dia menegaskan kerinduan yang sungguh untuk mengunjungi mereka sehingga menyatakan rencananya untuk datang dengan segera  (ay.22-32).  
  
Mengapa Paulus terhalang untuk pergi ke Roma? (Roma 15:22). Karena dalam penginjilan, Paulus memiliki prioritas yaitu tempat-tempat dimana injil belum diberitakan, dimana orang-orang ditempat itu belum pernah mendengar tentang Kristus. Sedangkan Roma adalah suatu kota dimana penduduknya telah mengenal Kristus. Di ayat 24, Paulus mengutarakan maksudnya agar jemaat Roma dapat mengantarkannya. Bukan hanya mengantar atau menunjukkan jalan saja tetapi Paulus berharap agar Jemaat Roma mau menjadi jemaat pengutus untuk pemberitaan injil. Dengan menjadi jemaat pengutus, maka jemaat Roma pun menjadi bagian dari pemberitaan injil seperti perintah Tuhan untuk menyebarkan injil sampai ke ujung dunia.

Ada dua hal penting yang menjadi tujuan dituliskannya surat ini.  Pertama: Karena jemaat Roma rupanya mendengar kabar angin yang diputarbalikkan mengenai berita dan ajaran Paulus (mis. Rm.3:8); Rm.6:1-2, 15), Paulus merasa perlu untuk menulis Injil yang telah diberitakannya selama dua puluh lima tahun.  Kedua: Paulus memotivasi  jemaat Roma untuk turut serta meringankan kesulitan  saudara-saudara seiman mereka di Yerusalem. Kata "bantuan" yang digunakan Paulus dalam suratnya ini  menginformasikan bahwa persembahan yang dia antar mempunyai nilai  yang cukup besar. Dalam IIKorintus 8-9 mencatat secara lengkap rincian  tentang persembahan ini. 

Orang-orang percaya  nonYahudi diingatkan bahwa keselamatan yang mereka miliki datangnya dari  bangsa Israel. Itu sebabnya mereka memiliki kewajiban moral untuk membantu orang-orang percaya Yahudi yang mengalami penganiayaan  karena iman mereka di dalam Kristus. Orang yang kaya didorong  untuk membantu orang yang berkekurangan, orang yang kuat haruslah  membantu orang yang lemah. Yang menarik di sini, meskipun mereka berbeda bangsa, orang-orang nonYahudi itu mau menyatakan kasihnya kepada saudara-saudara mereka yang Yahudi. Sebagai saudara seiman, mereka memiliki kerinduan untuk bersama-sama menanggung beban yang saat itu diderita saudara seiman mereka yang  berbangsa Yahudi.
Dukungan kasih yang dinyatakan melalui  pengiriman bantuan tersebut memperlihatkan kesatuan dan ikatan di  antara saudara seiman. Citra Kristus juga nyata di dalamnya. 

Saudara, hari ini kita diingatkan bahwa di antara saudara seiman memang harus  terdapat kasih. Namun, kasih itu jangan hanya di bibir saja  melainkan harus juga dinyatakan melalui tindakan praktis dan nyata. Misalnya dengan menyatakan keprihatinan, mendampingi, menolong, atau memberikan dukungan. Ciri orang Kristen seperti yang tertulis di ayat 30, bergumul bukan dengan kekerasan atau mengangkat senjata melainkan bergumul dengan berdoa kepada Tuhan. Dan Paulus sebagai hamba Tuhan membutuhkan orang-orang yang berdoa untuk dia. Begitu juga doa-doa dari jemaat akan sangat mendukung seorang hamba Tuhan. Hamba Tuhan akan merasa sangat dikuatkan oleh doa-doa para jemaat. Dukungan sekecil apa pun  mempunyai nilai yang besar bagi mereka yang dibantu. Kepedulian  kita setidaknya menunjukkan bahwa kasih di antara saudara-saudara  seiman ada dan sungguh nyata.  Amin!

(Pdt.Kristinus Unting, M.Div)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar