Renungan GKE

Minggu, 16 Februari 2014

TIGA TINDAKAN PEMIMPIN YANG BIJAKSANA





Nehemia 7:1-3

Luar biasa. Inilah contoh seorang pemimpin yang bijaksana. Sulit dicari tipe macam ini. Apalagi pada masa kini. Yang sering terjadi, orang berjuang menempatkan dirinya pada posisi yang tinggi, bukan untuk membangun atau membela rakyat. Tapi untuk mengamankan diri. Bukan membangun, tetapi cari keuntungan. Nas ini mencatat peranan Nehemia sebagai gubernur dan pemimpin dalam membangun kembali tembok Yerusalem. Pasal 1 (psl.1:1-11) menyatakan dalamnya kerohanian Nehemia sebagai orang yang mengandalkan doa. Sementara melayani raja Persia, ia menerima berita mengenai keadaan Yerusalem yang menyedihkan dan mulai menaikkan doa syafaat secara sungguh-sungguh kepada Allah memohon Dia turun tangan demi kota dan penduduknya. Seorang pemimpin harus peka terhadap berbagai hal yang mungkin terjadi dan dihadapi, baik secara internal maupun eksternal. Dengan berpusatkan Allah dalam doa dan firman, pemimpin yang baik akan membekali diri dan para pengikutnya dengan keterampilan melayani yang sesuai sehingga musuh tidak mudah menjegalnya. Ada tiga catatan penting dari nas ini:
1.  
1. Tidak Lengah 

Langkah pertama yang dilakukan Nehemia setelah tembok Yerusalem selesai dibangun dan pintu-pintu gerbangnya terpasang adalah mengangkat para penjaga pintu gerbang (ay.1). Keamanan dari serangan luar terus diperhitungkan Nehemia. Oleh karena itu, ia mengatur kapan pintu gerbang boleh dibuka dan bagaimana penjagaan terus diperketat dan tidak boleh lengah sedikit pun (ay.3). Kenapa pengangkatan itu disatukan dengan pengangkatan para penyanyi dan orang-orang Lewi? Mungkin Nehemia sengaja memprioritaskan petugas ibadah agar pelaksanaan penjagaan Yerusalem tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga dengan mengandalkan Tuhan.  Mencapai keberhasilan bukanlah segala-galanya. Keberhasilan yang diberikan oleh Allah harus dipertanggung-jawabkan dan dipertahankan di hadapan Allah. Keberhasilan adalah pemberian Allah yang harus dijaga baik-baik. Tetap bertahan di posisi puncak seringkali lebih sulit dibandingkan dengan usaha mencapai titik keberhasilan tersebut. Musuh akan lebih giat menyerang setiap kita ketika ada di posisi puncak. Untuk mencapai keberhasilan diperlukan ratusan bahkan ribuan langkah, sebaliknya hanya diperlukan satu langkah untuk jatuh atau gagal.

2. Setia dan dapat dipercaya

Langkah kedua adalah memilih orang yang tepat. Memilih orang yang setia dan dapat dipercaya. Hanani, saudara Nehemia dan Hananya dipilih sebagai pemimpin Yerusalem dan panglima benteng, sekilas sepertinya ada nepotisme. Akan tetapi, prinsip yang dipegang Nehemia adalah memilih orang yang dapat dipercaya dan yang takut akan Tuhan (ay.2b). Hal ini penting agar kota yang sudah dibangun kembali temboknya dengan doa dan kerja keras ini, jangan sampai dinodai oleh kepentingan-kepentingan pribadi yang korup. Hanani dipilih Nehemia karena ia adalah seorang yang dapat dipercaya dan setia di dalam mengerjakan semua yang pernah Nehemia percayakan kepadanya. Inilah yang menentukan mengapa Nehemia mempromosikan Hanani. Seharusnya kita menyadari bahwa sebenarnya Tuhan sendiri yang mempromosikan Hanani untuk tugas tanggung jawab yang lebih besar, mengingat Hanani adalah seorang yang setia dalam perkara yang kecil sehingga Tuhan memberikan kepercayaan yang lebih besar. (Mat.25:21,23; Luk.16:10; 19:17).

3. Sikap hati yang takut akan Tuhan

Kitab ini mencatat penyelesaian semua langkah dasar dalam memulihkan Yudaisme pascapembuangan yang diperlukan bagi kedatangan Kristus pada permulaan zaman Perjanjian Baru. Yerusalem dan bait suci dibangun kembali, hukum telah dipulihkan, perjanjian dibaharui, dan keturunan Daud tetap terpelihara. Pemimpin yang bijaksana selalu memikirkan beberapa langkah ke depan tentang apa yang akan dilakukannya. Perencanaan yang baik selalu memperhitungkan faktor-faktor dalam dan faktor-faktor luar. Secara lahiriah, segala sesuatu siap untuk menerima kedatangan Mesias (bdk. Dan.9:25). Zaman Nehemia berakhir dengan harapan kenabian bahwa Tuhan akan segera datang ke bait-Nya (bdk.Mal.3:1). Perjanjian Baru mulai dengan penggenapan penantian dan pengharapan pascapembuangan ini. Hanani diangkat karena dianggap layak untuk suatu tugas yang mulia tersebut, seorang yang takut akan Tuhan. Dalam hal ini Hanani senantiasa berhati-hati di dalam melakukan segala perbuatannya. Apapun yang ia kerjakan, ia akan terlebih dahulu mempertimbangkan apakah itu perbuatan yang menghormati kekudusan Tuhan atau sebaliknya. Bagi Hanani Tuhan adalah prioritas utama di dalam mengambil berbagai macam keputusan. Amin!

(Pdt.Kristinus Unting, M.Div).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar