Renungan GKE

Jumat, 20 Juli 2012

NASIHAT MENGHADAPI AKHIR ZAMAN


II Timotius 3:1-9

Firman Tuhan sering mengingatkan kita supaya siap untuk menghadapi akhir zaman. Hari-hari terakhir di sini tidak hanya terbatas pada pengertian akhir zaman (eskatologis) yang mencakup serangan golongan Gnostik terhadap Gereja ketika itu, tetapi juga  kini dan  terus berlangsung di sepanjang kehidupan hingga kesudahannya. Tantangan itu bukan hanya  datang dari luar, tetapi justru juga datang dari dalam, dari orang-orang yang  dianggap paling beribadah, aktif dalam persekutuan. Ini menarik! Menarik untuk dicatat.  Bahwa  perlawanan paling sengit akan datang dari kalangan yang dianggap memiliki  kesalehan hidup (ay. 5). Paulus menyoroti bahwa salah satu ciri khas menjelang akhir zaman ialah bahwa orang akan “lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah” (ayat 4).


Bukankah hal yang demikian sering kita saksikan masa kini? Yang diutamakan oleh manusia adalah kenikmatan, kesenangan untuk memuaskan hawa nafsu semata? Rasul Paulus mengingatkan Timotius bahwa kejahatan dan kemurtadan akan semakin meningkat. Paulus mengingatkan Timotius dan rekan-rekannya supaya siap untuk menghadapi kejahatan tersebut yang akan muncul baik dalam dunia mau pun dalam kalangan orang percaya. Dalam hubungan inilah maka Paulus juga menekankan peranan firman Tuhan untuk melawan kejahatan tersebut  (2Timotius 3:10-17). Sangatlah jelas digambarkan Paulus bahaya-bahaya akhir zaman agar kita dapat bersikap waspada sehingga tidak memberi peluang kepada bahaya-bahaya tersebut.

1. Mencintai diri sendiri dan hamba uang

Salah satu sifat yang sangat berbahaya disebutkan adalah: egois dan cinta uang. Paulus berkata, "Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang." (ayat 2a dari 2 Timotius 3). Saat ini banyak orang lebih fokus pada dirinya sendiri. Segala sesuatu dilakukan demi keuntungan diri sendiri. Segala sesuatu dilakukan demi keuntungan diri sendiri dan tidak lagi peduli terhadap orang lain, seolah-olah pandangan hidup manusia: "kamu urusanmu, aku urusanku." Akhirnya hal ini mengarah kepada sifat tamak.

Sifat tamak ini terjadi ketika seseorang cinta uang. Ketamakan  (epithumeo) berarti keinginan yang begitu kuat dan menggebu-gebu terhadap sesuatu, baik atau buruk, yang dengan gigih diupayakan diraih berapa pun harganya meski cara yang ditempuh salah dan merugikan orang lain.  Bukankah kini banyak orang rela melakukan apa saja demi mendapatkan uang sebanyak-banyaknya? Mereka tidak lagi mengindahkan hukum. Anak-anak Tuhan pun rela 'menjual' imannya demi kekayaan dan popularitas yang fana. "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang...oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:10).

2. Kemerosotan moral

Secara gamblang disini Paulus menyebutkan moralitas manusia yang akan menjadi tambah jahat. Manusia akan menjadi makin cinta diri, sombong, pemberontak, tidak tahu berterima kasih, tidak bisa mengendalikan diri, tidak menyukai yang baik, dst. Mereka tidak mengutamakan mengasihi Allah (Ul. 6:4-5), tetapi lebih mencintai kenikmatan pribadi. Paulus memperingatkan Timotius terhadap orang-orang yang memiliki religiositas atau kebaikan agamawi secara lahiriah belaka. Orang-orang macam ini mungkin dapat mengajar dengan baik, hidup rela menderita, tetapi sombong dan tidak mau hidupnya dikendalikan oleh Injil. Religiositas mereka yang palsu dengan demikian merupakan penyangkalan akan kuasa Allah yang sebetulnya merupakan sumber satu-satunya dari kesalehan. Kesalehan mereka adalah kesalahan karena terjadi bukan karena anugerah Allah! Timotius harus menghindari mereka.

Untuk melawan pengaruh dari dunia yang jahat ini Paulus menasehati Timotius dan orang percaya sepanjang masa supaya mendasarkan hidupnya pada firman Tuhan: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (ayat 16,17). Sebagai umat pilihan Tuhan kita dipanggil hidup benar di tengah-tengah dunia yang sesat. Kita dipanggil menjauhkan diri dari kejahatan dunia ini yang semakin ganas menjelang akhir zaman.

3. Religiositas semu

Ironisnya, situasi yang digambarkan Paulus tersebut, bukanlah mengenai orang-orang yang tidak beriman atau tidak mengenal Tuhan. Yang dibicarakan Paulus adalah orang-orang yang aktif beribadah (ayat 5). Namun hidup keagamaan mereka bagai 'tong kosong yang nyaring bunyinya'. Mereka memang mengajarkan hal yang baik, dan secara kasat mata, juga melakukan hal yang baik. Akan tetapi, jauh di dalam hati mereka, tersembunyi motivasi yang tidak murni. Sesungguhnya, hidup mereka tidak menunjukkan ketaatan kepada Allah, yang melihat jauh ke dalam dasar hati. Hidup keagamaan mereka bagai tubuh tak bernyawa karena tidak bersumber dalam relasi pribadi dengan Allah, Sang Pemilik Hidup. Orang semacam itu mengasihi diri sendiri, mencintai uang, dan lebih menyukai kesenangan hidup dibandingkan persekutuan dengan Allah (ayat 2). Mereka menentang kebenaran (ayat 8). Namun kita perlu mengingat bahwa hidup keagamaan yang kosong seperti itu tidak akan menghasilkan apa-apa (ayat 9).

Semua karakter yang Paulus jabarkan terdapat pula dalam komunitas Kristen masa kini. Lalu bagaimana kita bisa menangkal pengaruh orang semacam itu? Tentu saja dengan mengandalkan kuasa firman Tuhan. Pastikan bahwa kita telah mengalami transformasi karena Kristus telah memperbarui hidup kita. Yakinkan bahwa kita telah menjadikan firman Tuhan sebagai santapan harian kita. Biarkan firman Tuhan membentengi kita dari pikiran, sikap, perkataan, dan perilaku yang berdosa. Hiduplah bersekutu dengan Tuhan agar hidup kita dipenuhi dengan Roh Kudus, bertumbuh di dalam karakter, serta menghasilkan buah roh. Inilah cara agar kita tidak terjebak dalam hidup keagamaan yang palsu.

Karena itu saudara, berdirilah tegak melawan si jahat, dan hiduplah bagi Allah saja.  Dengan memahami  kebenaran Tuhan yang mendalam, kita akan senantiasa waspada sehingga tidak akan menjadi mangsa empuk bagi para pengajar palsu yang sebenarnya sedang menipu jemaat dengan mengatasnamakan “Firman Tuhan” atau “suara Tuhan”. Sebagai orang Kristen, kita harus terus mempelajari kebenaran yang murni dan bertumbuh dewasa di dalam Tuhan. Intelektualitas bukan hanya dikembangkan dalam ilmu-ilmu sekuler, tetapi juga dalam kerohanian kita. Belajar Firman Tuhan harus dilakukan terus-menerus sampai kita menutup mata. Untuk itu kita tidak boleh berpuas diri dengan pemahaman kita saat ini, tetapi kita harus berkembang terus dalam kebenaran. AMIN

Firman Tuhan sering mengingatkan kita supaya siap untuk menghadapi akhir zaman. Hari-hari terakhir di sini tidak hanya terbatas pada pengertian akhir zaman (eskatologis) yang mencakup serangan golongan Gnostik terhadap Gereja ketika itu, tetapi juga  kini dan  terus berlangsung di sepanjang kehidupan hingga kesudahannya. Tantangan itu bukan hanya  datang dari luar, tetapi justru juga datang dari dalam, dari orang-orang yang  dianggap paling beribadah, aktif dalam persekutuan. Ini menarik! Menarik untuk dicatat.  Bahwa  perlawanan paling sengit akan datang dari kalangan yang dianggap memiliki  kesalehan hidup (ay. 5). Paulus menyoroti bahwa salah satu ciri khas menjelang akhir zaman ialah bahwa orang akan “lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah” (ayat 4).


Bukankah hal yang demikian sering kita saksikan masa kini? Yang diutamakan oleh manusia adalah kenikmatan, kesenangan untuk memuaskan hawa nafsu semata? Rasul Paulus mengingatkan Timotius bahwa kejahatan dan kemurtadan akan semakin meningkat. Paulus mengingatkan Timotius dan rekan-rekannya supaya siap untuk menghadapi kejahatan tersebut yang akan muncul baik dalam dunia mau pun dalam kalangan orang percaya. Dalam hubungan inilah maka Paulus juga menekankan peranan firman Tuhan untuk melawan kejahatan tersebut  (2Timotius 3:10-17). Sangatlah jelas digambarkan Paulus bahaya-bahaya akhir zaman agar kita dapat bersikap waspada sehingga tidak memberi peluang kepada bahaya-bahaya tersebut.

1. Mencintai diri sendiri dan hamba uang

Salah satu sifat yang sangat berbahaya disebutkan adalah: egois dan cinta uang. Paulus berkata, "Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang." (ayat 2a dari 2 Timotius 3). Saat ini banyak orang lebih fokus pada dirinya sendiri. Segala sesuatu dilakukan demi keuntungan diri sendiri. Segala sesuatu dilakukan demi keuntungan diri sendiri dan tidak lagi peduli terhadap orang lain, seolah-olah pandangan hidup manusia: "kamu urusanmu, aku urusanku." Akhirnya hal ini mengarah kepada sifat tamak.

Sifat tamak ini terjadi ketika seseorang cinta uang. Ketamakan  (epithumeo) berarti keinginan yang begitu kuat dan menggebu-gebu terhadap sesuatu, baik atau buruk, yang dengan gigih diupayakan diraih berapa pun harganya meski cara yang ditempuh salah dan merugikan orang lain.  Bukankah kini banyak orang rela melakukan apa saja demi mendapatkan uang sebanyak-banyaknya? Mereka tidak lagi mengindahkan hukum. Anak-anak Tuhan pun rela 'menjual' imannya demi kekayaan dan popularitas yang fana. "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang...oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:10).

2. Kemerosotan moral

Secara gamblang disini Paulus menyebutkan moralitas manusia yang akan menjadi tambah jahat. Manusia akan menjadi makin cinta diri, sombong, pemberontak, tidak tahu berterima kasih, tidak bisa mengendalikan diri, tidak menyukai yang baik, dst. Mereka tidak mengutamakan mengasihi Allah (Ul. 6:4-5), tetapi lebih mencintai kenikmatan pribadi. Paulus memperingatkan Timotius terhadap orang-orang yang memiliki religiositas atau kebaikan agamawi secara lahiriah belaka. Orang-orang macam ini mungkin dapat mengajar dengan baik, hidup rela menderita, tetapi sombong dan tidak mau hidupnya dikendalikan oleh Injil. Religiositas mereka yang palsu dengan demikian merupakan penyangkalan akan kuasa Allah yang sebetulnya merupakan sumber satu-satunya dari kesalehan. Kesalehan mereka adalah kesalahan karena terjadi bukan karena anugerah Allah! Timotius harus menghindari mereka.

Untuk melawan pengaruh dari dunia yang jahat ini Paulus menasehati Timotius dan orang percaya sepanjang masa supaya mendasarkan hidupnya pada firman Tuhan: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (ayat 16,17). Sebagai umat pilihan Tuhan kita dipanggil hidup benar di tengah-tengah dunia yang sesat. Kita dipanggil menjauhkan diri dari kejahatan dunia ini yang semakin ganas menjelang akhir zaman.

3. Religiositas semu

Ironisnya, situasi yang digambarkan Paulus tersebut, bukanlah mengenai orang-orang yang tidak beriman atau tidak mengenal Tuhan. Yang dibicarakan Paulus adalah orang-orang yang aktif beribadah (ayat 5). Namun hidup keagamaan mereka bagai 'tong kosong yang nyaring bunyinya'. Mereka memang mengajarkan hal yang baik, dan secara kasat mata, juga melakukan hal yang baik. Akan tetapi, jauh di dalam hati mereka, tersembunyi motivasi yang tidak murni. Sesungguhnya, hidup mereka tidak menunjukkan ketaatan kepada Allah, yang melihat jauh ke dalam dasar hati. Hidup keagamaan mereka bagai tubuh tak bernyawa karena tidak bersumber dalam relasi pribadi dengan Allah, Sang Pemilik Hidup. Orang semacam itu mengasihi diri sendiri, mencintai uang, dan lebih menyukai kesenangan hidup dibandingkan persekutuan dengan Allah (ayat 2). Mereka menentang kebenaran (ayat 8). Namun kita perlu mengingat bahwa hidup keagamaan yang kosong seperti itu tidak akan menghasilkan apa-apa (ayat 9).

Semua karakter yang Paulus jabarkan terdapat pula dalam komunitas Kristen masa kini. Lalu bagaimana kita bisa menangkal pengaruh orang semacam itu? Tentu saja dengan mengandalkan kuasa firman Tuhan. Pastikan bahwa kita telah mengalami transformasi karena Kristus telah memperbarui hidup kita. Yakinkan bahwa kita telah menjadikan firman Tuhan sebagai santapan harian kita. Biarkan firman Tuhan membentengi kita dari pikiran, sikap, perkataan, dan perilaku yang berdosa. Hiduplah bersekutu dengan Tuhan agar hidup kita dipenuhi dengan Roh Kudus, bertumbuh di dalam karakter, serta menghasilkan buah roh. Inilah cara agar kita tidak terjebak dalam hidup keagamaan yang palsu.

Karena itu saudara, berdirilah tegak melawan si jahat, dan hiduplah bagi Allah saja.  Dengan memahami  kebenaran Tuhan yang mendalam, kita akan senantiasa waspada sehingga tidak akan menjadi mangsa empuk bagi para pengajar palsu yang sebenarnya sedang menipu jemaat dengan mengatasnamakan “Firman Tuhan” atau “suara Tuhan”. Sebagai orang Kristen, kita harus terus mempelajari kebenaran yang murni dan bertumbuh dewasa di dalam Tuhan. Intelektualitas bukan hanya dikembangkan dalam ilmu-ilmu sekuler, tetapi juga dalam kerohanian kita. Belajar Firman Tuhan harus dilakukan terus-menerus sampai kita menutup mata. Untuk itu kita tidak boleh berpuas diri dengan pemahaman kita saat ini, tetapi kita harus berkembang terus dalam kebenaran. AMIN. *(KU).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar