Renungan GKE

Selasa, 26 November 2013

“ROH KUDUS”: KUASA MACAM APAKAH ITU?


Kisah Para Rasul 2:1-13

Roh Kudus, oh kuasa macam apakah itu? Alkitab menyaksikan bahwa Roh Kudus juga adalah Allah sejati; Ia melakukan pekerjaan ilahi: mencipta, melahirkan kembali, menguduskan, memberikan berbagai karunia kepada manusia, Ia menyelidiki hal-hal yang terdapat dalam diri Allah. Namun pada saat yang sama, Ia juga dinyatakan sebagai Pribadi yang berbeda dari Bapa dan Anak. Ketiga Pribadi Trinitas ini muncul bersamaan saat pembaptisan Yesus (Mat. 3:16-17), dalam formula baptisan (Mat. 28:19).

Ketika kita mengaku percaya kepada satu Allah yang esa, maka kata “Allah” itu menunjuk kepada satu esensi tunggal yang kita mengerti terdiri dari tiga pribadi; dan kapan saja kata “Allah” itu disebut, maka selain Bapa, juga Anak dan Roh Kudus termasuk di dalamnya; dan ketika Anak disebut bersama Bapa maka itu memperkenalkan kepada kita hubungan yang erat antara keduanya, dan yang menyatakan perbedaan antara kedua pribadi. (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, I.13). Roh Kudus, kuasa macam apakah itu?

Pertama, Roh Kudus adalah suatu “kuasa Ilahi”. Kuasa dari Allah untuk memampukan orang percaya mengemban tugas-tugas maha berat dan penuh resiko. Tugas maha berat dan penuh resiko itu adalah tugas untuk membawa, memberitakan, memperkenalkan dan bersaksi tentang Yesus Kristus kepada semua orang dan ke seluruh dunia. Tugas berat, sebab dunia kepada siapa kita akan menyaksikan tentang Kristus itu adalah dunia yang pada hakekatnya membenci Kristus. Resiko, sebab Kristus yang harus kita beritakan itu adalah Kristus yang tersalib, yang merupakan batu sandungan bagi orang Yahudi dan suatu kebodohan bagi orang Yunani (bdk. I Kor. 1:18, 23).

Kedua, Roh Kudus adalah “Roh Spirit” Ilahi yang memapukan kita melakukan tidakan destruktif (meruntuhkan) sekaligus tindakan konstruktif (membangun). Omong kosong membangun kehidupan menjadi lebih baik, tanpa terlebih dahulu membongkar bangunan sebelumnya yang lapuk, ambur-adul. Dan omong kosong pula kita dapat mengharapkan suatu tatanan kehidupan menjadi lebih baik, bila kerja kita hanya merobohkan! Hanya kritik melulu, saran melulu! Tetapi harus dibarengi aksi nyata untuk membangun dan menata kembali apa yang rusak menjadi lebih baik. Ya, harus kedua-duanya. Ya, itulah Roh Kudus. Bila sifat-sifat ini terlihat nyata, nah pastilah gereja tersebut sungguh bersandar pada kuasa Roh Kudus, bukan bersandar pada “roh aku..aku..aku…!”

Ketiga, Roh yang “membaharui”. Roh Kudus memungkinkan kita untuk menciptakan gaya hidup yang baru, persekutuan dan kebersamaan yang utuh, pelayanan dan kesaksian yang sungguh-sungguh. Dengan kata lain, Roh Kudus adalah Roh pembaharuan yang memampukan orang percaya dapat eksis untuk secara kreatif merealisasikan imannya dalam situasi dan kondisi yang sulit sekalipun! Roh Kudus mengiringi setiap langkah kita hingga kita mampu beraktivitas dan melayani di bumi secara sungguh-sungguh penuh sukacita, berani dan cerdas, tanpa bermalas-malas, tanpa udang di balik batu, hingga Ia datang kembali menjemput kita dalam kemuliaan sorga.

Roh Kudus, menjadikan kita selaku umat percaya tidak lagi berbicara dalam bahasa kita sendiri. Tetapi di dalam bahasa para pendengar kepada siapa kabar sukacita itu kita sampaikan. Artinya: kita kini tidak dapat hidup untuk diri kita sendiri, kelompok kita sendiri, gereja kita sendiri, kepentingan sendiri-sendiri. Kita tidak dapat memikirkan hanya keselamatan diri sendiri dan kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga! Kini kita adalah saksi-saksi. Artinya: seluruh hidup dan kedirian kita kini hanya menunjuk kepada yang lain, kepada Yesus Kristus. Saudara, sudahkah kita sungguh-sungguh dibakar dan dibaharui oleh Roh Kudus? Ya, hanya orang–orang yang telah dibakar dan dibaharui Roh Kuduslah yang mampu mengabdikan dirinya secara penuh, mengasihi lebih sungguh serta berkata: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kis. 20:35). Selamat Hari Pentakosta. Amin!

Pdt.Kristinus Unting, M.Div

Tidak ada komentar:

Posting Komentar