Renungan GKE

Jumat, 20 Juli 2012

PANGGILAN HIDUP KUDUS

 
I Tesalonika 4:1-12

Sneca, seorang ahli filsafat dari Roma pernah mengatakan, bahwa: “Perempuan dinikmati untuk diceraikan, dan diceraikan untuk dinikahi.” Dalam nada yang hampir sama, Demosthenes, seorang ahli filsafat dari Yunani juga pernah mengatakan: “Kita memelihara orang sundal untuk kesenanga; kita memelihara gundik untuk keperluan badani sehari-hari; kita memelihara isteri untuk beranak dan memelihara rumah tangga.” Sebelum menjadi Kristen, kebiasaan tersebut juga menjadi kebiasaan orang Kristen di Tesdalonika, sehingga ada kemungkinan mereka tergoda kembali kepada hal tersebut. Inilah yang menjadi latar belakang, nas ini ditulis, dimana Rasul Paulus menuntut pengudusan bagi setiap orang percaya.
 
Rasul Paulus menghendaki supaya jemaat berhati-hati dan tidak ceroboh dalam menjalani kehidupan ini. Hal tersebut nyata dari apa yang diungkapkannya: “Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus “hidup” supaya berkenan kepada Allah. Kata “hidup” dalam Alkitab seringkali juga dapat berarti “hidup kekal” atau juga “tingkah laku”. Orang Kristen dituntut untuk memiliki martabat hidup yang lebih tinggi (pengudusan) dari masyarakat di sekitar yang biasa dengan kehidupan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah (kafir). Pergumulan kita jaman sekarang, kita melihat ada banyak orang Kristen yang kembali pada perbuatan-perbuatan cemar seperti perzinahan, perselingkuhan, perceraian dengan begitu mudah. Padahal Tuhan memanggil kita menjadi jemaat-Nya, bukanlah untuk melakukan yang cemar, melainkan apa yang kudus (ay.7).

Martabat hidup sebagai orang percaya mesti tergambar dari sikap moral etis, serta cara hidup setiap hari. Dalam sikap etis moral, semestinya orang-orang percaya lebih bersungguh-sungguh lagi dalam hal kasih dan kesetiaan, menghormati pernikahan yang sesuai dengan azas kekristenan (monogami). Kasih Yesus harus menjadi pola hidup kita, karena kasih itu sendiri merupakan hakikat atau kesempurnaan Allah. Karena itu, kasih Yesus harus menjadi sumber dari segala kebajikan dan inspirasi hidup kudus kita.

Dalam segi cara hidup, orang Kristen mestinya melakukan pekerjaannya sehari-hari dengan tenang, rajin dan efisien. Pemikiran bahwa Kristus akan datang segera, bukanlah suatu alas an untuk berhenti bekerja, apalagi untuk bermalas-malasan. Orang Kristen mesti lebih giat dan setia dalam melaksanakan pekerjaannya sehari-hari. Sehingga ketika Tuhan datang, Ia menemukan kita sedang bekerja, atau kita “menemukan dan menyaksikan” Tuhan melalui pekerjaan kita.

Tidak ada cara lain untuk menyaksikan bahwa kekristenan lebih baik dari yang lain dalam kehidupan ini selain dari bagaimana kita menampilkan diri sebagai manusia yang baik, memperlihatkan moral etis yang baik, bekerja dengan baik, menjadi seorang teman yang lebih baik, dan menjadi orang yang dapat dipercaya. Karena dari situlah terlihat kebenaran yang sesungguhnya, seperti pepartah mengatakan bahwa pohon dikenal dari buahnya.  Karena Tuhan memanggil kita menjadi jemaat-Nya, bukanlah untuk melakukan yang cemar, melainkan apa yang kudus. AMIN. *(KU).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar