Renungan GKE

Jumat, 20 Juli 2012

SKETSA KEHIDUPAN


Hakim-Hakim 18:14-31

Yonatan bin Gersom bin Musa, adalah contoh sebuah sketsa kehidupan nyata kita. Contoh sikap manusia yang hanya cari enaknya saja. Cari untungnya saja. Cari enak atau untung dalam hidup ini memang tidak salah. Tapi masalahnya, bila untuk mendapatkannya harus menghalalkan segala cara? Atau tidak peduli apakah yang dilakukan itu sesuai dengan kehendak Allah atau tidak?! Coba perhatikan jalan cerita orang yang bernama Yonatan bin Gersom bin Musa dalam nas ini! Ia membantu Bani Dan untuk mendirikan pusat penyembahan berhala, sementara ia menjadi imamnya. Tidak lucu bukan? Seharusnya seorang imam lebih mengabdi kepada Allah, melaksanakan segala bentuk tatalaksana untuk menuntun kehidupan suatu umat yang berdasar ketaatan pada perintah Tuhan dan tertuju hanya kepada Tuhan. Bukan kepada allah yang lain.

Kisahnya berawal sewaktu ia menerima tawaran Mikha untuk menjadi imam bagi keluarganya (Hak. 17:9-12). Seharusnya, sebagai seorang Lewi, ia menegur Mikha atas niat yang sesat itu. Malah berikutnya, ia rela meninggalkan Mikha untuk menerima jabatan yang lebih tinggi, yaitu menjadi imam atas suku Dan (ay.19). Maklum, mumpung ada tawaran. Mumpung ada kesempatan? Apalagi tawaran itu lebih menjanjikan dalam hal penghargaan dan penghasilan. Salahkah? Oh, tidak! Tidak sama sekali! Tidak salah! Hanya masalahnya saudara, ia lebih mementingkan uang, jabatan, dan fasilitas dibanding panggilan untuk melayani Allah. Ini berlawanan dengan ketetapan Allah bagi umat Israel (bdk. Ul. 12), dan bagi orang Lewi sendiri.

Tindakan Yonatan bin Gersom sebenarnya adalah tindakan melayani dirinya sendiri dan orang yang membiayai hidupnya. Awalnya kepada Mikha, dan kemudian kepada suku Dan. Ya, ia lebih condong hitung-hitung mana yang lebih menguntungkan! Bila tidak menguntungkan, tinggalkan. Dan mana ada tawaran atau peluang yang lebih menggiurkan, nah...nah...nah... ini yang pasti akan dipegang! Ia hanya menyenangkan orang dengan menyampaikan apa yang ingin mereka dengar (Hak. 18:6). Hal ini berlangsung sampai Israel diangkut sebagai orang buangan. Kesesatan Yonatan dimulai saat ia, dengan kekuatannya sendiri tanpa mengandalkan Allah, ingin memperbaiki kehidupannya. Hanya untuk cari untung pribadi saja! (Hak. 17:7-8).

Saudara, melalui kisah nyata dan bermakna dalam nas ini, menjadi peringatan bagi kita semua. Entah kita sebagai para Hamba, para pengurus gereja, sebagai warga gereja, atau sebagai abdi masyarakat. Kita harus mewaspadai diri kita sendiri. Janganlah kita melayani hanya untuk keuntungan diri sendiri mumpung ada kesempatan, melainkan agar pekerjaan dan kuasa Tuhan dinyatakan di dalam kita secara bertanggungjawab.

Janganlah kita sebagai warga gereja mengkultuskan seseorang, mengkultuskan dogma ajaran, atau mengkultuskan merek-merek gereja melebihi Tuhan Yesus sendiri yang adalah kepalanya! Atau pemaksaan kehendak dengan aturan atau ajaran yang kita ciptakan sendiri sebagai klaim kebenaran. Janganlah kita hanya menginginkan suatu pekerjaan atau jabatan, jadi dokter atau perawat umpama, yang hanya melayani orang berduit, sedang orang melarat tak diurus hanya gara-gara mereka tak mampu bayar obat! Karena kebenaran yang sesungguhnya harus lahir dari sumber kebenaran itu sendiri dan harus dilaksanakan serta dipertanggungjawabkan. AMIN! *(KU).

1 komentar: